Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Permintaan Ibu Mertua


__ADS_3

Adi tersenyum simpul mendengar omongan Indri. Dia tahu memang mobil untuk keluarga memang di butuhkan untuk keluarga mereka.


"Aku tahu kog yank kita memang butuh mobil. Anak kita sekarang sudah 4. Kalau kemana mana pengen bawa anak-anak semua jelas gak bisa.


Tapi Yayank juga harus ngerti kalau kita lagi butuh banyak duit. Kita belum tahu berapa biaya untuk urusan hak asuh Dhea kan yank?", ujar Adi sambil tersenyum.


"Eh iya ya Mas.. Memang mas sudah dapat pengacara nya?", tanya Indri sambil menatap wajah Adi.


"Sudah yank, tadi pagi mas ke kantor pengacara. Sudah mas buat surat kuasa buat dia nanganin permasalahan ini.


Yayank tenang saja", jawab Adi segera. Dia melihat raut kekhawatiran di wajah sang istri.


"Biayanya mas?", Indri sangat penasaran dengan ucapan Adi.


"Belum tahu Yank,


Yang pasti gak akan mahal kok. Yayang tenang saja, gak usah ikut mikir.


Tapi mas janji deh, begitu pekerjaan ini selesai mas bakal beli mobil buat keluarga kita. Tabungan mas lebih dari cukup kog", ujar Adi sambil tersenyum tipis.


"Emang mas punya tabungan berapa sih? Kog penasaran aku", Indri kembali menatap wajah tampan suaminya. Dia memang tidak tahu berapa banyak uang di rekening suaminya. Meskipun Adi sering menunjukkan buku rekening bank nya pada Indri untuk meminta untuk sekedar melihat atau mengeceknya, tapi Indri selalu menolak. Dia beralasan asalkan kebutuhan rumah tangga nya tercukupi, dia tidak mau terlalu mengurusi rekening suaminya karena dia tahu bahwa duit di rekening itu selalu di putar Adi untuk kebutuhan pekerjaan.


"Gak banyak Yank, cuma 500 an juta. Tapi kalau buat mobil keluarga kecil seperti Ayla gitu kan masih sisa kan?", Adi tersenyum simpul.


Mendengar ucapan Adi sontak Indri melotot lebar.


"Cuma 500 juta? Cuma mas?", Indri masih tak percaya dengan omongan Adi.


"Iya Yank,


Kenapa to emangnya?", Adi menatap wajah cantik Indri yang baru saja syok mendengar omongan Adi.


"Itu banyak banget mas!


Aku saja belum pernah lihat duit lebih dari 20 juta", ujar Indri sembari menatap wajah tampan suaminya.


Saat mereka masih asyik mengobrol tiba-tiba sebuah notifikasi via m-banking berbunyi di ponsel pintar Adi. Buru-buru mandor proyek itu segera membukanya.


Indri yang penasaran ikut mendekat ke arah Adi untuk melihat SMS m-banking suaminya.


Tertera 200 juta di kirim oleh Bu Mutiara Sekar!


"Hahhh?!!!


Duit apa ini mas?", tanya Indri sambil menatap ke arah Adi.


"Oh ini duit untuk kegiatan pekerjaan sabo dam itu yank..


Ini baru tahap awal kog. Kalau cair semuanya sekitar 1,2 M masuk ke rekening ku. Cuma ini untuk bayar sewa alat berat dan para pekerja selama 2 bulan pekerjaan", Adi menerangkan tentang apa fungsi duit yang masuk ke rekeningnya.


Indri semakin syok mendengar omongan Adi. Dia yang mula nya hanya tau kalau Adi banyak duit, benar-benar tidak menyangka bahwa suaminya sekaya ini. Pun suaminya selalu berurusan dengan duit banyak.


"Pantas saja", Indri menggumam pelan.


"Pantas apanya Yank? Kog aneh gitu", tanya Adi heran.


"Ya pantas saja Mas gak keberatan beliin make up buat aku dandan.


Dan pantas saja itu perempuan gatel berlomba untuk mendekati mas. Wong mas duitnya banyak begini", jawab Indri sambil menekuk wajahnya. Adi tersenyum simpul mendengar omongan istrinya itu.


"Yank, kamu istri ku.. Segala kebutuhan mu adalah tanggung jawab ku. Jadi kalau memang itu kamu ingin, bilang saja lah. Toh duit ku kan duit kamu juga. Aku kerja itu untuk keluarga kita yank, bukan untuk kebutuhan ku sendiri..


