
"Oh kalau begitu tunggu sebentar ya pak, saya ganti baju dulu..", Adi segera melangkah ke arah kamar tidur nya. Begitu sampai di dalam kamar tidur, Indri ternyata juga sudah ada disana.
"Siapa mas bertamu pagi pagi begini?", Indri yang sedang memakai mukena bersiap untuk sholat subuh tersenyum tipis melihat suaminya itu berganti baju dengan celana training, jaket jumper dan kaos.
"Ah itu petani, katanya ada yang rebutan air di sawah..
Ya sudah deh Yank aku berangkat dulu.. Sholat subuh nya nitip kamu dulu ya hehehehe..
Assalamualaikum ", ujar Adi sambil tersenyum manis sembari keluar dari kamar tidur.
"Waalaikumsalaam Mas, hati hati", Indri tersenyum penuh arti dan melanjutkan aktivitasnya untuk sholat subuh yang sebentar lagi habis waktu.
Sementara itu Adi segera mengeluarkan motor Vixion kesayangannya. Setelah menutup pintu rumah, Adi segera men-start motor nya mengikuti Pak Kadir dan Pak Sumpeno ke arah dam air yang ada di tengah area persawahan dekat tikungan jalan desa.
Hanya butuh waktu lima menit dan mereka sampai di sebuah bangunan dekat dam kecil pembagi air dekat sawah bengkok atau tanah kas desa yang menjadi lahan sawah bagi perangkat Desa Mande.
Ada dua kelompok petani yang berkerumun di bangunan gubuk permanen yang biasa di sebut tangsen di lingkungan sekitar Adi. Satu duduk di sebelah selatan berjumlah 5 orang. Sedangkan satu lagi kelompok berjumlah 4 orang duduk berkumpul di sisi timur. Mereka sedang beradu mulut saat Adi, Pak Sumpeno dan Pak Kadir datang kesitu. Mereka langsung berhenti saat Adi tiba.
"Assalamualaikum bapak bapak.
Maaf ada masalah apa nggeh? Perkenalkan saya Adi, caretaker Kaur Perencanaan sekaligus Bendung Desa Mande yang baru", ujar Adi memperkenalkan diri.
"Ini mas Adi, si Kuswono ini kan giliran air nya sudah habis jam 12 tadi malam tapi masih mengalirkan air sampai saat ini...
Sedangkan saat ini adalah giliran wilayah sawah kami. Tapi Si Kuswono ini tetap ngeyel supaya airnya terus mengalir ke sawah nya. Ini kan melanggar aturan to mas", kata seorang lelaki sepuh yang berusia sekitar 50 tahunan yang merupakan juru bicara dari kelompok petani yang 5 orang.
"Lha bagaimana gak minta tetap di alirkan wong sawah saya jatah air Minggu kemarin tidak cukup kog.. Sebagian padi saya yang dua petak sampai kuning..
Saya cuma minta tenggang rasa nya. Kita sama sama petani, sama sama punya tanggungan anak istri. Kalau tanaman padi saya rusak karena tidak ada air, anak istri saya mau di kasih makan apa?", Si petani yang bernama Kuswono ini rupanya sedang emosi.
"Lha tapi ini aturan No..
Kita semua disini juga patuh pada peraturan yang ada. Bukan kamu saja yang butuh air disini ya, kita semua juga butuh.
Jangan seenaknya saja kamu", sahut seorang petani dari kelompok selatan yang bernama Dul Khamid.
"Terus mau kamu apa Dul? Dari tadi kamu nantang terus, apa kamu kira aku gak berani sama kamu ha?", Kuswono hendak bergerak maju ke arah Dul Khamid, teman temannya langsung mencekal tubuh Kuswono yang sedang emosi ini.
Perkelahian antar petani nyaris terjadi di pagi buta itu.
"Bapak bapak tolong sabar ya..
Jangan menyelesaikan masalah dengan emosi, oke? Saya kemari untuk menyelesaikan permasalahan yang ada jadi tolong jangan emosi dulu yang di dahulukan..
Jadi dari percakapan tadi saya sudah bisa menilai bahwa Pak Kuswono ini mengambil jatah air sawah yang bukan waktunya nggeh, sedangkan pemilik waktu yang sebenarnya adalah kelompok pak Khamid.
