
Reyya hanya terus memegangi kepalanya yang sudah terasa sangat berat, penglihatannya sudah mulai memudar. Kay menyadari ada yang aneh pada gadis itu, dia turun dari mobilnya dan menghampiri Reyya. Kay menarik bahunya dan tiba tiba saja Reyya terjatuh, beruntung Kay sigap menangkapnya.
Kay terkejut melihat gadis itu pingsan di pelukannya. Tubuh Reyya terasa begitu hangat. Kay membuka mobilnya dan memasukkan Reyya. Setelah itu Kay masuk dan memasang sabuk pengaman untuk Reyya. Wajah Kay sangat dekat hingga ia bisa merasakan nafas Reyya yang sangat panas. Kay langsung menyetir mobilnya menuju apartemennya. Dia tidak ingin membawa Reyya ke rumah bu Ratih karena takut akan menimbulkan gosip yang akan merugikannya.
Sesampainya di apartemennya, Kay membawa masuk tubuh Reyya dan meletakkannya di atas kasurnya. Kay sedikit merasa kebingungan setelah membawa Reyya ke apartemennya, meskipun dia sangat suka mempermainkan wanita, namun baru kali ini dia membawa masuk gadis ke dalam kamarnya. Kay duduk termenung sambil memandangi wajah Reyya yang lelap.
Selama ini Kay belum pernah memperhatikan wajah Reyya sedemikian rupa. Setelah diperhatikan, ternyata Reyya sangat cantik dan natural tidak ada polesan makeup di wajahnya.
Kay mengambil selimut dan menutupi tubuh Reyya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Kay hanya memakai celana pendek, lalu dia tidur di samping Reyya dan mengambil sebuah foto yang terlihat seolah olah mereka telah tidur bersama. Setelah itu Kay mengambil bantal dan tidur di atas sofa.
Pagi harinya Reyya mulai terbangun, namun Ia seperti bermimpi di atas awan. Reyya belum membuka matanya. Dia merasa sangat nyaman tidur di atas tempat tidur Kay yang super empuk.
"Ini seperti di atas awan. Nyaman sekali.." batinnya sambil terus memeluk selimut lembut milik Kay.
Dering hape Kay terdengar nyaring di sampingnya. Reyya membuka matanya dan sangat terkejut ketika mendapati dirinya tidak berada di kamarnya. Walau baru sekali ia masuk ke kamar Kay, tapi dengan cepat dia dapat mengingat bahwa itu adalah kamar Kay. Jantungnya seakan berhenti, Reyya dengan cepat membuka selimut dan memeriksa tubuhnya. Dia sangat bersyukur karena semua pakaiannya masih melekat di tubuhnya.
Belum sempat Reyya turun dari ranjang, Kay muncul dengan hanya menggunakan handuk. Reyya terbelalak menatap Kay seperti itu di hadapannya. Suaranya seakan tercekat di tenggorokannya. Dia tak dapat berteriak ataupun bangkit dari tempat tidurnya, tubuhnya seakan terkunci di tempat.
"Siapa yang menelpon?" tanya Kay tidak merasa canggung berpenampilan seperti itu di depan Reyya.
Kesadaran Reyya seakan pulih ketika Kay mulai berjalan mendekat ke arahnya.
"Kyaaaaa" Reyya menjerit sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa aku ada di sini?" tanyanya masih bersembunyi di balik selimutnya.
__ADS_1
Kay berjalan mendekat tak menghiraukan pertanyaan reyya dan duduk di dekatnya.
"Apa yang kau lakukan. Jangan mendekat!" Reyya mulai ketakutan hingga suaranya terdengar gemetar.
Kay menarik selimut yang menutupi wajahnya, dengan sekali tarikan saja selimut itu langsung terlepas dari tangan Reyya. Reyya kembali menutup wajahnya dengan tangannya.
"Di mana handphoneku?" tanya Kay mendekati tubuh Reyya.
"A-aku tidak tahu. Tadi berbunyi di sini" ucap Reyya terbata bata.
Kay meraba raba tempat tidur hingga menemukan handphonenya. Sebuah panggilan tak terjawab tertera di layar handphonenya. Kay segera membuka pemberitahuan itu. Sebuah panggilan dari nyonya Florest. Belum sempat Kay memanggil balik, tiba tiba sebuah ketukan terdengar dari pintu luar.
