Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
Chapter I


__ADS_3

“Ternyata yang dikatakan mereka benar. Kau memang sempurna” kata seorang laki-laki kepada perempuan di hadapannya sambil tersenyum senang.


Tanpa menunggu lama, bibir laki-laki itu dan bibir perempuan yang ada di hadapannya saling bersentuhan. Keduanya saling ******* perlahan. Tangan sang lelaki mulai menyentuh seluruh tubuh perempuan itu tanpa melepaskan lumatan di bibir mereka.


“Ahhh...ahhh...mmmm..ahhh” desah Yuni. Desahan itu keluar dari bibir merahnya. Sang lelaki tampak senang.


“Mendesahlah terus, Sayang. Aku suka mendengarnya. Desahanmu terdengar sexy. Hahahahahaha” tawa laki-laki itu.


“Lagi-lagi mereka benar. Milikmu terasa sempit. Kau sungguh nikmat, Sayang” kata laki-laki itu.


Keduanya menyatu. Berjuang bersama menggapai kenikmatan. Keringat membasahi keduanya. Sesekali perempuan tersebut meramas pundak dan rambut lelaki itu menahan nikmat dari penyatuan keduanya. Keduanya berteriak bersama mendapatkan klimaks dan akhir luar biasa.


Laki-laki tersebut terkulai dan terbaring lemas di samping Yuni, perempuan yang berada di sampingnya. Yuni beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia melirik jam dinding yang tergantung dalam kamar hotel yang dipakainya.


“Pukul 02.00 pagi” gumamnya.


***


Yuni telah memakai pakaiannya. Bukan pakaian minim yang ia kenakan melainkan kaos oblong putih yang ditutupi hoodie hitam dan celana jeans. Ia memakai topi dan kacamata. Ia melihat laki-laki yang membayarnya telah tertidur pulas. Ia mengambil tasnya dan memeriksa cek yang diberikan laki-laki tersebut sebelum adegan panas yang mereka lakukan. Ia tersenyum.

__ADS_1


Dengan langkah anggun, ia keluar dari kamar tersebut sambil melihat HPnya yang berisi beberapa pesan. Ada satu pesan dengan nama yang sangat dikenalnya. Ia memilih membuka pesan tersebut dibandingkan pesan lainnya yang dianggapnya tidak penting.


“Besok jam 10 malam di kamar 201. Hotel Biasa. Aku tunggu” Yuni membaca pesan yang masuk.


“Baiklah. Ini yang aku tunggu” lirihnya sambil tersenyum.


***


Yuni Andani, perempuan cantik dengan tubuh proporsional. Memiliki rambut hitam panjang sepinggang dengan tinggi 168 cm.


Pagi hari Yuni bekerja di klinik sebagai dokter gigi. Sedangkan pada malam harinya ia akan melayani laki-laki hidung belang.


Bukan berarti penghasilan yang ia dapat sebagai dokter gigi tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun ia hanya ingin memuaskan batinnya akibat dari masa lalunya.


***


“Aku capek, Ma. Nanti saja interogasinya” jawab Yuni asal dan meninggalkan Ibunya. Maya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah puteri semata wayangnya.


Tanpa mengganti pakaiannya lagi, Yuni merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur empuk miliknya. Ia menutup matanya dan terbuai mimpi.

__ADS_1


***


Tidur Yuni terganggu oleh dering HPnya. Ia bangun dengan terpaksa untuk mencari keberadaan HP yang terus berbunyi.


“Hallo” sapa Yuni dengan suara serak khas bangun tidur.


“Maaf Bu Dokter. Pasien Anda telah menunggu” kata salah seorang petugas di klinik tempat Yuni bekerja.


“Sekarang jam berapa?” tanya Yuni.


“Jam 10 pagi Dok”


“What? Shit!!! OK aku segera ke sana. Terima kasih” Yuni menutup panggilan tersebut.


Dengan buru-buru ia beranjak dari tempat tidurnya dan merasa sedikit ngilu di selangkangnya. Yuni tidak peduli. Ia membasuh wajah ala kadarnya. Memakai pakaian rapi dan beranjak menuju mobilnya.


***


Yuni tiba di lobi klinik. Ia berlari menuju ruangannya melalui pintu belakang. Namun tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

__ADS_1


“Maaf. Aku buru-buru” katanya tanpa berhenti berlari.


Orang yang Yuni tabrak hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Orang tersebut memungut sesuatu yang dijatuhkan Yuni.


__ADS_2