
Sebelum sampai ia masih mendapat tatapan mematikan dari Al.
"Tidak ada guna. " gumam-gumam terdengar dari mulut Al.
"Sini sayang. Duduk disebelah mama. " mama Hani mengedipkan mata ke Zahra agar gadis itu mengerti situasi yang mama Hani buat.
"Aah. Jadi, mama sedang berakting sekarang. Baiklah mah." Zahra sudah paham kedipan mata mama Hani.
"Vio. Kamu Vio kan sayang. Bagaimana kabarmu sayang."
"hentikan mah. " mendengar itu darah Al seakan mendidih.
"Kenapa, dia kan Vio. Iakan sayang. Mama kangen sama kamu sayang."
"Saya bukan Vio Nyonya. Saya..." dipotong Al
"Diam..." suara Al mengagetkan semua.
"Pergi kamu dari sini, cepat." Al mengusir Zahra di depan mama Hani.
Melihat itu mama Hani juga marah.
"Diam disini. Jangan pernah pergi kemana" mama hani memengang Zahra dengan erat.
"Kamu kenapa Al. Kenapa kamu mengusir dia. Apa salahnya. Jelaskan. "
Al berbalik badan ingin pergi dari kamar itu. Namun, Belum sampai kakinya menuju pintu. Gelas di samping mama Hani sudah pecah berkeping-keping.
Parrrrr... Suara gelas menghengikan langkah Al.
" Jelaskan!!. "
" Jika kamu tidak ingin menjelaskan, maka aku..."
__ADS_1
Mah. Al langsung menuju tempat tidur. Memeluk mamanya.
"Jelaskan!!. " mama hani masih tidak bergeming dengan pelukan Al.
"Dia istriku. "
"Apa, dia istrimu?."
"Ia mah, dia Zahra istri Al."
"Jika dia istrimu, Kenapa kamu membiarkannya di rumah belakang?. "
"Itu." Al tidak bisa menjelaskan kepada mamanya.
"Kenapa kamu diam. Jika dia istrimu seharusnya ia tinggal disini bersamamu kan."
Mama Hani masih memancing.
"Tidak bisa mah."
Mama Hani sudah tidak tahan dengan kebodohan putranya. Dan sudah bertekat mengembalikan kebahagiaan putranya.
" Mah. " Al tidak bisa menjawab mamanya. Semua yang mamanya katakan memang benar.
" Mah, Al belum siap." Al mengalah dengan egonya.
" Mama nggak mau tau, pokoknya Zahra harus tinggal di rumah ini."
"Dan satu lagi. Zahra harus tidur di kamar yang sama denganmu"
Mendengar itu Zahra seketika kaget. Dari tadi ia hanya mendengarkan. Namun saat mendengar jika ia harus sekamar dengan tuan Al seketika akal sehatnya memberontak.
"Apa?." Zahra
__ADS_1
"Tidak. " Al
"Harus. " mama Hani
***
Setelah perdebatan panjang itu. Akhirnya keputusan susah bulat. Zahra harus tinggal dan satu kamar dengan Al.
Al tidak bisa menolak permintaan mamanya. Karena ia sangat sayang terhadap mamanya. Apalagi tadi mamanya masih sempat mengancam ingin bunuh diri jika Al tidak menyetujuinya.
Dan sekarang disinilah mereka berdua. Al dan Zahra di atap yang sama. Dan harus berbagi kasur yang sama.
"Puas!!. " Al meluapkan kekesalannya
Zahra hanya diam, dia tidak ada keberanian untuk melawan.
"Pergi tidur sama." medorong tubuh Zahra kearah sofa.
"Menyebalkan" gumam Zahra
"Apa, kamu kira aku tidak mendengarnya. heh" setengah berteriak
"Tidak, tidak. tidak tuan." Zahra menciut mendengar suara keras Al.
Dan sekarang Zahra tidur di atas sofa. Dengan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut yang tadi ia ambil di lemari. Ia masih takut jika memejamkan mata. Sedangkan pikirannya sudah berlarian kemana-mana.
Sedang Al juga masih belum bisa tidur di atas kasur. Ia masih belum siap dengan semua ini. Egonya masih terlalu kuat menyangkal jika ia sebenarnya senang dengan keberadaan Zahra.
Kisah kasmaran Al dan Zahra akan kita mulai sebentar lagi. Yeiy
.
.
__ADS_1
.
Bersambung