
Suasana perkotaan sungguh memusingkan, apalagi setiap hari disuguhkan dengan kemacetan dimana-mana. Serasa sudah menjadi santapan yang selalu ada untuk setiap waktunya. Begitu juga seseorang yang sudah dari tadi berada di antara kerumunan itu. Setelah sekian lama berkutik dengan jalanan yang penuh, sekarang motor itu sudah memasuki gerbang utama.
Hah. Zahra membantingkan tubuhnya di atas kasur. Eh tunggu, kok tadi di kantor Aku nggak liat Kak Rey ya. Ah terserahlah Aku capek.
Setelah lama berdiam diri di kasur, Zahra langsung berlari ke kamar mandi. Di kamar mandi Zahra masih mengingat kejadian tadi, saat Wanita itu duduk di pangakuan pak Al.
"Kira-kira itu siapanya pak Al ya, pacarnya, atau simpanannya. Aaaa Aku kenapa sih, kenapa juga harus mikirin tu makhluk" .
Yang harus Aku pikirkan sekarang bagaimana caranya aku bisa pergi ke kosku. Hick gimana ya nasib baju-bajuku. Sungguh malang nasibmu komporku,Hick hick hick (memang Zahra sangat hobi memasak jadi ia juga merindukan kompornya. Wkwkwk)
__ADS_1
Zahra masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Bagaimana barang-barangnya di kos entah masih di tempatnya atau udah di buang oleh ibu kos.
Kini Zahra sudah rapi dengan baju tidurnya. Ya baju tidur yang sudah disiapkan di kamar itu. Semua baju-baju itu entah siapa yang meletakkannya di lemari dan Zahra tak ambil pusing untuk itu, toh mereka horang kaya ya suka-suka mereka yang penting sekarang Zahra punya banyak baju. Hehehe
Sampai Jam 10:00 wib Zahra masih belum bisa memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak bisa tidur karna perutnya belum terisi dari sore tadi. Mau masak malas, mau beli go food nggak bisa juga. Nggak usah makan lah. Zahra berkelahi sediri dengan perutnya dan akhirnya Zahralah yang memenangkan perkelahian ya tentunya dengan mengikat perutnya dengan syal yang ia temukan di lemari.
Semakin Al menuju kamar Zahra, semakin ego Al menguat. Untuk apa kamu kesini. Kamu sendiri kan yang memarahinya. Sekarang kamu mau melihatnya dasar aneh. Ego Al bicara. Namun hati Al bemberontak. Aku hanya ingin melihat wajah itu. Dan kenapa emangnya nggak boleh? Diakan istriku.
Setelah lama di depan pintu kamar, Al pun hati-hati membuka pintu malahan lebih pelan dari yang tadi dan sekarang ia sudah melihat gadis itu, gading yang sedang mengikat perutnya dengan syal. Lama Al memandangi wajah itu dan sekarang rasanya ia ingib memeluk tubuh itu. Rasa rindunya menguap saat melihat wajah yang telah lama ia rindukan. Pelan-pelan Al menaiki kasur dan memeluk tubuh mungil Itu. Rasa rindu Al sekarang sudah terobati dan ada rasa Nyaman di hati Al memandang wajah cantik gadis ini.
__ADS_1
"Aku minta maaf, sebenarnya kamu tidak ada salah terhadapku namun egoku yang terlalu tinggi dan Aku takut kamu akan pergi lagi dariku. Al membenamkan wajahnya dan ada setetes kristal jatuh dari pelupuk matanya. Sampai menjelang subuh baru Al melepaskan pelukannya, tak lupa juga ia membuka simpul yang melilit perut gadis itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1