Mahligai Kupu Kupu

Mahligai Kupu Kupu
BAB 6


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, Reyya melihat jam di layar hapenya. Sudah pukul satu siang. Reyya semakin merasa gelisah. Dering hapenya mengejutkan Reyya. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Reyya mengangkat telepon dengan hati yang berdebar


"Hallo" sapa Reyya


"Berapa lama lagi aku harus menunggumu?" jawaban ketus terdengar dari seberang telepon.


"Siapa ini?" tanya Reyya yang sebenarnya sudah bisa menebaknya.


"Aku tunggu kamu di kantorku sekarang!" ancam pria itu.


"Aku tidak tahu di mana kantormu, bisa kau kirimkan alamat?"


"Bib" sambungan telepon terputus.


"Sial. Dasar orang kaya sombong. Silahkan tunggu sampai kiamat. Pasti Renna yang memberi nomorku" gerutu Reyya.


"Pip" sebuah pesan muncul di layar hapenya. Reyya membuka pesan whatsapp tersebut. Terlihat nomor Kay mengirimkan lokasinya. Reyya menghela nafas panjang dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengenakan kaos putih dan celana jeans berwarna hitam lalu meraih tasnya. Tidak lupa dia juga membawa seragam hotelnya.


Lokasi yang di tuju tidak terlalu jauh. Reyya memesan kojek dan segera meluncur ke kantor Kay. Lima belas menit kemudian dia telah sampai di sebuah gedung yang bertuliskan Florest Electro.


"Jadi ini kantor milikmu? Sudah sekaya ini masih menuntut ganti rugi pada orang miskin!" ucap Reyya seraya menatap gedung tinggi yang ada di depannya.


Reyya melangkah masuk ke area lobby. Di sana dia langsung berjalan menemui resepsionis.


"Selamat datang mba, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang resepsionis cantik.


"Iya saya mau bertemu dengan pak Kay"


"Maaf mba, mba sudah buat janji?"


"Pak Kay meminta saya menemuinya di kantornya"


"Maaf sebelumnya mba. Mba harus buat janji dulu"


Reyya terlihat sedikit kesal lalu merogoh hape di dalam tasnya. Tiba tiba Dion muncul di belakangnya. Dion sedikit kaget melihat Reyya ada di kantor Florest Electro.


"Nona mau bertemu siapa?" tanyanya pada Reyya yang sibuk menggeser layar hapenya.


"Mba ini mau bertemu dengan pak Kay. Tapi sepertinya belum buat janji" resepsionis cantik itu menjawab sebelum Reyya sempat membuka mulut.


"Mau bertemu Kay?" Dion benar benar dibuat kaget.


"Iya pak. Pak Kay meminta saya menemuinya di kantornya" jawab Reyya


"Silahkan ikut saya. Saya akan antar kan nona langsung ke ruangan pak Kay" Dion terlihat antusias.


Reyya hanya mengikutinya sambil merasa sedikit heran dengan reaksi Dion. Mereka berdua memasuki lift dan berakhir di lantai empat belas. Dion tidak mengatakan atau bertanya apapun, dia hanya sesekali tersenyum melihat Reyya. Dan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan.


Shienna yang duduk di meja sekretaris langsung mendaratkan tatapanya pada Reyya. Dia bertanya tanya apa yang dilakukan gadis hotel itu di sini.


"Ssstttt" Dion yang memperhatikan gelagat Shienna langsung menyuruhnya diam. Shienna semakin dibuat penasaran. Dion mengetuk pintu ruangan Kay dan langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam.

__ADS_1


Kay terlihat sibuk di depan laptopnya. Dia sudah tahu bahwa itu Dion. Karena hanya Dion yang berani seperti itu pada Kay sehingga Ia tidak melihat lagi siapa yang datang.


"Ehmm ehmm" Dion pura pura batuk untuk menarik perhatian Kay agar melihat siapa yang datang, namun Kay mengacuhkannya.


"Ehmm ehhhmmm" Dion melakukannya lebih keras lagi.


"Apaan sih lu. Minum air keran supaya enggak batuk!" jawab Kay tanpa melihat ke arah mereka.


"Tamu lu nih" Dion akhirnya mengeluarkan suaranya.


Kay menoleh ke arah mereka. Dia sedikit gelagapan karena ada Dion.


"Lu tunggu di luar. Aku ada sedikit urusan dengannya!" Kay bangun dari kursinya.


"Siap pak boss" Dion tersenyum nakal sambil menutup pintu.


Kini Reyya semakin gugup saat berhadapan sendirian dengan Kay.


