Mahligai Kupu Kupu

Mahligai Kupu Kupu
BAB 3


__ADS_3

Dua puluh menit berlalu, akhirnya Kay menyalakan mobilnya dan keluar dari area parkir. Kay menghentikan mobilnya di depan hotel, dia masih belum menyerah. Jari jarinya menari nari di atas setir mobil menandakan kesabarannya yang setipis tisu. Tidak berapa lama, seorang gadis muncul dari arah pintu gerbang. Dia adalah Reyya, gadis yang menjadi sasaran taruhannya dengan Dion.


Kay membuka mobilnya dan keluar, Ia menghentikan langkah Reyya. Reyya sedikit terkejut mendapati Kay menghampirinya.


Kay sedikit ragu dan terdiam beberapa saat. Reyya juga terdiam tidak tahu apa yang sedang diinginkan oleh pria itu.


"Aku akan mengantar mu, naiklah!" Kay mengumpulkan keberaniannya untuk mencairkan rasa canggungnya.


"Terimakasih pak. Tapi saya bisa pulang sendiri" Reyya berusaha menolak ajakan Kay.


"Naiklah. Anggap saja ini bayaran atas kecerobohanmu tadi" Kay mulai sedikit memaksa.


"Tapi, anda yang dirugikan. Kenapa anda yang harus mengantar saya?" Reyya sedikit heran dengan sikap Kay.


"Naiklah!" Kay membuka pintu dan sedikit mendorong Reyya masuk.


Dengan terpaksa, Reyya duduk dan merasa ada yang salah dengan sikap Kay. Kay masuk dan mulai mengemudikan mobilnya. Reyya hanya terdiam tidak tahu harus mulai berbicara apa. Kay tidak menoleh sedikitpun. Dia hanya fokus mengemudikan mobilnya.


Di perempatan jalan, Kay melajukan mobilnya yang seharusnya berbelok. Reyya yang mulai merasa aneh akhirnya bersuara.


"Ini bukan arah jalan rumah kita pak"


Kay menoleh kearahnya beberapa detik, namun Ia tidak menjawab apapun dan terus fokus mengemudi.


"Pak!" Reyya mulai merasa ada yang salah dengan sikap pria dingin yang ada di sampingnya.


"Pak!" sekali lagi Reyya mencoba menyadarkan Kay.


"Berapa tarifmu semalam?" tiba tiba Kay mengejutkan Reyya dengan pertanyaannya.


Reyya menatap Kay dengan mata menyala, namun Kay hanya menatap lurus ke jalan.


"Apa maksudmu pak? Turunkan aku di sini!" Reyya merasa kesal dengan apa yang baru saja Ia dengar.


Kay tersenyum sinis sambil terus menatap jalan.


"Baiklah. Kau boleh meminta berapapun setelah pekerjaanmu selesai"

__ADS_1


Ucapan Kay hanya membuat Reyya semakin jengkel.


"Hentikan mobilnya di sini. Aku mau turun!" Reyya mulai merasa sangat marah.


Kay tidak memperdulikannya, Ia terus mengemudikan mobilnya ke arah apartemennya.


"Kau tidak dengar. Turunkan aku disini! Aku bukan perempuan yang seperti kau pikirkan! Kau salah orang pak!" Reyya sudah tidak tahan dengan sikap Kay yang acuh padanya.


"Semua orang tahu pekerjaanmu. Kau tidak perlu merasa malu hanya karena kita bertetangga." ucapan Kay hanya menambah kemarahan Reyya.


Mobil Kay masuk ke area parkiran apartemen. Ia menghentikan mobilnya dan menatap lekat ke arah Reyya. Reyya yang marah membalas menatapnya dan membuka pintu mobil, namun pintu itu terkunci.


"Apa yang kau inginkan pak?"


"Pertanyaan apa itu? Bukankah sudah jelas yang kukatakan tadi. Kau akan dapat banyak uang tanpa harus membagi dengan pihak hotel. Apakah aku terlalu baik?"


"Ternyata kau tidak ada bedanya dengan semua lelaki sialan yang datang ke hotel. Apa itu tujuanmu mencari uang? Sayangnya kau membawa orang yang salah. Kau tidak akan mendapat apapun dari ku. Buka mobilnya! Aku mau turun. Kau benar benar membuang waktuku"


Mendengar ucapan Reyya, Kay mendekatkan wajahnya ke wajah Reyya.


