
Zane berjalan menyusuri koridor sekolah yang tampak sepi. Di karenakan sekarang semua siswa dan siswi sedang sibuk belajar di kelas masing-masing. Tetapi terkadang ada juga terdengar suara dari ruang kelas yang di lewatinya. Ia tidak memedulikan keadaan sekitarnya sebab sudah cukup sering datang ke sekolahan Azrail. Oh bicara soal Azrail—Adiknya itu mengatakan sedang berada di lapangan basket. Letaknya berada di tengah-tengah sekolahan dan dari jauh, Zane sudah dapat melihat sekelompok siswa laki-laki berpakaian khusus olahraga di sana.
Salah satu dari mereka adalah sang adik—Azrail. Zane segera berjalan menuju pinggiran lapangan basket. Kedatangannya dengan cepat di sadari oleh Azrail. Tampak laki-laki muda itu berlari menghampirinya. Sebelumnya ia sudah mengatakan bahwa akan mengantarkan sendiri Flashdick tadi.
"Hai, kak! Maaf merepotkan kakak pagi-pagi begini," ucap Azrail saat sudah berada di hadapan Zane.
"Tidak masalah," sahut Zane sedikit mengurangi nada dinginnya sembari memberikan Flashdick yang di minta adiknya itu.
"Terima kasih, kak. Kakak memang selalu bisa di andalkan!" Azrail tersenyum lebar, usai menerima Flashdick itu. Nilai sejarahnya terselamatkan dengan kedatangan Zane mengantarkannya.
Zane menganggukkan kepala. "Apapun untukmu,"
"Aku—"
Ucapan Azrail terhenti ketika Zane tiba-tiba mengeser tubuhnya ke samping dan menangkis bola basket yang datang ke arah mereka. Sontak hal itu membuat Azrail terkejut. Jika saja tidak di tangkis Zane, mungkin bola itu akan mengenai kepala atau anggota tubuhnya yang lain.
"Maaf! Aku tidak sengaja," ungkap seorang laki-laki seusia Azrail datang ke hadapan Zane. Laki-laki muda itu berpakaian seragam lawan dari Azrail.
Zane menatapnya dengan sinis. "Sejak kapan perbuatan sengaja, di sebut tidak sengaja?"
Laki-laki muda itu terdiam sesaat. Entah karena takut atau apalah itu, jelasnya ia merasa terintimidasi akan pertanyaan Zane. Sontak Azrail langsung bersuara.
"Kak—Jangan bertanya seperti itu! Dia tidak sengaja dan sudah meminta maaf. Aku tidak mempermasalahkannya juga," sela Azrail lebih dulu.
"Kamu percaya?" Zane melirik sekilas ke arah sang adik.
"Dia temanku, kak. Jadi aku percaya," sahut Azrail cepat.
Meski sebenarnya pertanyaan Zane membuatnya ragu untuk menjawab. Ia ragu karena jika Zane bertanya seperti itu, maka ada sesuatu yang salah.
__ADS_1
Zane tersenyum miring ke arahnya. "Ternyata kamu masih belum terlalu berhati-hati dalam menaruh kepercayaan pada orang,"
Diam.
Azrail berusaha mencerna ucapan Zane barusan. Selama ini kakaknya tidak pernah salah dalam hal apapun, termasuk menilai seseorang.
"Sudahlah. Aku tidak akan mempermasalahkan ini. Tetapi, ingat satu hal ini. Jangan melakukan sesuatu yang membuatku harus turun tangan untuk membereskanmu!" sambungnya pada laki-laki muda di hadapannya itu.
Zane tidak hanya memberi ancaman secara langsung, melainkan juga memberikan tatapan dan aura dingin yang mengintimidasi. Dimana membuat laki-laki muda itu merasakan perasaan tertekan. Namun ia berusaha tampak biasa-biasa saja.
"Baik. Terima kasih!" ungkap laki-laki muda itu tersenyum kaku.
Tanpa membalas ucapan laki-laki muda itu, Zane berbalik badan dan menatap Azrail yang masih terdiam. "Kakak pulang. Kamu belajarlah dengan baik,"
"Siap kak. Hati-hati di jalan!"
"Hei, kalian berdua! Ayo lanjut bermain!" seru salah seorang laki-laki muda lainnya yang berdiri di tengah lapangan. Sontak memecahkan rasa canggung di antara mereka.
