
Suasana rumah reyya sudah terasa sunyi. Renna dan bu Ratih sudah tidur pulas di kamar masing masing. Reyya mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. Sebelum memejamkan matanya Reyya meraih hapenya dan membuka aplikasi whatsapp. Reyya membuka pesan dari Kay. Nomornya masih belum tersimpan. Reyya akhirnya menyimpan nomor itu dengan nama yang unik.
"Pat Kay. Nama yang cocok untuk pria sepertimu. Kamu cuma kaya harta, tapi attitude kamu miskin banget. Selama ini aku pikir keluargamu mendidikmu dengan baik" ucap Reyya setelah mengetik nama pengguna pada nomor whatsapp Kay.
Rasa lelah merayapi tubuhnya. Setelah beberapa kali menguap, akhirnya Reyya tertidur pulas.
Sementara itu di istana Kay.
Kay memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah mewah itu. Saat melewati ruang keluarga, Kay terkejut mendapati mamanya tengah duduk menunggu kedatangan putra kesayangannya.
"Mama belum tidur?" tanya Kay menghampiri mamanya.
"Kay. Mama mau bicara sama kamu!" nyonya Florest langsung memanggil Kay
Kay duduk di sebuah sofa yang sedikit jauh dari mamanya.
"Kay. Lagi lagi kamu bersikap seperti itu" ucap nyonya Florest dengan wajah murung.
Kay segera mengerti maksud mamanya. Serlly pasti sudah memberitahu mamanya perihal pembicaraannya dengan Dion.
"Kay. Serlly anak yang baik. Mama udah lama kenal mamanya. Kamu jangan main main lagi Kay! Mau sampai kapan kamu main main terus?" ucap nyonya Florest dengan mimik serius
"Ma. Aku enggak suka Serlly. Dari pertama ketemu dia, Kay udah enggak suka. Kasih Kay kesempatan untuk cari pasangan hidup Kay ma!" jawab Kay tak kalah serius
"Mama enggak pernah ngehalangin kamu cari pasangan, Kay. Tapi sampai detik ini pun kamu belum pernah ngenalin gadis manapun ke mama. Jangan ikut ikutan Dion Kay!"
"Ma, mama tenang aja. Pokoknya tahun ini mama bakalan punya mantu" Kay hanya asal bicara untuk menenangkan sang mama.
Nyonya Florest tersenyum kegirangan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kay.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya nak. Ini udah larut malam"
"Baik ma" Kay bangkit dan meninggalkan nyonya Florest di ruang keluarga.
Setelah membersihkan wajahnya dan mengganti pakaian, Kay mengambil hapenya lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur super empuknya. Kay melihat nomor reyya lalu menyimpannya dengan nama kupu kupu.
"Harusnya sih kupu kupu nakal. Tapi kupu kupu juga udah cocok!" gumamnya sambil tersenyum nakal.
...........
__ADS_1
Pagi harinya Reyya terbangun oleh suara ribut di ruang tengah.
"Anak gadis kok jam segini belum bangun!" teriak bu Ratih
Reyya bangkit dan meraih hapenya. Pukul sembilan pagi. Reyya juga sedikit terkejut ketika melihat jam, tidak biasanya dia terlambat bangun. Tubuhnya terasa berat dan lemah. Suhu tubuhnya terasa hangat.
Reyya bangkit dan membuka pintu kamar. Bu Ratih dan Renna sedang makan sambil menonton televisi. Reyya berjalan menuju kamar mandi. Bu Ratih terus mengomel di belakang Reyya. Reyya menutup kamar mandi lalu membersihkan wajahnya. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan duduk di depan bu Ratih dan Renna.
Renna sedikit panik melihat kakaknya bersikap seperti itu. Renna sudah bisa melihat tatapan dingin dari sang kakak.
"Kamu tahu berapa orang itu minta kita ganti rugi?" tanyanya dengan tatapan membunuh.
Renna bangkit dan duduk di dekat ibunya.
"Berapa memangnya? Kan bisa kamu cicil dengan gaji kamu" jawab bu Ratih santai.
"Gaji aku? Gaji aku lima tahun pun enggak bakalan nutupin uang yang dia minta!" jawab Reyya kesal.
Reyya mengambil kertas kerugian yang diberikan oleh Kay lalu menyodorkan pada ibunya. Bu ratih hampir jantungan ketika melihat jumlah uang itu.
"Ja-jadi bagaimana sekarang?" tanya bu Ratih terbata bata.
