Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Hak Asuh Cinta


__ADS_3

Sambil terus menggeber motor Vixion kesayangannya, pikiran Adi berkecamuk. Sudah hampir setahun keluarga Niken tidak datang ke rumah nya, sempat membuat Adi lega. Ucapan nya dulu cukup menusuk hati Niken, dengan harapan agar Niken dan keluarganya tidak menggangu kehidupan baru nya. Namun kedatangan mereka pagi ini membuat Adi benar benar tidak bisa menemukan perkiraan alasan yang di buat oleh keluarga mantan istrinya itu.


Sesampainya di depan sekolah Cinta, Adi segera menghentikan laju motor nya. Cinta turun dari jok belakang motor sport itu dengan cepat.


Cinta segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Adi. Mandor proyek itu dengan cepat menyambut nya. Cinta mencium punggung tangan Adi.


"Yah,


Tambah sangu nya", ujar Cinta sambil menengadahkan tangan kanannya ke Adi.


Pria ganteng itu tersenyum simpul dan merogoh tas kecilnya. Pecahan 2 ribu rupiah di taruh di atas tangan Cinta.


"Kog cuma 2 ribu yah?", tanya Cinta sedikit protes.


"Tadi dari Bu Indri di kasih berapa nak?", Adi menatap wajah Cinta. Dia ingin menguji kejujuran putri kecilnya itu.


"3 ribu yah, nih..", jawab Cinta sambil mengeluarkan selembar uang kertas 2 ribuan dan receh 500 an 2 keping dari sakunya.


Adi segera tersenyum.


"Lha kalau dijumlahkan dengan itu kan jadi 5 ribu. Ingat nak, kita tidak boleh boros.


Cinta masih punya banyak kebutuhan. Katanya pengen sepeda gunung. Nanti di akhir bulan ayah belikan sepeda gunung buat Cinta, tapi Cinta juga harus berhemat agar sepedanya cepat terbeli", ucap Adi dengan penuh kasih sayang.


Sekalipun saat ini tabungan Adi cukup untuk membelikan 10 sepeda gunung sekaligus buat Cinta, namun Adi ingin mengajarkan kepada putri kecilnya itu untuk bersabar dalam menginginkan sesuatu.


Cinta langsung cerah wajah nya saat mendengar ucapan ayahnya itu. Gadis kecil itu segera mengangguk mengerti.


Segera Cinta berlari menuju ke gerbang sekolah dan bergegas ke arah kelasnya.


Adi tersenyum simpul melihat ulah putri kecilnya itu.


'Aku akan membahagiakan mu nak, karena kau adalah mutiara hidupku', batin Adi yang segera menstart motor Vixion nya menuju ke arah Desa Wanaraja.


Sementara itu di rumah Adi, nampak Bu Siti sedang mengobrol dengan pak Latif mantan mertua Adi dan Endro serta Reni. Sementara Indri di dapur menyiapkan minuman untuk mereka berempat.


"Lantas apa tujuan pak Latif kemari?", tanya Bu Siti usai berbasa-basi sebentar.


"Begini Bu Siti,


Saya di minta Niken untuk mengambil Cinta ke Surabaya. Sebagai orang tua kandung nya, Niken juga ingin merawat Cinta", ucap Pak Latif sambil menatap ke arah Bu Siti.


Mendengar ucapan itu, Bu Siti langsung terkejut bukan main.


"Maaf ya Pak Latif,


Saya tidak melarang Cinta diambil ibunya, tapi Pak Latif juga harus minta ijin Adi selaku wali nya. Boleh atau tidak, itu tergantung pada keputusan Adi", ujar Bu Siti sambil menahan perasaan kesalnya.


Bagaimana bisa tidak kesal coba? Bu Siti merawat Cinta sejak bocah kecil itu berusia 8 bulan. Niken meninggalkan Cinta ke PJTKI setelah bertengkar hebat dengan Adi yang saat itu dalam keadaan jatuh karena di tipu teman sekerjanya.


Tanpa berpikir panjang, dan dengan alasan ingin merubah nasibnya, Niken ngeyel berangkat ke luar negeri, meninggalkan seorang bayi yang belum bisa berjalan pada Adi.


Dengan terpaksa Adi menyetujui tindakan Niken daripada bertengkar terus setiap hari karena alasan uang belanja yang kurang.


