Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Pelet


__ADS_3

"Haahhhhh....???!?!


Ibuk kenapa nekat begini sih? Pakai hal begituan untuk mendapatkan mas Adi,, dosa buk", ujar Heni sambil menatap heran kearah ibunya saat Heni menerima sesuatu di tangan nya.


Sebiji bunga kantil yang di bungkus kain putih dan berbau harum yang di masukkan dalam sebuah plastik.


"Kau tidak usah banyak protes. Ini aku dapat dengan susah payah. Pokoknya aku mau Adi jadi mantu ku. Titik.


Aku juga sudah tidak tahan kau setiap hari hanya melamun memikirkan orang itu tanpa ada tindakan", sahut Bu Mamik sambil tersenyum penuh arti.


"Tapi buk..."


"Tidak ada tapi-tapian, pokok nya itu Adi harus jadi suami mu. Titik!", ucapan tegas penuh ambisi Bu Mamik langsung membuat Heni terdiam. Dalam hatinya guru SMA itu membenarkan omongan ibu nya itu. Dia benar-benar tidak bisa move on dari Adi.


Maka hari itu juga diatur lah siasat untuk menjebak Adi.


Lewat bantuan seorang kawannya satu SMP dulu yang bernama Titik, Heni mengundang Adi untuk datang ke lesehan ikan bakar yang ada di dekat perbatasan antara Kabupaten Patria dan Malang. Titik ini adalah teman Adi SMP yang menjadi guru di salah satu SMP swasta di wilayah Kecamatan Selodono di dekat perbatasan kabupaten. Titik yang tidak tahu bahwa Adi sudah menikah lagi pun mengiyakan permohonan Heni untuk mengundang Adi karena tahu Heni sangat menyukai Adi.


Thuuuuutttthhhh...


Thuuuuutttthhhh....!


Adi yang sedang memeriksa pembukuan keuangan dan nota belanja barang di direksi kit konsorsium pembangunan sabo dam Sungai Lesa pun terkejut mendengar hape android nya yang di letakkan di atas meja kerjanya berdering nyaring.


Ada sebuah nomor telepon tak bernama yang tertera di sana.


'Ini dari siapa ya?', batin Adi sambil menatap nomor baru itu sembari menimbang nimbang mau angkat atau tidak.


Dering telepon seluler itu mati karena Adi tak segera mengangkatnya. Adi kembali fokus memeriksa nota belanja barang di mejanya. Tak berapa lama kemudian telepon pintar itu berdering kembali.


Karena cukup mengganggu konsentrasi nya Adi segera mengangkatnya.


📞


Adi : Assalamualaikum, hallo siapa ini?


( Terdengar suara berisik dari seberang dan suara seorang wanita terdengar)


Penelpon : Waalaikumsalaam. Halo ini benar Adi Prasetyo ya?


Adi : Benar ini dengan Adi Prasetyo. Ini siapa ya?


Penelpon : Alhamdulillah akhirnya aku bisa dengar suara mu lagi.. Ini Titik Di, Titik teman sekelas kamu waktu SMP. Ingat gak?


Adi : Titik? Titik siapa ya? Maaf aku benar benar lupa.


Penelpon : Astaga mentang mentang udah sukses lupa dengan kawan lama. Aku Titik Eriyani, anaknya pak Marsono yang tukang kebun SMP itu loh. Masih lupa juga?


Adi : Titik Eriyani? Astaghfirullah, yang punya tahi lalat segede tahi kebo di sebelah hidung itu ya? Hahahaha... Apa kabar Tik?


(Terdengar dengusan nafas lega dari seberang telepon)


Penelpon : Huh mulut jahat mu itu tetap saja permanen. Suka banget mengejek orang. Tapi syukurlah kalau masih ingat.. Alhamdulillah kabar ku baik, kalau kamu gimana Di?

__ADS_1


Adi : Baik juga. Eh dapat nomor telepon ku darimana Tik?


Penelpon : Dari teman lah. Eh kamu ada waktu luang gak sore ini? Kebetulan aku punya niat untuk ngumpulin semua teman persiapan reuni kelas kita.


Adi : Emang jam berapa acaranya? Aku lagi kerja nih..


