
Bu Mamik menatap wajah cantik Indri sekilas lalu menyalami istri Adi itu setelah Indri mengulurkan tangannya. Dia melengos pergi dan mencari tempat duduk di karpet yang di gelar disana.
Heni berusaha untuk sesopan mungkin di tempat itu. Meski setiap kali bertemu Indri, Heni selalu teringat saat perempuan itu menghajar nya di kafe dulu. Meskipun secara fisik bekas luka nya tidak ada, namun secara mental bekas luka itu masih ada di dalam benar Heni.
Meski dalam pertemuan ini mereka saling menahan diri, tapi aura peperangan masih berkobar di antara mereka.
"Monggo silahkan duduk", ujar Indri dengan kaku. Perempuan cantik itu benar-benar tidak suka dengan Heni.
"Terimakasih", hanya itu yang terlontar dari mulut Heni dengan ketus dan segera memilih duduk dekat Bu Mamik.
Para anggota arisan satu persatu mulai berdatangan ke rumah Adi. Suasana rumah semakin ramai. Jajan pasar yang di pesan Bu Siti pun segera terhidang di atas piring.
Sambil menunggu kedatangan Hajjah Romlah yang merupakan pimpinan kelompok arisan itu, terdengar para ibu yang asyik mengobrol.
"Wah rumah Bu Siti sekarang tambah luas ya? Jadi enak kalau buat acara", ujar seorang wanita paruh baya yang bernama Bu Nah sambil menatap ke sekeliling ruangan.
"Iya lah Bu, wong mas Adi kan sekarang sukses jadi pemborong. Saya dengar dari para bapak di kantor desa katanya borongan nya dimana-mana loh", sahut seorang wanita cantik layaknya sosialita kampung. Dia adalah Jeng Reni yang aktif di kegiatan kader desa Mande.
"Walah Yo pantesan saja. Pemborong pasti duit e banyak to Jeng..
Kalau kita-kita yang suaminya cuma petani jelas gak mampu kalau mau ikut ikutan bikin rumah model begini Bu..
Coba saja Kang Parno juga bisa ubet (usaha) macam mas Adi begini", imbuh seorang wanita muda yang bernama Rifa. Parno adalah suaminya yang berprofesi sebagai petani buah dan sayur. Perempuan itu bicara sambil asyik menikmati pukis pandan wangi.
"Eleh kamu jangan mimpi Fa.. Mas Joko saja yang coba-coba jadi pemborong perumahan malah njepluk (hancur) kog.. Dasarnya Mas Adi saja kuat derajat, bakat jadi orang sukses..
Beruntung banget si istri nya itu punya suami seperti Mas Adi", sergah Jeng Reni sembari memberi kode kepada para teman ghibah nya ke arah Indri yang tengah menyalami para tamu yang datang. Joko adalah suami Jeng Reni.
"Eh iya jelas lah Jeng..
Dia enak banget, tinggal di rumah momong anak kembar nya. Beruntung banget punya suami seperti Mas Adi ya.
Kog dia bisa kenal mas Adi dimana sih?", ujar Rifa yang memang rumahnya ada di ujung kampung hingga tidak pernah tahu berita apa-apa.
"Aku dengar dulu dia itu kerja di warung kopi gitu loh Fa.. Ya kita bisa mengira sendiri kalau perempuan kerja di warung kopi itu gimana", potong seorang wanita muda yang bernama Dita yang duduk tak jauh dari mereka. Lagaknya yang sok tahu dan menyebalkan membuat dia sering dapat masalah. Mulutnya nyinyir sembari menggasak risoles isi telur ayam dan mie.
"Hati hati kalau ngomong Dit, jangan asal. Kedengaran sama istri nya mas Adi bisa di remet (remas) mulut mu itu", sahut Bu Nah yang memang kurang suka dengan Dita.
"Dita benar Bu Nah, perempuan itu memang kerja di warung kopi. Dapat nya Adi juga tidak wajar kog, wong Adi dulu itu dekat dengan Heni", tukas Bu Mamik ikut menimpali omongan mereka.
