
"Maaf, maaf Nyonya saya telah lancang duduk di dekat Nyonya" .
Melihat itu Mama Hani ketawa. Vio kenapa kamu sekarang selucu ini. Seingat tente kamu dulu nggak suka bercanda. Mama Hani seketika diam.
Maaf Nyonya nama saya Zahra dan seingat Zahra, saya belum pernah bertemu Nyonya.
Apa?. Berteriak, dan Langsung menutup mulutnya." Maaf maaf, tante nggak sengaja berteriak, jadi kamu bukan Vio. Tapi, kenapa wajahmu mirip sekali dengan Vio" . Mama Hani mengingat-ngingat lagi tentang Vio dan nihil jawabannya cuma itu, Vio hanya anak tunggal dan Vio sudah meninggal." Tapi, kenapa wajah anak ini mirip sekali dengan Vio? ".
Baiklah, jika kamu bukan Vio, sekarang jelaskan siapa dirimu!.
Mendengarkan itu tubuh Zahra bergetar, karna sekarang yang di depannya adalah mertuanya dan Zahra belum tau bagaimana karakter wanita ini.
Cepat.
" Aku, aku". Zahra tak bisa menjawab Karna ketakutan yang ada di hatinya.
"Maaf, mungkin Aku terlalu memaksa ya. Oke, tunggu sebentar" . Mama Hani langsung lari ke arah dapur entah apa yang sedang ia pikirkan. Sedangkan Zahra tak bisa berpikir jernih karna rasa takut di hatinya. Selang beberapa menit mama Hani sudah membawa dua minuman segar di atas nampan.
'Minumlah". Mama Hani menyodorkan minuman dingin itu ke tangan Zahra.
__ADS_1
"Terima kasih Nyonya". Zahra menerima minuman itu dengan tangan bergetar dan meneguk habiskannya. Rasanya ia sangat haus sekali karna pertanyaan wanita di depannya.
"Nah, sekarang sudah lebih baik kan?". Mengambil gelas di tangan Zahra.
"Ia Nyonya" . Bagaimana ini, haruskah
kuceritakan semuanya. Aaaa kenapa sih kamu harus datang Nyonya, kenapa keluarga kalian tidak bisa membuat hidupku lebih tenang.
Mmm, Aku aku hanya mahasiswa magang yang tinggal disini Nyonya. Semoga kamu yakin Nyonya.
Bu hani masih mencerna kata-kata Zahra. "Bohong, jika memang begitu mana mungkin putraku Al memgijinkanmu disini!. Mamanya Al sangat tau sifat anaknya. Jadi tidak akan mungkin jika ada seorang gadis di rumah ini tanpa sebab yang penting.
Oke baiklah akan kukatakan sejujurnya. Batin Zahra. Rasanya Zahra juga butuh seseorang untuk berbagi beban ini. Dia sudah tidak tahan jika memikulnya sendiri.
"Baiklah Nyonya saya akan jujur. Saya adalah istrinya tuan Al.
Apa!. Bu hani pingsan seketika
Melihat itu Zahra jadi takut. Bagaimana ini jika nyonya mati, aaa bangunlah nyonya, aku tidak mau di tuduh membunuhmu. Namun beberapa menit kemudian bu hani bangun dari pingsannya.
__ADS_1
"Aduh, kepalaku pusing."
Nyonya apa kamu baik-baik saja. Zahra sangat senang melihat nyonyanya tidak jadi mati.
Hei, kamu. Bu hani
Pingsan lagi?. Zahra
***
Setelah bu hani siaman, Zahra memberikan minum dan menenangkannya. Selang beberapa menit, bu hani sudah merasa tenang. Zahra menceritakan satu-persatu awal mula dirinya dan tuan Al bisa bertemu, sampai dengan bagaimana mereka bisa menikah. Ya tentu menurut Zahra tuan Al hanya ingin balas dendam terhadapnya.
Mendengar cerita zahra, bu hani mulai paham dengan situasi yang putranya ciptakan. kesimpulan yang ia tarik dari penjelasan panjang lebar gadis di depannya yaitu Al hanya ingin mengikat Zahra dengan ikatan suci. Tanpa menodai atau menghancurkan Zahra. Dan bu hani berjanji akan membantu Zahra untuk membuat putranya jatuh cinta kepada istrinya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung