Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
23.Wajah cemberut Zahra


__ADS_3

Selamat pagi cintaku


Sepanjang malam aku menunggu


Untuk memberikan tahumu


Saat ini bahwa kau adalah


Takdirku


Suasana pagi ini begitu cerah. Namun tidak bagi Zahra karena ia masih bingung dengan kejadian tadi.


Dan sekarang Zahra sudah mau berangkat untuk magang. Namun langkahnya terhenti saat ibu mertuanya memanggilnya di meja makan.


"Pagi sayang" mama Hani


"Pagi mah" Zahra


"Pagi-pagi kok udah rapi sih sayang. Emangnya mau kemana?"


"Ayo sarapan dulu sayang."


"Ia mah". Zahra menarik kursi di sebelah mertuanya lalu ikut makan bersama.


"Al kemana sayang?, dari tadi mama liat kok dia nggak muncul-muncul" .


Mendengar itu Zahra langsung teringat kantor karena terlalu cemas membuat terbatuk dan tersendak. Dilihatnya jam sudah menunjukkan jika ia saat sudah kesiangan.


"ya Allah sayang minum dulu, pelan-pelan aja ya makannya." sambil menengusap-ngusap punggung Zahra.


"Eh, maaf mah Zahra duluan ya. Zahra takut terlambat nanti" Zahra sudah memasukkan makanan yang didepannya ke mulut lalu meneguk minum sekali habis. Setelah itu sudah tengah berlari saat dirinya merasa sudah terlambat.


"Emangnya Zahra mau kemana?"


"Zahra mau mangang dulu mah. Zahra pergi dulu assalamualaikum"

__ADS_1


"Walaikumussalam"


Mama Hani melihat tingkah menggemaskan Zahra seperti anak kecil membuatnya semakin menyukai Zahra.


***


Setelah sampai di kantor Zahra langsung berlari keruangan mereka.


"Assalamualaikum Ra, tumben terlambat?" Aldo


"Sssss. Jangan berisik Do, walaikumsalam".


"Eh, maaf". Aldo garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Karena ia tahu peraturan di kantor ini sangat ketat. Tidak boleh ada satupun stab pegawai yang terlambat dari jam masuk kerja tak terkecuali anak mangang sekalipun.


Belum sampai Zahra bernapas dengan baik. Seseorang sudah memangilnya dengan suara keras.


"Zahra Adawiya ahmad. Silahkan keruangan pak Al sekarang juga!" .


Namun Zahra langsung menutup mulut dengan tangan.


Sesaat Zahra dan Aldo saling pandang. Yap karena mereka satu divisi dan bangku mereka juga saling berhadapan membuat mereka mudah untuk berinteraksi.


" Sekarang! "


" Baik bu" . Zahra


Zahra masih sempat melirik ke arah Aldo. Tak lupa Aldo pun mengepalkan tangan ke atas untuk menyemangati Zahra.


*Huh. Ada apa lagi sih. Kenapa juga harus aku sih yang di panggil terus. Emangnya aku salah apa lagi. Eh, ia yah aku kan terlambat. Hick hick. Nasib nasib. Zahra


Bismillah. Semangat Zahra. Kamu sekarang kan udah ada teman untuk berbagi. Jadi kamu nggak usah takut lagi. Semangat*.


Tok tok tok

__ADS_1


"Assalamualaikum pak. Permisi.".Zahra langsung masuk ke ruangan pak Al.


Maaf pak, apakah bapak memanggil saya? Zahra


Sedang Al yang di tanya hanya diam dan tak ingin menjawab. Dan dia hanya memberi perintah agar Zahra tetap di tempatnya berdiri dan tak boleh pergi walau satu langkah dari tempat itu.



"Tetap di tempatmu!!"


Dan sekarang Al dengan puas hati memandang wajah cemberut Zahra. Wajah marah Zahra sangat menggemaskan bagi Al. Sedangkan tatapan Al itu sangat menakutkan bagi Zahra. Karena Zahra tau tatapan itu pasti ada maksudnya.



Susah 30 menit Zahra berdiri dihadapan Al tanpa melakukan apa-apa. Dan dihatinya hanya ada kata-kata mantra untuk mengutuk suaminya itu.


Dengan wajah cemberut sekaligus kesal Zahra tetap tidak bisa meninggalkan tempatnya atau sekedar melangkah untuk meregangkan kakinya.


Setelah puas memandang wajah cantik Zahra sekarang Al menganti perintah.


Lalu Al berdiri dan menarik tangan Zahra.


"Ayo ikut Aku".


"*Aaaa, kemana pak?. Aku nggak mau!!!. Jangan-jangan dia mau menghukumku karena aku terlambat.


Dasar suami sinting". Zahra*


Namun Zahra hanya bisa diam tanpa menolak atau memberontak dalam pegangan Al.


.


.


.

__ADS_1


Berambung


__ADS_2