
Reyya membersihkan dirinya dan mulai mencuci baju baju kotor itu. Satu persatu baju baju kotor itu disikatnya sampai bersih, meskipun kebanyakan baju baju itu adalah milik ibu dan adiknya, Reyya tetap mencucinya dengan benar dan besih.
Setelah selesai mencuci pakaian, Reyya masuk ke kamarnya untuk berpakaian. Reyya mengenakan kaos putih dan celana pendek yang sangat nyaman. Ia berjalan kembali ke kamar mandi dan mengambil keranjang baju yang telah di cucinya. Reyya mengangkat keranjang itu ke tempat jemuran yang berada di samping rumahnya.
Satu persatu baju mulai ia jemur dengan rapi. Saat kembali menjemur pakaian lainnya tanpa sengaja mata Reyya menangkap sesosok pria yang tengah memperhatikannya dari balik jendela besar yang ada di lantai dua istana keluarga Florest. Reyya melanjutkan kembali kegiatannya dan mencoba untuk tidak menghiraukan pria itu.
Rasa penasaran sedikit mengusik kegiatannya, Reyya mencoba mengintip dari balik jemuran yang sedang ia pegang. Sosok pria itu terlihat samar di balik kaca jendela, namun Reyya dapat mengenali pria itu. Kay Florest, pria yang telah menghinanya semalam terlihat sedang mengamati dirinya. Reyya sedikit merasa heran, selama ini pria itu bahkan tidak pernah meliriknya meskipun mereka berpapasan, tapi kenapa dia tiba tiba mengusik kehidupan Reyya.
Kay masih berdiri sambil terus memperhatikan Reyya. Reyya dengan cepat mencoba menyelesaikan pekerjaannya, dia merasa tidak nyaman dilihatin oleh laki laki yang pernah mencoba membeli tubuhnya. Rasa benci seketika merambat ke dalam dadanya, tatkala ia teringat dengan perkataan Kay terhadap keluarganya.
Setelah semua pakaian ia selesaikan, Reyya berlari kecil untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia segera masuk ke kamarnya dan mengintip dari jendela, sosok Kay sudah tidak terlihat lagi. Reyya merasa lega dan duduk di tepi ranjangnya.
"Dasar orang kaya! Kau pikir kau bisa membeli segalanya!" gerutu Reyya.
Reyya melirik jam di layar hapenya. Pukul 10 pagi, perutnya mulai terasa lapar. Reyya mengambil dua lembar uang sepuluh ribu dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Semoga bu Tuminah masih buka" ucapnya sambil berjalan keluar dari rumahnya.
Saat melewati pagar rumah keluarga Kay, tiba tiba saja pintu pagar yang megah itu terbuka dan sebuah mobil melesat keluar di hadapan Reyya. Reyya terpaksa menghentikan langkahnya membiarkan mobil itu lewat terlebih dahulu, namun mobil mewah itu tiba tiba berhenti di sampingnya. Jantung Reyya berdegup tak karuan. Wajah Kay terlihat jelas setelah kaca mobil diturunkan. Reyya semakin terdesak ketika melihat wajah itu.
Kay tersenyum licik dan menutup kembali kaca mobilnya, setelah itu mobil mewah itu segera berlalu meninggalkan Reyya dengan perasaan tak menentu.
"Ada apa dengan pria mezum itu?" ucap Reyya pelan sambil kembali mengayunkan langkahnya menuju warung lontong bu Tuminah.
Setelah sampai di warung, Reyya mengucapkan syukur karena bu Tuminah masih berjualan.
"Telat banget neng. Baru siap beberes ya?" tanya bu Tuminah.
"Iya bu, laper habis nyuci banyak" jawab Reyya.
"Mau lontong apa nasi neng?"
"Lontong aja bu"
__ADS_1
Bu Tuminah segera menyiapkan pesanan Reyya.
Setelah meletakkan sepiring lontong di atas meja Reyya, bu tuminah segera kembali ke raknya. Tiba tiba dua orang ibu ibu mampir ke dalam warung.
"Masih pagi tapi udah panas aja ya bu Tum" ucap seorang ibu sambil melirik ke arah Reyya.
Bu Tuminah hanya tersenyum dan menanyakan apa yang ingin mereka makan. Reyya yang asik menikmati lontongnya tidak terlalu peduli terhadap kedua orang itu.
