Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
15. Tentang Hujan [part 1]


__ADS_3

Hujan adalah rahmat yang diturunkan sang Maha Rahman untuk seluruh bumi. Dan tentu saja hujan juga bisa membawa bahagia dan galau karna ada kenangan di dalamnya. Begitu pun Zahra ia sangat menyukai hujan karna kenangan manis dimasa lalu.


"Yah, aku kan masih ingin di luar" . Batin Zahra


Tapi Zahra tidak bisa membantah walaupun ia dan sekretaris Rey sudah menjadi teman. Ya apalagi kalo bukan untuk kenyamanan Rey.


Mereka sudah memasuki gerbang utama, setelah makan malam mereka langsung pulang.


"Sampai jumpa Zahra" . Rey


"Sama-sama" . Zahra Dengan senyum sejuta watt.


Aaaa, aku ingin main hujan. Hick


Namun Zahra masih tetap masuk rumah seperti perintah Rey. Walaupun hatinya bergejolak ingin lari dan menerobos hujan.


***


Setelah satu jam di dalam rumah, keinginan Zahra semakin tidak bisa ditahannya.


Ah, terserah pokoknya Aku ingin mandi hujan. Toh , Sekretaris Rey juga udah pergi .


Zahra langsung keluar rumah setengah berlari. Karna hujan pun semakin menaikkan volume airnya.


"Aaaaaa aku suka" . Zahra setengah berlari menyusuri taman. Dia menari ria dan melompat-lompat bak anak kecil yang baru pertama kali mandi hujan.

__ADS_1


Sambil diselangi ketawa bahagia Zahra masih berlomba-lomba dengan hujan dengan teriak-teriak senang.


Ah, senangnya udah lama nggak mandi hujan. Zahra mengingat kenangannya dengan Kiki sahabat, gimana girangnya Kiki saat mereka mandi hujan, berlari-lari saling kejar. Memang terdengar konyol, karna mereka kan udah gede tapi bagi mereka itu adalah aktivitas yang menyenangkan.


Gimana ya kabarnya Kiki sekarang.


Aku membencimu, aku berjanji tidak akan pernah menyukaimu laki-laki jahat. Hick hick hick


Jahat. Lirih Zahra mengucapkan itu


Sekejap Zahra langsung luyu karna mengingat bagaimana nasibnya. Setelah lama berdiam diri dan menangisi ketidakberdayaannya, Zahra langsung beranjak masuk rumah.


Namun ia tidak tahu jika dari tadi ada sepasang mata yang memandangnya dengan lekat. Laki-laki itu melihat semua apa yang Zahra lakukan. Dan tentu saat adegan mengomel dan mengumpati dirinya juga.


Bagaimana Aku bisa menikahi gadis kekanakan sepertinya. Dasar bodoh.


Namun tidak bisa Al elakkan jikalau ia menyukai memomen tadi. Ada sedikit senyum mengembang di ujung bibirnya saat melihat Zahra melompat-lompat dengan riangya.


Setelah melihat Zahra masuk kedalam rumah belakang. Taun Al masih lama berdiam diri di tempatnya. Ya karna ia juga menyukai hujan. Kebiasaannya saat hujan turun dirinya akan berdiam diri di ujung teras dan membiarkan dirinya tersiram oleh dinginnya air hujan. Karna sejak kecil dirinya tak pernah diperoleh merasai bagaimana sensasi mandi hujan.


Dan entah apa lagi yang membuatnya senang dengan hujan.


***


"Aaaaa, hantu". Pelayan Itu berteriak dengan keras karna baru saja melihat Zahra masuk ke rumah belakang.

__ADS_1


Hantu, dimana, dimana?. Tanya pelayan satunya.


Yap mereka tadi sedang asik menikmati malam ditambah nyanyian hujan di depan jendela. Namun semua keasyikan itu pecah saat pelayan yang satunya melihat bayangan Zahra masuk ke rumah belakang. Karna jendela kamar mereka langsung tertuju ke rumah belakang dan semua pelayan mengenali wajah itu. Wajah nona Vio yang telah meninggal dunia.


Mungkin kamu sedang halu kali. Pelayan satunya menimpali karna ia tidak melihat Zahra tadi.


Mungkin ya. Aaaaa akuu nggak tau. Pelayan yang melihat tadi masih hiteris dan ketakutan.


kamu lebay ah, aku tidur dulu kalo gitu. Malas meladeni orang lebay.


Aaa, jangan tinggalkan aku.


Mereka langsung melompat ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut.


Hehehe.


Yap, alasannya karena Tuan Al masih belum memperkenalkan Zahra kepada para pelayan.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2