
"Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barokatuh..
Selamat malam semuanya,
Puji syukur kehadirat Allah, Tuhan yang Maha Esa bahwa pada kesempatan kali ini, kita bisa berkumpul bersama disini, di rumah Bu Sekdes Renata Suparno dalam keadaan sehat wal Afiat.
Kedua kalinya, sholawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW yang kita harapkan syafaatnya min hadla ila yaumil qiyamah...
Langsung saja nggeh, kita buat acara pertemuan ini menjadi semi formal saja.. Sebab jika terlalu formal malah gak enak ngomong nya.
Topik kita kali ini adalah rencana pengerjaan pembangunan TPT atau Tembok Penahan Tanah yang menghubungkan antara dusun Kangkung dan Dusun Wanaraja dan rehabilitasi jalan yang menghubungkan antara Dusun Wanaraja dan Dusun Kembang.
Nah Mas Adi selaku rekanan, akan menjelaskan tentang tata cara kerja dan pembagian tugas yang akan kita bahas pada hari ini.
Kalau ada pertanyaan, silahkan diajukan setelah mas Adi menerangkan kepada kita.
Untuk mas Adi, monggo silahkan di mulai", ujar Pak Kades Sudjiono membuka acara malam itu seraya tersenyum simpul.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa Barokatuh..
Mukadimah nya ikut pak Kades mawon nggeh. Sebelum saya memulai penjelasan, ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Adi Prasetyo, usia 34 tahun. Domisili di desa Mande kecamatan Selo.
Begini bapak dan ibu yang terhormat,
Pertama kita bahas rencana TPT dulu nggeh. Melihat nilai anggaran yang mencapai 200 juta, maka kemungkinan besar pekerjaan yang dikerjakan sepanjang kurang lebih 250 meter dengan tinggi pasangan 1 meter dengan ketebalan 30 cm.
Karena ini adalah pekerjaan desa, maka para warga desa yang mau ikut kerja, bisa dipersilakan untuk ikut serta dengan kuota sebesar 10 orang. Kalau untuk tenaga tukang, mohon maaf saya tidak bisa untuk memberi tempat karena ini berhubungan dengan hasil akhir pekerjaan.
Yang kedua, untuk pekerjaan rehabilitasi jalan. Dengan anggaran senilai hampir 200 juta maka bisa dipastikan pekerjaan akan sepanjang 1,3 km dengan lebar jalan 3 meter. Itu bisa berubah melihat situasi dan kondisi di lapangan yang mana tingkat kerusakan jalan akan berpengaruh terhadap panjang pekerjaan yang dikerjakan.
Para anggota TPK dimohon bantuan nya untuk mengkondisikan tempat pekerjaan, dokumentasi dan penerimaan material. Untuk teknis pelaksanaan, nanti bisa di cek saat pekerjaan di mulai.
Sekarang kalau ada yang mau ditanyakan, monggo silahkan di utarakan", ucap Adi sambil mengambil segelas air minum yang ada di hadapannya.
"Mohon infonya mas Adi, saya Sugito.
Untuk pekerjaan rehabilitasi jalan, apa tidak ada warga yang boleh bekerja?", tanya Kamituwo dusun Kangkung, Sugito sambil mengelus kumisnya yang tebal kayak pagar kabupaten itu.
"Ngapunten pak Wo,
Kalau aspal itu perlu tenaga kerja khusus. Karena kesalahan sekecil apapun saat pengerjaan nya akan berpengaruh terhadap hasil akhir pekerjaan.
Kalau hanya tenaga kerja untuk pembersihan lokasi pekerjaan, warga Wanaraja masih ada tempat", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Yo gak apa apa mas Adi, yang penting warga masih punya kesempatan bekerja.
Jadi tukang sapu yo gak masalah kog hehehe", Kamituwo Sugito terkekeh kecil.
"Kalau untuk urusan material bagaimana mas Adi?
Apa warga Wanaraja juga di perbolehkan ikut mengirim? Soalnya disini ada yang punya truk", tanya Pak Imam, sang ketua TPK desa Wanaraja.
"Asal sesuai dengan kebutuhan, bisa kog pak. Tapi ya itu, harus sesuai kebutuhan dan petunjuk yang diberikan. Terutama untuk pekerjaan rehabilitasi jalan, material sangat mempengaruhi hasil akhir pekerjaan", jawab Adi sambil tersenyum tipis. Pria tampan itu mengambil sebatang rokok Diplomat dan segera menyulut nya.
