
Pria tampan itu bukan lah orang asing bagi Reyya. Dia adalah Kay Florest. Anak pertama dari keluarga Florest. Keluarga nya adalah orang kaya terpandang di kompleknya. Sejak kecil Reyya sudah sering melihatnya, namun tidak pernah sekalipun mereka berbicara layaknya tetangga.
Rumah Reyya yang kecil dan terkesan kotor bersebelahan dengan rumahnya Kay. Keluarga florest yang terkenal sebagai orang kaya terpandang telah hidup berdampingan dengan keluarga Reyya yang sudah miskin sejak Reyya masih kecil.
Kay melangkah masuk dan duduk di sofa terpisah. Reyya dengan cepat menyerahkan buku menu. Kay tidak mengambil buku itu, dia mendongak dan menatap Reyya dengan sedikit terkejut.
"Saya pesan minuman soda saja" ucapnya pada Reyya.
"Baik pak" Reyya mengambil kembali buku menu dan berlalu meninggalkan orang orang itu.
Setelah pintu ruangan tertutup, Reyya menarik nafas panjang, seakan Ia baru saja keluar dari tempat yang menyesakkan dadanya. Reyya segera membawa catatannya ke tempat pesanan dibuat.
Di dalam ruang karoke.
"Kamu kenal cewe tadi?" tanya Dion pada Kay. Dion adalah manager keuangan di perusahaan Florest Electro. Perusahaan yang di bangun oleh Kay Florest. Setelah Ia memisah diri dari perusahaan ayahnya yaitu Florest Utama. Dion adalah sahabatnya sejak kecil sehingga tidak ada rasa segan antara kedua pria itu.
''Hmmm. Tetangga komplek" jawab Kay seadanya. Kay memang tidak terlalu mengenal Reyya. Mereka tidak pernah bicara. Lagipula tidak ada yang perlu dibicarakan diantara mereka.
"Kamu sering main ke sini ya Dion?" tanya Faisal.
"Jangan salah paham Sal. Aku cuma suka dengan tempat karokenya." jawab Dion yang merasa agak tersindir dengan pertanyaan Faisal.
"Ayo! Ngaku aja Dion. Suka lainnya juga enggak apa apa lho! Kamu kan masih jomblo" lanjut Shienna yang menggoda Dion.
Gelak tawa pun terdengar memenuhi ruangan kecil itu.
"Sebenarnya kamu taruhan apa sih? Kok bisa bawa pak Kay ke tempat ini?" tanya Shienna penasaran.
"Rahasia sih. Pokoknya kalian nikmatin aja traktiran hari ini" jawab Dion seraya melirik pak Kay yang sedari tadi hanya diam menatap layar handphonenya.
Tidak berapa lama, pintu ruangan kembali terbuka. Reyya dan seorang pelayan wanita lainnya membawa minuman dan juga beberapa cemilan yang sudah dipesan oleh orang orang di dalam ruangan itu.
Beberapa orang mulai menikmati alunan musik karoke. Reyya meletakkan pesanan di atas meja. Saat hendak meletakkan gelas, Reyya tidak sengaja menginjak kaki Kay dan membuat Kay reflek menarik kakinya sehingga Reyya hampir terjatuh dan minuman yang ada di gelas yang sedang Ia pegang tumpah membasahi kemeja Kay.
__ADS_1
Seluruh ruangan seketika menjadi hening. Semua orang tercengang menyaksikan yang baru saja terjadi.
"Ma-maaf pak. Saya tidak sengaja" ucap Reyya seraya buru buru mengambil tisu.
"Cck" Kay bangkit dan menepis tangan Reyya yang hendak menggelap kemeja nya.
Kay segera keluar dari ruangan itu, Reyya yang panik mengikutinya dari belakang. Tiba tiba Kay berhenti.
"Berhenti mengikuti ku. Auramu sangat tidak baik!" dengan ketus Kay membuat Reyya mematung di tempatnya.
Kay segera berlalu mencari kamar mandi. Reyya masih mematung di tempatnya. Ia tidak percaya dengan yang baru saja Ia dengar dari mulut pria itu. Beberapa detik kemudian Kay kembali muncul di depannya.
"Di mana kamar mandinya?" tanya Kay pada Reyya.
"Di sebelah sini" Reyya menunjukkan kamar mandi kepada Kay.