Oke sekarang saya tanya dulu, apa penyebab air sampai di wilayah kita sekecil ini? Maaf saya orang baru, jadi kurang tahu mengenai permasalahan di persawahan desa kita", Adi mendinginkan suasana dengan mengalihkan perhatian para petani yang ada disitu.
"Itu Pak saluran irigasi dari dam besar sana kan banyak yang ambrol. Lewat Gapoktan kami sudah berusaha mengusulkan kepada pihak desa untuk memperbaiki yang jalurnya ke arah desa kita.
Nah pak Lurah Bejo kemarin dulu sudah memberi tahu kami, kalau pembangunan nya itu berdasarkan aturan pemerintah, jadi desa tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu bantuan dari anggota DPRD ataupun dari propinsi. Sama pak Bendung Sueb, dulu untuk menyikapi ini kita di tata bergiliran karena debit air nya memang kecil seperti ini", papar pak Sumpeno mengeluarkan unek-unek yang selama ini di pendam oleh sebagian besar petani di Desa Mande.
"Iya Pak, kami jadi nya repot harus berbagi air yang sedikit ini untuk sawah sawah kami.
Peristiwa semacam ini bukan kali pertama terjadi di musim kemarau seperti ini Pak", Pak Kadir menimpali omongan Pak Sumpeno.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu saya paham dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Beri saya waktu barang seminggu ini untuk mencari solusi terbaik bagi bapak bapak semua nya. Untuk saat ini tolong jangan sampai ada keributan lagi mengenai masalah air ya pak.
Untuk permasalahan ini, sementara kita pakai aturan Pak Bendung Sueb dulu. Nanti siang saya ke kantor desa untuk minta perhitungan luas lahan pertanian disini. Kedepannya kita tidak menghitung hari tapi kita pakai hitungan luas lahan pertanian sebagai tata cara pembagian air sawah.
Nah masuk mboten saran dari saya?", Adi menatap wajah wajah para pejuang pertanian di depannya itu sambil tersenyum tipis.
"Wah kalau begitu ya cocok Mas.
Jadi rasa keadilan nya ada buat kami yang memiliki lahan sedikit lebih luas. Matur nuwun Mas ", ujar Kuswono sambil mengacungkan jempol nya.
"Betul itu Pak, cocok aku sama pengaturan sampean", sahut petani lain di sebelah pak Kadir. Para petani lainnya pun setuju dengan tata cara Adi.
Usai berhasil meredam pertikaian para petani, Adi pamit pulang karena matahari mulai bersinar di langit timur. Motor Vixion nya melaju meninggalkan tangsen menuju ke kediaman nya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Indri sudah menyambut kedatangan nya sambil menggendong Yaka yang ikut terbangun pagi hari itu.
"Ma ma mamm maa", celotehan Yaka terdengar saat Adi mendekati nya.
"Ayah nak ayahh", ujar Adi sambil mencium pipi gembul Yaka. Bocah itu merespon omongan Adi dengan meringis memamerkan gigi susu nya.
"Malah pamer gigi lagi..
Bilang ayah gitu Ka, coba ayah", Adi masih gak menyerah dengan Yaka.
"Mas mas, kau ini ada ada saja.. Ini bocah belum genap 10 bulan udah kau ajari panggil ayah. Ya gak bisa to mas...
Eh bagaimana tadi mas? Memang benar petani nya mau baku hantam ya?", Indri begitu penasaran.
Adi menghela nafas panjang sebelum mulai menceritakan semua kejadian di tangsen tadi pagi. Indri manggut-manggut mendengar cerita sang suami.
"Ya yang sabar ya Mas... Udah resiko waktu mas jadi pamong desa..
Nah sekarang mas ganti baju, terus berangkat kerja. Tak bikinin kopi buat mas", Indri tersenyum penuh arti kemudian dia melangkah menuju ke dapur untuk membuatkan kopi bagi sang suami sementara Adi bergegas ke kamar tidur untuk berganti baju perangnya eh baju kerja nya sebagai Mandor proyek.
Usai persiapan beres, Adi berangkat kerja setelah mengantar Dhea dan Cinta ke sekolah masing-masing.
Berita mengenai pengangkatan Adi sebagai caretaker Kaur Perencanaan sekaligus Bendung Desa Mande dengan cepat beredar luas di kalangan masyarakat desa Mande, terutama di kampung Jambu tempat tinggal Adi.
