
Serangan yang ketua Killer Eagle mudah di tebak oleh Zane. Ia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menghindari serangan itu. Hanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya, gerakan pisau ketua Killer Eagle meleset. Lalu Zane langsung saja menangkap tangan laki-laki itu yang memegang pisau dan melayangkan tendangan tepat di area sentitifnya dengan sangat keras.
"Arghhhh! Shitttt!" jeritan ketua Killer Eagle terdengar nyaring saat area sentitifnya di tendang.
Kekuatannya pun melemah dalam sekejap. Ternyata memang benar kelemahan bagi banyak laki-laki adalah di area sensitifnya. Beruntung Zane sudah lebih dulu menangkap tangannya yang memegang pisau. Jika tidak—Mungkin pisau itu telah jatuh mengenai wajahnya.
"Kenapa kau menendang area sensitifku, hah!?" sambungnya membentak Zane di sela menahan rasa nyeri di area sensitifnya.
"Sengaja," sahut Zane polos.
"Kau—Arghhh!" umpat ketua Killer Eagle tidak henti-hentinya pada gadis itu.
Zane tidak menghiraukan umpatan yang ketua Killer Eagle ucapkan. Ia justru memutar tangan laki-laki itu sampai pisau dalam genggamannya terjatuh ke lantai.
"Lepaskan tanganku!" ketua Killer Eagle masih saja meninggikan nada bicaranya, padahal keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Hmmm baiklah,"
Ya—Benar Zane melepaskan tangannya tapi tidak dengan cara halus. Sebaliknya gadis itu membanting tubuh ketua Killer Eagle ke lantai. Bantingan yang cukup keras untuk seorang gadis sepertinya. Ketua Killer Eagle tidak habis pikir dengan kekuatan yang Zane miliki.
"Ternyata kau sangat ganas. Aku tidak menyangka kau seperti ini," ucap ketua Killer Eagle memuji di tengah kesakitan yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Sayangnya aku tidak butuh pujianmu," cetus Zane semakin menatap dingin laki-laki itu.
"Queen!" panggil Addy dari arah belakang. Ia baru saja selesai melakukan perintahnya.
"Katakan!"
"Ada yang meletakkan bom di mobil tuan muda, Queen! Beruntung mafioso kita mengetahuinya sebelum bom itu meledak," ucap Addy memberitahukan secara singkat tapi cukup jelas di telinga Zane.
__ADS_1
Spontan tangan Zane mengepal kuat. Kilatan amarah dimatanya semakin terlihat. Begitu pula dengan auranya yang kini benar-benar mengerikan dan membuat suasana di ruangan itu mencekam. Tetapi, itu tidak membuat ketua Killer Eagle memperlihatkan ketakutannya.
"Ah. Rupanya gagal," desah ketua Killer Eagle pelan tanpa dosa, meski rasa sakit di tubuhnya masih terasa menjalar.
Zane melangkah maju mendekati laki-laki itu. Dengan tatapan yang bak ingin menerkam habis-habisan orang di hadapannya. Emosinya telah mencapai puncak karena tindakan ketua Killer Eagle yang hampir saja membuat nyawa Azrail melayang dalam ledakan bom.
"Apa yang ingin kau—"
Ucapan ketua Killer Eagle terpotong saat Zane menendangnya sampai terjatuh untuk ke sekian kalinya.
Brukkkk...
"Kenapa kau sangat senang menendangku?" tanya ketua Killer Eagle merasa kesal.
Bukannya menjawab, Zane justru kembali menendangnya berkali-kali. Seluruh anggota tubuhnya hampir semuanya terkena tendangan keras Zane. Bahkan ketua Killer Eagle tidak di beri kesempatan untuk berucap, selain menjerit ataupun meringis kesakitan.
"Berhenti menendangku!" teriak ketua Killer Eagle seraya memegangi kaki Zane yang sejak tadi menendang wajahnya.
Tangan ketua Killer Eagle yang tersisa harus bernasib sama seperti tangan satunya—Di potong katana milik Zane.
"Arghhhhhh sialan!"
"Inilah akibat karena kau berani melakukan yang seharusnya tidak kau lakukan," sahut Zane bernada dingin. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Justru terlihat seperti haus darah—Jiwa pscyhopathnya sudah muncul.
"Permainan ini belum berakhir! Aku belum kalah. Arghhhh..." ketua Killer Eagle mengerang kesakitan saat Zane menekankan ujung katananya pada luka bekas potongan di salah satu siku tangannya. Benar. Zane memotong tangannya tepat di bagian siku.
"Sakit?" singkat Zane tanpa belas kasihan sedikitpun.
Ketua Killer Eagle tidak mampu berucap lagi selain menjerit kesakitan. Tindakan Zane begitu menyiksa.
