Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 18. Permainan Nyawa


__ADS_3

"Di saat para mafioso Killer Eagle bertarung, ketuanya malah duduk santai di sini. Kau memang sudah menungguku, ya?" ucap Zane sembari menatap dingin laki-laki itu.


Spontan terdengar kekehan pelan dari mulut laki-laki itu. "Kalau iya, kenapa?"


"Aku hanya merasa ini terlalu berlebihan untukku. Di tunggu seorang ketua dari Killer Eagle—Salah satu organisasi terkuat di dunia bawah,"


"Hahaha... Tidak masalah. Aku justru senang kau datang sendiri ke sini," tawa laki-laki itu menggema di ruangan tersebut.


Zane melangkah maju ke depan. Lalu dengan cepat mengarahkan katananya tepat di dagu laki-laki itu. "Aku sudah datang. Jadi katakan apa maksudmu menggangguku, bahkan melukai adikku?"


"Wow! Kau sangat ganas tapi aku suka. Tidak salah aku menjadikanmu sebagai teman bermain," godanya tanpa merasa takut Zane akan mengakhiri hidupnya saat itu juga.


"Hmmm. Jika kau ingin bermain denganku, tidak perlu melukai adikku. Kau tahu? Aku paling benci orang yang berani mengganggu apalagi sampai melukai keluargaku," cetus Zane bernada datar—Lebih tepatnya sangat dingin.


"Maksudmu keluarga yang memperlakukanmu dengan buruk itu?" laki-laki itu tersenyum mengejek.


Emosi Zane yang awalnya tenang, kini perlahan meluap ke permukaan. Ia tidak senang mendengar pertanyaan laki-laki itu. Siapapun tidak boleh menyebut keluarganya buruk, meskipun kenyataannya memang begitu adanya.


"Jangan bersikap seolah kau tahu bagaimana keluargaku!" Zane memperingati laki-laki itu dengan nada bicara yang semakin dingin.

__ADS_1


Aura yang di perlihatkannya pun sudah terasa mengerikan. Laki-laki itu dapat merasakannya, begitupula Addy yang sudah cukup terbiasa akan aura yang Zane miliki dan memilih diam. Yeah. Saat ini Addy mengerti bahwa emosi Zane tengah meluap. Tetapi ia sama sekali tidak berniat untuk menenangkannya. Zane tidak pernah mau di ganggu atau di halangi pada saat emosinya meluap seperti ini. Dan—Ia juga tetap merasa takut akan aura mengerikan yang Zane pancarkan. Oleh karen itu, Addy hanya diam memperhatikan bagaimana Queen-nya meluapkan emosi.


"Kenyatannya memang benar begitu, bukan?" tanya laki-laki itu—Ketua Killer Eagle, masih tersenyum mengejek.


"Benar atau tidaknya, itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak menyebut hal buruk tentang keluargaku," jawab Zane mengangkat ujung katananya yang sontak membuat ketua Killer Eagle mendongak ke arahnya.


"Hei, semua orang berhak melakukan apapun yang di inginkan. Termasuk menyebut bagaimana buruknya keluarga Anevay pada anak kedua mereka. Oh tidak. Maksudku juga pemimpin MOD,"


Wajah Zane semakin menggelap. Emosinya tinggal menunggu waktu untuk benar-benar di luapkan. "Kau sudah melakukan kesalahan besar tapi baiklah—Karena kau ingin bermain, aku pasti akan menemanimu dengan senang hati!"


"Inilah yang ku inginkan," balas ketua Killer Eagle tersenyum lebar.


Sesaat ketua Killer Eagle tampak merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku akibat cukup lama mendongakkan kepalanya ke arah Zane. Bahkan rokok yang sedari tadi di hisapnya telah di letakkan ke dalam Asbak dan telah padam.


"Ku rasa kau tahu apa yang ku inginkan," sahut ketua Killer Eagle memiringkan kepalanya ke sebelah kiri dan di tumpu tangan kirinya.


"Hmmm—Permainan nyawa," Zane berdeham pelan, di sela menyebutkan permainan yang memang sesuai dengan isi pikiran ketua Eagle.


