
"Janji mas, pasti..
Sekarang Mas minggir dulu sana, aku mau mandi terus sholat subuh. Buruan, nanti habis waktunya" ujar Indri sembari memakai pakaian nya. Lalu perempuan cantik itu dengan hati-hati keluar dari kamar agar tidak membangunkan Rendra dan Yaka yang tengah tertidur pulas. Dia segera menuju ke arah belakang untuk mandi besar.
Adi sedikit cengengesan melihat gaya berjalan Indri yang lucu. Teringat pertarungan sengit antara mereka berdua, Adi menyambar sarungnya dan bergegas menyusul Indri ke belakang.
Pagi itu kesibukan rumah Adi terjadi rutin seperti biasanya. Cinta yang susah di bangunin, Dhea yang pengen cepat berangkat ke sekolah, Bu Siti yang ngomel-ngomel karena bakul ethek (penjual sayur keliling) gak nongol nongol dari tadi, Adi yang mencari kaos kaki kering dan dua bayi kembar yang menangis bergantian. Indri menatap ruwet nya kesibukan mereka pagi itu sambil tersenyum penuh arti.
"Ya Allah semoga keluarga kami selalu kau lindungi dalam setiap langkah kaki kami", doa Indri dalam hati.
Adi sibuk memakai jaket kulit nya sementara Dhea sudah menunggu di depan sambil sebentar sebentar melihat jam dinding. Cinta setengah berlari menyalami tangan Indri, takut ketinggalan Adi yang sudah mengeluarkan motor Vixion kesayangannya.
"Berangkat dulu buk", ujar Dhea dan Cinta yang sudah nangkring di jok belakang motor Adi saat mandor proyek itu menjalankan motor nya usai Indri mencium punggung tangan Adi.
Motor Adi melaju meninggalkan tempat itu. Indri memandang kepergian suami dan kedua anak perempuannya hingga menghilang di tikungan jalan.
Sesampainya di sekolah Dhea, Adi segera menurunkan Dhea. Gadis kecil itu segera mencium tangan Adi dan berlari masuk ke dalam sekolah nya. Adi menatap sejenak ke arah masuknya Dhea sebelum kembali menjalankan motor nya ke arah sekolah Cinta. Sebuah perasaan hangat menyeruak di dalam hati Adi untuk Dhea.
Motor Vixion itu terus melaju ke arah sekolah Cinta yang ada di dekat kantor desa Mande.
"Yah, biasa...", ujar Cinta sembari mengulurkan tangannya ke Adi sebelum masuk ke gerbang sekolah dasar negeri itu.
Adi merogoh duit 2 ribuan yang sudah dia siapkan sebelumnya karena tau Cinta pasti minta tambahan uang saku. Usai menerima duit 2 ribu, Cinta segera menyalami Adi dengan mencium punggung tangan ayah nya itu. Lalu gadis kecil itu berlari menuju ke kelasnya.
Adi tersenyum simpul melihat tingkah laku putri sulungnya itu lalu menjalankan motor nya menuju ke arah Desa Wanaraja.
Tak sampai 15 menit, Adi sudah sampai di lokasi pekerjaan nya di Desa Wanaraja. Di dekat tungku pembakar aspal, Adi memarkir motornya di bawah pohon rindang pada halaman rumah warga.
Disana sudah menunggu Renata Suparno, Sekdes Wanaraja beserta seorang lelaki bertubuh kurus memakai kacamata dengan baju dinas pegawai negeri.
"Selamat pagi Mas Adi, tumben pagi pagi kemari?", ujar Renata sambil tersenyum memamerkan gigi putih nya. Perempuan berkacamata itu menatap lekat lekat wajah Adi.
"Pagi Ren...
Aku kemari pagi kan karena omongan kamu kemarin", ucap Adi sembari melepaskan helm KYT putih half face nya.
"Emang ada apa sih?", Adi menatap wajah cantik Renata dengan penuh pertanyaan.
"Mas ini kenalkan, Pak Agus Sudarsono Sekdes Tugu.
Nah dia ini kebingungan mencari rekanan untuk menggarap proyek desa nya. Makanya tak kenalkan pada mas Adi", ujar Renata sambil tersenyum manis.