"Untuk tim TPK, nanti di kasih tugas apa Mas?", tanya Renata yang duduk tak jauh dari Adi.
"Dokumentasi Bu Sekdes juga penerimaan barang, soalnya saya tidak mungkin hanya diam di Wanaraja.
Saya masih punya tanggungan pekerjaan besar yang memakan waktu lama", Adi mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang tipis.
"Loh mas Adi ini punya pekerjaan besar apa toh, mohon maaf saya kepo sedikit", ujar Wati yang turut hadir di acara itu.
"Mohon maaf Bu,
Saya ada proyek pembangunan sabo dam di sungai Lesa. Itu bisa memakan waktu sekitar setengah tahun, karena nilainya mencapai hampir 8,5 M", jawab Adi sambil tersenyum simpul.
Bu Santi, Wati dan pak Suparno langsung tersedak bersamaan mendengar penuturan Adi. Sementara itu otak encer Renata langsung menghitung besaran persen yang akan diterima Adi begitu pekerjaan itu selesai.
Mereka berempat serempak menoleh ke arah Adi yang terlihat santai saja.
"Wah mas Adi pasti bisa beli mobil baru kalau pekerjaan itu selesai", ujar Pak Kades Sudjiono seraya menyeruput kopi yang disajikan untuk nya.
__ADS_1
"Aamiin..
Doanya nggeh Pak Lurah hehehe", Adi tersenyum simpul. Dia sama sekali tidak peduli dengan angka pekerjaan yang besar. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu secepatnya.
"Ini kita kerjakan kapan mas Adi? Minggu depan DD kita sudah bisa diambil loh", tanya Renata seraya tersenyum menatap wajah Adi.
"Nanti bahan bisa belanja lebih dulu, tapi pengerjaan proyek ini setelah pekerjaan saya yang di Wanaraja selesai dulu, Bu Sekdes", ujar Adi dengan sopan.
Setelah puas berbincang masalah proyek, malam itu mereka disuguhi dengan masakan yang sudah di siapkan oleh Renata.
Sate ayam bumbu rujak lengkap dengan nasi putih dan krupuk udang nya menjadi menu makan malam mereka.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 20.15 malam, Adi segera pamit untuk pulang ke rumah nya. Usai menyalami semua orang, Adi segera menaiki motor Vixion kesayangannya dan meninggalkan rumah Renata.
Sekdes Wanaraja itu terus menatap ke arah motor Vixion Adi yang melaju di jalan depan rumah nya sampai menghilang di tikungan jalan.
Bu Santi segera mendekati Renata. Kawan satu kantor Renata itu tersenyum tipis melihat Renata yang masih menatap ke arah perginya Adi.
"Duh ada yang galau nih ditinggal pulang sama mandor proyek ganteng", ujar Bu Santi sambil tersenyum simpul.
"Eh Bu Santi apaan sih?
Enggak lah, biasa saja kog", sergah Renata dengan wajah merah merona.
"Mulut bilang tidak tapi hati bilang iya. Memang berat Bu, kalau melihat mantan pacar menjadi lebih menarik daripada saat kita putuskan", ujar Bu Santi sambil terkekeh geli.
"Hahhhhh?!
Bu Santi tau darimana kalau Mas Adi mantan pacar ku?", Renata terkejut dengan omongan Bu Santi.
"Dari Pak Suparno. Tadi aku tanya, apa dia kenal Adi, eh malah ngomong kalau mandor ganteng itu mantan pacar mu Bu hehehehe", Bu Santi tersenyum penuh arti.
"Maaf ya Bu, tolong urusan ini dirahasiakan.
Saya gak enak sama pak Kades Sudjiono kalau tau masalah ini", pinta Renata penuh harap.
"Beres Bu Sekdes..
Renata hanya bisa tersenyum tipis saja mendengar permintaan Bu Santi.
Sementara itu Adi terus melajukan motornya menuju ke arah kecamatan Selo. Sesampainya di pasar kecamatan Selo, Adi celingukan mencari penjual martabak telor yang biasanya ada di dekat pintu masuk pasar.
Karena tidak menemukan yang di cari Adi kembali melajukan motornya menuju timur. Di selatan jalan, dekat dengan penjual nasi goreng, ada stand martabak telor yang buka.
Adi segera memutar motornya kesana.