Selama masa pendidikan di PJTKI, Adi mengeluarkan banyak biaya untuk segala macam kebutuhan Niken di penampungan. Tabungan Adi juga ludes untuk membiayai kebutuhan Niken karena Niken berjanji akan mengganti semua uang yang di keluarkan Adi begitu menerima gaji penuh.


Cinta yang masih menyusu, langsung jatuh sakit saat Niken berangkat ke PJTKI. Adi pontang panting kesana kemari untuk mencari biaya pengobatan untuk Cinta sambil terus memenuhi kebutuhan Niken di penampungan.


Namun setelah Niken terbang ke Hongkong, dua bulan setelah keberangkatan nya dia baru menghubungi Adi.


Setelah habis masa potong gaji nya, tiba-tiba saja nomor telepon Niken tidak bisa dihubungi. Di tinggal pergi istri dengan kewajiban merawat Cinta yang masih bayi, membuat Adi nyaris tidak bisa bekerja. Adi yang berar tubuhnya biasanya 76 kilogram selama setahun kepergian Niken, menjadi kurus dengan bobot hanya 64 kilogram.


Bu Siti menyarankan agar Adi melepaskan pikiran nya tentang Niken demi buah hatinya. Dia menawarkan diri untuk merawat Cinta agar Adi bisa memiliki penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari Cinta.


Akhirnya dengan berat hati, Adi menitipkan Cinta pada Bu Siti untuk merawatnya agar Adi bisa bekerja.

__ADS_1


Selama hampir setahun Adi harus bersusah payah untuk mengembalikan relasi dan koneksi nya di dunia konstruksi. Saat Adi hampir menyerah dan ingin berhenti di dunia proyek, dia bertemu dengan Dedi Barata, bos besar CV Barata Konstruksi.


Awalnya Adi di rekrut untuk membantu pekerjaan lapangan karena CV Barata Konstruksi kekurangan orang lapangan. Adi dengan penuh semangat mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sungguh sungguh. Fokus nya hanya satu, memberi kehidupan yang layak untuk putri kecilnya itu.


Dedi Barata sangat menyukai kecerdasan emosional Adi dalam menangani setiap permasalahan yang ada di proyek dengan cepat dan tepat. Pekerjaan nya juga menghasilkan keuntungan lebih bagi CV Barata Konstruksi.


Setahun di CV Barata Konstruksi, Adi mulai mencoba mengambil borongan pekerjaan dari koneksi teman-temannya. Pelan tapi pasti, hasil kerja Adi mulai menarik perhatian beberapa bos besar CV CV yang ada di kota Patria.


Saat itu terdengar kabar bahwa Niken cuti dari Hongkong. Tepat pada saat itu, Niken datang ke rumah Adi dengan sejuta janji manis nya yang katanya akan memodali Adi untuk mendirikan perusahaan konstruksi sendiri.


Adi sempat terlena. Namun ternyata itu hanya siasat Niken untuk mengambil semua surat berharga miliknya yang ditinggal saat dia pergi ke Hongkong.


Adi terluka hatinya dengan sikap Niken. Meski sempat berantakan emosi dan perasaan nya, namun Bu Siti yang tidak tega melihat putranya itu terpuruk akhirnya menyarankan agar Adi menceraikan Niken.


Butuh waktu hampir 4 tahun bagi Adi untuk meyakinkan diri bahwa jodoh nya dan Niken telah berakhir.


Tepat saat Cinta berusia 7 tahun, Adi mengurus surat cerai nya di pengadilan agama Kota Patria. 6 bulan setelah surat cerai nya keluar, Niken datang kembali ke rumah Adi. Namun hati Adi yang sudah tertutup rapat untuk Niken tak bergeming meski Niken bersujud di kaki Adi sambil berurai air mata. Bagi Adi, cinta nya pada Niken sudah musnah bersamaan dengan lara hati yang dia terima.


Kini rupanya dia ingin menuntut perwalian Cinta lewat bapaknya yang dia suruh datang ke rumah Adi.


"Jadi Bu Siti tidak mengijinkan Niken merawat Cinta?", ujar Pak Latif dengan sedikit keras.


"Sudah saya bilang Pak Latif,


Semua keputusan ada di tangan Adi. Kita ini hanya kakek neneknya, tidak berhak memutuskan apa yang menjadi keinginan orang tua Cinta", jawab Bu Siti dengan tegas.


"Bukankah Adi sudah menikah lagi? Kenapa Adi tidak bisa membiarkan kami merawat Cinta?", tanya Endro yang mulai ikut campur dalam pembicaraan itu.