Adi dan pria berkacamata itu saling berjabat tangan sambil mengucap nama mereka masing-masing.
"Kamu ini Ren bikin aku kaget saja..
Tak pikir ada masalah dengan pekerjaan ku disini. Aku beberapa hari gak kemari karena pekerjaan sabo dam sungai Lesa mulai Ren..
Itu proyek besar makanya mesti hati-hati mengelola nya makanya aku kontrol persiapan nya agar kalau udah jalan aku bisa garap pekerjaan yang lain", ucap Adi sembari tersenyum tipis.
"Oh begitu ya Mas,
Kirain udah lupa punya pekerjaan disini", seloroh Renata dengan penuh semangat.
"Ya gak lah, orang semua pekerjaan itu sama baik nilai kecil atau besar. Bagi ku tetap tanggung jawab.
Oh ya Mas Agus, eh begini.. Terus terang saja saya lagi mempersiapkan pekerjaan di sungai Lesa, kemungkinan sepekan ke depan benar-benar repot. Jadi mohon maaf belum punya waktu untuk membahas tentang pekerjaan Mas Agus di desa Tugu. Kalau mas Agus keberatan menunggu waktu saya, saya juga tidak bisa memaksa. Kalau mas Agus bersedia menunggu, saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang di berikan", ujar Adi seraya mengalihkan pandangannya ke arah Agus Sudarsono, Sekdes Tugu.
"Woh iya mas, santai saja.. Lagi pula pekerjaan di desa saya kan tidak harus hari ini di kerjakan. Kita masih bisa membahasnya lain waktu", ujar Agus Sudarsono Sekdes Tugu sambil tersenyum tipis.
"Saya menghaturkan terima kasih atas kesempatan yang di berikan oleh Mas Agus sekaligus minta maaf karena tidak bisa membahasnya segera.
Mohon maaf jika saya permisi lebih dulu", ujar Adi sambil mengulurkan tangannya untuk berpamitan.
"Loh mau kemana Mas?", tanya Renata segera. Perempuan cantik berkacamata itu nampak tidak rela Adi buru-buru pergi.
"Anu Ren, ada urusan penting di pengadilan agama.
Mas Agus, Ren...
Saya permisi. Wassalamu'alaikum", ujar Adi sambil memakai helm KYT putih half face nya.
"Waalaikumsalaam", jawab Renata dan Agus Sudarsono bersamaan.
Pak Warno yang melihat bos nya mau pergi buru buru mendekat ke motor Adi
"Buru buru amat bos?
Mau kemana toh?", tanya Pak Warno dengan penasaran.
"Mau ke pengadilan agama Pak No, ada sesuatu yang perlu diselesaikan segera. Aku titip anak buah ku ya", jawab Adi sambil men-start motor Vixion kesayangannya.
"Assiaapp bos, hati hati di jalan", ujar pak Warno sambil melambaikan tangannya ke arah Adi yang mulai menjalankan motor nya menuju ke arah selatan.
__ADS_1
Renata yang penasaran langsung mendekati Pak Warno.
"Pak, bos mu itu ada masalah apa to?", tanya Renata segera.
"Ya gak tau saya Bu Carik..
Tapi orang ke pengadilan agama biasanya urusan perceraian bukan?", ujar Pak Warno sekenanya.
'Bercerai?
Mas Adi mau bercerai? Ah ini berita bagus. Ini kesempatan ku untuk mendekati nya', batin Renata dengan penuh kegirangan. Senyum perempuan cantik berkacamata dan berhijab itu segera mengembang di bibirnya.
Pak Warno melihat perubahan air muka Bu Renata langsung berdecak heran.
"Ada apa Bu Carik kog senyum senyum sendiri begitu? Ada yang lucu?", tanya Pak Warno sambil menatap wajah Renata yang memerah. Dia mirip seorang pencuri yang ketahuan mengambil barang orang lain. Dengan tersipu malu, Sekdes Wanaraja itu segera berbalik arah sambil berkata sengit.
"Mau tau aja urusan orang", jawab Renata sambil berlalu menuju ke Pak Agus Sudarsono Sekdes Tugu. Tak berapa lama kemudian, Renata dan Agus Sudarsono meninggalkan tempat itu.
