Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
7. Hukuman


__ADS_3

๐ŸAku percaya di dunia ini tidak ada yang kebetulan melainkan sudah ditakdirkan๐Ÿ


Zahra Adawiya ahmad


...


Tiga hari setelah kejadian di kantin, dan tiga malam itu pun Zahra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Zahra hanya bisa menumpahkan keluh kesahnya dalam tulisan dan ia rangkai jadi sebuah bait yang indah untuk di baca.


Dear hatiku


aku berlari mengejar waktu


Tuk dapatkan segudang ilmu


Karna ku tak mau


sia-siakan masa mudaku


Ku berjuang tiada henti


Demi wajah-wajah pemilik hati


Bersungguh-sungguh


Impianku.


Namun, aku takut


Apa yang ku halu


Tak semulus khayalanku


Karena takdir


Ku tak tau.


Sudah sekian banyak bait-bait indah tertulis di buku deary Zahra, namun matanya masih tak mau memejam. Dan Zahra selalu mengutuk dirinya jika mengingat kejadian tiga hari lalu.


Karena ia tahu hukum akan datang menghampirinya sewaktu-waktu.


Dan benar saja, Tuan Al sudah menyiapkan hukuman yang akan mengubah hidupnya besok.

__ADS_1


.


.


.


Zahra masih seperti biasa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kakak seniornya . Untuk anak magang sepertinya.


Namun ketenangan Zahra berubah drastis setelah seseorang memangilnya.


Zahra masih mondar-mandir di depan ruangan itu, yang bukan lain adalah ruangan tuan Al, Zahra masih mengingat dengan jelas bahwa Tuan Al mengerjainya habis-habisan kemarin. Dan dia juga masih canggung bertemu tuan Al karna kejadian di kantin.


Bismillah. Zahra


Tok tok tok


Assalamualaikum pak.


Zahra sudah mencium aroma tak sedap akan nasibnya nanti, karena tatapan sinis tuan Al seakan memberi isyarat bahwa ia akan membunuh Zahra.


Namun Zahra salah, ini lebih menakutkan dari yang ia bayangkan.


Maaf pak. Apakah bapak memanggil saya? Zahra basa-basi menghilangkan kecanggungan.


Apa lagi sih. Zahra


Rey berikan amplopnya, perintah tuan Al.


Baik tuan. Rey


Untuk apa coba, apakah aku akan mendapat surat cinta tuan? , hahahaha atau mungkin surat pemberhentian? . Apa... Tidak tidak tidaak, Zahra menggeleng-ngelengkan kepalanya.


Ya Allah Zahra nggak mau, Zahra masih mau wisuda ya Allah, hick hick hick batin Zahra mengutuki dirinya sendiri karena sudah berpikir yang aneh-aneh.


Melihat tingkah Zahra, Al hanya tersenyum sinis. "Dasar gadis bodoh. Apa yang sedang kamu pikirkan lebih menakutkan bodoh".


Saat Zahra membaca dengan seksama, tiba-tiba ia berteriak.


Aaaaa, Tidak mau...


Zahra pun langsung menutup mulutnya karena apa yang barusan ia baca.

__ADS_1


Sekali lagi ia membenturkan kepalanya kemeja. Dan berteriak Aaaaa sakit.


Melihat tingkah Zahra Tuan Al dan sekretaris Rey hanya geleng-gelengkan kepala.


Al masih tetap diam melihat reaksi dari Zahra, melihat wajah Zahra yang sudah pucat membuat Tuan Al semakin ingin menyiksa Zahra lagi dan lagi.


Masih membacanya lagi dan lagi, sudah satu jam Zahra hanya mengulangi, membaca apa yang ada di depannya. Zahra sudah tak sadar jika ada dua orang yang sedari tadi memperhatikannya. Yang ia tau jika ia tidak akan mau dengan apa yang ia baca.


Setelah kesabaran Tuan Al habis, karena melihat Zahra masih berdebat dengan surat yang sudah satu jam ia baca.


Hemmm. Tuan Al


Maaf nona. Rey


Rey pun sudah sejak tadi geram melihat tingkah Zahra. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena tuannya juga mesih belum bereaksi.


Deg


Zahra tersadar dari lamunannya.


Aaaaa aku bodoh. Zahra


Apakah kamu belum puas membacanya. Atau kamu tidak pandai membaca. Hah mahasiswa macam apa kamu. Al bertubi-tubi menghina Zahra.


Maaf pak, seakan mulut Zahra bungkam Seketika.


Cepat tanda tangan! Tegas tuan Al


Maaf pak, hanya itu yang keluar dari mulut Zahra.


Aaaaa dasar kamu mulut, kenapa tidak bisa melawan. Hick hick hick


Cepat!. AL suatu berteriak


"SAYA TIDAK MAU PAK" srrrr jantung Zahra seakan mau meledak.


Zahra:...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2