"Pindah kesini ya pak?", tanya Adi pada si penjual martabak telor yang tengah menggoreng martabak diatas wajan datar nya usai memarkir motornya di samping stand.
"Iya mas, sama pengelola pasar di suruh pindah. Katanya tempat itu ada yang mau menempati", jawab si penjual martabak telor itu dengan pelan.
"Oh begitu rupanya..
Saya pesan yang jumbo pakai isian sapi dan ayam ya pak. Masing-masing satu porsi", pesan Adi sambil duduk di kursi plastik yang ada disana.
"Siap mas.. Sabar dulu ya", ujar si penjual martabak telor sambil meneruskan pekerjaan nya.
Sambil menunggu pesanan nya jadi, Adi iseng membuka FB nya yang jarang dia buka. Ratusan notifikasi, permintaan pertemanan serta inbox memenuhi beranda FB nya.
Adi memencet tanda messenger dan melihat puluhan pesan ada disana. Salah satu yang menarik perhatian nya ada pesan baru dari seseorang yang tidak dikenalnya.
Isi pesan itu cukup menggelitik karena hanya terdiri dari 4 kata.
Lupa ya dengan aku?
Adi mengerutkan keningnya seakan mencoba mengingat profil FB sang pengirim pesan. Hanya ada gambar bunga dan tanaman hias. Merasa tidak mengenalnya, Adi mengacuhkan si pengirim pesan. Adi memang jarang menggunakan sosial media nya, hanya WA karena itu adalah aplikasi perpesanan yang dipakai banyak orang.
Kembali Adi fokus pada penjual martabak telor yang mulai menggoreng pesanan Adi. Tampaknya sebentar lagi pesanan Adi selesai, karena terlihat kulit martabak telor yang mulai kecoklatan. Seorang wanita muda dengan menaiki motor matic berhenti di dekat stand martabak telor itu. Saat wanita muda itu membuka helmnya, terlihat wajah nya yang cantik dengan mata lebar.
"Mas,
Martabak telor jumbo pakai isian ayam dan sosis ya", pesan perempuan cantik itu pada si penjual martabak telor.
__ADS_1
"Siap mbak. Tunggu sebentar ya, saya masih membuatkan pesanan mas itu", ujar si penjual martabak telor sambil menunjuk Adi.
Pandangan mata perempuan itu langsung tertuju pada Adi yang tengah menikmati hisapan rokok Diplomat favoritnya.
Lama perempuan cantik itu menatap Adi, seperti nya dia mencoba mengingat sesuatu.
'Wajah orang ini tidak asing, tapi dimana ya aku melihatnya?', batin si perempuan cantik itu sambil mengusap hidungnya.
Sambil terus mengingat-ingat wajah Adi, perempuan cantik itu duduk di kursi plastik yang ada di sebelah Adi. Tak berapa lama kemudian, pesanan Adi sudah selesai di goreng. Si penjual martabak telor segera memotong-motong martabak, kemudian dia menatanya di dalam kotak kertas.
Adi segera berdiri dan merogoh tas kecilnya. Tangan nya mengulurkan duit 100 ribu pada si penjual martabak telor.
"Gak ada uang kecil mas?", tanya si penjual martabak telor sambil tersenyum tipis.
"Adanya cuma itu pak", jawab Adi segera.
"Mbak, bisa tukar uang nya?", ujar si penjual martabak telor sambil mengulurkan duit yang baru diberikan Adi.
"Sebentar ya pak saya lihat dulu..
Oh sepertinya ada pak, receh gak papa ya?", si perempuan cantik itu tersenyum tipis.
"Gak papa mbak, malah bisa buat kembalian", jawab si penjual martabak telor sambil mengangguk.
Si perempuan cantik itu segera menghitung duit dari dalam dompet yang baru dia ambil dari jok motor matic nya.
Pecahan 5 ribu, sepuluh ribu dan 20 ribu dia hitung cepat. Setelah itu, dia kemudian memberikan penukaran uang pada si penjual martabak telor.
Lelaki itu segera memberikan kembalian Adi. Adi segera menerima nya dan bergegas menuju ke motor Vixion nya.
Saat Adi baru naik motor, tiba-tiba terdengar suara si perempuan cantik itu.
"Mas,
Sampean mas Adi kan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lambat up gak papa ya kakak semuanya 🙏🙏
Author benar benar di kejar deadline pekerjaan 🤭🤭
Selamat membaca nggeh 😁😁
__ADS_1