"Mulai sekarang aku enggak bisa ngasih ibu dan Renna lagi setiap bulannya. Dan mulai sekarang kamu harus mengerjakan tugas kamu sendiri di rumah. Aku akan sangat sibuk mencari uang. Jika kamu tidak nurut, kamu ganti sendiri tuh kerugian"
"Kamu dengar kan Renn?"
"Iya kak, aku bakal nyuci sendiri dan juga ngerjain pekerjaan rumah lainnya" jawab Renna tanpa memandang Reyya.
Reyya bangkit dan masuk kembali ke kamarnya. Dia sedikit merasa lega. Reyya merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasurnya. Tidak berapa lama sebuah pesan muncul di layar hapenya. Reyya meraih dan membuka lock screen hapenya. Sebuah pesan dari Pat Kay tertera di layar notifikasi. Reyya membuka pesan itu.
"Sekarang aku punya nama panggilan khusus buat kamu" bunyi pesan dari Kay.
Reyya tidak membalasnya. Dia meletakkan kembali hapenya. Beberapa detik kemudian bunyi notifikasi kembali terdengar. Reyya meraih kembali hapenya. Sebuah pesan dari nomor yang sama. Reyya membuka pesan itu.
"Kupu kupu. Nama yang bagus kan?" bunyi pesan dari Kay.
Reyya yang lemas dibuat mendidih dengan nama panggilan yang di sematkan oleh Kay, namun ia memilih tidak membalas pesan itu. Tubuhnya terasa lelah sekali. Tidak berapa lama, hapenya berdering, sebuah panggilan masuk dari Kay. Reyya merasa sangat terganggu dan malas meladeni pria itu. Reyya sengaja mengabaikan panggilan Kay, namun panggilan dari Kay seakan tidak ada ujungnya.
Dengan malasnya reyya terpaksa mengangkat panggilan dari Kay.
__ADS_1
"Hallo"
"Kenapa enggak balas pesanku" terdengar suara Kay yang jengkel
"Ini masih pagi. Kamu mau apa?"
"Aku sudah mengatakan dengan jelas! Kau harus siap kapan dan dimana pun!"
"Baiklah tuan! Kau mau apa sekarang?"
"Datanglah ke apartemenku sekarang!"
"Kay!" Reyya sedikit mengeluh
"Sekarang!" Kay menutup teleponnya.
"Ck" Reyya merasa sangat tertekan, namun Ia tetap bersiap siap untuk menemui Kay.
Setelah bersiap siap akhirnya Reyya memesan kojek. Tidak berapa lama akhirnya Reyya sampai di apartemen Kay. Reyya mengambil hapenya lalu menekan nomor telepon Kay.
"Naiklah ke lantai empat belas" kay langsung menjawab telepon Reyya.
Reyya menekan tombol lift dan melesat ke lantai empat belas. Dia sedikit gugup dan takut. Dia tidak tahu apa tujuan Kay memintanya bertemu di apartemennya.
Setelah sampai di lantai empat belas Reyya kembali menekan nomor telepon Kay.
"Nomor 44" terdengar suara Kay di balik telepon.
Reyya segera melangkah mencari kamar bernomor 44. Tidak berapa lama Reyya langsung menemukan kamar Kay. Rasa gugup kian merambat ke seluruh tubuhnya.
Reyya hanya berdiri memandangi pintu apartemen Kay. Ada rasa ragu dan khawatir yang menyelimutinya.
Selama bekerja di hotel Mawar Kenangan, Reyya belum pernah berada satu kamar dengan pria asing. Dia sangat takut jika hal yang sangat dihindarinya terjadi pada dirinya.
Di dalam apartemen, Kay sudah tidak sabar menunggu kedatangan Reyya.
"Apa yang dilakukannya? Kenapa lama sekali? Apa dia tersesat?" Kay mulai jengkel menanti Reyya yang tak kunjung hadir.
Kay membuka hapenya dan menekan nomor Reyya. Kay merasa semakin jengkel karena Reyya tidak segera mengangkat teleponnya. Kay melemparkan hapenya ke atas tempat tidur dan berjalan dengan cepat ke arah pintu masuk. Dia yang tidak sabar ingin mencari Reyya di luar.
__ADS_1
Reyya yang semakin gugup tidak berani mengangkat telepon dari Kay. Dia hanya memandangi layar hapenya yang menampilkan sebuah panggilan masuk dari Kay.
Tiba tiba pintu apartemen Kay terbuka. Reyya terkejut dan mematung di depan pintu saat Ia melihat Kay yang menatapnya dengan tatapan dingin yang mematikan.