Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
16. Kembali Magang


__ADS_3

Suasa hari ini begitu indah, terik mentari pagi sudah tak lagi malu-malu memancarkan kehangatannya. Bunga-bunga di taman bermekaran indah dan bau harumnya. Sedangkan seseorang di rumah belakang sudah siap-siap untuk melakukan aktivitasnya yang tertunda.


πŸ“ž Assalamu'alaikum, maaf dengan siapa ya?


Zahra


πŸ“ž Walaikumsalam, ini Aku Rey.


πŸ“ž Ya Allah maaf kak Rey, Zahra kira tadi siapa. Kenapa kak ada yang bisa saya bantu? .


πŸ“ž Kakak, maksudnya? Rey


πŸ“ž Ia kak Rey. Zahra lebih nyaman manggil kak Rey dengan sebutan itu. Lebih sopan kedengarannya kak. Boleh kan Zahra manggil kak?


πŸ“ž Mmm, baiklah terserah kamu aja, yang penting kamu nyaman.


πŸ“ž Hehehe, makasih ya kak.


πŸ“ž Eh, Ngomong-ngomong ada apa kak nelpon Zahra pagi-pagi begini?.


πŸ“ž Nggak, hari ini kan kamu mulai magang lagi, jadi Aku hanya mau mastiin kalo kamu udah bangun.


πŸ“ž Makasih ya kak.


πŸ“ž Untuk?


πŸ“ž Untuk kebaikan kak.


πŸ“ž Rey :...


πŸ“ž Kak udah dulu ya, assalamualaikum


Zahra mengambil dapas panjang. Bismillah


Semoga hari ini berjalan dengan baik. Aamiin


***


Sedang di rumah utama Tuan Al juga sudah siap-siap untuk ke kantor.


Pak Rahmat sampaikan ke Rey hari ini Aku akan mengemudi sendiri.


Dan jangan lupa umumkan ke semua pelayan kalau sudah ada orang di rumah belakang.


Baik tuan muda.


Setelah menyampaikan itu Al langsung berangkat ke kantor.


***

__ADS_1


Zahra...


Eh, ia kak.


Ini ada berkas, tolong antarkan ke ruang pak Al sekarang ya.


Hmm, o o oke kak.


Makasih.


Aaaa, Aku mau mati saja rasanya. Kenapa harus Aku yang mengantarnya, kan masih banyak orang. Aha aku punya ide, hmm minta tolong dulu ah sama si Aldo mungkin aja ia mau.


Usss Zahra bersial memangil Aldo


Do...


Boleh minta tolong?


Apa sih Ra. Aldo lagi banyak kerjaan nih.


Ih Aldo. Plis...


Zahra mengatukkan kedua tangannya. Dengan wajah di sok imut-imutin.


Oke, tapi ada syarat.


Apa?


Hmm. Nggak ada yang lain apa. Nanti Aku traktir deh. Oke. Zahra belum siap membagi kisah rumitnya dengan Tuan Al.


Oke deh. Sini berkasnya.


Makasih Aldo. Memang kamu is the best deh.


Alhamdulillah selamat. Zahra bersyukur dalam hati, ya karna ia ingin menghindari Tuan Al sebisa mungkin.


Zahra langsung kembali ketempat duduknya.


Baru saja ia merasa lega karna tak jadi keruangan lelaki itu, namun masalah datang lagi.


Aldo datang terbirit-birit ke arah Zahra.


Prak. Aldo meletakkan berkas tadi.


Dengan napas berat Aldo bicara.


Ra, cepat antar berkas ini ke ruangan pak Al sekarang, Dia kelihatan marah sekali saat aku yang mengantarkan surat ini.


Aaa, kenapa lagi. Zahra frustasi

__ADS_1


Cepat Ra. Aldo masih kelihatan menarik napas.


Tapi Aku takut Do. Zahra masih enggan bangkit dari duduknya.


Sekarang Zahra. Giliran Aldo yang frustasi.


Aaa, Zahra langsung lari menuju ruangan laki-laki itu.


Setelah sampai ia masih menarik napas panjang. Aku takut


Assalamualaikum pak. Zahra mengetuk pintu.


Tidak ada sahutan.


Aaa terserahlah. Zahra langsung masuk tanpa dipersilakan. Seketika Zahra membeku melihat tatapan Mematikan dari Al. Bersama juga saat Zahra masuk ke ruangan itu seorang perempuan keluar dari kamar mandi.


Zahra menelan ludah. Aaa kenapa sih Aku harus keruangan ini. Melihat perempuan itu Zahra jadi lupa apa tujuannya ke ruangan itu.


Sini sayang. Al menjetikkan tangannya agar perempuan itu mendekat ke arahnya.


Dan ia pun pendekatan. Duduk sini. Menepuk-nepuk pahanya. Gadis itu pun duduk mendengar perintah Al.


Ih, kenapa sih Aku harus disuruh ke ruangan ini. Kalo hanya untuk melihat pemandangan menjijikkan seperti ini. Zahra


Melihat itu. seketika wajah Zahra pucat dan berbalik ke arah pintu. Maaf pak jika kedatangan saya mengganggu kalian.


Dasar penggunaan. Al


Gadis hanya senyum-senyum mendengar perkataan Tuan Al


Saya akan pergi. Zahra yang ingin mengambil langkah seribu langsung di cegak Al.


Untuk apa anda kesini?. Seingatku anda tidak pernah diperintahkan keruangan ini.


Eh ia pak, maaf saya hanya ingin mengantarkan berkas ini. Zahra meletakkan berkas itu tanpa melihat ke arah Belakang.


Sekali lagi saya minta maaf pak.


Zahra langsung lari menghambur ke pintu. Rasanya ia ingin menghilangkan saja tadi.


Setelah Zahra keluar. Al langsung berdiri dan memerintah gadis di depan untuk pergi. Sebenarnya ia hanya ingin memanas-manasin Zahra. Entah apa yang ia lakukan tapi ia senang melihat wajah pucat Zahra.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2