
Semua orang segera menoleh ke arah lift yang baru saja terbuka. Dari arah sana, terlihat seorang lelaki berjalan cepat diikuti oleh si sekretaris berdada besar. Ya, suara itu adalah milik Danang, Direktur PT Indocar Permata, pemilik showroom mobil yang mempunyai cabang puluhan tempat di seluruh Jawa Timur.
Seluruh orang langsung membungkuk hormat kepada Danang. Mereka tahu bagaimana pemimpin mereka bersikap jika ada masalah di tempat nya.
Danang yang melihat Adi masih di lantai showroom mobil, langsung bergegas mendekati nya.
"Bro, kau kenapa?", tanya Danang segera. Melihat bibir Adi yang pecah, Danang langsung tahu bahwa sahabat karibnya ini baru saja di pukul orang.
"Gak apa apa kog. Ada orang pengecut yang yang main pukul dari belakang", ujar Adi sambil tersenyum kecut. Mendengar penuturan itu, Danang langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya.
"Siapa yang berani berbuat ini ha? Jawab cepat!", teriak Danang dengan murkanya. Sambil membantu Adi berdiri, dia mendelik tajam ke arah semua orang.
"Cepat jawab pertanyaan bos. Apa kalian pengen di pecat dari tempat ini?", teriak Mia sang sekretaris sambil menatap tajam ke arah para sekuriti dan SPG serta resepsionis yang ada di situ.
"Itu Bu, orang itu yang mukul bapak ini. Sedari tadi ia mengganggu bapak ini yang hendak bertanya kepada saya", ujar si resepsionis sambil menunjuk ke arah Sam yang tengah di pegangi oleh dua sekuriti berbadan besar.
"Benar kata Niki pak, orang itu yang membuat masalah disini. Dia mengganggu bapak ini dan istrinya ini saat mereka baru masuk kemari", imbuh SPG cantik bernama Dewi sambil menunjuk ke arah Sam.
"Dasar kurang ajar!
Kau berani membuat masalah disini juga berani memukul orang!", bentak Danang yang langsung melayangkan pukulan keras kearah dagu Sam.
Bhuuukkkhhh...
Ouuuuggghhhh!!!
Sam langsung melengguh kesakitan saat pukulan Danang telak menghajar dagu kiri nya.
"Kenapa kau memukul ku bos? Si miskin itu yang sok gaya ingin beli mobil. Apa kau tidak bisa membedakan mana orang kaya dan mana orang miskin?", protes Sam sambil meringis kesakitan.
"Siapa yang sok kaya ha? Aku kesini memang ingin beli mobil, bukan hanya sekedar melihat seperti kau", sahut Adi sambil menekan bibirnya yang berdarah dengan sapu tangan yang baru saja di berikan oleh Indri.
Phuihhhh..
"Paling beli juga dengan kredit. Aku yakin kau tak mampu beli cash", Sam meludah ke lantai showroom dengan kasar. Kedua orang sekuriti berbadan besar itu terus memegangi nya.
"Kredit atau cash itu bukan urusan mu, semua orang di terima di tempat ini. Kau bukan siapa siapa jangan macam-macam di tempat ku", Danang menunjuk wajah Sam.
"Hehehehe...
Bagaimana kalau kita bertaruh? Apa kau berani? Jika dia beli mobil Toyota Rush itu kredit, biaya perbaikan mobil mu tak perlu kau bayar. Tapi jika dia beli mobil cash, aku akan menghajar mu.
Bagaimana? Berani?", tantang Danang sambil menyeringai lebar. Dia sering melihat Sam berada di bengkel nya. Pasti orang itu sedang memperbaiki mobil bobroknya lagi.
"Huhhh siapa takut bos?
Sudah pasti aku yang menang", jawab Sam seraya tersenyum lebar. Terbayang perbaikan mobil nya yang menyentuh angka 5 juta rupiah akan gratis hari ini. Danang tersenyum penuh arti.
"Bro, hari ini kau akan beli mobil kan? Kata mu kemarin nyari second Toyota Rush kan?
