
"Mana? Kok kamu belum ngasih ibu?" bu Ratih tiba tiba muncul di belakang Reyya yang tengah bergulat dengan sepatunya yang masih terasa sempit.
"Sabar buk. Gaji ku belum sempat kuambil, kemarin malam pak Rio pulang lebih awal" jawab Reyya tanpa menoleh pada wajah jutek sang ibu.
Bu Ratih memilih masuk kembali ke rumah. Hari ini dia tidak punya cukup tenaga untuk berdebat dengan Reyya. Gadis cantik itu bersyukur ibunya tidak memulai perdebatan dengannya.
Reyya meraih tasnya dan berjalan menuju tempat kerjanya. Teriknya matahari menyengat kulitnya yang terbuka. Reyya berlari lari kecil sambil sesekali melirik jam murah di tangannya. Pukul tiga pas.
"Sial. Aku bisa kena omel lagi" ucapnya dalam hati. Setelah melewati belokan terakhir, terlihat sebuah gedung berlantai tujuh. Reyya segera berlari mengabaikan kesakitan yang ada di kakinya.
"Lambat lagi neng" ucap seorang penjaga.
Reyya hanya tersenyum dan berlari masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Reyya merapikan seragam hitam putihnya. Setelah tiba dilantai empat, pintu lift terbuka. Reyya berjalan keluar, berharap tidak bertemu dengan pak Rio.
"Reyy. Ke ruangan saya"
Reyya mengangguk dan berjalan pelan mengikuti pak Rio yang berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia sedikit gugup karena ketahuan terlambat.
"Reyy. Ini sudah ke tujuh kalinya kamu telat dalam minggu ini. Kalau bukan karena cantik, mungkin kamu sudah saya usir dari sini." ucap pak Rio tanpa filter sambil menatap lekat wajah Reyya yang tertunduk.
"Maaf pak." Reyya tidak ingin terus terusan memberi alasan, sebenarnya Ia juga merasa tidak enak.
"Ini gaji kamu. Tidak ada pemotongan. Kalau bulan ini kamu terlambat lagi, kamu saya tugaskan di dalam"
"Ja-jangan pak. Saya janji tidak akan terjadi lagi"
"Lagi pula banyak pelanggan nomor satu yang minta dilayani oleh kamu"
"Ja-jangan pak." Reyya memohon dengan wajah memelas.
"Kamu pegang kata kata kamu. Sekarang cepat kerjakan tugas kamu"
"Baik pak" Reyya mengambil amplopnya dan dengan cepat meninggalkan ruangan pak Rio.
"Gulat lagi sama emak lu?" tanya Diana, sahabat karib Reyya.
__ADS_1
"Enggak Di. Cucian numpuk. Dari pagi aku nyuci, pinggang ku pegal banget Di"
"Kenapa enggak pergi aja sih Reyy. Kamu bisa pinjam dulu ke aku. Nanti aku bantu cari kontrakan"
"Aku enggak bisa Di. Biar gimana pun, itu ibu dan juga adik ku"
"Ck ck ck. Terserah kamu deh Reyy. Aku harap suatu hari kamu bisa lepas dari rantai ibu mu" Diana kembali fokus pada pekerjaannya.
Reyya termenung, gadis cantik berusia dua puluh tahun itu memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Sebenarnya Reyya bisa saja pergi, namun dia selalu teringat dengan pesan almarhum ayahnya untuk menjaga ibu dan adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.
Terlahir dari orang tua yang miskin bukanlah keinginan ataupun pilihannya. Reyya harus menjalani takdirnya sebagai gadis miskin yang bekerja di hotel yang punya reputasi buruk. Sudah dua tahun sejak tamat dari bangku SMA, Reyya bekerja di hotel Mawar Kenangan. Reyya juga harus mengubur cita citanya untuk menjadi seorang dokter.
Ayah Reyya meninggal saat Reyya masih duduk di bangku SMA, sejak saat itu kehidupan Reyya yang buruk menjadi semakin buruk. Ibu Reyya yang tidak pernah menyayangi nya semakin berlaku buruk padanya sejak ayah Reyya meninggal. Satu satunya orang yang menyayangi nya hanyalah sang ayah.
