Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Pelakor


__ADS_3

Pak Suparno terus mendekat ke arah Adi yang tidak melihat kedatangan nya. Motor matic yang menjadi tunggangan nya terparkir di halaman salah satu rumah warga. Pria paruh baya itu sepertinya memiliki keperluan dengan Adi. Tadi dia tidak sengaja melihat Adi saat hendak mengantar sarapan pada para buruh tani yang sedang bekerja membuat bedengan yang akan digunakan untuk menanam semangka di lahan bengkok hak Sekdes Wanaraja. Pria itu selama ini memang yang mengelola tanah bengkok atau tanah kas desa yang diberikan sebagai penunjang penghasilan perangkat desa yang merupakan hak Renata.


Kedatangan Pak Suparno rupanya di lihat Darsiyo yang segera menyenggol kaki kiri Adi. Mandor proyek itu menoleh ke arah Pak Suparno setelah melihat isyarat dari Darsiyo dengan kepalanya.


"Selamat pagi Nak Adi", salam Pak Suparno sambil tersenyum tipis.


"Selamat pagi Pak. Kebetulan lewat atau ada yang bisa di bantu?", tanya Adi yang segera berdiri dari tempat duduknya di atas tumpukan batu gebal.


"Woh ndak apa apa..


Cuma ingin ngobrol saja, wong aku baru dari ngantar sarapan ke sawah. Nak Adi sudah dari tadi datang nya?", Pak Suparno tersenyum ramah. Terlihat pria itu mencoba untuk akrab dengan Adi.


"Woalah enggeh pak..


Ya baru saja sih pak, soalnya kalau pagi hari pasti sibuk ngantar anak sekolah dulu, baru berangkat ke lokasi pekerjaan", Adi menjawab dengan sopan.


"Memang Nak Adi sudah punya anak berapa?", selidik Pak Suparno sambil tersenyum tipis.


"Wah anak saya banyak pak,


Maklum lah istri pengen rumah jadi ramai dengan kehadiran bocah kecil", jawab Adi sambil meletakkan rokok Diplomat favoritnya ke atas tumpukan batu seperti menyuguhkan rokok tersebut pada Pak Suparno.


Pak Suparno hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Adi. Pria berkepala botak itu segera mengambil sebatang rokok Diplomat dan menyulutnya.


Pandangan mata Pak Suparno terus menatap lekat pada Adi. Ada rasa tak percaya bahwa pria dekil urakan yang hanya bisa berteriak teriak di atas panggung musik itu kini berubah menjadi lelaki dewasa dengan wajah tampan dan penuh kewibawaan. Setelah mendengar ucapan Bu Santi di acara kemarin malam, pandangan Pak Suparno langsung berubah total. Dengan penghasilan Adi yang lumayan besar dari satu titik pekerjaan, bisa di bayangkan berapa banyak tabungan yang dimiliki oleh Adi selama setahun. Laki laki paruh baya itu bermaksud untuk menyatukan kembali cinta yang pernah ada antara Renata dan Adi. Padahal dulu dia yang memisahkan hubungan antara Renata dan Adi, tapi melihat pundi pundi tabungan Adi, pikiran lelaki paruh baya itu segera berubah.


"Katanya selain di sini, Nak Adi juga punya pekerjaan lain ya?", tanya Pak Suparno dengan nada penasaran.


"Ada pak,


Di depan SMP satu Gandu sama di timur desa Bolong. Sudah hampir selesai yang satu, tapi langsung pindah ke proyek pembangunan sabo dam di sungai Lesa", jawab Adi dengan sopan. Adi sama sekali tidak sadar kalau dirinya tengah di interogasi oleh ayah mantan pacar nya itu.


"Oh bagus sekali kalau begitu.


Ya sudah aku pamit dulu ya Nak. Kalau ada waktu mampir lah ke rumah. Masih hapal kan jalan kesana?", ujar Pak Suparno sambil tersenyum tipis.


"Insyaallah masih pak", jawab Adi sambil sedikit tersenyum.


Pak Suparno kemudian bergegas meninggalkan Adi dan kedua tukang kepruk batu nya. Pria paruh baya itu segera menghilang di tikungan jalan.