Nah itu mobil yang kau mau. Kalau sampai ada kerusakan pada mobil itu, aku kasih garansi 1 tahun penuh untuk semua suku cadang nya", Danang menunjuk mobil Toyota Rush yang ada di sebelah kanannya. Mobil berwarna putih itu memang yang menjadi keinginan Adi. Mendengar penuturan Danang, Adi tersenyum penuh arti. Dia hapal betul sifat Danang. Pasti Danang masih kesal dengan Sam hingga ingin menghajarnya lagi.
"Ok bro, aku ambil itu..
Berapa harga nya?", Adi menatap wajah Danang yang terlihat bersemangat.
"Umumnya itu di jual 160 jutaan. Kalau buat kamu 150 aku lepas. Plus aku kasih potong diskon 5 persen sebagai tanda pertemanan kita", ujar Danang dengan gaya salesman nya.
"Ok bro, aku bayar ya..
Ini ada kartu debit card BRI ku. Password nya angka 6 sebanyak 6 kali. Kau bisa cek sekarang", ujar Adi sambil menyerahkan sebuah kartu debit bank pada Danang.
"Alah paling saldo nya tidak ada, hanya sekedar action saja", celetuk Sam sambil mencibir kearah Adi.
"Ada atau tidak, biar kasir yang mengeceknya. Kau jangan banyak bacot", hardik Danang dengan cepat. Sam langsung terdiam seketika.
Danang segera mengulurkan kartu debit bank pada Mia. Sekretaris berdada besar itu buru-buru bergegas menuju ke alat transaksi di meja kasir. Dengan cepat Mia memasukkan kartu lalu kode bank sesuai dengan petunjuk Adi.
Mata Mia langsung melebar ketika melihat jumlah saldo di rekening bank Adi. Di layar monitor, terlihat angka 2. 728 dan 6 angka nol do belakangnya.
'Wah kawan pak bos cukup kaya juga. Padahal dandanan nya biasa saja. Beruntung sekali istri nya', batin Mia.
__ADS_1
Perempuan itu dengan cepat menekan angka 142.500.000 untuk transfer ke rekening perusahaan. Dan...
Thinggg!!
"Bos, transaksi berhasil. Bapak itu membeli mobil nya dengan cash", teriak Mia dari meja kasir.
Semua orang terkejut dengan omongan Mia. Tapi yang paling terkejut jelas Sam dan Nik. Belum sempat mereka lepas dari rasa keterkejutan mereka, Danang yang menyeringai lebar langsung melayangkan pukulan keras dan tendangan ke arah tubuh Sam.
Plakkkk...
Bhhhuuukkkkkhhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Sam hanya bisa menjerit saat pukulan Danang bertubi-tubi menghajar tubuhnya.Melihat itu Nikmah istri Sam langsung menjerit ngeri. Segera dia bersimpuh di depan Danang.
"Pak saya mohon ampuni suami saya. Dia yang salah. Saya mohon ampun pak", ujar Nikmah dengan kata kata penuh penyesalan. Dia melirik kearah Sam yang wajahnya sudah berhiaskan benjolan dan lebam di beberapa tempat.
Danang yang tak mempedulikan kata-kata Nikmah bersiap untuk melanjutkan kemarahan nya pada Sam. Namun Adi dengan cepat mencegah nya.
"Sudah bro, cukup.
Kau sudah memberinya pelajaran yang berharga", ucap Adi yang membuat Danang menghentikan langkahnya.
"Kau sedang bernasib baik. Kalau bukan karena kawan ku meminta ku untuk berhenti, pasti kau ku hajar sampai mampus.
Sekarang cepat minta maaf pada kawan ku. Kalau tidak jangan harap bisa keluar dari tempat ini dengan baik saja", ancam Danang dengan mendelik tajam ke arah Sam. Mantan suami Indri itu mendengus keras. Dia tidak mau minta maaf. Tapi sikutan tangan Nikmah di tambah pelototan mata dari perempuan itu langsung membuat Sam membuka mulutnya.
"Ma-maafkan aku bos, aku salah", ujar Sam dengan berat hati. Adi hanya mengangguk saja mendengar suara Sam yang terdengar terpaksa. Setelah mendengar suara Sam, Danang menoleh ke arah dua sekuriti berbadan besar itu segera.
"Kalian berdua, lepaskan dia!