Para perempuan itu langsung menatap ke arah Heni yang duduk di sebelah Bu Mamik.
"Benar begitu Hen?", tanya Jeng Reni yang langsung penasaran dengan omongan Bu Mamik. Mula nya Heni diam saja, tapi setelah di sikut Bu Mamik langsung mengangguk.
"Tuh benar kan??
Aku sudah menduga kalau perempuan itu bukan perempuan bener. Perempuan kalau mau kerja di warung kopi pasti bukan perempuan baik-baik", timpal Dita yang mulutnya nyerocos seperti ember bocor.
"Jangan asal bicara Dit mentang mentang suami mu pernah kecantol sama perempuan yang kerja di warung kopi.
Tidak semua orang yang kerja di warung kopi itu jelek. Mereka kerja cari nafkah", sergah Bu Nah sambil tersenyum tipis.
"Lha ini buktinya dia merebut Mas Adi dari Heni. Fakta berbicara Bu Nah.. Tidak satu saja tapi sudah dua yang mengalami nasib sial karena godaan perempuan yang kerja di warung kopi", Dita masih ngotot mempertahankan pendapat nya.
"Kau kan hanya dengar dari satu sisi. Kalau mau menghakimi orang ya mesti kau harus dengar dari dua sisi. Biar adil dan tidak jadi fitnah.
Sebab belum tentu kesaksian dari seseorang itu adalah kebenaran sejati", Bu Nah bijak menasehati mereka.
"Jadi Bu Nah menuduh ku dan Heni bohong?", potong Bu Mamik yang langsung panas mendengar ucapan Bu Nah.
"Saya tidak menuduh Jeng Mamik atau Heni bohong tapi setidaknya kalau mencari pembenaran harus menghadirkan dua pihak, bukan satu pihak saja", jawab Bu Nah sambil tersenyum tipis.
"Sudah sudah acara debat nya..
Tuh Bu Hajah Romlah sudah datang. Ayo mulai arisannya", ujar Jeng Reni menengahi perdebatan mereka. Semua orang segera tertuju pada pintu rumah saat Bu Hajjah Romlah masuk.
Bu Siti segera menyalami wanita sepuh itu. Begitu juga Indri yang merupakan tuan rumah acara itu.
Acara itu berlangsung khusyuk karena dalam setiap acara selalu ada tahlil yang di lanjut dengan ceramah agama oleh Kyai Harun selaku tokoh masyarakat di kampung Mande.
Dalam ceramahnya kali ini Kyai Harun membahas mengenai pentingnya kerukunan dalam rumah tangga dan rasa saling percaya antara suami istri agar kehidupan sehari-hari rumah tangga mereka sakinah, mawadah dan warohmah.
"Ibu ibu saya tanya,
Pengen rumah tangga nya aman dan sentosa mboten?", tanya Kyai Harun di sela sela ceramah nya.
"Pengen Mbah Yai", jawab ibu-ibu kompak bersamaan.
__ADS_1
"Nah kuncinya hanya saling percaya terhadap pasangan. Kalau ibu ibu memperhatikan segala kebutuhan suami, mulai dari kebutuhan dapur hingga kasur, insyaallah yang namanya orang ketiga alias pelakor tidak akan bisa menembus keharmonisan rumah tangga kalian.
Ambil contoh sederhana ya keluarga Mas Adi. Rumah tangga nya ayem tenteram tidak ada masalah sama sekali.
Saya yakin Mbak Indri selalu memenuhi semua kebutuhan mas Adi baik kebutuhan makan maupun kebutuhan di ranjang, nggeh mbak?",
ucap Kyai Harun yang segera di sambut gelak tawa para anggota arisan. Sementara si Indri yang tengah menggendong Yaka langsung merah wajah nya.
"Bukan hanya asal memenuhi Mbah Yai, tapi juga sampai gak bisa noleh ke perempuan lain kog", celetuk Bu Siti segera.
"Geerrrrr......", seluruh anggota Kelompok yasinan langsung tertawa terpingkal-pingkal. Indri wajahnya memerah seperti kepiting rebus mendengar gojlokan itu. Hanya dua orang yang melengos kesal mendengar kata kata Kyai Harun dan Bu Siti. Mereka adalah Bu Mamik dan Heni.