Penelpon : Iya iya yang sukses sibuk dengan pekerjaan nya. Rencana nanti selepas aku selesai ngajar Di. Ya sekitar jam setengah tiga gitu. Gimana bisa gak?


Adi : Jam 3 aja ya.. Ini pekerjaan lagi numpuk soalnya. Memang tempatnya dimana sih Tik?


Penelpon : Lesehan ikan bakar dekat tempat ku ngajar Di, dekat perbatasan Malang. Lesehan XY, yang cat ijo Utara jalan. Makanan nya enak disitu.


Adi : Oke deh. Kalau telat dikit jangan marah ya. Ini soalnya lagi sibuk banget aku.


Penelpon : Siap bos. Tak tunggu ya. Wassalamu'alaikum.


Adi : Waalaikumsalaam.


📞


Adi segera memberikan nama kontak untuk nomor telepon yang baru saja menelpon nya. Sehabis itu Adi kembali tenggelam dalam pemeriksaan nota belanja barang yang menumpuk di hadapannya. Mandor proyek yang kini juga menjabat sebagai perangkat desa itu memang teliti dalam bekerja. Hampir semua pekerjaan nya berakhir dengan kesuksesan.


Hari itu Adi menyelesaikan pekerjaan nya tepat jam 2.30 sore. Alarm pengingat nya berbunyi nyaring. Adi segera berkemas untuk berangkat memenuhi undangan Titik Eriyani teman SMP nya.


Antok yang baru saja mengawasi pekerjaan nampak masuk ke ruang direksi kit. Melihat Adi yang berkemas, Antok segera mendekati nya.


"Mau kemana bos? Tumben banget jam segini udah mau cabut", tanya Antok penasaran.


"Yang ngundang cewek ya bos? Kog semangat banget keliatannya?", Antok kumat lagi songong nya. Mata pria beranak dua itu memicing seolah mengintrogasi Adi layaknya seorang tersangka kasus dugaan penerimaan suap.


"Kepo kau..


Cewek atau cowok itu bukan masalah penting nya. Yang terpenting itu solidaritas pertemanan nya. Lagi pula kenapa kalau cewek?", Adi menghentikan kegiatan berkemas nya.


"Ya bos harus hati-hati lah. Jangan jangan mereka mengundang bos karena ada maunya. Apalagi si bos sekarang merangkap jabatan sebagai perangkat desa. Aku yakin banyak sekali perempuan yang tertarik untuk mencoba mendekati bos.


Ingat anak istri di rumah bos. Jangan sampai si bos terlena dengan rayuan maut perempuan gatel yang pengen jadi gandengan nya bos", jawab Antok yang sok bijak mirip dengan seorang ustadz terkenal di YouTube.


Adi terperangah mendengar jawaban Antok. Dia dengan cepat menaruh telapak tangan nya ke dahi Antok.


"Gak panas? Gak demam juga. Kesambet setan Kali Lesa kamu Tok?", Adi menatap heran kearah Antok.


"Lah kog jadi nanya demam? Juga kesambet setan kali..


Emang ada apa bos?", Antok kebingungan dengan sikap Adi.


"Lah tumben sekali bisa ngomong benar. Biasanya nyolot kayak kompor gas. Makanya aku cek suhu tubuh mu panas gak tadi. Apa jangan-jangan benar kesambet setan Kali Lesa?", Adi tersenyum penuh arti.


"Wah sialan si bos nih..


Sekali ngomong benar saja suudzon segitunya. Eh jelek jelek begini, aku pernah ngaji di pondok bos. Enak saja", gerutu Antok sambil melengos.


"Pondok apa Tok? Pondok pesantren?", Adi setengah tak percaya dengan omongan anak buah nya itu.

__ADS_1


"Pondok Ramadhan bos hehehehe ", jawab Antok sambil terkekeh geli melihat sikap Adi.


"Ah kampret!


Tau gitu aku gak tanya. Dasar ustadz pondok bersalin", omel Adi sambil mengangkat tas ranselnya ke punggung. Usai berkata demikian, Adi melangkah keluar dari ruang direksi kit konsorsium pembangunan sabo dam itu menuju ke arah motor Vixion kesayangan nya. Tak berapa lama kemudian motor itu melaju meninggalkan desa Karangan ke arah selatan. Antok geleng-geleng kepala melihat kepergian bos nya itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Motor Vixion Adi meraung keras membelah jalanan. Usai sampai di pasar induk, Adi mengarahkan motor nya ke kiri mengikuti jalan nasional yang di tandai dengan marka jalan berwarna kuning. Motor itu terus melaju cepat kearah selatan.


