Mahligai Kupu Kupu

Mahligai Kupu Kupu
BAB 10


__ADS_3

Reyya terdiam ketika melihat Kay menatapnya dengan dingin. Jantungnya berdebar tak karuan. Kay yang mendapati Reyya di depan pintunya juga sama terkejutnya dengan Reyya.


"Kau tidak menjawab teleponku!" kalimat pertama yang keluar dari mulut Kay.


"Aku di sini" jawab Reyya dengan ekspresi datar.


"Kau lama sekali. Apa kau tidak bisa membaca?" Kay terdengar marah.


"Kau memintaku datang ke apartemenmu. Aku sedikit ketakutan!" Reyya berkata jujur


"Kau bercanda? Cepat masuk!" perintah Kay


Reyya ragu dan tidak mengangkat langkahnya.


"Apa perlu aku menggendongmu?" Kay tidak sabar saat melihat Reyya hanya berdiri saja.


Mendengar itu Reyya segera masuk melewati Kay yang sedang berdiri di ambang pintu. Di dalam apartemen terlihat begitu modern dan nyaman, namun ada sebagian barang yang terlihat berantakan tidak tertata dengan rapi.


Setelah menutup pintu, Kay berjalan masuk dan berhenti di depan Reyya.


"Ada apa? Kau masih takut?" tanyanya melihat Reyya yang berdiri mematung.


Reyya sedikit menyesal karena memakai dress di atas lutut. Meskipun memakai luaran denim, tapi penampilannya masih sangat seksi dan memikat. Kay berjalan masuk ke ruang tv.


"Kemarilah!" perintah Kay pada Reyya.


Reyya mengikuti Kay dari belakang. Bola matanya berputar melihat seluruh isi ruangan.


"Kau jangan berpikir untuk mencuri sesuatu!" ucap Kay yang memperhatikan tingkah Reyya.


Reyya memperlihatkan wajah tidak suka saat Kay mengatakan hal itu, namun dia tidak menjawab apapun.


"Akhir akhir ini aku sangat malas pulang ke rumah. Jadi aku berfikir untuk tinggal di sini" ucap Kay setelah duduk di atas sofa.


"Jadi, tugasmu hari ini adalah membersihkan apartemenku" lanjutnya.


Reyya menghela nafas lega ketika Kay mengatakan tujuannya meminta Reyya datang ke apartemennya.


"Kenapa? Apa kau berpikir aku ingin menidurimu?" tanya Kay yang melihat reaksi Reyya.


Reyya tidak memberi reaksi apapun. Sebenarnya iya masih sangat lemas.

__ADS_1


"Kau bisa bersih bersih?" tanya Kay lagi.


Reyya hanya mengangguk. Kay terlihat tidak suka dengan reaksi Reyya yang terkesan mengabaikannya.


"Kau tidak bisa bicara? Apa suaramu sudah habis?" Kay mulai jengkel.


"Kau sangat cerewet. Lebih cerewet dari ibuku. Kepalaku sakit, bisakah kau tidak terlalu banyak bicara atau bertanya!" jawab Reyya kesal.


Kay geram sekali melihat gadis yang ada di depannya bersikap jutek.


"Rapikan semua rak dan bersihkan lantainya. Aku mau tidur. Tolong jangan berisik. Jika aku terbangun karena ulahmu, aku akan menciummu!"


"Dasar psikopat!" umpat Reyya pelan.


"Kau bilang apa?" tanya Kay mendengar Reyya bergumam.


"Tidak ada tuan. Pergilah tidur. Aku akan mengerjakan tugasku!"


Kay menatapnya sebentar sebelum akhirnya naik ke tempat tidurnya. Reyya mulai membuka jaket denimnya lalu meletakkannya di atas sofa. Dia mulai membersihkan rak dan juga meja meja yang ada di ruangan itu. Setelah itu dia menyusun benda benda yang ada pada rak itu.


Saat merapikan buku buku, tanpa sengaja Reyya menemukan sebuah bingkai foto. Kay tampak dalam foto tersebut dengan seorang gadis cantik berambut panjang. Foto itu terlihat sudah lama, Kay masih memakai seragam SMA juga gadis itu. Reyya seperti tidak asing saat melihat foto gadis itu. Dia mengingat ingat dimana dia pernah melihat gadis itu, namun tetap tak menemukan jawabannya.


