
“Siapa kamu?” tanya Yuni kepada laki-laki yang berdiri di depannya.
Laki-laki tersebut membalikkan badannya membelakangi Yuni dan berkata,”Maaf apa bisa kamu merapikan bathrobe yang kamu kenakan?”
Yuni tersadar dan segera masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya namun naas pakaiannya basah. Maka ia segera merapikan bathrobe yang ia kenakan. Meski tubuh bagian atas tertutup dengan sempurna tapi tidak dengan paha mulusnya yang masih terekspos. Yuni belum beranjak untuk keluar. Ia masih setia berada di dalam kamar mandi.
“Brengsek! Siapa laki-laki itu? Apa Vino mempermainkanku?” geram Yuni. Ia marah karena bukan Vino yang ia temui melainkan orang lain.
Laki-laki yang dimaksud Yuni masih berada di kamar tersebut. Ia merasa telah menyinggung perasaan Yuni. Karena merasa Yuni tak kunjung keluar dari kamar mandi, ia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
“Maaf Nona jika membuat Nona tersinggung. Saya teman Vino. Apa Vino tidak memberitahukan kepada Nona bahwa ia tidak bisa datang dan saya yang langsung datang untuk berbicara hal penting dengan Nona? Sekali lagi saya minta maaf. Jika Nona tidak keberatan saya akan menelepon Vino”
Yuni yang mendengar kata-kata yang diucapkan lelaki itu segera meredakan kemarahannya. Ia keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu segera memberi jarak. Yuni menuju meja, mengambil HPnya dan membaca beberapa pesan yang dikirim Vino. Suasana seketika hening.
“Baiklah. Silahkan duduk Tuan ........” Yuni menghentikan ucapannya dan mengamati wajah laki-laki yang ada di hadapannya dengan seksama. Ia merasa seperti mengenal laki-laki itu.
“Danny” lirihnya namun masih bisa didengar laki-laki itu.
Laki-laki itu merasa namanya disebut, melihat ke arah Yuni, menatapnya lama kemudian dengan sedikit tersenyum berkata,” Dokter Yuni? Apa ini benar anda Dokter?”
__ADS_1
Yuni terlihat gugup. Ia merasa nyalinya menciut. Selama ia melayani laki-laki hidung belang, tidak ada satupun dari mereka yang tahu profesinya. Mereka hanya menikmati keindahan tubuhnya saja tanpa ingin mencari tahu sosok Yuni sebenarnya. Namun saat orang lain tahu tentang dirinya rasa percaya dirinya seketika luntur. Tapi ia berusaha untuk tenang. Bukan Yuni namanya jika ia tidak bisa profesional.
“Karena kita sudah saling mengenal, jadi langsung saja ke intinya. Silahkan duduk Danny”
Mendengar kalimat yang diucapkan Yuni, Danny Anggara segera duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Ia masih belum percaya bahwa sosok Yuni yang direkomendasikan Vino adalah Yuni Andani, Dokter yang telah membuat jantungnya berdetak cepat.
Melihat Danny sudah duduk, Yuni juga ikut duduk di kursi kosong yang ada. Namun ia sedikit merasa risih dengan bathrobe yang minim. Baru kali ini ia merasa tidak nyaman berada dengan laki-laki dengan memperlihatkan bagian tubuhnya padahal hal-hal seperti itu sudah biasa ia lakukan.
Danny yang melihat paha putih dan mulus milik Yuni yang terekspos segera membuka jas yang ia kenakan. Yuni kaget melihat hal yang dilakukan Danny. Ia mulai berpikir Danny sama seperti laki-laki lain yang tidak bisa menolak jika melihat sesuatu yang indah di depannya.
“Silahkan pakai ini, Dok. Saya merasa Dokter kurang nyaman dengan bathrobe yang minim seperti itu” kata Danny dan menyerahkan jasnya kepada Yuni. Yuni merasa malu sudah menuduh Danny yang bukan-bukan. Ia segera mengambil jas tersebut dan menutup pahanya.
“Terima kasih” Yuni tersenyum.
Meski gugup dan menahan jantung yang terus berdetak cepat, Danny mulai menceritakan alasan terbesar ia membutuhkan bantuan Yuni.
“Berapa banyak yang bisa kamu bayar?” tanya Yuni setelah Danny selesai bercerita.
“Berapapun yang Dokter minta akan saya berikan” jawab Danny dengan mantap.
__ADS_1
“OK. Saya setuju. Dan tolong cukup panggil nama saya saja. Kita bukan berada di klinik”
Danny tersenyum sambil mengangguk. Danny pun pamit untuk pulang karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi dengan Yuni meski hatinya masih ingin berada dekat Yuni.
“Apa Dok eh kamu belum pulang?” tanya Danny ketika berada di depan pintu.
“Mungkin sedikit lagi”
“Jika kamu mau, saya bisa mengantar kamu pulang. Saya rasa tidak baik kamu berlama-lama di sini apalagi ini sudah larut malam. Maaf bukan bermaksud untuk menggurui atau mencampuri urusanmu. Saya hanya peduli”
Entah mendapat keberanian dari mana Danny berbicara seperti itu. Yuni terdiam sejenak mendengar ajakan Danny. Dengan ragu-ragu, ia berkata,” Sebenarnya pakaianku sedikit basah jadi aku akan menunggunya hinggakering karena tidak mungkin aku keluar dengan penampilan seperti ini”
“Baiklah kalau begitu. Selamat malam” kata Danny menatap Yuni lalu meninggalkan kamar tersebut.
Yuni menghempaskan tubuhnya pada ranjang putih sambil menunggu pakaiannya. Ia nyaris terlelap ketika mendengar bunyi ketukan pada pintu kamar yang ia tempati. Dengan langkah gontai, ia membuka pintu tersebut.
“Maaf mengganggu lagi. Saya hanya ingin memberikan ini. Saya tidak tahu apa pakaian ini cocok atau tidak. Tapi cobalah”
Danny memberikan kantong berwarna cokelat kepada Yuni. Yuni terkejut namun ia segera menerima kantong tersebut.
__ADS_1
“Pakailah. Saya akan mengantar kamu pulang. Saya tunggu di sini” kata Danny lagi. Yuni speechless dengan perlakuan Danny. Ia hanya mengangguk. Hati Yuni sedikit tersentuh.
“Mungkin ini hanya bentuk balas jasa karena aku bersedia membantunya” batin Yuni.