Mahligai Kupu Kupu

Mahligai Kupu Kupu
BAB 7


__ADS_3

"Seratus lima puluh juta? Serius lu?" Diana terbelalak mendengar jumlah uang yang fantastis itu.


"Aku enggak punya uang Di!" Reyya terdengar sangat menyedihkan.


"Itu bukan kesalahan lu Reyy. Kamu jual aja tuh rumah, abis itu ngontrak sendiri" ucap Diana menyarankan agar rumahnya dijual.


"Rumah itu udah digadai sama ibuku Di." Reyya menjawab dengan lemas.


"Sial. Hidupmu benar benar kacau" Diana menggelengkan kepalanya melihat nasib buruk yang menimpa sahabatnya.


"Jadi sekarang gimana Reyy?" tanya Diana


"Aku harus jadi babu Di." jawab Reyya dengan tatapan kosong


"Babu? Gila kamu Reyy. Babu siapa? Siapa sih pemilik mobilnya" Diana penasaran


"Tetanggaku yang kaya itu Di" jawab Reyya singkat.


"Hah tetangga? Apa dia kekurangan uang sampai harus nyari babu gratisan" umpat Diana kesal.


"Entahlah Di. Aku lelah banget sekarang. Pikiranku yang sebenarnya lelah." Reyya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa


"Ya sudah, kamu tenangin diri kamu aja dulu di sini. Nanti kalau aku butuh bantuan, aku panggil kamu" Diana bangkit dari tempat duduknya


"Makasih ya Di. Cuma kamu yang berpihak di hidupku" ucap Reyya lirih.


Diana menatap kasihan wajah sahabatnya itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


............


Di kantor Kay.


Dion terus mengekor di belakang Kay.


"Lu tunggu aja waktunya. Nanti juga aku kasih buktinya" ucap Kay kesal terus terusan diekori oleh Dion.


"Ini mencurigakan ni. Jangan main curang pak boss" Dion terus mendesak Kay.


Saat pintu lift terbuka, Kay dan Dion sama sama terkejut melihat gadis yang keluar dari lift.


"Hai Kay."sapa gadis itu dengan senyum merekah.


"Beresin ini. Aku harus pergi sekarang" bisik Kay pada Dion.


"Kay. Kay!" panggil Serlly saat Ia melihat Kay yang tak menghiraukan nya.


"Ummm. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dion.


Serlly mengangguk dan mereka pun pergi ke sebuah kaffe terdekat.


Dion memesan segelas kopi dan Serlly memesan smuti yoget.


"Kamu tahu kan Tante Emmae ngejodohin aku dan Kay?" Serlly mulai berbicara.

__ADS_1


"Ya, tentu aku tahu. Oleh karena itu kita harus bicara." jawab Dion.


"Aku merasa Kay selalu menghindariku. Apakah dia memiliki seseorang?"


Dion menunduk, menunjukkan wajah lesu.


"Aku minta maaf Serlly. Sebenarnya Kay memiliki seseorang yang tidak bisa dia ungkapkan ke publik"


Serlly terkejut mendengar penjelasan dion.


"Siapa gadis itu? Aku hanya ingin tahu, se istimewa apa dia?" Serlly semakin ingin tahu.


Dion menggelengkan kepalanya seraya menunduk, seakan berat untuk dia mengatakannya.


"Katakan saja!" paksa Serlly.


"Kamu mungkin enggak sadar betapa dekatnya aku dengan Kay. Seharusnya kamu bisa menebaknya"


"Apa? Kau bercanda? Kau mempermainkan aku?"


"Aku serius. Tolong rahasiakan ini. Oleh sebab itu tante Emmae terus terusan menjodohkan Kay dengan gadis gadis cantik"


Serlly bangun tanpa menunggu minumannya datang. Dia pergi meninggalkan Dion dengan perasaan terkejut. Setelah Serlly berlalu, Dion tertawa cekikikan.


"Kena lu!" ucapnya sambil terus cekikikan.


Dion mengambil hapenya dan mengirim pesan whatsapp ke nomor Kay.


Kay membuka pesan whatsapp sambil tersenyum dan Kemudian membuka whatsapp Reyya lalu mengetik sebuah pesan singkat "temui aku nanti malam pukul delapan".


Reyya membuka pesan dari Kay.


"Sial. Dasar menyebalkan!" Reyya menggerutu namun tetap membalas pesan Kay.


"Aku tidak bisa. Aku harus bekerja. Kau tahu itu!" tulis Reyya dalam pesannya.


"Jangan membantah. Kau lupa dengan apa yang sudah kamu tanda tangani? Aku perlu memperjelas tugasmu!" balas Kay.


