
"Selamat pagi Bu Bos,
Tumben on time begini", ujar Adi sambil mengulurkan tangannya ke Bu Tiara sebagai tanda persahabatan yang lazim untuk semua orang.
"Ya harus dong, saya kan patuh dengan situ", ucap Bu Tiara sembari tersenyum manja.
Perempuan cantik berbaju eksekutif perusahaan itu melepas kaca mata hitam nya lalu menyambut uluran tangan Adi sambil merunduk hendak mencium punggung tangan mandor proyek itu.
Terang saja Adi langsung menarik tangan nya sebelum Bu Tiara mencium punggung tangan nya
"Bu Bos apa apaan sih??
Kalau ada yang lihat bisa jadi salah paham", gerutu Adi yang kesal dengan ulah Bu Tiara.
Bukan nya marah karena omelan Adi, perempuan cantik itu justru tersenyum simpul.
"Kan wajar jika istri cium tangan suaminya Mas Adi", ujar Bu Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah mandor proyek ganteng itu.
"Yang suaminya situ siapa Bu Bos?
Enak aja. Aku sudah punya istri", Adi mendengus kesal mendengar ucapan Bu Tiara.
Belum sempat Bu Tiara melanjutkan aksinya, Pak Carik Ariyono dan beberapa perangkat desa Karangan datang menghampiri. Adi menarik nafas lega karena terbebas dari godaan direktur CV Mutiara itu.
"Wah mas Adi sudah datang to?
Monggo mas sudah di tunggu beberapa tamu undangan di dekat lokasi proyek", ujar Pak Carik Ariyono sembari tersenyum tipis.
"Loh sudah pada kumpul to pak? Sebentar nggeh..
Bu Bos,
Pak Alex dan anggota konsorsium yang lain sudah sampean hubungi?", Adi menatap ke arah Bu Tiara yang ada di dekat nya.
"Pak Alex berhalangan hadir, tapi katanya besok kesini. Kalau yang lain gak ada jawaban. Semuanya kan di serahkan ke mas Adi", Bu Tiara kembali memamerkan senyum maut nya.
"Lah kog gitu?
Yang punya proyek kan para direktur konsorsium, kog semua jadi pasrah ke saya?", Adi sedikit heran dengan jawaban Bu Tiara.
Memang, Bu Tiara menekan semua anggota konsorsium agar memasrahkan semua pada Adi jika mereka ingin tetap bergabung di konsorsium. Mau tidak mau mereka harus tunduk pada keinginan Bu Tiara karena 55 persen saham di pegang oleh CV Mutiara, dan semua kontrak kerja sama dengan dinas PU provinsi yang mendapat juga Bu Tiara. Mereka hanya bisa ikut saja apa keputusan dari perempuan cantik itu asal mendapat hak sesuai dengan saham yang mereka miliki.
"Sudahlah mas...
Pokoknya gitu aturannya. Atur pekerjaan ini sebaik-baiknya mas, kualitas bangunan nomor satu dan jangan lupa mas cari untung besar agar bisa beli mobil. Aku gak mau mas Adi selamanya naik motor itu", ujar Bu Tiara sambil menunjuk ke arah motor Vixion kesayangannya.
"Benar tuh mas Adi, kata ibu ini. Ganti motor Vixion nya dengan mobil biar tambah keren hehehe", timpal Pak Carik Ariyono mengompori.
Hemmmmmmm...
"Monggo pak Carik, kita ke lokasi selamatan. Pak Singo sudah hadir atau belum?", Adi mengalihkan pembicaraan antara mereka.
"Belum mas,
Masih di jemput sama Wanto. Oh iya mas ibu cantik ini siapa?", Pak Carik Ariyono melirik ke arah Bu Tiara yang kelihatannya akrab banget dengan Adi.
"Oh sampai lupa saya Pak..
Perkenalkan ini Bu Mutiara Sekar, direktur CV Mutiara yang merupakan pemegang saham mayoritas di konsorsium pembangunan sabo dam ini pak. Bisa di katakan bahwa ini adalah bos besar saya pak", ujar Adi sambil tersenyum tipis. Pak Carik Ariyono mengulurkan tangannya ke Bu Tiara.
