
Yuni tampak fokus memeriksa beberapa pasiennya. Mendekati jam makan siang, ia dapat bernafas lega karena sudah tidak ada pasien yang duduk menunggu di depan ruangannya.
Yuni segera merapikan meja kerjanya, membuka jas dokter karena ingin keluar makan siang, namun Rani buru-buru masuk ke ruangan Yuni.
“Mau ke mana, Dok? Masih ada satu pasien yang menunggu Dokter”
“Aku ingin keluar makan siang” jawab Yuni datar.
“Apa aku menolaknya saja, Dok?”
“Tidak. Biarkan pasiennya masuk. Bukankah kita harus mengutamakan pasien dibanding keinginan pribadi?”
Rani mengangguk seraya memberikan kertas putih yang berisi data diri pasien tersebut lalu segera keluar dari ruangan Yuni. Dengan cepat Yuni memakai kembali jas putih yang telah ia lepas. Ia membaca data diri pasiennya.
“Selamat siang, Dok” sapa seseorang dengan suara husky yang sangat enak didengar. Yuni seketika berhenti membaca dan membalas sapaan laki-laki tampan di hadapannya dengan memberikan senyum tulus.
“Tuan Danny Anggara?” kata Yuni menyebut nama pasiennya.
Danny mengangguk canggung dengan sedikit memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Bagaimana Tuan apa ada yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
Danny masih diam. Ia merasa kaku berhadapan dengan perempuan apalagi jika perempuan itu secantik Yuni. Yuni masih menunggu dengan setia.
“Gusi bagian kiri saya sedikit bengkak, Dok” jawab Danny setelah mengumpulkan kekuatan.
Yuni tersenyum kemudian mulai memeriksa Danny dengan teliti dan memberikan resep obat untuk Danny.
“Pemeriksaan sudah selesai. Silahkan mengambil obatnya dan minum secara teratur. Semoga Tuan cepat sembuh” lagi-lagi Yuni memberikan senyum manis untuk Danny.
Danny segera bangun dari tempat duduknya. Yuni masih melihat Danny. Ketika Danny membuka pintu untuk keluar, ia segera mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikan kepada Yuni.
“Saya yakin ini punya Anda, Dok. Maaf terlambat untuk mengembalikannya. Ini terjatuh saat kita tidak sengaja bertabrakan tempo hari”
“Terima kasih banyak Tuan. Saya pikir id card ini hilang. Sekali lagi terima kasih Tuan”
“Jika kita bertemu lagi, cukup panggil saya Danny. Kalau begitu saya permisi”
Danny keluar dari ruangan Yuni dengan menahan debaran jantungnya yang tidak beraturan.
Yuni segera memakai id cardnya dan melangkah keluar untuk makan siang. Ruang tengahnya menuntut untuk segera diisi.
Ia memilih makan siang di kantin klinik karena ia sudah teramat lapar dan hari yang sangat panas sehingga ia enggan untuk makan di luar.
__ADS_1
Yuni mengambil beberapa lauk dan sayur yang akan ia makan. Ia mencari tempat kosong dan tanpa basa basi segera menyantap makanan yang ada di depannya.
Beberapa menit berlalu, Yuni telah selesai menghabiskan makan siangnya. Ia mengambil HPnya dan memeriksa pesan yang sama sekali belum dibacanya. Ia membaca pesan yang dikirim Vino yang berisi mengajaknya untuk bertemu karena Vino membutuhkan bantuan Yuni dan sangat penting.
Setelah memikirkannya, Yuni mengiyakan ajakan Vino. Pesona Vino memang luar biasa yang terkadang membuat Yuni sulit untuk menolak.
***
Yuni sudah berada di hotel, tempat ia dan Vino akan bertemu demi membahas sesuatu yang penting. Yuni masuk ke dalam kamar biasa yang sering dihabiskannya bersama Vino. Namun Vino belum juga datang.
“Sepertinya aku yang terlalu cepat datang. Baiklah aku akan membersihkan diri terlebih dahulu” monolog Yuni.
Bunyi air terdengar. Yuni sedang mandi karena ia memutuskan segera menemui Vino setelah ia selesai bekerja di klinik. Saat Yuni sedang mandi, HPnya berdering beberapa kali. Panggilan dan beberapa pesan masuk ke HPnya.
Yuni keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe berwarna pink yang sangat pendek dan diikat asal-asalan sehingga bahu dan dadanya sedikit terlihat. Ia melihat sekelilingnya yang belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran orang lain.
“Tumben dia belum datang” gumamnya.
Yuni mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar ketika ia mendengar bunyi pintu dibuka seseorang. Ia mengeluarkan smirknya. Yakin bahwa Vino yang datang, Yuni sedikit membuka bathrobenya dan memperlihatkan belahan dadanya untuk menyambut kedatangan Vino.
Seseorang yang sudah masuk ke dalam kamar tersebut membelalakan matanya melihat pemandangan indah di depannya. Yuni pun sama terkejutnya melihat sosok yang berdiri di depannya.
__ADS_1