Pagi hari, Reyya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Setelah itu dia lanjut bekerja di hotel.
"Reyy" Diana membuyarkan lamunannya.
"Iya Di. Kenapa?"
"Ok. Aku udah siap di sini" Reyya berjalan beriringan dengan Diana menuju lantai lima.
Mereka menuju ruang karoke yang terletak di ujung koridor. Ada sepuluh ruang karoke tertutup. Hampir semua ruang terisi setiap jam. Tamu yang datang pun beragam, ada yang karoke dengan rekan rekan kerjanya, ada yang datang dengan pasangannya, ada juga yang datang dengan selingkuhan nya.
Hotel Mawar Kenangan memiliki reputasi sebagai hotel untuk melakukan hal hal maksiat. Bahkan Reyya tidak lepas dari hujatan dan gossip para tetangga karena Ia adalah salah satu karyawan hotel Mawar kenangan. Namun bagi Reyya, mencari uang adalah tujuan utamanya. Dia tidak peduli dengan imej buruk yang melekat pada dirinya.
Sebelum bekerja di hotel pun Ia sudah sering mendapat hinaan dan cacian dari para tetangganya. Bahkan keluarga terkaya di gangnya pun masih punya waktu untuk menghina dirinya.
Reyya dan Diana membersihkan salah satu ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung.
"Si om gendut. Hari ini sama perempuan lain lagi" umpat Diana.
"Ssstt. Kamu jangan ngomong keras keras. Nanti kalo pak Rio dengar, dia bisa ngomel seharian" ucap Reyya seraya menaruh telunjuk di bibirnya.
"Kenapa ya, orang orang yang punya uang mau membuang uang untuk hal hal yang tidak berguna" ucap Diana seraya memungut sampah di lantai.
__ADS_1
"Enggak semua orang punya pikiran yang sama Di. Mungkin mereka terlalu bosan dengan uangnya."
"Bisa saja sih" Diana menghela nafas panjang.
"Ceklekk" pintu ruangan tiba tiba terbuka.
"Kalian sudah selesai? Ada tamu yang mau masuk!" Pak Rio mengejutkan keduanya.
"Sudah pak. Ini tinggal buang sampah" jawab Diana.
"Reyy. Kamu stay di sini." perintah pak Rio.
"Baik pak"
Diana menatap sekilas ke arah Reyya sebelum dia berlalu pergi dengan sekantung kecil sampah tissu dan kulit kacang.
"Yang datang hari ini adalah tamu baru kita, mereka bukan sembarangan orang. Salah satunya adalah seorang CEO muda. Tolong layani mereka dengan sempurna." perintah pak Rio sebelum keluar dari ruangan itu.
"Baik pak"
Reyya merapikan remot dan meletakkan mikropon di tempatnya. Tidak berapa lama, pintu terbuka lebar. Tampak beberapa pria dengan pakaian rapi muncul di balik pintu.
"Selamat datang" ucap Reyya dengan penuh senyum ramah.
Pria pria itu juga menyapa Reyya dengan hangat. Tidak berapa lama empat orang wanita dengan pakaian dan riasan yang rapi juga muncul dengan cekikikan khas wanita karier. Reyya kembali menyapa dan mempersilakan mereka.
Setelah semuanya duduk, Reyya menyerahkan buku menu. Mereka membolak balik buku itu lalu memesan beberapa macam minuman dan cemilan. Setelah mencatat semua pesanan, Reyya hendak segera keluar.
"Mbak. Tunggu sebentar ya. Bos kita belum masuk. Biar nanti pesanannya bisa datang barengan" cegah seorang wanita muda yang bernama Shienna yang memiliki tampilan rapi dan elegan.
"Baik nona" Reyya menunggu sebentar sambil meletakkan remot dan mikropon di atas meja tamu.
Tidak berapa lama, pintu kembali terbuka. Tampak seorang pria muda tampan dengan kemeja hitam yang tampak rapi dan mahal tersenyum kecil pada orang orang yang sedang duduk di dalam.
"Lha, kirain enggak bakalan muncul" ucap Dion.
__ADS_1