Reyya tersentak dan menelan ludahnya ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kay. Gadis itu tidak menyangka Kay masih ingat peristiwa itu.


Air mata Reyya tiba tiba menitik di pipinya, dia tertunduk dengan penuh rasa malu.


"Aku mungkin sangat miskin hingga pernah mencuri di rumahmu. Tapi aku tidak menjual tubuhku untuk mencari uang" dengan wajah tertunduk Reyya bersuara lirih.


Kay memundurkan wajahnya dan duduk kembali ke posisinya, dia sedikit menyesal telah mengungkit kejadian itu. Kay terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka pintu. Reyya segera turun dan berjalan meninggalkan parkiran. Kay mengikutinya dari belakang, dia menarik tangan Reyya dan memberikan beberapa lembar uang merah.


"Ambil ini untuk membayar taksi!"


"Tidak perlu. Aku masih punya uang dan tidak membutuhkan uangmu!" Reyya melepaskan tangannya dan berlari menjauhi Kay.


.............


Sesampainya di rumah, Reyya disambut oleh ibunya.


"Kamu pulang selarut ini? Pasti ngumpulin banyak duit. Mana jatah ibu?" ucap bu Ratih setelah Reyya menutup pintu.

__ADS_1


Reyya yang tengah terluka hatinya tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia berlari masuk ke kamar dengan deraian air mata. Bu ratih mengejarnya dari belakang.


"Kamu udah lupa janji kamu?" teriak bu Ratih dari balik pintu kamar Reyya.


Reyya menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis sesenggukan. Perasaan hancur terus berulang dalam kehidupannya, entah sampai kapan kehidupannya akan bersinar terang seperti dalam impiannya.


Malam semakin larut. Reyya tertidur dalam kesedihannya, berharap esok hari akan lebih baik.


"Dorrr dorrr dorrr" suara gedoran pintu terasa sangat mengganggu.


Reyya terbangun dari tidurnya, dia melihat cahaya matahari dari gorden yang sedikit terbuka. Rasanya baru sebentar Ia tertidur.


"Reyy... Reyy..." teriak bu Ratih dari balik pintu kamar Reyya.


Dengan perasaan malas Reyya bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.


"Mana uangnya. Adik kamu mau berangkat sekolah. Kamu malah enak enakan tidur!"


Reyya berjalan kembali ke tempat tidurnya dan mencari tasnya. Dia membuka amplop yang diberikan oleh pak Rio dan mengambil sepuluh lembar uang berwarna merah lalu menyerahkan pada ibunya. Bu Ratih menghitung uang yang diberikan Reyya dengan wajah kecewa.


"Kamu bercanda?"


"Aku cuma bisa ngasih segitu bulan ini bu, kebutuhanku juga banyak!"


"Oooo kamu udah pintar ngelawan ibu ya! Kamu udah merasa kaya sekarang?"


"Bu. Tolong! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan ibu" Reyya menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Dasar anak pembawa sial!" umpat bu Ratih dari balik pintu.


Reyya terduduk lemas di balik pintu. Ia memeluk lututnya sambil kembali menangisi nasibnya. Lima menit berlalu Reyya masih belum beranjak dari balik pintu. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Reyya bangkit dan menyibak tirai lusuh jendela kamarnya.


Udara sejuk pagi hari menyapa kulit wajahnya yang lembut dan basah oleh air mata. Reyya menatap pagar tembok yang membentang di depan kamarnya. Pagar tembok itu adalah pembatas rumahnya dan rumah tuan muda Kay. Seperti langit dan bumi, rumah tiga lantai itu berdiri megah di samping rumahnya. Jendela jendela besar menghiasi dinding istana itu.


Reyya tersentak dari lamunannya dan berjalan keluar kamarnya menuju kamar mandi. Setelah masuk ke dalam kamar mandi, mata Reyya segera mendarat ke atas keranjang baju kotor. Baru saja kemarin siang keranjang baju kotor itu kosong dan terasa lega, tetapi hari ini keranjang itu sudah kembali terisi. Reyya menghela nafas panjang dan berjalan melewatinya. Dia membuka pakaian seragamnya yang sudah berantakan karena dipakai untuk tidur.


Gayung demi gayung air mengalir memberikan kesegaran pada tubuh reyya.

__ADS_1


__ADS_2