Pak Warno hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Sekdes Wanaraja yang menurutnya aneh.
Adi terus menggeber motornya menuju ke arah Kota Patria. Sepanjang perjalanan, Adi menggerutu karena acara nya ke pengadilan agama Kota Patria menjadi mundur karena ulah Renata.
Kurang lebih 30 menit Adi memasuki wilayah Kota Patria. Selepas lampu merah pertama, Adi berbelok ke kanan menyusuri jalan depan rumah sakit umum daerah. Mandor proyek itu terus menggeber motornya menuju ke arah pengadilan agama Kota Patria.
Tepat di seberang pengadilan agama Kota Patria, Adi menghentikan laju kendaraannya. Dia lalu membawa masuk motor nya ke halaman kantor advokat yang bertuliskan nama Rudi Widodo S.H And Partners.
Di sudut halaman kantor itu Adi memarkir motornya tepat di bawah pohon rindang.
Usai melepas helm nya, pria beranak 4 ini langsung masuk ke ruang tamu kantor. Seorang resepsionis langsung mendekati nya.
"Ada yang bisa di bantu pak?", tanya resepsionis kantor advokasi hukum itu dengan ramah.
"Saya Adi Prasetyo mbak, ada janji dengan pak Rudi Widodo untuk ketemu disini", jawab Adi segera.
"Sebentar ya pak, saya cek ke ruangan Pak Rudi. Silahkan di tunggu sebentar", ujar si resepsionis kantor advokasi hukum itu dengan sopan. Adi segera duduk di sofa tamu sementara si mbak resepsionis kantor langsung masuk ke dalam. Tak berapa lama kemudian si mbak resepsionis kantor kembali.
"Pak Adi Prasetyo silahkan langsung ke ruangan Pak Rudi Widodo. Sudah di tunggu oleh beliau", mendengar ucapan itu Adi bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah ruangan Rudi, sang pengacara.
Tok tok tok..
Rudi Widodo segera menoleh ke arah pintu ruangan nya. Wajah pria berkacamata itu langsung sumringah melihat kedatangan Adi.
"Adi my men...
"Yah ada masalah dikit men.. Kau tahu sendiri lah gimana orang lapangan seperti apa", jawab Adi dengan senyum kecut nya.
"It's okay my men.. Duduk dulu gih, aku ke OB sebentar", Rudi keluar dari ruangan itu sebentar lalu kembali duduk di sofa pribadi nya.
"Kau ada masalah apa men? Jangan bilang kau mau cerai lagi", cerocos Rudi yang membuat Adi ingin meremas mulutnya.
"Kau ini senang banget doain teman yang jelek-jelek. Itu mulut di kontrol dong jangan asal bunyi.
Aku kemari karena ini", ujar Adi sambil menyerahkan selembar kertas kartu nama pada Rudi. Pengacara itu langsung mendengus dingin sembari menatap Adi.
"Kau ada masalah apa sama dia men?
Bangsat ini adalah orang yang paling aku benci dalam sejarah hidup ku", Rudi meremas kartu nama yang ada di tangan nya.
"Orang itu jadi pengacara keluarga mantan suami istri ku men.
Nah aku mau minta tolong sama kamu buat menyelesaikan masalah ini. Inti nya aku dan istri ku gak mau hak asuh anak istri ku jatuh ke tangan dia. Soalnya aku tahu sendiri itu bapaknya gak pernah kasih nafkah sama sekali ke istri ku selama menikah hingga akhirnya mereka bercerai. Sampai detik ini pun dia juga gak pernah sepeserpun kasih duit untuk anaknya.
Nah dari sini aku minta tolong ke kamu men. Soal biaya kau tinggal ngomong. Nanti aku transfer", Adi menata wajah Rudi dengan serius.
Rudi dan Adi memang kawan SMP. Mereka berpisah jalan saat Rudi masuk SMA sedangkan Adi ke SMK. Hubungan pertemanan mereka terjalin lagi saat Adi mengurusi perceraiannya dengan Niken tempo hari. Sejak saat itu mereka menjadi akrab dan sering kontak walaupun lewat jejaring sosial WA.