"Yeah. Baiklah,"
Azrail dan laki-laki muda itu segera kembali ke lapangan bergabung dengan yang lainnya. Permainan basket kembali di lanjutkan. Sejenak Azrail melupakan ucapan sang kakak tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulangnya dari sekolahan Azrail, Zane benar-benar beristirahat di kamarnya. Tidak ada kegiatan lain yang ia lakukan. Selain berbaring sambil mendengarkan musik, hingga tertidur. Beruntung tugas kuliah sudah di kerjakannya semua. Jadi, ia dapat beristirahat penuh seharian memulihkan tenaga yang cukup terkuras akibat pertarungan kemarin malam. Bahkan waktu makan siang, Zane tetap berada di kamarnya dan pelayan-lah yang mengantarkan makan siangnya ke kamar. Ia baru keluar kamar saat waktu makan tiba. Dimana semua anggota keluarga Anevay sudah berada di rumah.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Pelayan mengatakan kamu beristirahat seharian di kamar,"
Kedatangan Zane ke meja makan langsung di sambut pertanyaan dari sang kakak—Ezio. Raut wajah laki-laki itu tampak masih khawatir.
__ADS_1
"Lebih baik," sahutnya singkat tapi di sertai senyuman tipis hampir tidak terlihat.
Terdengar helaan nafas ringan Ezio.
"Syukurlah,"
"Kak Zane—Ku dengar kakak meledakkan markas Killer Eagle bersama ketua dan para mafiosonya. Apa itu benar?" giliran Azrail yang bertanya dengan begitu antusias.
"Heum. Benar," Zane membenarkan di sertai dehaman pelan.
"Wah. Sayang sekali aku tidak bisa ikut ke sana. Jika saja bisa, aku pasti akan merekamnya. Pasti sangat keren!" cetus Azrail antara sedih, sekaligus kagum akan setiap kali pertarungan Zane bersama MOD.
Sontak nyonya Tasanee menatap tajam sang putra bungsu. "Apapun yang kakakmu lakukan sangatlah berbahaya. Mama tidak mengijinkanmu untuk ikut dengan kakakmu. Kamu mengerti!?"
"Iya Ma—Iya. Lagian kakak juga tidak akan pernah memperbolehkanku untuk ikut," Azrail mencebikkan bibirnya. Sedikit kesal sebab keinginannya untuk ikut melihat bagaimana kehebatan Zane tidak pernah terwujud. Padahal ia sangat ingin melihat sendiri itu.
"Ck. Zane juga melakukan semua hal yang sangat berbahaya karena mama dan papa. Ku harap mama tidak melupakannya," timpal Ezio sembari menyantap makan malam.
Sebelum nyonya Tasanee maupun tuan Ivon bersuara, Zane lebih dulu menyela. "Sudahlah, kak, Azrail. Ini waktunya makan malam. Ada baiknya kita makan sekarang. Daripada terus berbicara,"
"Ah iya! Aku juga sudah sangat lapar," sahut Azrail cepat yang mengerti bahwa Zane sedang menghentikan pembicaraan tanpa akhir antara Ezio dan kedua orang tua mereka nanti.
"Hmmm," Ezio terdengar berdeham berat.
Azrail menghela nafas lega, begitu pula Zane. Setidaknya untuk malam ini tidak terjadi pembicaraan tanpa akhir di antara ketiga orang itu. Walaupun ada akhir, mereka bertiga hanya akan saling emosi. Selalu saja begitu.
Makan malam berlangsung tanpa ada pembicaraan. Nyonya Tasanee yang setiap harinya harus naik darah karena ulah sang putra pertama, tampak diam menetralkan emosi di dalam dirinya. Sedangkan tuan Ivon sedari tadi duduk dengan tenang sembari menyantap makan malamnya. Laki-laki paruh baya itu memang jarang membuka suara. Mungkin karena malas harus terlibat pembicaraan tanpa akhir dengan Ezio. Lebih baik jika seperti itu. Jujur saja Zane juga malas mendengar kedua orang tuanya dan sang kakak harus memperdebatkan soal dirinya.
"Zane—Setelah selesai makan, temui papa di ruang kerja!" seru tuan Ivon sembari beranjak berdiri, usai selesai makan malam.
__ADS_1