Kalau lain kali berani berbuat onar di tempat kita, jangan kasih ampun", perintah Danang segera.
"Baik bos!", ucap kedua sekuriti itu dengan cepat. Mereka segera melepaskan tangan Sam. Dengan tergesa-gesa, Sam langsung di papah oleh Nik untuk berdiri. Meski masih menahan sakit pada memar di wajah dan sakit di perut, Sam dan Nik langsung meninggalkan showroom mobil itu sesegera mungkin.
'Awas kau Di.. Lain kali jangan harap kau bisa lolos dari ku', batin Sam sembari melirik ke arah Adi. Mereka berdua segera menuju ke arah bengkel dan segera kabur dari tempat itu.
Adi ini adalah kawan karib ku. Jika sewaktu-waktu dia kemari layani dia dengan baik meski aku tidak ada disini. Apa kalian mengerti", perintah Danang yang segera membuat para karyawan nya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu ayo kita selesaikan surat menyurat nya di atas bro.
Mia,
Mana kartu debit kawan ku ini?", Danang menoleh ke arah sekretaris berdada besar itu segera. Mia buru buru mendekat ke arah Danang dan mengulurkan kartu debit bank Adi.
Danang menerima nya dan segera memberikan nya pada Adi.
Di temani oleh Mia dan Indri, Adi bersama Danang melangkah menuju lift ke arah lantai 3 yang merupakan lantai khusus para karyawan dan bos perusahaan.
Hanya butuh waktu 1 jam, semua surat menyurat telah beres. Indri segera menerima berkas berkas itu lalu memasukkan nya dalam tas ransel yang di pinjam Adi pada seorang sekuriti karena dia tidak membawa tas. Untuk urusan mobil, akan di kendarai langsung oleh Adi sedang motor Vixion nya akan di antar karyawan Danang ke rumah Indri di Desa Marga.
"Terimakasih banyak atas pembelian mu, Di.. Jangan kapok ya?", ujar Danang sambil menjabat tangan Adi dengan erat sebagai tanda jadi transaksi jual beli mereka.
"Aku yang harusnya berterimakasih pada mu Nang.. Kau sudah memberikan banyak diskon khusus pada ku..
Kalau bisa yang sering sering saja hehehehe", jawab Adi sambil terkekeh geli mendengar ucapan Danang yang sok mirip dengan pejabat.
"Oh kalau itu selalu Di, kau ini adalah penyelamat nyawa ku.. Andaikan kau minta cabang showroom mobil ini pun aku tidak keberatan kog", ucap Danang yang langsung membuat Mia dan Indri melotot lebar mendengar nya.
"Hahahaha dasar mulut ember..
Kau ini masih saja ingat peristiwa itu. Sudahlah jangan jadikan itu alasan untuk pertemanan kita. Kau ini teman ku, aku pun yakin kau akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi ku", ujar Adi sambil tersenyum simpul.
"Ini sudah cukup lama aku disini, maaf tidak bisa lama-lama disini, aku masih punya bayi mungil yang menyusu pada ibunya ini.
Tolong ya Nang, antar motor kesayangan ku ke rumah. Masih hapal kan alamat rumah ku?", imbuh Adi sambil berdiri dari sofa tamu.
"Tenang bro, aku masih hapal kog...
Maaf aku gak bisa ngantar kamu sampai depan bro, masih ada tamu aku", Danang segera mengulurkan tangannya dan Adi langsung menjabat tangan kawan nya itu dengan erat. Adi tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Dengan diantar Mia, Adi dan Indri meninggalkan lantai 3. Mobil bekas Toyota Rush itu sudah siap jalan di halaman showroom saat Adi dan Indri sampai disana.
Indri tersenyum lebar ketika pertama kali dia masuk ke dalam mobil itu. Untung saja dulu Adi pernah menjadi sopir Pak Dedy Barata saat awal bangkit dari kejatuhan nya. Jadi dia sama sekali tidak canggung mengemudikan mobil itu. Perlahan mobil berjalan pelan-pelan keluar dari halaman showroom. Begitu memasuki jalan protokol, Adi dengan tenang melajukan mobilnya diantara riuhnya kendaraan yang berlalu lalang di jalan kota Patria.