"Ckk dasar sial" gerutu Reyya setelah membaca pesan dari Kay.


Sore harinya Reyya dan Diana membersihkan kamar yang baru saja di tinggalkan oleh pelanggan tetap di hotel Mawar Kenangan.


"Jam delapan nanti aku harus izin keluar Di" ucap Reyya seraya membenarkan selimut.


"Lho. Kamu mau kemana Reyy?" tanya Diana


"Cowo gila itu minta ketemu" jawab Reyya jengkel


"Hah beneran. Jangan jangan dia mau sesuatu dari kamu Reyy"


"Katanya mau memperjelas tugasku Di. Aku bemar benar bakalan jadi babu Di. Padahal semiskin apapun hidupku, aku paling enggak mau jadi babu" Reyya meratapi nasibnya


"Sabar Reyy. Semua udah ada yang ngatur. Semoga aja tuh cowo enggak minta kamu ngelakuin hal hal aneh"

__ADS_1


"Ya semoga saja Di. Tapi, dia pasti berpikir aku tuh cewe murahan karena kerja di Mawar Kenangan"


"Itu memang udah isi kepala semua orang Reyy. Yang terpenting kamu harus bisa menunjukan bahwa kamu tidak seperti yang ada di pikirannya" ucap Diana menasihati sahabatnya.


Reyya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


.............


Malam harinya Reyya menemui pak Rio.


"Pak, saya mau izin sebentar ya" pinta Reyya dengan penuh was was


"Kamu mau kemana? Ini bahkan belum pukul delapan!" sahut pak Rio tanpa melihat ke arah Reyya.


"Ada hal mendesak pak. Nanti setelahnya saya langsung balik ke hotel" Reyya meyakinkan atasannya itu.


"Ya sudah, awas kalau kamu tidak balik!"


"Baik pak. Terimakasih" Reyya segera keluar dari ruangan pak Rio.


Setelah mengambil tasnya, Reyya segera keluar hotel tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Reyya mengambil hapenya dan membuka whatsapp. Tidak ada pesan apapun dari Kay. Reyya kebingungan harus menemui laki laki itu di mana. Tiba tiba saja handphonenya berdering, sebuah panggilan masuk dari Kay.


"Hallo" Reyya menjawab panggilan itu


"Datang sekarang ke kafe Mozaik. Lima menit harus udah di sini!"


"Apa? Lima menit? Kamu pikir aku punya sayap? Apa tidak bisa pergi ke tempat yang dekat dengan hotel saja, kamu benar benar membuat aku gila" Reyya sangat kesal dibuatnya.


"Aku tidak mau tahu. Cepat datang" Kay memutuskan sambungannya.


"Dasar menyebalkan! Aku jadi harus ngeluarin uang untuk kojek" gerutu Reyya dalam hatinya.


Reyya menaiki kojek dan langsung menuju kafe yang disebutkan oleh Kay. Kafe Mozaik adalah kafe tempat tongkrongan orang orang kaya. Reyya merasa sedikit malu harus masuk ke sana dengan masih memakai seragam hotel.


Reyya mengambil hapenya dan mengirim pesan pada Kay "kau di mana. Aku sudah di depan"


Tidak berapa lama Kay langsung membalas pesan Reyya "Cepat masuk ke ruang VIP"


Dengan sedikit perasaan gugup, Reyya akhirnya memasuki kafe itu. Reyya bertanya pada salah satu pelayan kafe.


"Mba, ruang VIP ada di mana ya?"


"Ada di lantai dua mba, belok kiri setelah dari tangga" jawab pelayan itu sambil menatap Reyya dari atas hingga bawah.


Reyya segera melangkah pergi. Dia tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran pelayan itu tentang dirinya. Setelah sampai di ruangan VIP, Reyya memutarkan blla matanya mencari keberadaan Kay. Akhirnya sosok itu tertangkap sedang menatap ke arah Reyya juga. Reyya merasa sedikit canggung dan malu, dia mendekat dan duduk di hadapan Kay.


Suasana di ruangan itu terasa tenang dengan iringan musik yang lembut dan cahaya temaram lampu pada pohon pohon hias. Reyya duduk dan tidak berani menatap wajah Kay, sedangkan Kay tidak memalingkan wajahnya dari Reyya.


"Kamu tidak bisa ganti pakaian dahulu sebelum menemuiku" ucap Kay setelah memperhatikan Reyya.


"A-apa? Kau memintaku bertemu secara mendadak. Aku tidak membawa pakaian ganti yang sesuai. Lagipula ini bukan kencan, kenapa aku harus memperhatikan penampilanku!"


"Apa kau berharap ini sebuah kencan?" goda Kay

__ADS_1


__ADS_2