Nah kalau urusan perempuan gatel yang kamu omongkan tadi, kamu boleh protes. Karena pesona suami mu ini luar biasa hehe", ujar Adi sambil terkekeh geli.


"Ihhh Mas ya..


Kalau sampai macam macam tak potong anu mu Mas huh", Indri mendelik tajam ke arah Adi.


"Hahahaha...", Adi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah istrinya yang menurut nya lucu.


"Jangan ketawa Mas. Apa nya yang lucu coba?", tanya Indri sambil melotot ke arah Adi.


"Ya kamu itu kalau marah bukan nya serem tapi malah bikin gemes tau gak yank? Hahahaha..


Lagian yank, aku ini tipe setia. Sekali punya kamu ya ogah sama yang lain. Percaya deh sama Mas", ujar Adi sambil tersenyum simpul.


Mendengar ucapan Adi, Indri langsung menggelayut mesra di bahu sang suami. Belum genap 1 menit suasana mesra mereka tercipta, terdengar suara teriakan Bu Sarmi dari dalam rumah.


"Ndri Indri...


Anak ini kemana saja to?", mendengar suara Bu Sarmi, Indri segera bergegas menoleh kearah pintu rumah.


"Woh babon gemblung..


Anaknya kelaparan ibuk nya malah enak-enakan pacaran", omel Bu Sarmi sambil menatap ke arah Indri yang langsung nyengir kuda mendengar omelan sang ibu.


Indri segera bangkit dari duduknya di kursi kayu teras rumah dan melangkah ke arah Bu Sarmi yang sedang menggendong Yaka.


"Duh duh duh.. Jagoan ibuk lapar ya sayang... Sini sini sama ibuk nak", ujar Indri sembari mengulurkan tangannya ke arah Yaka. Bocah yang belum genap sepuluh bulan ini mulai memamerkan gigi susu nya. Dan buru buru menyambut uluran tangan Indri.


Dengan segera, Indri membuka bajunya dan menyusui Yaka. Bocah ini menyusu dengan lahap.


"Mas, kalau lepas setahun usia Yaka dan Rendra mereka kita sapih ya? Nanti sebagai pengganti ASI, mas belikan susu formula buat dua mandor kecil ini", Indri menatap wajah tampan suaminya seakan meminta persetujuan.

__ADS_1


"Iya Yank, terserah kamu lah.. Yang penting anak anak sehat. Itu aja sih", ujar Adi sambil menyulut sebatang rokok Diplomat favoritnya.


Kedatangan Adi dan Indri langsung mendapat perhatian dari tetangga sebelah rumah Bu Sarmi. Mereka memang tidak banyak yang datang saat acara selamatan di rumah Adi memilih untuk menengok keluarga Adi saat di rumah Bu Sarmi.


Diantara yang hadir di sore itu adalah istri pak Wito, Bu Yati dan dua geng ghibah nya Sudarti dan Bik Sum. Yu Nem menyusul di belakang 5 menit kemudian.


"Eehhh Mas Ganteng...


Wes suwe loh ora rene ( Sudah lama loh tidak kemari). Repot kerja ya?", ujar Sudarti tetap dengan gaya endelia kemayuningsih nya.


"Iya Mbak Ti..


Lagian anak anak juga sekolah sedangkan saya jarang libur kerja. Lagian juga repot bawa si kembar hehehe", jawab Adi sambil tersenyum.


"Wah harusnya segera punya mobil keluarga mas. Anak nya banyak. Harus punya itu", cerocos Sudarti seperti ember plastik bocor.


"Wah omongan mu kog enak Dar..


Kau pikir beli mobil itu seperti beli kacang goreng. 2 ribu dapat satu plastik?", omel Yu Nem sambil menyalami Adi lalu ke Indri.


"Eleh duit e Mas Adi gae opo Yu Nem ( Duitnya Mas Adi buat apa Yu Nem)?


Buat kasur?", Sudarti tetap ngeyel.


"Lha rumangsamu duit e Adi gak gawe tuku butuh to Dar ( Lha pikiran mu duitnya Adi gak buat kebutuhan hidup to Dar)?


Buat bayar sekolah anak, buat kebutuhan sehari-hari. Memangnya bisa pakai daun? Kamu itu ada ada saja Dar Dar", ucap Yu Nem dengan sengit.


"Lha iya loh Mbak Dar, wong butuh nya Adi itu juga banyak. Yo pasti di pakai to hasil kerja nya.