"Sekaligus juga calon nya pak", imbuh Bu Tiara sambil menyambut uluran tangan dari pak Carik Ariyono.
Adi melotot lebar ke arah Bu Tiara lalu menoleh ke Pak Carik Ariyono. Sementara Pak Carik Ariyono melongo mendengar jawaban Bu Tiara yang mengagetkan nya. Belum sempat Pak Carik Ariyono memastikan, Adi sudah lebih dulu bicara.
"Bos besar memang suka bercanda pak Carik hehehehe..
Ayo kita ke tempat selamatan", ajak Adi sembari berjalan lebih dulu meninggalkan mereka yang segera mengekor di belakangnya.
Di tepi Kali Lesa, beberapa orang tengah duduk di atas tikar yang di gelar disana. Beberapa penduduk sekitar juga Antok dan Didik turut hadir di tempat itu.
Mereka tinggal menunggu kedatangan Mbah Singo sesepuh Desa Karangan yang juga merupakan paranormal sekaligus juru kunci Kali Lesa. Beberapa tumpeng atau buceng sudah tertata rapi di atas tikar. Aneka lauk juga tersaji di beberapa baskom plastik yang disiapkan oleh Susi.
Tak berapa lama kemudian sebuah motor datang. Adi menoleh ke arah motor itu dan Susi bergegas turun bersama Suminem membawa baskom besar yang berisi ingkung ayam jago dan ayam pedaging yang sudah di potong-potong.
"Maaf mas, ingkung jago nya lama.. Nunggu empuknya lama banget", ujar Susi pada Adi setelah meletakkan baskom di tepi tikar.
"Oalah yang masak sampean to mbak..
Ya gak apa apa kog, lagian Mbah Singo belum datang kemari. Ini sudah semua nya ya Mbak?", Adi balik bertanya kepada Susi.
"Tinggal Aqua gelas sama teh gelas nya mas. Tuh diambil sama Yu Suminem", jawab Susi sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Bu Tiara yang masih berdiri di dekat Adi mendengus keras. Percakapan akrab Adi dan Susi membuat direktur CV Mutiara itu panas hati. Dia segera mendelik tajam ke arah Susi seakan mengobarkan api peperangan.
"Saya permisi dulu Mas, nanti totalan nya belakangan saja", ujar Susi yang tidak nyaman dengan tatapan penuh permusuhan dari Bu Tiara. Janda kembang itu segera beringsut menjauh untuk kembali ke warung makan nya.
"Siapa itu Mas? Kog akrab banget kelihatannya", todong Bu Tiara dengan pertanyaan menyelidiki siapa wanita cantik itu. Usia nya lebih muda dari Bu Tiara membuat perempuan itu langsung geram Adi dekat-dekat dengannya. Kalau di dandani juga, Bu Tiara kalah dengan Susi. Tapi direktur CV Mutiara itu menang dalam urusan perawatan kecantikan karena duitnya banyak.
"Tuh mbak yang punya warung di pojokan pasar Bu Bos, Adi biasanya makan disana.
Kemarin saya pasrahkan urusan selamatan pada pak Carik. Gak tau juga kalau dia yang jadi katering nya. Tapi masakannya enak sih hehehehe", Adi cengengesan menjawab pertanyaan Bu Tiara membuat perempuan cantik itu sewot setengah mati.
Tak berapa lama kemudian, Wanto salah satu staf kantor desa Karangan datang membonceng seorang lelaki sepuh berjenggot panjang. Dandanan nya pakai pakaian tradisional Jawa dengan baju lurik dan ikat kepala hitam. Matanya teduh tapi juga berwibawa.
Usai turun dari motor matic Wanto, Mbah Singo segera mendekati Adi dan menyalaminya.
"Sugeng enjing Mas Adi (selamat pagi Mas Adi),
Ngapunten nggeh, radi telat rawuh e (Mohon maaf ya, agak telat datang nya)", ujar Mbah Singo sambil tersenyum simpul.
"Mboten nopo nopo Mbah,
Monggo silahkan di mulai. Sudah di tunggu para tamu undangan dari tadi", jawab Adi sambil tersenyum.
