
Satu minggu berlalu, hari yang di nantikan beberapa perusahaan telah tiba—Kedatangan pemimpin perusahaan ICGroup bersama sang istri dan anak. Seperti yang di katakan oleh tuan Ivon tempo hari, kedatangan mereka tidak sekedar berlibur. Melainkan mencari dan memilih perusahaan yang dapat di ajak bekerjasama untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Kerjasama dengan ICGroup sangat penting, juga menguntungkan. Oleh karena itu, beberapa perusahaan dalam berbagai bidang sudah menantikan hari ini. Mereka pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan kerjasama itu. Begitu pula dengan persiapan Ezio yang juga telah cukup lama menantikan hari ini.
"Kamu sudah siap?" tanya Ezio pada Zane yang baru saja berdiri di hadapannya.
Zane menganggukkan kepala. "Ya, kak. Ayo pergi!"
Lalu tanpa di minta, gadis itu langsung bergelayut manja di lengan Ezio. Tentu saja hal itu membuat Ezio sedikit terkejut, sekaligus senang. Jarang sekali adiknya bersikap seperti itu. Mungkin tindakannya itu di dasari tugas yang di berikan tuan Ivon agar Zane memastikan pemimpin perusahaan ICGroup memilih perusahaan mereka untuk di ajak bekerja sama. Sehingga Zane harus bersikap seolah ikatan persaudaraannya dengan Ezio sangat dekat. Dimana itu salah satu cara menarik perhatian pemimpin perusahaan ICGroup. Namun apapun alasannya, Ezio tidak peduli. Terpenting baginya adalah sekarang hatinya merasa senang. Itu saja.
"Pakaian ini sangat cocok untukmu. Kamu terlihat lebih luarbiasa," puji Ezio di sela berjalan memasuki sebuah hotel.
Hari ini pemimpin perusahaan ICGroup mengadakan pertemuan dengan beberapa perusahaan besar, termasuk perusahaan keluarga Anevay yang di pimpin Ezio di hotel itu. Pertemuan yang di adakan untuk menghabiskan waktu makan siang bersama, sekaligus menjalin kerjasama. Sebuah kesempatan yang pastinya tidak akan di lewatkan oleh siapapun. Begitu pula halnya dengan Ezio yang memenuhi undangan pemimpin perusahaan ICGroup bersama Zane.
"Jadi maksud kakak biasanya aku terlihat biasa saja?" tanya Zane sedikit mengintimasi—Terdengar dari nada bicaranya yang dingin.
"Bukan begitu. Maksud kakak, kamu selalu luar biasa saat berpenampilan apapun. Hanya saja kali ini penampilanmu lebih luar biasa," jawab Ezio menjelaskan agar ucapannya tadi di salahpahami.
Ezio tidak sedang berbohong. Adiknya itu tampak sangat luar biasa dengan memakai setelan dress merah muda selutut di lapisi blazer putih dan heels berwarna putih senada. Sedangkan untuk wajahnya di polesi make up lebih terlihat daripada biasanya tapi tetap terkesan natural. Penampilan Zane sekarang vibesnya mengarah ke seorang perempuan dewasa yang manis. Sangat serasa berjalan berdampingan dengan Ezio yang tampak memesona memakai setelan jas hitam. Jika tidak memiliki status persaudaraan, mungkin orang-orang akan mengira bahwa mereka berdua sepasang kekasih.
"Hmmm," Zane berdeham pelan bersamaan dengan kakinya yang terus melangkah seirama langkah kaki kakaknya.
__ADS_1
Kedatangan mereka berdua di sambut oleh seorang pelayan yang telah menunggu sedari tadi. Pelayan itu langsung mengantarkan mereka menuju restoran yang masih terdapat di lantai dasar. Sehingga mereka tidak perlu menaiki lift untuk sampai di sana. Setibanya di restoran itu, tampak cukup ramai akan para tamu hotel tersebut. Di sana tersedia berbagai macam menu makanan yang di sajikan khusus untuk menjamu para tamu. Salah satu hal yang mampu membuat para tamu nyaman saat menginap.
