Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
14. Tentang Hujan


__ADS_3

Hujan


Bulir bulir berjatuhan


Mengisi setiap sudut bumi


Memang Aku tidak basah


Namun jiwa menarikku


Untuk ikut kuyuh


Dia adalah sahabatku


Kadang dia musuhku


Tapi aku terlanjur suka


Zahra Adawiya Ahmad


Setelah seharian hanya di rumah belakang, rasanya Zahra ingin keluar, tentunya keinginannya tidak bisa direlesiasikannya.


Aaaa aku bosan, aku rindu Ibu, Ayah, hick hick hick. Tapi bagaimana juga nasi sudah jadi bubur. Huh


Zahra sudah beberapa kali bolak-balik menyusiri ruangan itu, tidak ada hp atau alat elektronik lainnya membuat Zahra frustrasi.


Jangankan Hp, tv aja nggak ada. Hick menyedihkan.


Apa itu?.tiba-tiba Zahra mendengar ada orang yang membuka pintu. Zahra langsung lari ke belakang sofa dan pelan-pelan mengintip dari balik sofa empuk itu, entah karena bosan memang dia dari tadi hanya duduk dan tiduran di sofa.


Ah, sekretaris Rey. Ada rasa lega di hati Zahra. Namun ia masih tetap berada diposisinya.


Zahra...


Sekretaris Rey memanggil.


Tidak ada jawaban.


Apa dia sedang tidur ya, inikan sudah malam.


Baiklah akan kuperiksa ke kamarnya.

__ADS_1


Mendengar itu Zahra langsung keluar dari persembunyiannya.


Huah Eh, pak Rey. Sedang apa disini pak. Zahra pura-pura baru bangun tidur.


Zahra kamu dari mana, bagaimana tiba-tiba ada disini.


Rasa canggung masih terselip dihati Zahra.


Pura-pura ngantuk Zahra. Ayo kamu pasti bisa.


Huah, ia pak, tadi Zahra ketiduran di sofa eh tau-tau udah ada di bawah sofa. Hehe tawa yang dibuat-buat.


Kamu sudah makan.


Belum pak.


Mendengar itu Rey langsung senang, karena tujuannya kerumah belakang hanya ingin mengajak Zahra makan malam, sekalian nostalgia, hehehe


Ayo kita makan. Rey langsung menarik tangan Zahra.


***


Selang beberapa menit tanpa di pesan makanan sudah terhidang di depan mereka.


Eh, seingatku Aku belum pesan sesuatu deh. Terserah ah, yang penting makan. Hahaha.


Air liyur Zahra seakan memberontak ingin Melahap semua makan enak yang tersaji di depannya. Namun demi menjaga sopan santun Zahra hanya bisa duduk dan makan dengan manis bak seorang putri versi Zahra tentunya.


Mereka hanya makan dalam diam. Karena masih ada rasa canggung terbersit di hati mereka masing-masing.


Hujan. Setengah berteriak, dan Kata-kata Zahra langsung membuka celah kecanggungan di antara mereka.


Apa?. Sekretaris Rey sedikit terkejut.


Eh, nggak pak, nggak ada. Zahra rasanya ingin membenturkan kepala kemeja bagaimana bisa ai berteriak pekiknya.


Oh, hujan. Sekretaris Rey baru nyambung.


Hehehe, ia pak.


Apa kamu suka hujan?.

__ADS_1


Zahra langsung menganggukkan kepada menandakan ia sangat suka hujan.


Wah, kita jodoh. Sekretaris Rey berbohong hanya karna ingin mengambil hati Zahra.


Apa?. Zahra berteriak lagi


Eh, maaf pak. Ada rasa malu dihati Zahra karna ia terlalu senang mendengar perkataan Rey.


Nggak papa, dan boleh Aku meminta sesuatu darimu?.menunjukan senyum membuat Zahra seketika menganggukkan kepala.


Apa kamu bisa tidak memanggil saya pak ketika kita berdua. Berkata dengan lembut


Deg, rasanya Zahra ingin melayang tinggi keawan, bagaimana ada orang sebaik pak rey


gumamnya dalam hati.


Maksud bapak. Memastikan jika ia tidak salah dengar.


Zahra, apa kamu bisa tidak memangil saya dengan sebutan barusan. Berkata dengan suara lembut.


Emangnya tidak papa. Zahra langsung menundukkan kepala. Rasanya ia sangan tidak sopan jika hanya memanggil sekretaris Rey dengan sebutan nama, bagaimana Rey adalah bosnya di kantor selain si manusia sombong itu tentunya.


Yah, kamu pasti tidak mau ya.


Eh,tidak tidak pak. Zahra langsung menutup mulutnya. Maksudnya Rey. Masih sedikit canggung hanya mengucapkan nama.


Ya, seperti itu. Dan kamu mau kan kalau kita berteman. Rey langsung mengangkat jari kelingkingnya. Janji?


Ragu Zahra menerimanya. Janji.


Seketika mereka langsung tertawa saat jari mereka sudah saling mengikat janji dan disaksikan oleh butiran-butiran kristal yang sudah membasahi bumi.


Jangan lupa like, komen and votenya ya sahabatโค


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2