"Awakmu kog kenal bapak e Carik kui Le (Kamu kog kenal dengan ayahnya sekdes itu Le)?", tanya Darsiman yang duduk tak jauh dari Adi. Sepanjang obrolan antara Adi dan pak Suparno, Darsiman hanya diam saja sambil menikmati rokok dan kopi nya.


"Carik Wanaraja itu dulu pacar ku, Lik..


Saat aku masih STM dulu", jawab Adi seraya nyengir kuda pada Darsiman.


"Oalah pantesan saja akrab gitu.


Awakmu Ojo clintisan loh Le ( Kamu jangan macam-macam loh Le ), ingat anak mu sudah 4 dan istri mu itu cantik", saran Darsiman sambil menyeruput kopi nya. Darsiyo hanya manggut-manggut saja seolah tak peduli.


"Tenang saja Lik,


Aku tahu batasan kog", ujar Adi yang segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling lokasi pekerjaan nya itu.


Pria tampan itu segera membuka tas kecilnya dan mengambil ponsel pintar dari sana. Segera dia mencari kontak telepon pak Warno, kepala tukang aspalnya.


Thuuuuuuuuutttttthhhh...


Tuuuutttttthh...


📞


Adi : Halo Assalamualaikum.


Pak Warno : Waalaikumsalaam bos. Gimana bos? Ada pekerjaan untuk Kulo?


Adi : Siapkan orang sebanyak 14 orang. Mulai besok pak Warno mulai pekerjaan di Wanaraja, SD 1 ke barat. Kereta sorong, gerobak aspal, cikrak dan garuk pasirnya besok diambil di rumah.


Pak Warno : Moyo di ajak bos?


Adi : Harus pak No, pekerjaan nya makadam langsung di tutup aspal loh.


Pak Warno : Siap bos. Matur nuwun sudah mengajak saya kerja.


Adi : Enggeh pak. Besok siap ya.

__ADS_1


Pak Warno : Selalu siap bos.


Adi : Ok deh kalau begitu. Wassalamualaikum Pak No.


Pak Warno : Waalaikumsalaam bos.


📞


Usai menutup pembicaraan dengan pak Warno, Adi memasukkan kembali ponsel pintar nya ke dalam tas kecilnya.


"Lik,


Aku ke kecamatan Gandu dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, telpon saja", pamit Adi pada Darsiman sambil tersenyum tipis.


"Iyo Le,


Nanti tak telpon kalau ada yang penting", jawab Darsiman yang sudah mulai mengepruk batu gebal yang ada di hadapannya.


Usai berkata demikian, Adi segera bergegas menuju ke arah motor nya dan memakai helm KYT putih nya.


Motor sport itu melaju meninggalkan tempat itu.


Belum ada seperempat jam Adi pergi, Renata datang ke tempat itu. Perempuan cantik berkacamata itu tolah-toleh mencari keberadaan Adi. Tidak menemukan yang di cari, Renata mendekati Darsiman dan Darsiyo yang tengah berpeluh keringat sambil terus menghantamkan palu besar nya ke batu gebal.


"Maaf pak,


Tadi mas mandor proyek nya kesini ya?", tanya Renata dengan sopan pada Darsiyo.


Darsiyo menoleh ke arah kakaknya. Dia yang irit bicara malas untuk menjawab pertanyaan Renata.


"Iya Bu,


Tadi kesini sebentar habis itu pamit mau ke kecamatan Gandu katanya.


Ada apa loh Bu Carik? Kalau ada yang penting mbok di telpon saja", ucap Darsiman sambil mengusap peluh yang membasahi keningnya.


Mendengar jawaban Darsiman, Renata langsung lemas. Tadi dia buru buru kesitu karena omongan Pak Suparno yang mengatakan Adi sedang di lokasi proyek. Setelah ber-make up tipis, dia buru buru kesitu nyatanya Adi malah sudah lebih dulu pergi ke lokasi proyek lainnya.