Mbah Singo segera mengangguk mengerti lalu berjalan menuju ke tepi Kali Lesa. Lelaki sepuh berjenggot panjang itu lantas membuka tas yang sudah di taruh Wanto disana. Kemudian menata anglo tanah liat berisi arang kayu jati dan menyulutnya. Api kecil pun membara membakar arah menciptakan asap putih. Mbah Singo segera meletakkan kemenyan diatas bara arang kayu hingga bau kemenyan menyeruak di sekitar tempat itu. Mulut lelaki sepuh berjenggot panjang itu komat kamit membaca sesuatu. Entah apa yang di bacakan oleh nya.
Adi duduk di tikar yang di gelar diikuti oleh Bu Tiara yang terus mengekor di belakangnya. Bu Tiara yang tidak tahan bau kemenyan segera memakai masker nya.
Beberapa saat kemudian Mbah Singo meninggalkan anglo tanah liat yang masih mengepul. Lelaki sepuh itu duduk bersila di atas tikar dekat pak Carik Ariyono.
Melihat anggukan kepala dari Mbah Singo, Pak Carik Ariyono segera berbicara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..
Shaloom..
Aum swasty astu..
Namo Buddhaya..
Salam kebajikan..
Rahayu..
Saya hanya ingin menegaskan bahwa acara selamatan ini bukan kita melakukan syirik kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun lebih pada keinginan kita untuk melestarikan adat istiadat Desa Karangan sebagaimana yang telah di lakukan oleh para leluhur.
Matur nuwun kepada Mas Adi selaku pelaksana pembangunan yang masih bersedia untuk menghormati kearifan lokal masyarakat Desa Karangan. Ini sangat menggembirakan bagi kami bahwasanya kami merasa masih di manusia kan dengan tetap menggandeng pemerintah Desa Karangan untuk kegiatan pekerjaan di sini.
Monggo Mbah Singo di langsungkan saja acaranya, waktu dan tempat di silahkan", ujar Pak Carik Ariyono menutup sambutan dari pemerintah Desa Karangan.
Mbah Singo berdehem sebentar.
Ehheeeemmmmmm...
"Langsung saja nggeh..
Nuwun sewu sedoyo mawon, sampun nglempak anggonipun ngaturi poro pisepah rawuh dateng mriki, minongko ngrawuhi kajat niatipun Mas Adi anggonipun bade amiwiti tindak laku bangun dam Kali Lesa meniko, Mas Adi gadah kajat niatipun meniko...
Sekul suci ulam sari pinongko caos dateng Kanjeng Nabi Muhammad sak garwo Putro, sokhabat sekawan Abu Bakar Umar Usman Sayidina Ali, milanipun sedoyo dipun caosi puniko nuju kajat niatipun Mas Adi ambangun dam Mugi Mugi saget jejeg langgeng ayem tentrem. Slamet ingkang mbangun, jejeg langgeng ingkang dipun bangun wiwit dinten meniko dugi selaminipun angsal paseksen sederek sedoyo...", ujar Mbah Singo dengan cepat dan lancar.
"Nggeeeeeehhhhh", ujar semua orang yang ada di tempat itu bersamaan.
"Candak aturan, Mas Adi sak rencang gadah kajat niatipun meniko..
Buceng tunggal meniko caos dateng sedaya leluhur tanah cikal bakal dusun Karangan dan sedanten danyangan lepen meniko pinongko penyuwunan Mas Adi ambangun dam Kali Lesa mugia saget lancar wiwit dinten meniko dugi selaminipun angsal paseksen sederek sedoyo..", ujar Mbah Singo menutup ritual selamatan.
"Nggeeeeeehhhhh", kembali koor suara terdengar dari mulut mereka.
"Mbah Min, nyuwun tambahan doa untuk semua orang yang disini semoga lancar acara pekerjaan nya.
Monggo", ujar Pak Carik Ariyono sembari tersenyum pada pak Karmin yang juga merupakan imam mushola di dekat tempat itu.
Pak Karmin mengangguk mengerti.
"Sebelumnya saya minta maaf karena saya akan berdoa menurut agama Islam. Yang berlainan keyakinan, monggo silahkan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing. Kita mulai nggeh..