Ezio dan Zane sama-sama mengedarkan pandangan mereka ke arah seluruh ruangan restoran tersebut. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menemukan keberadaan pemimpin perusahaan ICGroup yang sedang duduk bersama beberapa pemimpin perusahaan lainnya di dekat sebuah kaca besar. Pelayan tadi pun berhenti berjalan tetap di dekat meja yang di tempati para pemimpin perusahaan ternama itu.
"Silahkan tuan, nona!" pelayan itu mempersilahkan untuk mereka berdua datang ke meja itu dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Terima kasih," balas Ezio singkat sembari tersenyum tipis.
"Sama-sama," pelayan itu segera berjalan pergi.
Mereka berdua kembali berjalan mendekati meja itu. Kedatangan mereka langsung di sambut tatapan intens para pemimpin perusahaan ternama lainnya.
"Tidak masalah, Presider Ezio. Duduklah!" sahut tuan Ichiro tersenyum lebar—Sifatnya memang begitu hangat pada siapapun.
"Terima kasih, tuan!"
Ezio segera menarik kursi untuk Zane. Tindakan Ezio di sambut hangat oleh Zane yang langsung duduk di kursi itu. Baru setelahnya Ezio duduk di sebelahnya.
"Oh ya, Presider Ezio—Siapa gadis cantik ini? Apa kekasihmu?" tuan Ichiro bertanya dengan nada sedikit menggoda.
__ADS_1
Pertanyaan tuan Ichiro di sambil tawa renyah Ezio. "Hhaha tuan Ichiro bercanda. Aku terlalu sibuk bekerja, mana sempat mencari kekasih. Gadis ini adalah adikku—Zwetta Anevay,"
"Benarkah? Maafkan saya karena tidak tahu soal ini," ucap tuan Ichiro merasa tidak enak hati.
"Tuan tidak perlu minta maaf. Memang saya yang salah karena tidak mengenalkan adik saya sebelumnya," imbuh Ezio santai.
Meski Ezio berucap seperti itu, tampaknya tuan Ichiro masih merasa tidak enak hati. Hal itu terlihat dari tatapannya yang mengarah kepada Zane.
"Saya harap nona Zwetta tidak merasa tersinggung akan hal ini,"
"Bukan hal besar, tuan. Lupakan saja!" cetus Zane dengan nada bicara yang tidak dingin seperti biasanya.
Setelah itu pembicaraan mereka berlanjut di sela mulai menyantap makan siang. Pembicaraan yang terjadi di meja itu, belum menjurus pada bisnis. Melainkan pada cerita kehidupan, serta hal-hal yang cukup menarik untuk di dengarkan. Masing-masing orang atau pemimpin perusahaan memiliki cerita berbeda. Namun mereka tampak antusias mendengarkan cerita satu sama lain. Apalagi cerita kehidupan tuan Ichiro. Benar-benar cerita yang tidak bosan di dengar. Gaya bicara tuan Ichiro pun seperti menyesuaikan situasi, dimana sedang berbicara dengan para anak muda di dunia bisnis. Sesekali ia melontarkan candaan yang mampu membuat suasana benar-benar mencair, tidak setegang sebelumnya.
Zane yang biasanya irit bicara pun, sekarang cukup terbilang lebih banyak berbicara. Ia sungguh memerankan perannya dengan baik agar bisa menarik perhatian tuan Ichiro. Sikapnya ini mengejutkan Ezio dan para pemimpin perusahaan lainnya. Bagaimana tidak? Selama ini Zane jarang sekali bicara. Bahkan semua orang telah mengetahui hal itu. Lalu sekarang lihatlah—Gadis itu banyak bicara saat berinteraksi dengan tuan Ichiro. Hal yang mengejutkan tapi Ezio senang sebab bisa melihat itu. Berharap suatu hari nanti, Zane akan membuang sifat dinginnya dan bersikap hangat seperti ini.
"Mereka semua telah menjelaskan dan mengajukan berkas kerjasama. Bagaimana dengan anda, Presider Ezio? Keuntungan apa yang bisa perusahaan Anevay berikan pada perusahaan saya?" tanya tuan Ichiro usai mendengarkan penjelasan dan pengajuan kerjsama masing-masing pemimpin perusahaan yang telah di undangnya.
"Keuntungan yang tidak bisa di berikan mereka,"
__ADS_1