"Enggeh pak, matur nuwun untuk informasi nya. Nanti saya telpon orang nya", jawab Renata sambil tersenyum tipis berusaha menyembunyikan perasaan kecewa nya karena gagal bertemu dengan Adi.


Renata segera berlalu menuju ke arah kantor desa Wanaraja dengan wajah cemberut.


Melihat kedatangan Adi, Antok segera mendekati bos nya itu.


"Ini lusa sudah kelar bos.


Jadi kan pindah ke proyek pembangunan sabo dam di sungai Lesa?", tanya Antok segera.


"Gambar lay out nya belum aku ambil Tok.


Habis ini aku ke kantor CV Barata", jawab Adi sambil tersenyum tipis.


"Lah si bos malah lelet.


Tuh lihat orang orang mu sudah kebingungan karena kerjaan ini mau selesai.


Apa gak kasihan pada mereka?", protes Antok sambil menunjuk ke arah para pekerja.


"Iya iya, cerewet banget deh.


Sebentar lagi aku ambil. Dasar tukang nyinyir", gerutu Adi sambil mengambil sebungkus rokok Diplomat dari dalam dan menyulutnya sebatang.


"Bagi bos rokoknya", pinta Antok sambil mengulurkan tangannya.


Adi tidak menjawab namun merogoh tas kecilnya dan mengambil duit 50 ribu. Segera dia memberikan duit itu pada Antok.


"Habis.


Tolong belikan sebungkus rokok Diplomat dan rokok untuk para pekerja ini Tok", perintah Adi yang membuat Antok segera melangkah menuju ke sebuah warung yang ada di ujung pemukiman warga.


Tak berapa lama kemudian dia kembali ke tempat Adi berteduh di bawah gubuk yang ada di ujung pekerjaan nya.


Usai berbincang beberapa waktu, Adi kemudian menstart motor nya. Dia menuju ke arah kantor CV Barata Konstruksi di kota Patria.


30 menit kemudian, Adi sampai di kantor CV Barata Konstruksi. Setelah memarkir motornya, Adi bergegas menuju ke dalam kantor yang sepi. Terlihat hanya Agung saja yang ada di depan komputer nya.

__ADS_1


"Tumben sepi.


Pada kemana Gung?", tanya Adi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Eh mas Adi,


Bos Alex dan Mbak Maya sejak tadi pagi ada rapat koordinasi di kantor CV Mutiara. Di temani Andis.


Ada apa mas?", Agung memandang wajah Adi.


"Gak ada apa apa.


Cuma mau tanya, lay out pekerjaan pembangunan sabo dam apa sudah ada?", tanya Adi pada Agung.


"Oh sudah mas, baru juga kemarin diantar sama Bu Tiara.


Sebentar tak ambilkan", jawab Agung yang segera melangkah menuju ke arah rak berkas pekerjaan yang ada di salah satu sudut ruangan itu.


Baru saja Agung hendak memberikan berkas lay out pekerjaan itu, tiba tiba saja terdengar suara mobil berhenti di depan kantor CV Barata Konstruksi. Ternyata itu adalah mobil Alex. Adi dan Agung segera menoleh ke arah pintu. Tak berapa lama kemudian muncullah Alex dan Maya serta Bu Tiara.


'****..


Ngapain perempuan itu kesini?', batin Adi dalam hati.


"Eh kebetulan sekali ada mas mandor..


Sudah lama mas?", tanya Bu Tiara dengan senyum genitnya.


"Baru saja Bu,


Mau liat lay out pekerjaan di sungai Lesa itu loh", jawab Adi dengan sopan. Bu Tiara langsung memepetkan tubuhnya ke arah Adi.


Melihat kegenitan Bu Tiara, Maya yang ada di dekat Alex langsung panas. Rupanya rasa cinta nya pada Adi tidak pernah pudar meski kini dia sudah merelakan Adi untuk istri barunya.


Dengan penuh amarah, Maya segera menunjuk ke arah wajah cantik Bu Tiara.


"Hai Bu Tiara!


Apa kau tidak tahu bahwa Mas Adi sudah punya istri? Apa kau ingin menjadi pelakor?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis kelanjutan cerita ini 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2