Kay menatap Reyya sekilas lalu bangkit dan berjalan ke pintu. Kay terkejut saat mengintip keluar dan melihat yang datang adalah mamanya. Kay kembali menghampiri Reyya dengan wajah panik.
"Cepat sembunyi!" Kay terlihat sangat panik.
Kay menarik tangan Reyya dan menyuruhnya untuk segera bersembunyi. Reyya bangkit dan mengikuti Kay ke kamar mandi.
"Jangan keluar sebelum aku datang" ucap Kay sambil memegang bahu Reyya.
Kay segera keluar dan mencari pakaiannya. Kay segera memakai celana pendek dan baju kaosnya lalu berlari cepat untuk membuka pintu.
"Kay, kenapa lama sekali?" tanya nyonya Florest setelah pintu terbuka
"Kay lagi mandi ma! Kenapa mama datang kemari?" tanya Kay mengikuti nyonya Florest yang larung menyerbu masuk ke dalam
__ADS_1
"Kamu enggak ngabarin mama kalau kamu nginap di sini!" jawab nyonya Florest sambil berjalan masuk ke kamar Kay. Matanya langsung menangkap ada yang janggal. Ia melirik tas Reyya yang tergeletak di samping ranjang Kay yang masih berantakan.
Kay juga dengan cepat menyadari sikap mamanya dan melihat tas Reyya yang tergeletak di lantai. Wajahnya berubah panik.
"Apa ini? Tas siapa ini Kay. Kay, jawab mama!" nyonya Florest terlihat sangat marah. Kay hanya diam tak menjawab apapun.
"Sampai kapan kamu mau main main seperti ini Kay. Kamu harus segera menikah dengan gadis pilihan mama! Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi jangan menjadikan ini sebagai pelarian kamu Kay! Mama kecewa sama kamu!" nyonya Florest marah hingga menangis.
"Ma. Kay--" Kay mencoba menjelaskan agar namanya tidak salah paham, namun nyonya Florest segera memotong pembicaraan Kay.
"Sudah cukup Kay. Mulai sekarang kamu harus setuju dengan pilihan mama. Kamu harus menikah!" nyonya Florest berjalan keluar meninggalkan Kay.
"Ma!" Kay masih mencoba memanggilnya, namun nyonya Florest berlalu pergi dengan cepat. Kay duduk terdiam di tepi ranjangnya, untuk sesaat dia melupakan Reyya yang masih menunggu di kamar mandinya. Reyya membersihkan wajahnya dengan air bersih. Kamar mandi Kay terasa sangat harum. Jauh berbeda dengan kamar mandi yang ada di rumahnya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Kay membuka kamar mandi.
"Keluar lah!" ucapnya dengan nada yang datar.
Reyya keluar dan mengambil tasnya yang ada di tepi ranjang Kay. Dia melihat Kay yang terduduk lesu di tepi ranjangnya. Reyya tidak melanjutkan untuk menanyainya perihal mengapa dia berada di tempat tidurnya. Reyya berjalan keluar dari apartemen Kay.
Reyya tidak mendengar apa apa, bahkan dia tidak tahu siapa yang menghampiri Kay tadi. Dia bertanya tanya, apakah mungkin kekasih Kay yang datang menemui pria itu? Tiba tiba Reyya merasakan lapar yang teramat sangat. Dia baru ingat bahwa dia belum makan sejak kemarin. Setelah berjalan beberapa menit, Reyya melihat sebuah warung nasi. Dia memutuskan untuk sarapan di sana.
Reyya duduk di sebuah meja dan memesan sepiring nasi. Di sisi lain Reyya melihat sebuah keluarga yang tengah makan bersama, keluarga itu tampak harmonis dua orang gadis kecil yang terlihat riang gembira bercanda ria dengan kedua orang tuanya. Tidak terasa air matanya menetes, hal yang tidak pernah dirasakan olehnya. Jika saja orang tuanya menyayanginya mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.
Tidak ada kenangan indah dalam ingatannya. Yang ada hanya kenangan pahit. Reyya juga tidak mengerti kenapa nasibnya seburuk itu. Kadang kadang dia berpikir bahwa mungkin saja dirinya adalah anak pungut. Namun tidak sekalipun ia berani bertanya pada orang tuanya.
__ADS_1