Acara ceramah agama Kyai Harun berlangsung penuh canda tawa para anggota arisan.
Selepas acara ceramah di lanjut dengan doa kemudian mulai di lakukan pengocokan arisan oleh Jeng Reni dan Bu Lilik.
Semua orang harap harap cemas menunggu nama mereka muncul sebagai penerima arisan sore hari itu.
Jeng Reni yang membuka lembaran nama dengan lantang bicara.
"Yang mbetok (menerima) arisan sore hari ini atas nama : Indri Hapsari dan Sulastri", ujar Jeng Reni yang di sambut raut muka lemas para ibu yang berharap mereka jadi penerima arisan.
Indri yang sedang menyusui Yaka tersenyum simpul. Begitu juga Bu Sulastri yang langsung tersenyum lebar.
Mereka berdua masing-masing mendapat duit 2 juta 500 ribu. Memang di lingkungan Adi arisan di bethok 2 orang sekaligus untuk mencegah kelamaan waktu.
Usai pengocokan arisan, di lanjutkan acara ramah tamah alias makan makan.
Bu Siti di bantu Nita dan Yu Sih juga beberapa ibu muda langsung mengeluarkan soto ayam khas masakan Bu Siti yang terkenal di seantero kampung Mande.
"Wah, soto ayam masakan Jeng Siti memang top deh", puji Bu Mamik seraya menyeruput kuah soto ayam di piringnya.
"Ah biasa saja Jeng Mamik. Perasaan masakan ku ya begitu begitu saja dari dulu", jawab Bu Siti sembari tersenyum simpul mendengar pujian dari Bu Mamik.
"Eh beneran loh Jeng.. Enak, gak kalah sama soto di kecamatan Kani yang terkenal itu.
Ah jadi teringat kuah soto ayam yang gosong tempo hari aku Jeng", ujar Bu Mamik sambil tersenyum tipis.
"Hehehehe iya Jeng, pas gosong trus Heni kemari itu ya? Maaf loh sampai membuat Heni mencuci piring segala waktu itu", balas Bu Siti sambil terkekeh kecil.
"Ah ya gak apa apa to Jeng..
"Helehh Jeng Mamik bisa saja. Masalah Adi saya gak pernah ikut campur apalagi urusan hati nya.
Yang lalu ya biarlah berlalu. Sekarang kita kan sudah anggap selesai. Sekarang kita seduluran (bersaudara) saja Jeng", jawab Bu Siti segera. Dia tidak enak hati jika Indri tersinggung dengan omongan Bu Mamik.
Mendengar ucapan Bu Siti, Bu Mamik langsung terdiam seketika. Heni yang duduk di sebelahnya pun tidak berkata-kata sama sekali. Dia hanya diam saja sambil menikmati soto ayam masakan Bu Siti.
Bu Hajjah Romlah berdiri dari tempat duduknya. Perempuan paruh baya itu dengan lembut berbicara.
"Ibu ibu semua nya,
Kiranya acara arisan pada kesempatan sore ini kita tutup nggeh. Untuk arisan berikutnya di rumah Bu Wariyah nggeh.
Sebelum kita akhiri, ijinkan saya minta maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan di hati ibu ibu semuanya.
Wallahu muwafiq illa Ahwa mitthoriq. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..
Shollu 'ala nabi Muhammad...", langsung para anggota arisan mengucapkan sholawat nabi sebagai penutup acara arisan di rumah Adi itu.
Satu persatu para ibu-ibu anggota arisan mulai meninggalkan rumah Adi. Bu Siti, Indri dan Nita menyalami mereka di depan pintu rumah.
Usai para tamu meninggalkan rumah, Indri berjalan masuk ke dalam rumah. Bu Siti buru-buru mengejar mantu nya itu.
"Ndri ibuk pengen bicara sama kamu", ujar Bu Siti yang membuat Indri segera berhenti dan menoleh ke arah Bu Siti.
