
"Kau jangan berusaha menjadi orang aneh. Aku tidak mengharap apapun. Ini sangat menggangguku" jawab Reyya memperlihatkan kekesalannya.
"Baiklah. Aku cuma mau memperjelas tugas mu!" Kay duduk bersandar sambil menyeruput secangkir kopi hangat dengan tatapan yang terus melekat pada wajah Reyya.
Reyya merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, dia terus berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Kay.
"Kau mau memesan minuman?" tanya Kay setelah duduk tegak.
"Tidak. Aku tidak bisa lama. Aku masih harus kembali ke hotel" jawab Reyya.
"Ke hotel? Bagaimana jika aku tidak mengijinkannya" goda Kay lagi.
Kay terlihat sangat menikmati mempermainkan gadis polos yang ada di hadapannya itu.
"Apa? Jangan lakukan itu. Aku bisa kena sanksi. Tolong jangan terlalu kejam pak!" Reyya memelankan suaranya
"Pak? Apakah aku cukup tua? Panggil aku Kay. Aku tidak suka kau memanggilku pak. Apa karena kau sering keluar dengan bapak bapak?"
Mendengar itu, reyya mengepalkan tangannya. Kesabarannya sangat diuji oleh laki laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku tidak peduli terhadap apapun yang kau pikirkan tentang aku. Sekarang tolong jangan buang waktuku. Katakan apa yang ingin kau katakan!" jawab Reyya tegas
Kay tersenyum licik mendengar penuturan Reyya.
"Di sini aku adalah tuanmu. Aku yang mengaturmu. Bukan sebaliknya"
Reyya menghela nafas panjang dan membuang pandangannya dari wajah Kay. Kay sangat suka melihat gadis itu merasa jengkel. Selama bertahun tahun mereka tidak pernah mencoba untuk saling menyapa. Namun siapa sangka mereka berdua malah terjebak di suasana seperti ini.
"Jadi, tugas mu yang pertama adalah segera datang jika aku membutuhkanmu. Aku tidak peduli kau sedang apa atau sedang dengan siapa!" ucap Kay dengan tatapan tegas dan memaksa.
"Tidak. Itu terlalu sulit!" jawab Reyya
"Aku tidak mau tahu. Kau sudah menandatangani surat perjanjian itu"
"Kau orang yang tidak punya hati!"
"Ya. Aku tahu itu" jawab Kay santai
"Kruk kruuuk" suara perut Reyya yang mulai kelaparan terdengar sangat jelas. Wajah Reyya memerah, dengan refleks Ia memegangi perutnya dan menunduk malu.
"Pesan apapun yang kau mau. Aku tidak mau kamu mati sebelum menjalankan tugasmu!"
Kay memanggil pelayan. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu. Reyya menatap Kay sekilas, lalu mengambil buku menu itu dan membukanya. Semua makanan yang belum pernah Ia makan tertera di sana. Reyya kebingungan harus memesan makanan apa. Akhirnya Reyya hanya asal memilih. Setelah itu pelayan segera meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Tugasmu yang kedua adalah menyiapkan segala kebutuhanku jika aku berada di apartemen" Kay melanjutkan percakapannya.
"Aku akan melakukannya" Reyya menjawab tanpa memandang wajah Kay
"Jika aku bicara, kau harus memperhatikan ku. Di mana kesopananmu"
"Aku mendengarmu meski tidak melihat wajahmu"
"Aku tidak suka itu. Mulai sekarang jangan memalingkan wajahmu ketika aku sedang berbicara. Kau harus mengingatnya! Jika tidak, aku akan..." Kay menghentikan omongannya.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak menurutimu?"
"Aku suka kau bertanya. Gadis pintar!"
"Jawab aku!"
"Aku akan menciummu sebagai hukuman!"
"Apa? Kau tidak waras!"
Kay tertawa mendengar jawaban Reyya. Wajah Reyya memerah. Antara marah dan malu bercampur menjadi satu. Tidak berapa lama sorang pelayan membawa pesanan Reyya. Sepotong steak dan sepiring makanan penutup serta segelas jus. Reyya segera mengambil piring steak, Ia benar benar merasa tidak leluasa karena Kay tidak mengalihkan pandangannya dari Reyya.
"Suasana canggung macam apa ini?" batin Reyya seraya memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya.