Ila hadrati nabiyil mustofa Mohammad SAW wa ala ahlihi wa dzuriatihi wa Khulafaur Rasyidin Abu Bakar Umar Usman Sayidina Ali tsuma khususon Sultonul 'Auliya Syaikh Abdul Qodir Jaelani fil kubur Alfatihah...."
Setelah berdoa, beberapa orang segera membagikan nasi berikut lauknya kepada semua orang yang ada di situ. Tak terkecuali Adi, Bu Tiara, Antok dan Didik.
Ya beginilah indahnya hidup di desa, semua serba rukun meski beda kepercayaan. Isinya saling menghormati dan menghargai setiap keyakinan individu tanpa harus merasa paling benar. Pancasila sebagai dasar negara benar benar di terapkan dalam kehidupan sehari-hari di desa.
Bu Tiara berbisik pada Adi saat semua orang mulai menikmati makanan yang disajikan di depan mereka.
__ADS_1
"Mas, aku tidak biasa makan beramai-ramai seperti ini", ujar Bu Tiara pelan di telinga Adi.
"Hargai kearifan masyarakat lokal Bu Bos, jangan sampai menyinggung perasaan mereka.
Kan Bu Bos sendiri yang minta di ajak pada acara ini", Adi tersenyum simpul mendengar omongan Bu Tiara.
'Rasain sekarang. Siapa suruh ikut bergabung di acara ini? Enak kan?', batin Adi sambil tersenyum simpul.
Bu Tiara mendengus dingin sembari mengambil suwiran daging ayam yang ada di depannya. Usai menatap wajah Adi sebentar, perempuan cantik berbaju eksekutif perusahaan itu memasukkan daging ayam ke mulutnya.
Mata perempuan itu langsung melebar ketika merasakan empuknya daging ayam yang dia makan.
'Loh kog enak?', batin Bu Tiara sambil terus mengunyah daging ayam di mulutnya.
"Mas ini masakan perempuan itu tadi?", tanya Bu Tiara pada Adi setelah menelan daging ayam nya.
"Iya Bu Bos,
Ada apa toh?", Adi menatap wajah cantik direktur CV Mutiara itu segera.
"Gak ada apa-apa Mas, cuma tanya aja", jawab Bu Tiara sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
Dia gengsi dong mau memuji masakan perempuan itu yang dia curigai sebagai penggemar Adi.
Usai acara selamatan dan para undangan sudah bubar, Bu Tiara mengajak Adi dan dua asisten nya Antok dan Didik ke tempat direksi kit nya. Separuh rumah besar Pak Karmin Adi sewa untuk menyimpan alat alat kerja.
",Jadi mulai besok start nya mas Adi?", tanya Bu Tiara begitu mereka sudah duduk di kursi plastik.
"Iya Bu Bos,
Antok ini nanti yang ngurusi material sedangkan Didik ini yang mengurusi pekerja nya", lapor Adi pada direktur CV Mutiara itu. Antok dan Didik mengangguk mengiyakan perkataan Adi karena mereka merupakan orang orang Adi sejak lama.
"Hemmmm baguslah kalau begitu Mas.
Leveransir material mulai kapan masuk kemari mas? Nanti admin kantor biar menyesuaikan dengan lapangan untuk membuat laporan nya", tanya Bu Tiara sambil menatap wajah Adi.
"Insyaallah besok Bu Bos, sekalian excavator nya dari Workshop PU kabupaten mulai bekerja besok. Saya sudah koordinasi dengan pak Alfi selaku koordinator alat berat nya", jawab Adi tegas. Dia memang merencanakan sebelum musim penghujan tiba, pondasi sabo dam sungai Lesa sudah selesai.
Belum sempat Bu Tiara menanggapi, suara motor matic terdengar berhenti di depan rumah Pak Karmin. Semua orang segera menoleh keluar dan terlihat Susi sang bunga warung pinggir pasar berjalan mendekati mereka.
Bu Tiara mendengus dingin sembari menatap Susi seakan melihat kedatangan lawan yang mengajak perang.
Hemmmmmmm...
'Mau apa perempuan gatel itu kemari?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo tebak mau apa Susi kesitu?
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁
__ADS_1