"Ada apa Buk? Kayak penting banget", ujar Indri sembari menatap wajah teduh Bu Siti.
"Ibuk minta maaf. Ibuk minta kamu tidak tersinggung dengan omongan Bu Mamik tadi ya", ucap Bu Siti dengan pelan.
"Omongan yang mana buk? Indri gak paham", Indri sedikit kebingungan.
"Itu yang soal calon mantu tadi. Ibuk takut kamu tersinggung dengan omongan Bu Mamik tadi seolah olah kamu merebut Adi dari Heni", jawab Bu Siti sembari menunggu jawaban Indri.
"Oalah itu Buk hehehehe...
Ibuk tenang saja deh. Indri gak apa apa kog", ujar Indri sembari terkekeh kecil melihat raut muka Bu Siti yang terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Kamu memang gak marah dengan omongan Bu Mamik?", Bu Siti seolah tak percaya dengan omongan Indri.
"Ya gak lah buk, buat apa juga aku mikirin omongan orang syirik gitu?
Ibuk tenang saja, Mas Adi juga sudah pernah cerita kalau Heni pernah mengutarakan perasaannya pada Mas Adi tapi mas Adi cuma menganggap bahwa Heni hanya adik.
Dan asal ibuk tahu saja, Heni mesti berfikir 2 kali jika ingin merebut Mas Adi dari Indri", ujar Indri yang senyum senyum sendiri.
"Kog kamu bisa yakin begitu?", tanya Bu Siti dengan penuh keheranan.
"Lha pasti lah Buk, wong Heni pernah Indri hajar dulu di kafe karena menggangu mas Adi", jawab Indri dengan entengnya.
"HAAAAAHHH..!!!
Yang bener kamu? Kapan Ndri?", Bu Siti melotot lebar saat mendengar kata kata Indri.
"Ya saat Indri hamil itu buk, soalnya Indri kesal dengan ulah Heni yang terus mengganggu mas Adi.
Sudah di peringatkan berulang kali masih saja ngeyel. Terpaksa aku beri pelajaran dia.
Nah semenjak itu dia tidak berani mengganggu kehidupan kami lagi. Urusan hati nya Indri gak tau, tapi setidaknya ada peringatan agar tidak menggangu hubungan orang lain sekalipun itu mantan pacar", Indri tersenyum penuh arti.
"Aduhh ibuk benar-benar tidak bisa ngomong lagi deh..
Di balik penampilan mu yang lembut gini ternyata bisa juga garang saat Adi ganggu perempuan lain. Hebat kamu", puji Bu Siti seraya tersenyum lebar.
"Ya harus Buk, wong Indri istri sahnya Mas Adi di mata hukum dan agama.
Berani mengganggu rumah tangga kami ya siap siap aja buat menerima akibatnya", ujar Indri sambil tersenyum simpul. Perempuan cantik itu segera berlalu hingga mengakhiri obrolan antara mertua dan menantu.
Bu Siti hanya bisa tersenyum simpul sembari geleng geleng kepala mendengar cerita Indri. Dia pun ikut ke dapur untuk membantu Nita dan Yu Sih membersihkan peralatan masak yang mereka pakai tadi.
Sementara itu Adi yang baru selesai menata persiapan selamatan untuk pekerjaan sabo dam sungai Lesa, bersiap untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 16.47
Usai merapikan jaket kulit nya dan mengenakan helm KYT half face nya, Adi segera menaiki motor Vixion kesayangannya.
"Pak Carik,
Saya pulang dulu nggeh. Wassalamu'alaikum", ujar Adi sambil men-start motor tunggangan nya.
Motor Adi meraung keras membelah jalanan menuju ke arah Kecamatan Sela tempat tinggalnya.
Pak Carik Ariyono menatap kepergian Adi sampai menghilang di tikungan jalan. Dia pun segera bersiap untuk pergi saat sebuah suara lembut seorang perempuan membuat sekretaris desa Karangan itu menoleh.
"Pak Carik,
Mas Adi nya sudah pulang ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo siapa dia??
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁🙏😁
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