Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
12.SAH


__ADS_3

Aku tidak tau bagaimana perasaanku sekarang, apakah bahagia atau bagaimana. Namun Aku hanya ingin mengikatnya agar Dia tidak hilang lagi dari pandanganku


Al De Varo Prayoga


Hari begitu cepat. Baru kemarin rasanya Aku menandatangani surat kontrak itu. Kini Dia sudah datang untuk menghalalkanku menjadi teman hidupnya. Hah, teman hidup? Kata itu terlalu indah untuk diriku yang hina ini,mana mungkin Dia memilihku untuk menjadi teman hidupnya. Dia hanya ingin membalaskan dendam kepadaku dan ingin menghancurkan hidupku. Aaaa Aku ingin mati saja rasanya.


Aku ditemani Ibu dan Mbak Nindy di kamar.


"Wah, Mbak nggak nyangka kalau kamu udah udah nikah aja ya Zahra" sambil mengelus tangan Zahra.


Zahra hanya membalas dengan senyuman.


Tubuh Zahra terasa panas dingin ketika Tuan Al mengucapkan kalimat sakral itu. Dan seketika tangis Zahra pecah saat semua orang mengucapkan "SAH" dan berucap syukur.


"Alhamdulillah" , ucap syukur itu terlontar dari mulut Ibu. Ibu memelukku dengan bahagia karena melihat putri sulungnya sekarang sudah resmi menikah dengan laki-laki terhormat dan juga orang paling berpengaruh tentunya.


Sebentar lagi suami akan datang kesini. Ibu keluar dulu ya, biar kamu di temani Mbak Nindy dulu.


Selang beberapa waktu, Tuan Al sudah ada di depan pintu. Saat Zahra menatap ke arah pintu, Dia dan Tuan Al saling bersitatap dan Zahra langsung membuang muka karena terlalu gugup.


Tuan Al menghampiri Zahra dan memasangkan cincin di jari manisnya. Begitu juga dengan Zahra memakaikan cincin di jari Tuan Al. Dan sekarang mereka sudah Sah menjadi suami istri.


***


Setelah pernikahan yang melelahkan itu Tuan Al langsung berpamitan kepada Ayah dan Ibunya Zahra karena mereka harus berangkat malam ini juga. Mengingat rumah Zahra sangat jauh dari kota dan itu membuat Tuan Al tidak nyaman.


Sebenarnya Ibu, Ayah, ataupun keluarga Zahra merasa khawatir karena keberangkatan itu. Namun sekali lagi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Di mobil Zahra hanya melihat keluar jendela dan rasanya tubuhnya lelah sekali namun matanya masih tidak bisa di ajak kompromi.

__ADS_1


Sedangkan tuan Al sudah terlelap disampingnya.


Setelah mereka sampai di rumah utama. Semua pelayan sudah menunggu, dan menyambut kedatangan mereka.


Dan menundukkan kepada saat Tuan Al keluar dari mobil dan berjalan tanpa melihat atau memperhatikan mereka yang sudah menunggu.


Sedangkan Zahra tidak tau harus berbuat apa Dia masih enggan untuk turun dari mobil.


Rey: maaf nona silahkan ikuti Tuan Muda.


Zahra langsung menganggu sopan kepada Rey dan langsung setengah berlari mengikuti Tuan Al.


Namun langkah Zahra seketika berhenti karena Tuan Al tiba-tiba berhenti.


"hey, apa yang anda lakukan disini" Tuan Al setengah berteriak.


Maaf pak, Saya hanya mengikuti Anda.


Apa anda kira bisa satu kamar denganku, Heh


Sudah mencengkram dagu Zahra.


Maaf pak, Saya tidak...


Zahra belum selesai dengan kalimatnya, namun tubuhnya sudah di dorong kuat ketembok.


Aaaa sakit, namun Zahra hanya bisa menahanya.


Hahahaha Anda tau kenapa Saya menikahi Anda, karena Saya ingin membalaskan dendam Saya.

__ADS_1


Cih Tuan Al langsung meludah.


Lihat dirimu begitu jelek dan kampung.


Apa Anda kira Saya akan tertarik dengan anak kecil ingusan sepertimu. Al tidak berhenti menggertak dan menghina Zahra membuat gadis itu semakin ketakutan.


Zahra belum siap berdiri karena tadi Al mendorongnya ketembok sekarang sudah ditarik paksa untuk keluar dari kamar itu.


Keluar kamu dari kamarku. Membating pintu keras.


Zahra menerima perlakuan itu hanya terisak. Namun tidak mengeluarkan air mata. Karena tumbuhnya terlalu syok dengan semua ini.


Dan dia hanya mematung di depan kamar itu tanpa tau harus kemana.


_________________________________________


πŸ“· Foto Zahra saat memakai gaun pengantin



.



.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2