Contoh saja itu Kang Wito, dapat bayaran kerja ya langsung buat bayar utang sama beli beras.


Makanya walaupun tiap Sabtu gajian Yo bablas habis", potong Bu Yati istri nya Pak Wito, pak lik nya Indri.


"Kalau itu karena salah mu Ti..


Hobi kog punya utang. Mbok sekali kali punya tabungan biar kalau ada kebutuhan mendesak itu gak perlu ngutang sana ngutang sini.


Berhemat dikit lebih baik", sahut Bik Sum yang sedari tadi diam saja melihat ketiga kawan ghibah nya itu beradu pendapat.


"Ada apa to ini? Heran aku. Kalau kalian ketemu ada saja yang di ribut kan", Bu Sarmi yang baru datang dari dapur dengan membawa nampan berisi kopi hitam ikut nimbrung obrolan tetangganya.


"Biasa Yu Mi..


Kalau mereka ketemu ya ada saja bahan obrolan mereka. Itu semua gara-gara mulutnya Darti itu loh. Ngompori Adi buat beli mobil", ujar Bik Sum sambil mengambil secangkir kopi hitam yang masih mengepul dari atas nampan.


"Ealah dasar..


Eh anakmu mana Le?", tanya Bu Sarmi sambil menoleh ke arah Adi.


"Oh iya, aku juga pengen loh gendong anak mu Mas. Kalau sudah gede kan kelihatan mirip siapa", ujar Sudarti yang langsung berlalu menuju ke arah kamar Indri.


Tak berapa lama kemudian, perempuan itu kembali dengan menggendong Rendra. Bu Yati, Bik Sum dan Yu Nem langsung mengerubungi Sudarti.


"Wah ganteng ya anaknya Indri", ujar Bu Yati sambil mengelus pipi Rendra yang gembul.


"Ya jelas to Ti. Jago ne ae koyo ngono (Bapaknya saja kayak gitu). Jangan kau samakan dengan suami mu yang nyopros ( semrawut)", sahut Yu Nem sambil ikut melihat wajah tampan Rendra.


"Yo biarlah to Yu Nem.


Nyopros o gitu aku sayang loh dengan Kang Wito", ucap Bu Yati yang disambut senyum dan tawa oleh para perempuan tetangga sebelah rumah Bu Sarmi.


Sore itu suasana di rumah Bu Sarmi benar-benar ramai oleh pengunjung. Perempuan paruh baya itu mesti bolak balik ke dapur untuk membuatkan kopi bagi para tamu nya.


Menjelang magrib, Pak Wito pak lik nya Indri datang bersama Wawan. Pria paruh baya itu segera mendekati Adi yang sedang berselancar internet untuk mengecek HPS baru yang baru saja muncul di laman web Dinas PU.


"Selamat sore Di...", sapa Pak Wito dengan ramah.


"Eh pak Lik.. Sore pak Lik..


Wah beberapa bulan gak ketemu kog tambah panjang kumis nya. Bagaimana kabarnya Lik?", Adi segera meletakkan ponsel pintar nya di meja.


"Ya beginilah Di.. Habis ikut kerja kamu kemarin kan aku di minta bantu-bantu di rumah nya Pak Jono. Sebenarnya mau ikut kamu terus tapi terlanjur janji aku, ndak enak mau batalin nya", ujar Pak Wito dengan cepat.


"Alah santai saja Pak Lik..


Namanya kerja kan sama saja. Rokok nya Pak Lik", Adi menyorongkan rokok Diplomat nya ke depan Pak Wito.


Tanpa menunggu ditawari dua kali Pak Wito langsung mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Asap putih mengepul dari bibir pria paruh baya itu.


"Eh mas bos,


Ini sekalian mau tanya. Ada kerjaan gak nih? Nganggur Lik mu ini", tanya Pak Wito dengan cepat.


"Kalau kerjaan insyaallah ada Lik. Tapi jauh dari sini. Lik Wito mau?", Adi ganti bertanya kepada Pak Wito.


"Jauhnya dimana to Di? Sampai luar kota? Ndak to?", Pak Wito kembali mengepulkan asap rokok nya.


"Gak Pak Lik..


Tuh di kecamatan Gandu. Bikin dam sungai Lesa. Pak Lik mau?", Adi ganti menatap wajah tua Pak Wito.