"Reyya, berapa sih gaji kamu kerja di hotel? Kok saya lihat kamu gitu gitu aja ga ada perubahan. Padahal kan kamu sering pulang tengah malam!" tanya seorang ibu sambil tersenyum pada temannya.
"Kalau ibu mau tahu, ibu suruh aja anak gadis ibu kerja di sana juga!" jawab Reyya kesal.
"Lho kok kamu marah! Saya kan cuma nanya"
Reyya menyelesaikan makannya dan menghampiri bu Tuminah untuk membayar makanannya. Setelah itu dia bergegas pulang. Masih terdengar di telinganya fitnah dan gossip dari kedua ibu itu. Reyya tidak peduli dan terus berlalu pergi.
Sesampai di rumah Reyya masih harus membereskan rumahnya yang berantakan. Bu Ratih tidak ada di rumah. Sehari hari Bu ratih bekerja di sebuah pabrik rumahan yang menghasilkan bakso frozen. Gajinya hanya cukup untuk melunasi kredit motor yang dipakai oleh Renna adik Reyya.
Dia melangkah masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Reyya mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja. Bayang bayang wajah Kay tiba tiba muncul di pikirannya. Reyya tersentak dan kembali membuka matanya.
Reyya bangkit dari tempat tidurnya dan langsung mengganti kaosnya dengan seragam hotel. Reyya mengambil amplop dan menghitung sisa uangnya. Tersisa dua juta setengah. Reyya tidak memiliki tabungan karena gajinya bahkan belum mampu menutupi kebutuhannya dan keluarganya.
Keluarganya hanya memiliki satu buah motor, itupun selalu dikuasai oleh adiknya. Sejak pertama bu Ratih membeli motor itu, tidak sekalipun Reyya pernah mencoba mengendarainya. Renna dan bu Ratih sama sama tidak menyukai Reyya.
Reyya memasukkan uang ke dalam dompetnya dan mengambil tas yang tergantung di belakang pintu. Setelah itu Ia berjalan keluar menuju hotel. Dia tidak ingin terlambat lagi, Reyya sangat tidak ingin jika Ia dijadikan ladies company di ruang karaoke. Mulai sekarang ia bertekad untuk datang lebih awal agar tidak terlambat lagi.
"Wah mimpi apa neng, tumben jam segini udah nongol" sapa penjaga hotel.
Seperti biasa reyya hanya tersenyum dan berjalan melewati pak Maman. Dia berjalan santai memasuki lobby hotel. Terlihat Diana yang sedang menekan tombol lift. Reyya dengan cepat memanggil sahabatnya itu.
"Di" teriak Reyya.
Diana menoleh dan tersenyum ke arah Reyya.
__ADS_1
"Ini beneran kamu Reyy?" godanya
"Aku ga mau jadi ladies company Di. Pak Rio ngancam kalau aku telat lagi, aku bakal di alihkan ke tangan Mami Chloe" jawab Reyya seraya menekan tombol lift.
Mereka masuk dan menuju lantai lima. Setelah menyimpan tasnya, Reyya dan Diana mulai melakukan tugasnya.
"Semalam ada kejadian apa di ruang karoke? Neni bilang kamu numpahin minuman ke salah satu pelanggan?" tanya Diana
Reyya mengangguk dan menjawab "iya Di, aku enggak sengaja"
"Jadi gimana?"
"Orang itu tetanggaku yang super kaya itu Di"
"Hah, serius kamu. Istana yang di samping rumah kamu?" Diana semakin tidak sabar
Reyya mengangguk lagi.
"Terusss?"
"Ya aku minta maaf. Tapi cowo sombong dan sok kaya itu malah bersikap kurang ajar"
"Bukan sok kaya Reyy. Dia memang kaya!"
"Ya, itu maksudku"
Mereka kembali melakukan tugasnya sambil terus berbincang bincang.
Malam harinya hape Reyya berdering. Sebuah panggilan dari bu Ratih. Tidak biasanya bu Ratih menelponnya di jam kerja Reyya. Dengan agak malas Reyya mengambil hapenya. Sebenarnya Ia merasa sangat terganggu, namun Ia juga penasaran kenapa tiba tiba bu Ratih menelpon.
"Hallo buk. Ada apa?" Reyya mengangkat dan mulai bicara.
"Reyy. Cepat kemari. Hiks hiks" terdengar suara tangisan dari balik telepon.
__ADS_1