
Menikah itu nasib
Mencintai itu takdir
Kau bisa berencana menikahi siapa
Tapi tak dapat kau rencanakan
Cintamu untuk siapa
Menikah bukanlah perkara yang mudah, karena bukan hanya perkara "Sah" atau tidaknya sebuah kehalalan. Namun, bagaimana engkau mengartikannya.
Zahra Adawiya Ahmad
Zahra menutup buku dearynya dengan bulir-bulir kristal di upuk matanya.
"Bagaimana mungkin secepat ini ya Allah? Zahra kan belum siap." Hick hick hick tangisan Zahra pecah karena mengingat besok adalah hari pernikahannya. Tuan muda Al memang tidak bisa di bantah atau ditolak.
" Kenapa? jika ingin menikah kenapa harus denganku".Zahra terisak semakin dalam. Namun tangisnya terhenti saat seseorang menyentuh pucuk kepalanya dan mengusapnya dengan lembut.
"Zahra, ibu tau kamu anak yang kuat,memang pernikahanmu terbilang mendadak, tapi ibu tau Allah selalu bersama hambanya yang sabar". Sebenarnya ibu bisa melihat bagaimana kegelisahan Zahra dan bisa merasakan jika putrinya tidak menginginkan pernikahan ini.
Zahra langsung memeluk ibunya dan meluapkan perasaannya di pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sayang, hapus air matamu. Masa udah mau nikah masih cengeng sih" .
__ADS_1
"Ibuu". Zahra langsung kesal karena ledekan ibunya. Namun senyum di bibirnya sudah mulai terlihat.
"Ibu pergi dulu ya, jangan tidur terlalu malam. Ingat, besok hari pernikahanmu". Ibu langsung meninggalkan kamar Zahra setelah mengucapkan kalimat itu.
Zahra kembali menangis dan terisak. Namun selang beberapa waktu Zahra sudah tertidur karena terlalu lelah memikirkan nasibnya setelah menikah dengan lelaki sombong itu.
***
Waktu berputar begitu cepat menurut Zahra, baru sebentar ia tidur, namun ibu sudah membangunkannya untuk Sholat Subuh.
Setelah ritual sholatnya selesai Zahra langsung mandi dan ingin berlama-lama di kamar mandi karena ia tidak ingin memakai baju itu. Baju yang menurutnya sangat jelek. Ya mungkin moodnya yang terlalu jelek sehingga tidak bisa melihat betapa cantiknya baju yang akan dipakainya nanti.
Zahra: "apa Aku kabur saja ya, tapi bagaimana dengan keluargaku nanti, bagaimana ibu, Ayah, atau putra ya. Aku tidak bisa membiarkan mereka terluka akibat keegoisanku". Hick hick hick
Zahra masih berlama-lama di kamar mandi ditemani dengan pikirannya yang lari kemana-mana.
Zahra ini ibu, apa kamu belum bosan di kamar mandi sayang, kamu sudah dua jam lho berada di kamar mandi.
Mendengar itu Zahra langsung bangun dari lamunannya dan bergegas keluar kamar mandi.
Maaf bu, Zahra terlalu gugup dengan semua ini. Lagi lagi Zahra memperlihatkan ketidak sukaanya untuk hari ini.
Ibu Zahra hanya diam dan langsung pergi meninggalkannya bersama dua orang perias.
Maaf mbak bisa kita mulai sekarang. Kata perias itu. Ia mbak perias satunya menimpali.
__ADS_1
Namun Zahra hanya diam dan tidak mendengarkan kedua perias itu.
Melihat reaksi Zahra hanya diam, dan duduk di tepi ranjang membuat perias itu memulai pekerjaan dan melukis ria di wajah cantik Zahra. Malahan perias yang satunya tersenyum puas memandang wajah Zahra yang bertambah cantik dengan riasan tangannya.
Mbak kok mukanya di tekuk, kan ini hari yang paling membahagiakan untuk mbak. Perias itu mencoba mencairkan suasana.
Zahra langsung tersadar dari lamunannya. Dan dia pura-pura bahagia dengan tersenyum ceria dihadapan perias itu.
Hehehe ia kak. Apa sudah selesai?
Melihat perias itu sudah beres-beres dan ingin beranjak dari kamarnya.
"Ia mbak, kami pamit dulu ya".
Perias itu langsung keluar setelah itu.
Hmmm, hari ini adalah hari yang paling menyedihkankan. Gumam Zahra
Hallo sahabat MTS yang masih setia sengan Zahra. Jangan lupa like, komen and votenyaπ
.
.
.
__ADS_1
Bersambung