__ADS_1
"Jika kau ingin bermain denganku, temui aku langsung. Bukannya menggunakan nyawa adikku sebagai perantara. Apa kau sebegitu pengecutnya jadi seorang laki-laki? Oh tidak. Maksudku seorang ketua terhormat dari organisasi Killer Eagle," sambungnya.
"Aku bukan pengecut!" bantah ketua Killer Eagle cepat. Rasa sakit tampak terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Lalu kau ingin di sebut seorang pemberani heh? Itu terdengar sangat lucu," cemooh Zane yang secara spontan memancing emosi ketua Killer Eagle.
Tetapi, laki-laki itu tidak bisa berbuat apapun sekarang. Kedua tangannya sudah hilang. Bahkan kini rasa sakitnya terus di tambahkan oleh Zane.
"Hmmm. Apa kau tahu? Sikap pengecutmu inilah yang membuatmu melakukan kesalahan besar padaku. Kesalahan yang tidak bisa ku maafkan,"
"Sudah ku bilang, aku bukan pengecut—Arghhhh sakit sekali!" ketua Killer Eagle mengerang keras sampai suaranya memenuhi ruangan itu.
Jeritan serta teriakannya justru terdengar begitu indah di telinga Zane. Ia merasa senang mendengarnya. Bersamaan dengan perasaan puas yang menjalan masuk ke dalam dirinya di tengah luapan emosi. Kedua matanya menggelap sempurna sebab jiwa Psychopathnya telah menguasai dirinya secara penuh. Ia pun langsung memainkan katananya di atas tubuh Killer Eagle yang sedang terbaring di lantai. Dan—Tanpa di duga, ujung katananya di tus*kkan secara tiba-tiba pada salah satu mata ketua Killer Eagle.
"Arghhhhhh!"
"Menjerit dan berteriaklah dengan keras! Aku sangat senang mendengarnya," ucap Zane tersenyum miring dari balik maskernya.
Zane menusuk kedua mata ketua Killer Eagle secara bergantian sampai dirinya merasa puas. Bahkan kini ia bisa melihat bagaimana laki-laki itu menangis darah. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga memberikan banyak sayatan pada wajahnya. Kini tampak ketua Killer Eagle rusak dan penuh darah. Kedua kaki Killer Eagle bergerak tidak karuan sebab merasa kesakitan akan yang di lakukan pada Zane. Tidak berselang lama, kedua kakinya juga harus terpisah dari tubuhnya. Lagi-lagi ia hanya suara teriakan kesakitan yang terdengar. Sayangnya, Zane tidak peduli dengan teriakannya. Justru semakin gencar memainkan katananya di tubuh laki-laki itu.
"Bagaimana? Kau suka bukan dengan penampilanku dalam permainan ini?" Zane bertanya usai membuat banyak luka sayatan di tubuh ketua Killer Eagle.
Meski mendengar pertanyaan Zane, ketua Killer Eagle tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa penuh akan jeritan dan teriakan rasa sakit. Sungguh tubuhnya di buat sakit yang luar biasa.
"Ah—Ku rasa kau pasti sangat menyukainya, bukan? Baiklah. Aku akan segera mengakhiri permainan kita ini,"
Mengakhiri? Jika ada orang lain yang melihat itu, pasti mengira Zane akan langsung menghabisi nyawa ketua Killer Eagle. Namun bukan itu yang terjadi. Terlalu cepat, pikirnya. Sehingga ia masih berpikir untuk memberikan penampilan permainan terbaik dengan menguliti tubuh ketua Killer Eagle hidup-hidup. Untuk ke sekian kalinya, jeritan keras terdengar menggema. Addy yang sedari tadi menonton kegilaan Zane hanya bisa merapatkan bibirnya. Meski sudah sering melihatnya, perasaan takutnya justru bertambah. Zane tidak bisa di singgung dan ia berharap tidak pernah menyinggung Queen-nya itu.
"Arghhhh tolong hentikan! Sakit sekalii!"
__ADS_1
"Hmmm baiklah. Sesuai keinginanmu saja! Aku sudah puas," sahut Zane yang dalam satu gerakan langsung mengakhiri nyawa ketua Killer Eagle dengan menusuk tepat di jantungnya.
Bukan sekedar menusuk saja, Zane memutar katananya yang menusuk jantung ketua Killer Eagle. Laki-laki itu tidak mampu bersuara lagi saking sakitnya. Sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan yang mengenaskan. Addy pikir Zane sudah puas. Ternyata pemikirannya itu salah besar saat gadis itu meminta sebuah bom dengan ledakan cukup besr dari mafioso MOD5. Bom itu di letakan tepat di sebelah kepala ketua Killer Eagle. Dan—Boom! Bom itu meledak dalam hitungan detik. Menghancurkan tubuh ketua Killer Eagle sampai tidak berbentuk. Zane dan Addy menyaksikan itu dari luar ruangan. Jika berada di dalam sana, mereka pasti ikut terkena ledakan.