"Kau pasti belum pernah menikmati makanan lezat, makanya aku mengajakmu ke sini" ucap Kay
Wajah Reyya memerah, Ia sangat malu, namun Ia tidak menjawab apapun karena yang dikatakan oleh Kay memang benar. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Kay juga melahap makanannya. Reyya mengambil hapenya dan melihat jam yang ada di layarnya. Waktu terasa begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah pukul setengah sepuluh malam.
Reyya menatap Kay, namun dia tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Baiklah. Ku rasa malam ini lumayan menyenangkan. Kau bisa pergi sekarang!"
Reyya merasa sangat lega. Dia bangkit dari tempat duduknya dan segera meninggalkan Kay tanpa mengucap terimakasih.
"Dasar gadis nakal!" gumam Kay dalam hatinya
Reyya menunggu taksi yang lewat.
"Dasar pria mesum. Bisa bisanya dia berpikir ingin menghukumku dengan ciuman!" umpatnya di dalam hati.
Dua puluh menit berlalu, tidak satupun taksi terlihat. Udara terasa semakin dingin dengan hembusan angin. Petir terlihat menyambar di kejauhan, hujan segera akan turun. Reyya mulai gelisah. Dia tidak punya paket data untuk memesan kojek. Pakaiannya yang tipis membuat Reyya semakin kedinginan di tepi jalan. Reyya berjalan pelan berharap ada taksi yang lewat.
Hujan rintik rintik mulai menitik di wajahnya. Semakin lama semakin terasa deras. Reyya berteduh di bawah sebuah pohon kecil di tepi jalan.
__ADS_1
Mobil Kay keluar dari area parkir. Kay bergerak pelan dan menyoroti Reyya di kejauhan. Kay menghentikan mobilnya di samping Reyya lalu menurunkan kaca mobil.
"Naiklah!" ucapnya
"Aku akan menunggu taksi saja. Kamu duluan saja!" Reyya tidak ingin berada dalam satu mobil dengan pria itu.
"Kau berdiri di pinggir jalan dengan pakaian seperti itu di tengah malam, apa yang kau pikirkan nona?"
Reyya melihat dirinya sendiri. Pakaiannya yang tipis sudah mulai basah, apa yang dikatakan oleh Kay ada benarnya. Reyya berjalan mendekat dan membuka pintu mobil lalu duduk dan menarik roknya mencoba menutupi lututnya.
Kay memperhatikan Reyya sebentar sebelum kembali fokus mengemudi. Reyya merasa sangat tidak nyaman berada di situasi ini. Kay hanya tersenyum sambil terus mengemudi.
"Sudah berapa lama kamu kerja di hotel itu?" tiba tiba Kay bertanya.
"Dua tahun lebih. Sejak aku lulus SMA" jawab Reyya tanpa menoleh pada Kay.
Kay terdiam sebentar. Lalu kembali bertanya.
"Kenapa kamu menolak tawaranku malam itu?"
"Apa? Aku bukan kupu kupu malam! Hanya karena aku bekerja di hotel Mawar Kenangan tidak berarti aku bekerja seperti itu!" jawab Reyya terkejut dengan pertanyaan Kay.
"Apa aku mempercayai mu?" Kay masih meragukan Reyya
"Aku tidak memintamu mempercayaiku. Tidak ada untungnya juga kau mempercayaiku atau tidak!"
Kay terdiam hingga akhirnya mereka sampai di depan hotel. Reyya membuka pintu mobil dan mengucapkan terimakasih lalu Ia keluar dan menutup kembali pintu mobil. Kay masih memandangi Reyya yang berlari kecil memasuki hotel. Setelah Reyya benar benar tidak terlihat lagi barulah Kay berlalu pergi.
"Pak Rio enggak nanyain aku kan?" tanya Reyya pada Diana
"Aman Reyy. Kamu mau ganti pakaian?"
"Enggak pa pa Di, ini udah hampir kering"
"Gimana tadi? Pertemuan dengan Tuan Muda?"
"Hmmm. Dia minta aku siap kapanpun dia butuh" jawab Reyya sambil menghela nafas panjang.
"Berengsek tuh cowo! Kamu harus hati hati Reyy. Dia pasti ada maunya!"
"Aku akan selalu waspada" jawab Reyya sambil tersenyum.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya akhirnya Reyya dan Diana pulang ke rumah masing masing.
__ADS_1