Mobil yang di kemudikan Adi meluncur mulus kearah timur, kemudian berbelok ke selatan. Setelah melewati jembatan yang melintang di atas Sungai Brantas, mobil Adi dan Indri terus berbelok ke kiri menuju desa Marga.
"Mas,
Kalau ada swalayan xxxx kita berhenti sebentar ya. Popoknya anak-anak habis. Kita beli dulu", ujar Indri sembari tersenyum simpul.
"Siap laksanakan tugas, ibu negara", gurau Adi yang membuat Indri tersenyum penuh cinta. Sebelum memasuki pasar Kecamatan Daya, Adi membelokkan mobilnya ke arah swalayan xxxx di Utara jalan. Usai Adi memarkir mobilnya, Indri bergegas turun dari mobil. Tak berapa lama kemudian Adi menyusul istri nya.
Sepasang mata melotot lebar melihat Adi dan Indri turun dari mobil. Buru buru dia menghadang mereka berdua.
"Itu mobil mu Ndri?", todong si perempuan itu yang tak lain adalah Nanik sahabat Indri. Kebetulan perempuan yang berotak mesum itu baru saja dari rumah mertuanya usai mengantar beras suruhan suaminya. Dia mampir ke swalayan xxxx untuk membeli busa pembersih wajah. Nanik segera menarik tangan Indri, sedangkan Adi meneruskan langkahnya masuk ke dalam swalayan xxxx.
"Bukan, ini mobil suamiku lah. Kamu kog bisa ada di sini?", tanya Indri sambil tersenyum simpul.
"Ya itu sama aja, dodol..
Tadi di suruh Kang Narno ngantar beras untuk mertua. Eh kog cuma berdua, anak anak pada kemana? Wahhh jangan jangan kalian lagi bulan madu kedua ya?", Nanik tersenyum nakal.
"Otak mu itu yang ngeres. Anak anak ya di rumah ibuk ku to, kami berdua baru ambil mobil ini di showroom mobil kota kog", Indri menoyor kepala Nanik.
"Haahhhhh??
Berarti masih baru dong... Syukuran nya dong Ndri hehehehe", ujar Nanik sambil menengadahkan tangan nya.
"Haesshhhh jangan banyak omong.. Udah aku mau beli popok bayi dulu..
Nanti keburu bos besar nya keluar dari situ", Indri segera ngeloyor pergi ke dalam swalayan xxxx. Perempuan cantik itu segera mengambil dua bungkus popok bayi berukuran XL karena Yaka dan Rendra gendut, tak muat dengan ukuran L lagi.
Usai membeli barang kebutuhan mereka, Adi dan Indri segera meninggalkan tempat itu. Tak lupa duit 50 ribu di berikan pada Nanik sebagai tanda syukuran mereka.
'Sungguh beruntung si Indri punya suami seperti Adi', gumam Nanik sambil memperhatikan mobil putih itu melaju di jalanan kecamatan Daya.
Mobil Toyota Rush itu segera melaju ke arah timur menuju ke arah Desa Marga. Untung saja, kondisi mobil itu masih seperti baru. Tidak ada lecet dan mesinnya normal. Hingga tak memerlukan perawatan khusus setelah Adi membelinya.
Sesampainya di jalan beton kearah rumah Bu Sarmi, Adi membelokkan mobilnya ke kiri. Kedatangan mobil berwarna putih metalik itu menarik perhatian para tetangga sebelah rumah Bu Sarmi. Sangat jarang jalan mereka di masuki oleh mobil. Kalaupun ada pasti hanya pas ada mantu atau acara besar.
Begitu Adi membelokkan mobilnya ke halaman rumah Bu Sarmi, mereka yang sedang berkerumun di depan rumah Bu Yati langsung berdiri karena ingin tahu siapa yang datang dengan mobil putih itu. Sudarti, Yu Nem, Bik Sum dan Bu Yati langsung melongok ke arah halaman. Saat Indri dan Adi yang keluar dari mobil, kuartet ghibah itu langsung bergegas menuju ke rumah Bu Sarmi.
"Mobil baru Mas?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Musim pancaroba, jaga kesehatan semuanya..
Have a nice day 😁😁😁
__ADS_1