Gak tua gak muda, gak laki gak perempuan semua nya membahas tentang pengangkatan itu.
"Hen kau dengar tidak berita penting tentang Adi?", tanya Bu Mamik pada Heni yang masih berkutat dengan jilbab nya yang belum pas.
"Berita apa Buk? Soal mobil baru nya? Kalau itu Heni sudah tahu dari kemarin", Heni tetap meneruskan kesibukan nya sebelum berangkat mengajar. Usai membenarkan letak jilbab nya, perempuan cantik itu kembali memoles bibir nya dengan lipstik.
"Hah kalau itu sudah kuno..
Semalam berdasarkan rapat koordinasi para perangkat desa, BPD dan LPMD, Adi diangkat menjadi caretaker Kaur Perencanaan sekaligus Bendung Desa Mande", Bu Mamik menatap ke arah Heni.
"Appaaaaa.......????!!!"
Heni kaget bukan main mendengar penuturan Bu Mamik. Saking kagetnya, dia langsung menoleh ke arah Bu Mamik hingga lipstik merah muda nya mencoreng pipi kanannya.
"Itu ibuk ibuk di warung Yu Lik.. Mereka katanya dengar dari istri Pak Ansori yang ketua BPD itu. Nah istri Mas Imam juga membenarkan omongan itu...
Ibuk awalnya masih ragu ya, tapi setelah Jeng Suti istrinya pak Sumpeno bilang kalau suaminya semalam ribut dengan orang Buntaran, dan Adi datang sebagai penengah perselisihan antara mereka, ibuk baru percaya karena itu adalah tugas pokok dari seorang Bendung Desa", ujar Bu Mamik panjang kali lebar.
"Ah coba aku cek di grup WA desa buk, barangkali ada sesuatu yang penting", Heni langsung mencari hape android nya. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ketemu juga. Heni memang anggota kader desa, cuma dia jarang bisa ikut karena kesibukannya sebagai pengajar. Notifikasi grup WA pun dia masukkan dalam mode bisu untuk mengurangi suara yang mungkin mengganggu nya.
Ratusan pemberitahuan di grup WA desa langsung di scroll Heni hingga sampai berita terbaru tadi malam hingga hari ini. Puluhan ucapan selamat pada Adi mengalir dari seluruh kader desa. Mata Heni melebar ketika membaca ucapan selamat itu.
"Iya buk, ini benar.. Mas Adi beneran diangkat menjadi caretaker Kaur Perencanaan Desa..", Heni syok melihat itu semua.
"Ibuk bilang juga apa, kau sih tak percaya dengan omongan ibuk..
Eh kau juga harus mengucapkan selamat padanya Hen. Secara pribadi", Bu Mamik tersenyum penuh arti.
"M-maksudnya gimana buk?", Heni masih belum mengerti jalan pikiran Bu Mamik.
"Sudah sekarang kau gak usah mikir biar ibuk yang beraksi. Benerin dandanan mu dan berangkat mengajar sana. Nanti pulang ngajar, langsung pulang jangan mampir kesana kemari.
Ingat pesan ibuk", perintah Bu Mamik pada Heni. Tak ingin membantah lagi, Heni segera membenarkan riasan wajah nya. Usai berdandan, perempuan cantik itu berangkat ke sekolah menengah umum di kecamatan Talang itu dengan sejuta pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
Setelah Heni berangkat, Bu Mamik menatap ke arah Heni yang perlahan menghilang di keramaian jalan.
"Kau terlalu lambat Hen, biar ibu membantu mu. Adi harus kau dapatkan dengan cara apapun", batin Bu Mamik dalam hati.
Perempuan itu segera berganti baju. Dia langsung berdandan sebentar sebelum melangkah keluar dari pintu rumah nya. Usai mengunci pintu rumah, perempuan paruh baya itu segera menjalankan motor matic kendaraan nya. Tujuan nya ke rumah seorang di kecamatan Parang di Kabupaten Malang. Dia akan menemui seorang kawan lama.
Hampir 45 menit Bu Mamik menjalankan motor nya. Setelah melewati perbatasan wilayah antara kabupaten Patria dan Kabupaten Malang, Bu Mamik terus melajukan motornya ke arah timur. Di dekat lapangan desa Kali Rame, Bu Mamik membelokkan motor nya ke arah sebuah rumah bergaya kuno dengan halaman luas.
