Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
20. Rencana ibu


__ADS_3

Setelah lama di rumah belakang bersama menantunya. Sekarang menantu dan mertua sudah begitu akrab.


"Sayang, mama ke rumah utama dulu ya. Mama juga belum memberi tahu Al kalo mama udah pulang."


"Ia mah."


"Dada sayang." mama Hani begitu senang mendapat kejutan hari ini.


"Dada mamah".


Mereka saling melambaikan tangan.


***


Setelah berada di kamar, mamanya Al masih belum ngapa-ngapain. Dia masih berpikir keras, mencari cara agar Zahra bisa ia bawa ke rumah utama. Dan tanpa ada penolakan dari Al.


Setelah berpikir panjang. Mama Hani sudah mendapatkan ide cemerlang untuk masalah ini. Bersamaan dengan mobil Al yang terdengar memasuki rumah utama.


Baiklah, mari kita mulai. Senyum manis sudah terlihat di sudut bibir wanita cantik itu.


Sambil berlari mama Hani menuju teras.


"Aaaa. Kejutan." Mama hani berhamburan ke pelukan Putra satu-satunya.


"Mama." Al sangat terkejut dengan kedatangan mamanya yang tiba-tiba.


"Ayo kita mulai rencananya." Hehehe


"Sayang, mama kanget bangat sama kamu nak. Nggak kangen sama mama." pura-pura sedih agar Al terperangkap dalam rencananya.


"Mah. Mana mungkin Al nggak kangen." memeluk mamanya erat.


"Sayang. Ayo kita ke rumah bekang. Mama kengen ke rumah itu. " dengan wajah pura-pura sedih. Hehehe

__ADS_1


Mendengar rumah belakang. AL langsung membulatkan matanya.


"Tapi mah." bagaimana ini apa yang harus aku lakukan. Al


"Kamu nggak mau sayang?" memelas.


"Tapi mah, untuk apa kita kesana. Lagi pula, emangnya mama nggak capek. Kan mama baru sampai. "


"Pokoknya kita harus kesana" mama Hani sudah menarik paksa Al menuju rumah belakang.


"Mah." Al masih mencari alasan untuk menyembunyikan Zahra.


"Ayo."


Setelah di depan rumah belakang mama Hani tersenyum penuh arti.


"Ayo sayang." mama Hani membuka pintu dengan kunci yang memang ia pegang dari tadi.


"Aaaa." mama hani Berakting pingsan.


"Mama." Al


"Mama". Zahra


Al langsung mengendong mamanya dan mambawanya ke rumah utama. Sedangkan Zahra mengekor di belakang Al. Menerka-nerka apa yang terjadi, kenapa mama Hani seperti itu. Seperti sedang mereka ulang kejadian tadi.


Setelah membaringkan di atas kasur. Al menyuruh Zahra mengambil nampan berisi air dan handuk kecil.


"Zahra, ambilkan air dan handuk. Cepat."


"Baik tuan". Zahra berlari menuju dapur. Walaupun ia sebenarnya tidak tau dimana persis letak dapur. Karena rumah ini begitu besar baginya.


"Aaaa. Bagaimana ini. Dapur dimana dapur". Zahra masih berperang dengan pikirannya.

__ADS_1


Dia tidak menyadari seseorang sedang menujunya.


"Nona Zahra. Apa yang anda lakukan disini?"


Wajah pak Rahmat begitu pucat. Karena ia tau jika tuanya tidak suka kalau gadis ini menginjakkan kaki di rumah ini.


"Pak. Dimana dapur?. Saya butuh air dan handuk kecil pak. Tuan Al sedang membutuhkan itu."


Mendengarkan itu pak Rahmat langsung kaget. Namun permintaan Zahra lebih penting. Karena mendengar tuannya sedang tidak baik-baik saja.


"Pergilah temanin tuan Al. Biar saya yang ambi. Cepatlah nona."


Pak rahmat langsung lari menuju dapur.


"Aaaa. Tapi pak" Zahra bingung harus kemana. Dia takut kalo ia pergi ke kamar tanpa membawa apa-apa, tuan Al akan marah.


Namun, mau tidak mau ia menuju kamar mama hani.


Pelan-pelan Zahra membuka pintu. Setelah membuka pintu, terlihat mama Hani sudah siuman dan pak Rahmat sudah disitu mambawa minum dan yang ia minta tadi.


Sayang sini. Mama Hani melambaikan tangan agar Zahra mendekat ke arahnya.


Zahra pelan-pelan menuju kasur tempat mama hani berbaring.


Sebelum sampai ia masih mendapat tatapan mematikan dari Al.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2