Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap
Chapter III


__ADS_3

Yuni melangkahkan kakinya menuju kamar 201 untuk bertemu Vino seperti janji yang sudah ia buat. Yuni memakai mini dress dengan panjang 20 cm di atas lutut.


“Aku sudah di depan pintu” katanya kepada Vino via telepon.


Tanpa menunggu lama, pintu kamar 201 terbuka. Lelaki tampan menyambutnya dengan pelukan.


“Aku sangat merindukanmu, Yuni” bisik Vino tepat di telinga Yuni yang membuat ia merasakan sensasi aneh. Vino melepaskan pelukannya dan menghujani Yuni dengan ciuman di seluruh wajah dan leher Yuni untuk melepaskan hasrat yang ia pendam. Sesekali Yuni mendesah tak sanggup menahan perlakuan Vino padanya.


Namun Yuni pun tidak tinggal diam. Ia membalas ciuman Vino dan keduanya pun berakhir di ranjang dengan selimut yang membungkus tubuh lelah keduanya. Yuni bersandar pada dada Vino. Vino memainkan rambut Yuni dan sesekali mengelus pipi mulus Yuni.


Vino memejamkan matanya karena lelah namun ponselnya berbunyi menandakan ia mendapat panggilan dari seseorang. Dengan susah payah ia meraih ponsel tersebut dan menerima panggilan.


“Di mana? Baiklah. Aku segera ke sana. Jangan ke mana-mana”


Vino mencium bibir Yuni sekilas dan beranjak dari tempat tidurnya.


“Maaf aku harus pergi” bisik Vino.


Yuni mengangguk pelan. Vino segera memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar tersebut. Yuni menghembuskan nafas kasar lalu beranjak untuk sekedar membersihkan dirinya dan pulang ke rumah.

__ADS_1


***


“Kamu tampak berantakan Vino” kata seseorang bersuara husky ketika Vino sudah duduk di depannya.


“Ya...begitulah. Aku baru selesai menghabiskan aktifitas panas bersama seseorang”


“Apa dia hebat saat di ranjang?”


“Wow...apa yang terjadi? Bagaimana pria yang terkenal alim sepertimu memberikan pertanyaan seperti itu? Apa benar orang di depanku ini adalah Danny, sahabatku? Apa terlalu lama di Jepang membuatmu seperti ini?” tanya Vino takjub.


“Aku merasa takut melihat ekpresimu, Vino”


“Bisnisku lancar. Namun masalahnya adalah Orangtuaku menuntut aku untuk segera menikah. Jika minggu depan aku belum juga membawa pasanganku maka mereka akan menjodohkanku dan aku butuh bantuanmu” jelas Danny, laki-laki tampan dengan tinggi 188 cm.


“Apa yang bisa aku bantu?”


“Tolong carikan aku perempuan yang bisa diajak kerja sama. Dia hanya akan berakting sebagai kekasihku. Aku tahu pasti kamu punya banyak kenalan perempuan maka aku mengandalkanmu” kata Danny dengan wajah memelas.


Vino tampak berpikir. Ia memutar otaknya untuk mencari perempuan yang cocok menjadi partner akting bersama Danny. Mulai dari Dinda, Rika, Dini, Andita, Shandy, Keke, Kiki, Rina, Dena, Debi dan masih banyak nama bermunculan di ingatan Vino namun dari banyak nama belum ia temukan yang cocok untuk Danny.

__ADS_1


Vino berpikir hanya satu perempuan yang cocok yaitu Yuni. Vino menjelaskan secara detail ciri-ciri dan beberapa sifat Yuni yang ia tahu. Danny mengangguk setuju.


“Ini nomor ponselnya. Kamu yang harus menghubunginya dan ajak atur jadwal untuk bertemu agar peran yang akan kalian lakoni lebih terlihat alami. Tapi ingat kamu tidak boleh macam-macam dengannya” ancam Vino.


“Apa bisa kamu yang memberitahukan kepadanya Vino? Kamu tahu bagaimana kakunya aku saat berhadapan dengan orang baru apalagi jika itu perempuan”


“Ah...kamu sangat merepotkan Danny. Seperti itu saja kamu tidak mampu? Baiklah aku akan coba menghubunginya sekarang”


Vino mengirim pesan kepada Yuni. Danny sedikit gelisah menunggu balasan dari Yuni. Namun balasan yang diharapkan belum juga datang.


“Apa kamu tidak bisa langsung meneleponnya, Vino?”


“Kamu diamlah! Hubungan kami mempunyai beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar”


Ponsel Vino bergetar. Vino membuka ponselnya dan membaca pesan masuk dengan tersenyum.


“Apa itu balasan dari Yuni?” tanya Danny penasaran.


Vino menggelengkan kepalanya. Danny tampak muram.

__ADS_1


__ADS_2