
Yuni masuk tergesa-gesa ke dalam ruangannya melalui pintu belakang. Ia segera memakai jas dokternya, merapikan rambutnya dan menyeka keringat akibat berlari. Setelah ia siap, asistennya memanggil pasien yang telah menunggu lama.
Yuni dengan tekun mendengar keluhan dan memeriksa keadaan pasien. Meskipun lelah, ketika melaksanakan tanggung jawabnya maka ia akan bersikap profesional.
“Ah...lelahnya” keluh Yuni setelah ia selesai memeriksa pasien-pasiennya.
“Ada yang Dokter inginkan? Biar saya ambilkan” tawar Rina, asisten Yuni.
“Tidak, Rina. Terima kasih. 10 menit lagi aku akan pulang”
“Baiklah Dokter dan jangan lupa kalau sore nanti Dokter juga mempunyai jadwal praktek”
Yuni membelalakan matanya dan segera melihat jadwal yang tertempel di papan kecil yang ada di ruangannya.
“Ya...aku nyaris lupa. Terima kasih Rina sudah mengingatkanku” kata Yuni dengan senyum manis.
“Aku harus membatalkannya” batin Yuni.
***
“Sepertinya malam ini aku tidak bisa bertemu denganmu. Maaf” kata Yuni kepada seseorang di ujung telepon.
“Kenapa?”
“Aku punya pekerjaan lain yang tidak bisa ditunda”
“Aku bisa membayarmu tiga kali lipat asal malam ini kau menemaniku”
__ADS_1
“Ini bukan masalah uang, Vino. Bagaimana jika besok malam?” tawar Yuni.
Seseorang yang ditelepon Yuni bernama Vino Putera, CEO dari perusahaan elektronik terbesar. Vino kerap mengajak Yuni untuk bertemu dan selalu berakhir di ranjang.
Yuni selalu pilih-pilih dalam menerima ajakan dari orang yang sama yang pernah menghabiskan malam panas dengannya. Namun tidak dengan Vino. Yuni sulit menolak ajakan Vino kecuali saat dirinya sedang sibuk di klinik seperti saat ini.
Vino terdiam sejenak memikirkan tawaran Yuni. Yuni menanti jawaban Vino.
“Baiklah besok malam saja kita bertemu. Tapi aku tidak mau hanya satu atau dua ronde saja. Kau harus siap melayaniku sampai aku meminta untuk berhenti. Bagaimana, Sayang?”
“Baiklah, Vino” Yuni pasrah.
“Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Sampai ketemu besok. Aku sudah sangat merindukanmu, Sayang. Rindu memakan dirimu”
Yuni mematikan panggilan tersebut. Ia menghembuskan nafas kasar.
***
Ia mengingat kejadian pagi tadi saat ia sedang berada di klinik dan menabrak seseorang yang sedang terburu-buru.
“Yuni Andani” gumamnya.
“Nama yang cantik secantik wajahnya” gumamnya lagi.
***
Pukul lima sore, Yuni sudah berada di klinik. Ia tampak segar berbeda dengan saat ia datang di pagi hari.
__ADS_1
“Rina, apa kamu melihat id cardku?” tanya Yuni kepada asistennya.
“Tidak, Dokter. Mungkin tertinggal di rumah, Dok” tebak Rina.
“Seingatku aku membawanya ke sini. Tapi aku lupa menaruhnya” Yuni mulai mencari di segala sudut yang ada di ruangan minimalis tersebut.
Aktifitas mencari Yuni terhenti ketika petugas datang membawa beberapa berkas pasien yang harus diperiksa Yuni.
***
Pukul sepuluh malam Yuni tiba di rumahnya. Ia menghempaskan tubuh lelahnya di sofa di samping Maya, Ibunya yang sedang menonton sinetron. Melihat Yuni, Maya berhenti menonton.
“Apa boleh Mama bertanya?”
“Ada apa Ma?” jawab Yuni
“Kamu selalu pulang dini hari. Apa yang kamu lakukan, Nak?” Maya menginterogasi Yuni.
“Dini hari apanya Ma? Buktinya sekarang aku pulang jam sepuluh kan?!”
“Bukan hari ini tapi kemarin dan kemarinnya lagi”
“Sudahlah Ma. Aku lelah. Seharusnya anak pulang kerja dikasih sambutan yang hangat bukan menginterogasi”
“Apa ini ada hubungannya dengan Randy? Kamu belum bisa melupakan dia?”
Yuni terpaku mendengar nama yang disebutkan Maya. Jantung Yuni berdetak cepat. Ia merasa hatinya sakit. Ia berusaha kuat di hadapan Maya.
__ADS_1
“Randy hanya masa lalu yang sudah aku kubur, Ma. Jangan pernah menyebut namanya” Yuni menahan getar dalam suaranya lalu meninggalkan Maya.
“Randy brengsek” lirih Yuni.