"Silakah duduk!" Kay mempersilahkan Reyya duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Reyya Mendekat dan duduk di sofa empuk itu. Kay duduk di depannya. Reyya bingung harus bagaimana, dia hanya diam menunggu Kay berbicara. Kay memperhatikan gelagat Reyya hingga membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


Setelah beberapa detik membuat gadis itu merasa canggung, akhirnya Kay mengambil selembar kertas dan meletakkan di depan Reyya.


"Itu semua kerugian yang diakibatkan oleh adik kamu" ucapnya sambil menatap Reyya.


Reyya mengambil kertas itu dan mengamati setiap detilnya. Dan seketika itu matanya terbelalak tatkala melihat total pengeluaran yang harus dibayarkan untuk memperbaiki mobil itu.


"Kalau kamu kurang yakin, kamu silakan datang sendiri ke sana. Mobilku sedang diperbaiki di sana!"


"Ta-tapi ini terlalu banyak. Aku tidak punya uang sebanyak ini. Bahkan jika menjual rumahku belum tentu bisa mendapatkan uang sebanyak ini" ucap Reyya dengan dada yang sesak.


Kay sudah tahu pasti apa yang akan di dengar dari gadis yang tidak berdaya yang ada di hadapannya itu. Dia sangat tahu keadaan ekonomi keluarga Reyya. Hal ini menjadi sebuah keuntungan besar untuk mengerjai gadis itu.


"Tolong beri aku waktu sampai lima tahun, aku berjanji akan melunasinya"


"Ck ck ck" Kay tersenyum licik mendengar Reyya memohon.


"Lima tahun? Apakah kau tidak waras?" sahut Kay.


"Tolong beri aku waktu. Kamu pasti tahu bagaimana keadaan kami"


"Ya, aku tahu itu. Oleh karena itu, aku akan memberi kamu dua pilihan!"


"Pilihan?. Maksud kamu?"


"Pilihan pertama adalah, kau harus tidur denganku--"


"Apa? Apa kau sudah gila?" Reyya sangat marah hingga memotong pembicaraan Kay.


"Aku belum selesai. Pilihan ke dua adalah kau harus menjadi babuku dan menuruti semua kemauanku selama setahun."

__ADS_1


"Kau benar benar sudah kehilangan akal" Reyya mengepalkan tangannya dan bangkit dari tempat duduknya.


"Duduk!" Kay membentak Reyya.


Reyya yang tidak berdaya kembali duduk dengan wajah menunduk dan cemberut.


"Silahkan memilih! Atau kau harus membayar semuanya hari ini"


"Aku tidak punya uang sebanyak itu!"


"Kau harusnya bersyukur aku memberimu harga sebanyak itu"


"Apa? Dasar lelaki mesum"


"Apa? Kau bilang apa barusan"


"Ti-tidak. Aku hanya salah bicara" Reyya tidak ingin menambah kesulitan pada dirinya.


"A-aku akan memikirkannya nanti"


"Kau harus menjawabnya sekarang dan menandatangani pilihanmu!" tegas Kay.


"Apa? Menandatangani?"


"Tentu saja. Aku tidak ingin kau kabur dan lari dari tanggung jawabmu. Bukankah ibumu sering melakukan hal itu"


Reyya tertunduk lesu. Dia sungguh tersudut dan tidak punya pilihan. Kay menyerahkan dua lembar kertas.


"Silahkan tanda tangan pada pilihan yang kamu ambil"


Reyya mengambil kertas itu dan menandatanganinya lalu bangkit dan keluar dari ruangan itu. Kay tersenyum puas lalu menyimpan kertas kertas itu. Tidak berapa lama Dion kembali masuk ke ruangannya.


"Apa ini artinya aku harus menyingkirkan Serlly?"


"Kau sebaiknya segera melakukan itu."


"Tapi aku perlu buktinya pak boss!"


Kay keluar dari ruangannya tanpa memperdulikan Dion.


Pukul dua lewat dua puluh menit Reyya sudah selesai berganti pakaian dan masuk ke ruangan kerjanya. Diana menghampiri sahabatnya yang kelihatan lesu dan tidak berdaya itu.


"Ada apa? Bagaimana keadaan Renna?" tanyanya


"Seperti biasa. Masalah baru lagi."


"Ganti rugi lagi?"


Reyya mengangguk dan duduk bersandar di sofa.


"Berapa? Mungkin aku bisa bantu!" tanya Diana

__ADS_1


"Seratus lima puluh juta" jawab Reyya dengan tatapan kosong


__ADS_2