Selepas melewati kios pasar buah di tepi hutan wilayah kecamatan Sambi, Adi terus memacu motornya menuju ke arah timur. Sekitar 45 menit kemudian, motor itu berbelok kanan menuju ke arah jalan kembar yang menuju ke arah tempat wisata yang merupakan perbatasan wilayah antara Kabupaten Patria dan Malang.


Di ujung jalan kembar, Adi membelokkan motor nya ke arah sebuah tempat lesehan ikan bakar bercat hijau. Usai menghentikan motornya, Adi segera melepaskan helm KYT putih half face nya dan melangkah masuk ke dalam lesehan ikan bakar itu.


Suasana terlihat sepi. Hanya ada 2 pasang muda mudi yang sedang asyik menikmati hidangan mereka. Seorang pelayan lesehan ikan bakar segera mendekati Adi.


"Ada yang bisa saya bantu mas?", tanya wanita berusia sekitar 30 an itu dengan ramah.


"Saya ada janji ketemu kawan di tempat ini mbak. Apa ada yang sudah reservasi tempat disini? Namanya Titik Eriyani", Adi menatap ke arah si pelayan.


"Oh ada mas..


Tadi udah ada yang reservasi atas nama itu cuma orang nya pergi lagi. Tuh mejanya di nomor 7", jawab si pelayan Lesehan ikan bakar itu sembari menunjuk ke arah sebuah meja yang ada di tempat yang sedikit terpisah.


Ada sepasang minuman es jeruk yang sudah tersaji disana.


"Kalau begitu saya tunggu orangnya saja di sana ya mbak?", ucap Adi segera.


"Oh silahkan mas.. Mbaknya tadi juga pesan kalau mas Adi datang suruh langsung duduk di meja reservasi langsung kog", jawab si pelayan lesehan ikan bakar itu sembari tersenyum tipis.


Adi segera melangkah menuju ke arah meja nomer 7 sedangkan si pelayan kembali ke tempat nya bekerja. Cuaca yang panas membuat Adi yang baru duduk sedikit haus. Tanpa ba bi bu, dia langsung menyambar gelas berisi minuman es jeruk yang tersaji.


Sembari menunggu, Adi berselancar di internet untuk mencari berita terbaru dari dinas pekerjaan umum.


"Hai mas Adi.."


Suara seorang perempuan membuat Adi mendongak ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya Adi saat melihat Heni yang menyapa nya. Anehnya Adi sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara ketus nya saat bersama perempuan itu.


"Kog kamu ada disini? Sedang apa di tempat ini?", tanya Adi dengan suara lembutnya saat Heni duduk di sampingnya.


"Kebetulan Heni sedang lewat dan melihat motor mas Adi di parkiran jadi Heni mampir deh", dusta Heni sembari memamerkan senyum manis.


Entah kenapa, senyuman Heni terlihat sungguh mempesona sore itu. Adi benar benar terpikat dengan sosok guru SMA itu. Apalagi saat Heni dengan sengaja menggenggam tangan Adi. Hati kecil Adi menolak untuk bersikap seperti itu tapi tangan nya seperti punya pikiran sendiri.


Tak mendapat penolakan dari Adi membuat Heni semakin berani. Tangan perempuan cantik itu segera mengelus pipi Adi dengan lembut.


"Kamu ganteng sekali mas", puji Heni sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


"Kamu juga cantik sekali Hen..


Suka deh dekat dengan mu seperti ini", Adi benar benar terlena dengan pesona Heni yang sudah memakai pelet pengasihan dari Mursodo, dukun cabul yang juga merupakan ayah kandungnya. Suasana lesehan ikan bakar yang sedikit menjauh membuat mereka benar benar mengumbar kemesraan layaknya pasangan muda mudi yang di mabuk cinta.


Seorang wanita cantik dengan dandanan necis layaknya orang kantoran yang melihat kejadian itu langsung mendekat ke arah lesehan tempat Adi dan Heni berada.


"Apa-apaan ini?!"

__ADS_1


__ADS_2