Permainan nyawa sendiri merupakan permainan yang berupa pertarungan one by one sampai titik darah penghabisan. Mereka harus saling bertarung untuk menang dan berhasil tetap hidup. Sebaliknya untuk yang kalah akan kehilangan nyawa. Hal itu di karenakan permainan nyawa hanya boleh ada satu pemenang yang bertahan hidup. Di tambah mereka boleh bertarung menggunakan senjata apapun atau bertindak licik. Tidak ada aturan yang mengikat pertarungan nyawa dalam organisasi dunia bawah. Sekali bertarung, maka harus menang tanpa rasa ampun. Begitulah.

__ADS_1


Ketua Killer Eagle memetikkan jarinya. "Benar sekali. Bagaimana? Apa kau takut? Jika takut—Katakan saja! Mungkin aku terpaksa harus mengurangi rasa kekagumanku padamu yang di kenal sangat berani,"


"Sepertinya kau tipe orang yang suka menghina lebih dulu, sebelum melihat dan membuktikannya sendiri. Aku takut kau baru akan menyesal saat sudah berada di neraka nanti," sindir Zane balik.


"Hahaha... Kau terlalu mengkhawatirkanku, ketua MOD—Alias nona Zwetta Anevay. Sebaiknya kau khawatirkan diri sendiri saja," sekali lagi tawa mengejek ketua Killer Eagle terdengar di ruangan itu.


Zane berdecih pelan. "Daripada banyak bicara, lebih baik kita mulai permainannya. Aku tidak ingin waktuku terbuang sia-sia,"


"Dan—Aku juga tidak sabar mengalahkanmu dalam permainan ini!" seru ketua Killer Eagle yang secara tiba-tiba mengambil dua buah pedang panjang dari belakang kursinya. Pedang itu berukuran lebih panjang daripada katana milik Zane.


"Yah. Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya," Zane mendesah kasar seraya bersiap untuk melakukan permainan nyawa dengan ketua Killer Eagle.


Ketua Killer Eagle sudah beranjak berdiri. Raut wajah laki-laki itu tampak datar, hanya saja tatapannya begitu meremehkan kemampuan Zane. Ia yakin akan mendapatkan kemenangan. Mengingat Zane hanya seorang gadis dan pengalamannya di organisasi dunia bawah belum sebanyak dirinya. Selain itu, ia telah berhasil membawa organisasinya untuk menduduki posisi sebagai salah satu organisasi terkuat di dunia bawah. Jadi tidak heran kalau dirinya begitu percaya diri mengajak Zane bermain dalam permainan nyawa.


"Jangan meminta ampun padaku saat kau kalah! Ingat itu, ya!?" ketua Killer Eagle tampak sangat siap bermain.


"Jangan khawatir!" balas Zane singkat.


Kemudian tanpa membuang waktu lagi, permainan nyawa di mulai lebih dulu oleh ketua Killer Eagle. Laki-laki itu menyerang Zane dengan serangan pedang bertubi-tubi. Keahliannya dalam menggunakan pedang memang tidak di ragukan lagi. Tetapi, bukan berarti keahliannya itu membuat Zane merasa takut. Ia segera memainkan katananya di sela menghindari setiap serangan pedang yang ketua Killer Eagle berikan. Mereka bertarung dengan gerakan sama-sama gesit. Bahkan hampir tidak terbaca oleh Addy yang hanya menonton pertarungan mereka berdua. Melihat pertarungan mereka yang begitu sengit, sulit untuk menentukan pemenang. Namun Addy sangat yakin bahwa Zane akan menang melawan ketua Killer Eagle itu.

__ADS_1


Zane melakukan beberapa gerakan untuk menghindari serangan pedang ketua Killer Eagle. Dari membungkuk hingga melakukan kayang sekilas. Di sela menghindar, ia semakin gesit melakukan serangan balik. Tidak hanya dengan gerakan katana tapi juga beladiri yang menjadi kombinasi sempurna. Zane lebih banyak menggunakan kaki untuk melakukan teknik beladiri. Hanya saja ketua Killer Eagle juga ahli dalam beladiri yang berbeda darinya. Sehingga kini mereka bertarung dengan gerakan beladiri berlawanan. Dimana sama-sama kuat dan gesit. Lengah sedikit saja, satu di antara mereka pasti akan langsung terjatuh.


__ADS_2