"Oke men,
Masalah ini akan ku bereskan. Kau tinggal tunggu kabar baik dari ku. Besok akan ku temui bajingan satu ini. Akan ku tanyakan mau mereka seperti apa. Nah kau tanda tangan dulu surat kuasanya ya. Biar aku punya power untuk menghadapi mereka.
Ok bos proyek?", ucap Rudi sambil melangkah menuju ke mejanya. Dia mengambil map berwarna hijau kemudian membawanya ke hadapan Adi untuk diisi sebagai surat kuasa atas kasus hak asuh anak itu.
Adi segera menuliskan nama nya berikut data dirinya di kertas surat kuasa itu. Tak berapa lama kemudian seorang OB masuk membawakan dua cangkir kopi hitam ke dalam ruangan itu.
Adi segera menandatangani surat pernyataan penyerahan kuasa hukum setelah Rudi menempelkan materai 6.000 an di atas kertas.
"Minum dulu men,
Gak usah tegang gitu", ujar Rudi sambil cengengesan melihat Adi yang nampak serius mengisi formulir penyerahan kuasa hukum.
"Brengsek.
Orang lagi pusing begini kau malah bercanda. Istri ku tuh sama mertua ku yang gak bisa diam. Mereka ketakutan Dhea diambil paksa oleh ayah kandung nya", Adi menghempaskan tubuhnya ke sofa usai selesai menandatangani surat penyerahan kuasa hukum pada Rudi.
__ADS_1
"Wes beres. Kau tenang saja men. Aku jamin kasus ini aku menangkan", ucap Rudi penuh keyakinan.
"Berapa persen keyakinan mu?", Adi menatap wajah Rudi dengan serius.
"200 persen. Ini juga biaya nya harga teman men, sekalian aku bisa balas dendam sama bajingan itu", jawab Rudi dengan nada suara berapi-api.
Adi mengayunkan tangan kanannya dan Rudi menyambut tos dari Adi.
Dua orang sahabat lama itu kemudian menikmati kopi hitam yang tersaji di meja.
"Sekarang kau garap proyek dimana men?", tanya Rudi di sela sela menyeruput kopi hitam nya.
"Yang gede apa yang kecil men?", Adi meletakkan cangkir kopi nya di atas lepek. Pria itu kemudian mengeluarkan sebungkus rokok diplomat dan mengambilnya sebatang. Segera dia menyulut rokok itu. Perlahan asap putih mengepul dari bibir sang mandor proyek.
"Ya yang besar dong. Kalau yang kecil kau pasti banyak dapat job", Rudi ikut-ikutan saja menyulut rokok Surya 12 nya.
"Aku garap sabo dam sungai Lesa men..
Nilainya kecil, cuma 6 M", mendengar ucapan Adi sontak Rudi terlontar dari tempat duduknya.
"Hei kampret, kalau bercanda kira-kira dong. Cuma 6 M? Kau pikir itu duit 6 M itu daun nangka?
Dasar kawan gak ada akhlak", omel Rudi sambil mengelap pakai tisu pada bajunya yang terkena abu rokok gara gara candaan Adi.
Adi terkekeh kecil mendengar omelan Rudi karena candaannya. Saat mereka masih asyik mengobrol tiba-tiba saja terdengar suara ponsel pintar Adi berdering nyaring.
"Ada telpon tuh, buruan angkat", ujar Rudi sambil melemparkan tisu kotor ke kotak sampah.
Adi segera membuka tas kecilnya dan mengambil ponsel pintar nya. Di layar hape android itu tertulis nama Renata Sekdes.
Adi segera mengangkat panggilan itu.
📞
Renata : Assalamualaikum Mas Adi.
Adi : Waalaikumsalaam Ren, ada perlu apa?
Renata : Enggak mas cuma mau tanya aja nih.
Adi : Iya mau tanya apa Ren?
Renata : Ehmm Mas Adi jadi bercerai?
HAAAAAHHH??!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Ini Bu Sekdes bagaimana sih??
Buat seluruh penggemar Adi dan Indri, author ucapkan terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini 😁
Meski tidak setiap hari author update episode terbaru nya, tapi author usahakan minimal 2 kali sekali lah update nya.
Ya syukur syukur kalau punya waktu lebih bisa update setiap hari.
Terimakasih atas dukungannya kakak semuanya 😁👍🙏✌️*
__ADS_1