"Ya gak apa apa, daripada nganggur mending kerja lah Di. Tapi aku tak ngajak teman ku yang punya motor. Motor ku mati surat-surat nya Di", ucap Pak Wito dengan cepat.

__ADS_1


"Iya Lik Wito, gak apa apa. Besok kalau sudah dapat teman ya Lik Wito SMS Indri atau nyuruh mas Wawan buat kasih kabar", Adi tersenyum simpul.


"Oke siap mas bos", jawab Pak Wito dengan penuh semangat. Dia bersyukur ada pekerjaan untuk nya. Itu artinya dalam beberapa hari ke depan dia bisa tenang untuk urusan dapur rumah.


Malam itu rumah Bu Sarmi menjadi ramai. Sanak saudara berdatangan seolah turut bergembira dengan hadirnya Adi dan Indri serta dua putra kembar mereka di situ.


Kelucuan Rendra dan Yaka yang mulai merangkak kesana kemari membuat suasana rumah itu menjadi hidup.


Melihat itu Bu Sarmi mendekat menantu nya itu segera.


"Le, setiap malam Minggu atau pas liburan bawa anak anak mu kemari ya?


Biar rumah ini gak sepi Le", ujar Bu Sarmi sambil berkaca-kaca matanya. Semenjak kepergian Indri dan Dhea, rumah Bu Sarmi memang menjadi lengang. Wawan dan Narsih pun tinggal cukup jauh dan sudah punya rumah sendiri, membuat mereka jarang menengok Bu Sarmi.


"Adi usahakan ya Buk...


Soalnya ibuk tau sendiri keadaan Adi bagaimana", jawab Adi berusaha memberikan harapan indah untuk sang ibu mertua.


"Ibuk sih tidak menuntut Le.. Cuma ibuk pengen turut melihat perkembangan cucu-cucu ku ini.


Tolong ya Le", ucap Bu Sarmi sambil berkaca-kaca matanya.


"Iya Buk, Adi mengerti. Adi usahakan mulai Minggu depan saya dan Indri tiap malam Minggu datang kemari", ujar Adi sembari tersenyum simpul.


"Terimakasih kasih Le.. terimakasih", ujar Bu Sarmi sambil tersenyum dan menghapus air mata yang hampir saja tumpah dari mata nya.


Malam semakin larut. Satu persatu para tetangga mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Yaka sudah tidur, begitu juga Rendra yang segera menyusul saudara kembarnya. Sepertinya kedua bocah itu kelelahan bermain bersama para tetangga Bu Sarmi.


Adi perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang di gelar di atas tikar pada lantai kamar tidur Indri.


Pikiran mandor proyek itu kembali tertuju pada permintaan ibu mertua nya tadi.


"Mas.. Mas Adi...


Mas...", panggilan Indri langsung membuyarkan lamunan Adi.


"E-eh iya Yank. Ada apa?", Adi tergagap menjawab panggilan istri nya itu.


"Mas ngelamun ya?


Mikirin apa to mas?", Indri menyelidik dengan menatap wajah suaminya.


"Ibuk minta kita setiap malam Minggu tidur disini Yank. Lah kalau tidur disini kan harus bawa Dhea dan Cinta juga kan?


Itu yang jadi pikiran mas. Kasihan aku lihat ibuk bilang gitu tadi. Dia pasti kesepian gak ada kamu sama Dhea", ujar Adi sambil menghela nafas panjang.


"Ya mau gimana lagi Mas. Kita juga gak bisa memaksa keadaan kog", ucap Indri mengerti dengan keadaan Adi.


"Ya harus beli mobil yank untuk membawa anak anak kesini. Cuma itu satu-satunya solusi", Adi tersenyum simpul.


"Beneran mas? Minggu depan kita beli mobil dan bawa anak-anak kesini?", Indri terlonjak gembira mendengar ucapan Adi. Ada binar bahagia di raut wajah cantik perempuan itu.


"Iya sayang, besok mas tanya ke teman mas buat beli mobil. Gak perlu yang mahal asal masih layak untuk kita sekeluarga", jawab Adi sambil tersenyum simpul. Mendengar jawaban itu, Indri langsung menghambur turun dari tempat tidur nya dan langsung mendekap Adi sambil berkata,


"Mas Adi I love you..


Mas mau minta jatah berapa kali?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alamak mbak Indri 🤣🤣🤣

__ADS_1


Setiap rumah tangga yang indah di awali dari komitmen dan saling percaya..


Yang mau berteman dengan author bisa cek IG author : ebez2812


__ADS_2