Reyya menatap wajah Kay yang tampak tertidur pulas. Tidak dapat dipungkiri bahwa wajah pria itu sangatlah tampan. Bahkan Reyya pun mengakui bahwa Kay adalah satu satunya pria tertampan yang Ia lihat sejak masih kecil. Reyya sedikit melamun sampai ketika Kay membuka matanya. Reyya terkejut hingga Ia salah tingkah.


"Kau pasti sudah lama mengagumi ketampananku. Apakah aku adalah pria impianmu?" ucap Kay yang menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan.


"Kau jangan salah paham! Aku hanya memikirkan suatu hal tentang dirimu!" jawab Reyya sembarangan


"Sesuatu? Kau berkhayal sesuatu tentang diriku?" Kay tersenyum nakal.


"Jangan salah paham!" Reyya segera berpaling meninggalkan Kay.


Kay bangkit dan mengejar Reyya.


"Lantainya masih li--" Reyya belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Kay terpeleset dan jatuh menimpa Reyya ke atas kasur. Wajah Reyya seketika itu memerah seperti buah peach yang ada di film kartun. Kay juga tidak melepaskan tatapannya dari wajah Reyya.


Selang beberapa detik Reyya mendorong tubuh Kay. Kay menjatuhkan dirinya ke samping. Dengan hati hati Reyya meninggalkan ruangan itu. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar. Reyya belum pernah berada di situasi seperti itu. Merasakan hal seperti itu adalah hal yang baru bagi dirinya. Reyya memegang jantungnya sambil bersandar di dinding ruang televisi.


Di atas tempat tidur, Kay juga merasa begitu berdebar.


Lalu dia bangkit dan menyusul Reyya ke ruang televisi. Reyya sedang bersiap siap untuk pulang.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Kay melihat Reyya yang sudah mengenakan kembali denimnya.


"Aku sudah selesai. Aku harus pulang sekarang. Aku juga harus ke hotel satu jam lagi" jawab Reyya sambil mengambil tasnya.


''Apakah aku sudah mengatakan kau boleh pergi" ucap Kay dingin.


Reyya menatap Kay lalu berkata, "Kay. Aku harus bekerja! Kau tahu aku sangat memerlukan uang!"


Reyya segera berjalan melewati Kay. Kay hanya terdiam tidak bisa menahan Reyya. Reyya bersyukur Kay tidak mengikutinya. Reyya segera pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit. Reyya segera bergegas menuju hotel. Ia bahkan tidak sempat makan.


Pukul dua lewat lima puluh menit Reyya sudah berada di depan hotel.


"Pucat amat neng? Lagi sakit ya?" sapa pak Maman


"Enggak pak" jawab Reyya tanpa berhenti.


Sesampainya di lantai lima, Reyya segera mengerjakan tugasnya. Badannya terasa semakin lemas, dia tidak beristirahat sama sekali hari ini.


"Reyy. Kamu enggak apa apa?. Mukamu pucat banget!" ucap Diana.


"Aku enggak apa apa Di. Aku cuma lelah habis membabu" jawab Reyya.


"Si tuan muda nyuruh lu?" tanya Diana ketus.


"Hmmm. Aku dari tadi ngebersihin apartemennya" jawab Reyya lemas.


"Yaampun Reyy. Sabar ya. Kalau perlu bantuan, kamu bisa kok hubungi aku"


"Terimakasih Di."


Malam harinya Reyya mulai sangat kelelahan. Suhu tubuhnya juga terasa semakin panas. Diana menyarankan agar Reyya segera pulang. Namun Reyya masih mau bertahan untuk dua jam lagi. Tepat pukul sepuluh malam, Kay dan teman temannya masuk ke dalam ruang karoke. Kay meminta Reyya yang melayani mereka pada pak Rio.


"Reyy. Kamu sekarang ke room sembilan!" perintah pak Rio pada Reyya yang sedang beristirahat di sofa


"Tapi pak, Reyya sedang tidak enak badan, biar saya yang ke sana" tawar Diana.


"Reyya. Go!" pak Rio tidak menghiraukan Diana.


"Baik pak" Reyya bangkit dan berjalan ke ruangan nomor sembilan.


Ketika membuka pintu, Reyya sedikit terkejut menangkap sosok Kay yang juga sedang menatap dirinya. Tak hanya dirinya semua temannya juga menatap ke arahnya. Dia adalah perempuan satu satunya di ruangan itu pada saat itu. Reyya sedikit canggung namun tetap melangkah masuk.

__ADS_1


__ADS_2