"Maaf nak Endro,


Sampean bukan orang tua Cinta. Lebih baik sampean tidak usah ikut campur urusan ini.


Lagipula, selama ini kemana Niken? Merawat Cinta? Mengirim biaya hidup untuk Cinta?


"Sekarang, setelah Cinta sudah besar mau seenaknya saja di ambil.


Kenapa tidak dari dulu saat Cinta masih bayi yang belum bisa berjalan? Kenapa?


Saya yang merawat Cinta dari kecil. Tau semua kesukaan bocah itu.


Pak Latif tau apa makanan kegemaran Cinta? Nak Endro tau apa kebiasaan Cinta? Bahkan Niken belum tentu tau bagaimana watak asli nya Cinta.


Saya hanya seorang yang dititipi Adi untuk membantu merawat Cinta, tapi saya juga tidak ikhlas kalau kalian mau mengambil hak asuh Cinta setelah semua hal yang kalian lakukan terhadap anak itu", tegas Bu Siti sambil menatap tajam ke arah ketiga orang tamu tak diundang itu.


"Jadi Bu Siti tidak mengijinkan Niken merawat Cinta?", tanya Endro dengan ketus.


"Iya, sebagai orang yang merawatnya, saya tidak mengijinkan", ucap Bu Siti dengan tegas.


"Baik,


Saya akan bilang pada Niken untuk membawa permasalahan ini ke pengadilan. Biar pengadilan yang memutuskan hak asuh Cinta", ujar Endro yang segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari rumah Adi diikuti oleh Reni.


Pak Latif sejenak mendengus keras dan kemudian berjalan kearah pintu rumah Adi. Mereka bertiga pun segera menaiki motor yang membawa mereka ke rumah Adi. Mereka pergi tanpa berpamitan kepada Bu Siti.


Bu Siti yang memendam amarah, mendesis lirih setengah mengumpat pada mereka.


"Dasar tamu tak diundang", ujar Bu Siti dengan keras.


Indri yang baru selesai membuat minuman dan membawa nampan berisi cangkir melongo saat melihat ruang tamu sudah kosong.


"Loh Buk,


Kemana semua tamunya?", tanya Indri pada Bu Siti yang masih duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.


"Sudah pergi Ndri.

__ADS_1


Mereka tidak niat untuk bertamu kog", jawab Bu Siti dengan nada sedikit tinggi.


"Lah terus ini siapa yang mau minum?", ujar Indri lirih namun masih terdengar di telinga Bu Siti.


"Nanti aku yang akan menghabiskan semua nya", jawab Bu Siti ketus yang segera membuat Indri bergidik ngeri.


Mertua nya itu hampir tidak pernah marah. Tapi sekali marah begitu menakutkan. Indri memilih untuk kembali ke dapur dari pada kena semprot mertuanya yang tengah naik darah itu.


Di tempat lain, Adi nampak sedang asyik bercakap dengan Darsiman dan Darsiyo yang sedang beristirahat usai mengepruk batu gebal.


"Wah ini besok rampung ya Lik?", tanya Adi sambil menatap ke arah tumpukan batu gebal yang tinggal 6 tumpuk.


"Iyo Le..


Besok pasti rampung. Kau bisa memulai pekerjaan onderlaag mu besok. Kau masih memakai tenaga Warno dan Moyo kan?", Darsiman menatap wajah Adi sembari mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang hitam.


"Iya Lik,


Aku masih memakai tenaga mereka. Mereka orang yang tidak banyak bicara soalnya. Kerjaan mereka juga cepat dan rapi. Aku suka dengan gaya mereka dalam bekerja", ujar Adi sambil tersenyum tipis.


"Iyo lah Le,


Lagipula kasihan mereka kalau tidak kau ajak. Mereka menggantungkan hidupnya dari tenaga yang mereka jual Le.


Kalau gak buruh, dapur mereka tidak mengepul hehehe", tawa Darsiman yang memamerkan gigi nya yang mulai ompong.


Adi hanya tersenyum saja mendengar omongan Darsiman.


Dari jauh, seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kepala nyaris plontos dengan kumis tebal bak pagar kantor kabupaten mendekati Adi dan kedua tukang kepruk batu nya itu.


Dia adalah Suparno, ayah Renata.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.Hayo siapa yang menunggu cerita selanjutnya?😁😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2