Tanpa mengucap sepatah kata pun Kay terus berlalu meninggalkan Reyya. Reyya segera berjalan kembali ke ruang karaoke, dia membereskan lantai yang basah. Orang orang di dalam ruangan itu melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan Reyya.
Setelah membersihkan kekacauan itu, Reyya segera bangkit dan keluar. Saat membuka pintu, lagi lagi Ia berpapasan dengan Kay yang tampak ketus saat mendapati dirinya berpapasan dengan Reyya. Reyya hanya menunduk dan langsung keluar.
"Jangan jutek amat bro!. Cantik lho tetangga komplek lu." goda Dion tanpa memperdulikan kekesalan Kay.
"Sialan lu!" gerutu Kay pada sahabatnya itu.
"Gimana kalau dia aja!" bisik Dion pada Kay.
Kay terbelalak mendengar ucapan Dion. Dia tidak menjawab apapun.
"Deal?" Dion terus mendesak.
Kay masih terdiam. Suara riuh teman temannya yang sedang bernyanyi seakan tidak terdengar di kupingnya.
"Diam tandanya setuju. Ok, Deal ya!" Dion menggenggam paksa tangan Kay.
Kay hanya terdiam. Bahkan dirinya tidak tahu kenapa dia harus mengikuti kekonyolan Dion. Dari kecil mereka selalu main taruhan dan Kay tidak pernah sekalipun memenangkan taruhan apapun. Dion tertawa kecil melihat reaksi Kay.
__ADS_1
"Siap siap kalah lagi pak bos" ucap Dion sambil cekikikan.
Kay menatapnya sekilas dan meneguk minumannya. Dia juga tidak yakin bisa mengalahkan Dion, ditambah lagi dengan kejadian yang Menimpanya tadi, namun kali ini dia akan berusaha untuk memenangkan taruhan itu.
Waktu berjalan tanpa terasa. Muda mudi itu terhanyut dalam buaian nyanyian malam. Kay tidak terlalu menikmati suasana itu, dia hanya fokus dengan hapenya. Shienna yang berada di sofa paling ujung sesekali mencuri pandang pada ketampanan Kay yang masih terlihat jelas di dalam keremangan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan tengah malam. Para wanita karier itu mulai bersiap siap untuk pulang ke rumahnya.
"Kami cewe cewe pilang duluan ya" ucap Shienna.
"Ah, kalian enggak asik. Baru jam segini udah cengeng mintak pulang" jawab Dion menggoda.
"Ya. Kalian sebaiknya duluan saja. Tidak baik pulang terlalu malam" ucap Kay yang sedari tadi tidak banyak bicara.
"Saya juga harus balik ni pak" ucap Faisal.
"Ya sudah. Sebaiknya malam ini cukup sampai di sini saja" ucap Kay pada semua karyawannya.
Semuanya mengangguk kecuali Dion, dia tetap asik bernyanyi. Satu per satu mereka keluar dari ruangan itu. Sekarang tinggal Kay dan Dion yang ada di dalam ruangan itu. Kay bersandar dan kembali membuka hapenya, sedangkan Dion masih ingin menghabiskan satu lagu lagi.
Setelah menyelesaikan satu lagu terakhir, Dion melirik ke arah Kay. Kay menatapnya sekilas. Siap tidak siap, Kay harus menyelesaikan taruhannya. Tidak berapa lama, Dion memanggil seorang pelayan lalu membayar tagihannya. Pada akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan itu.
Dion tampak berjalan ke ruangan pak Rio dan mengatakan sesuatu. Kay masih menunggu di lobby hotel. Tidak berapa lama, Dion tampak keluar dari lift.
"Bagaimana?" tanya Kay.
"Sial. Tidak bisa yang itu!" jawab Dion dengan wajah kesal.
"Lemah. Kalau begitu, aku akan mendapatkan apa yang tidak bisa kau dapatkan. Kau harus menyingkirkan Serlly. Kau harus setuju"
"Sial. Baiklah, kali ini aku akan mengikuti mau mu" jawabnya sedikit jengkel.
Kay langsung berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Dion juga masuk ke mobilnya dan langsung meninggalkan hotel mawar kenangan.
Satu persatu Kay memperhatikan orang yang datang ke parkiran, namun yang ditunggu tidak kunjung datang.
__ADS_1
"Di mana kau kupu kupu nakal?" ucapnya dalam hati.