Bu Mamik segera memarkir motornya sambil memperhatikan sekitar tempat itu. Seorang lelaki paruh baya berbadan gempal dengan beberapa akik besar keluar dari dalam rumah. Meski kulit nya sedikit hitam, namun ada pesona aneh yang dimiliki oleh lelaki itu.
"Weh ternyata benar firasat ku tadi pagi..
Ayo masuk Mik", ujar lelaki itu sambil tersenyum penuh arti. Tanpa banyak basa-basi, Bu Mamik langsung mengikuti langkah sang lelaki bertubuh gempal itu ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tumben kau kemari? Kau sudah tidak takut dengan suami mu itu he? Hehehehe", tawa lelaki itu pecah sambil bicara.
"Tutup mulut mu, Mursodo..
Aku kemari bukan untuk mendengarkan ocehan mu. Aku minta kau bantu anak ku untuk mendapatkan lelaki yang di cintainya. Aku sangat kasihan dengan anak ku", ujar Bu Mamik dengan penuh harap pada lelaki bertubuh gempal yang bernama Mursodo itu.
Hemmmmmmm
"Maksud mu Heni Mik? Siapa lelaki itu? Apa pekerjaan nya? Kalau bukan orang yang punya pangkat, aku tak Sudi menjodohkan dia dengan anak ku", Mursodo tampak serius.
"Mulut mu bisa tidak di rem? Kalau kedengaran istri mu, bisa kacau semua nya", Bu Mamik mendelik tajam ke arah Mursodo tapi lelaki itu justru terkekeh geli melihat reaksi Bu Mamik.
"Kau tenang saja, Suprih ada di rumah kakaknya di Barisan. Kau tidak perlu khawatir.
Sekarang mana tunjukkan lelaki yang di sukai Heni?", ujar Mursodo dengan cepat. Bu Mamik lalu mengambil sebuah foto Ado lalu mengulurkan foto itu pada Mursodo.
"Hemmmm ganteng juga, anak ku pintar memilih pasangan nya.
Urusan ini beres Mik, nanti aku kasih syarat nya. Sekarang kita bahas upah untuk membantu Heni ini", Mursodo tersenyum penuh arti. Tangan kekar nya langsung menyentuh pipi Bu Mamik.
"Kau jangan gila ya Do..
Kalau istri mu datang bagaimana?", Bu Mamik menatap ke sekeliling rumah.
"Sudah ku bilang, istri ku tidak ada di rumah Mik", ujar Mursodo sambil meneruskan aksinya.
****
Heni segera merapikan buku buku pelajaran di meja nya. Guru kelas 1 Sekolah Menengah Umum Kecamatan Talang itu langsung bergegas keluar menuju ke arah parkiran dimana motor matic nya terparkir rapi di sana.
Satpam yang berjaga pun bengong saat melihat Heni yang terburu-buru pulang tanpa membalas salam dari nya.
Dengan berjuta pertanyaan, Heni segera memacu motornya ke arah rumah nya. Sejak tadi pagi pikiran nya kacau karena omongan Bu Mamik.
Setengah jam kemudian, Heni telah sampai di rumah. Jam menunjuk angka 2.15. Heni segera memarkir motornya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Di kursi ruang tamu, Bu Mamik sudah menunggunya. Belum sempat Heni buka mulut, Bu Mamik sudah lebih dulu bicara.
"Sekarang kau ajak Adi ketemu. Ajak makan di Lesehan Kampung. Cepat jangan pakai tanya", perintah Bu Mamik segera. Heni pun seperti kerbau di cocok hidung nya langsung menurut dan segera mengirimkan pesan singkat di aplikasi WA Adi.
"Apa maksud semua ini Buk?", Heni sedikit kebingungan dengan omongan Bu Mamik. Perempuan paruh baya itu tersenyum tipis lalu membisikkan sesuatu di telinga Heni. Pengajar SMU negeri Talang itu terkejut bukan main mendengar ucapan Bu Mamik.
"Hahhh? Bagaimana bisa begitu Buk?", Heni tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Bu Mamik mendengus dingin sembari berkata pelan.
"Karena cuma dengan cara itu kau bisa mendapatkan Adi.
Kali ini kau tidak boleh gagal".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya bagi yang menjalankan. Semoga amal ibadah puasa kakak semua di terima Allah SWT. Aamiin 🙏🙏😁😁👍👍