Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Jamu Tradisional


__ADS_3

Maya segera melompat ke arah Bu Tiara, bermaksud menjambak rambut perempuan yang merupakan owner dari CV Mutiara itu.


Alex yang melihat gelagat berbahaya dari Maya dengan cepat menyambar tubuh mungil Maya agar tidak berbuat kekerasan terhadap partner bisnis nya itu. Alex berusaha keras untuk menjauhkan Maya dari Bu Tiara.


Direktur CV Mutiara itu pun terkejut bukan main melihat keberingasan Maya terhadapnya. Bu Tiara sempat pucat walaupun akhirnya dia bisa menguasai dirinya dengan cepat.


"Lepaskan aku Bang..


Perempuan gatal itu perlu di kasih pelajaran!", teriak Maya sambil meronta di pelukan Alex.


"May, diam!


Apa kau ingin membuat kekacauan di sini ha?", hardik Alex dengan nada suara keras.


"Tidak bisa bang,


Aku tidak akan membiarkan perempuan gatal itu mendekati mas Adi. Lepaskan aku Bang", Maya masih ngotot ingin menghajar Bu Tiara.


"Jangan bodoh May,


Apa kau ingin merusak konsorsium pengerjaan proyek pembangunan sabo dam ini ha?


Agung, Andis..


Kalian bantu aku!", perintah Alex yang membuat Agung dan Andis segera ikut memegangi tubuh Maya. Mereka segera menyeret tubuh Maya yang berusaha memberontak. Alex segera bergegas menuju ke arah pintu mobil Pajero sport nya, dan buru-buru membuka pintu mobil. Andis segera masuk. Alex dan Agung segera mendorong tubuh Maya ke dalam mobil. Alex dengan cepat mendekap tubuh Maya di bantu Andis, sementara Agung segera menjalankan mobil Pajero sport itu meninggalkan Adi dan Bu Tiara yang masih sedikit shock dengan sikap Maya yang frontal.


"Sudah aman Bu,


Adik bos Alex itu memang punya riwayat kejiwaan", ujar Adi berusaha menenangkan hati Bu Tiara.


"Oh pantesan saja sikapnya begitu.


Dia suka kelihatannya dengan mas Adi", ucap Bu Tiara dengan tatapan penuh arti pada Adi.


"Dari dulu, saya hanya menganggap Maya itu adik Bu, sampai suatu hari ada sebuah peristiwa yang membuat saya sadar bahwa ia menaruh hati pada saya.


Tapi yang namanya hati tetap saja tidak bisa diatur. Saya lebih memilih wanita yang sekarang menjadi istri saya Bu.


Mungkin perasaan Maya ke saya tidak berubah meskipun sudah mulai menyadari bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan", ujar Adi panjang lebar.


Bu Tiara manggut-manggut saja mendengar ucapan Adi, entah mendengar atau hanya melihat keadaan kantor CV Barata Konstruksi yang sepi.


Pandangan Bu Tiara liar menyapu seisi kantor CV Barata Konstruksi. Perempuan cantik itu segera tersenyum lebar.


Adi yang sempat melirik perubahan mimik wajah Bu Tiara, langsung menyadari bahwa cuma ada mereka berdua di kantor.


Segera dia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel pintar nya dengan tergesa.


Setelah membuka kunci layar, Adi segera mencari kontak Indri. Setelah ketemu, dia langsung melakukan panggilan video.


Thuuuuuuuuutttttthhhh..


Tak sampai sepuluh detik, Indri sudah mengangkat video call dari Adi via aplikasi WA. Terlihat perempuan cantik itu sedang menggendong Rendra yang tengah menyusu. Adi memutar panggilan video itu dengan mode speaker on.


"Assalamualaikum mas,


Tumben jam segini telpon. Ada apa mas?", tanya Indri sambil tersenyum manis.


"Gak ada apa apa Yank. Cuma kangen kamu saja", jawab Adi sedikit keras agar Bu Tiara juga bisa mendengar omongan nya.


"Aih suami ku romantis nya.


Sebentar ya Mas, aku taruh Rendra dulu. Dia sudah ngantuk ini", ujar Indri seraya meletakkan telpon nya dengan layar menghadap ke arah tempat tidur. Dengan perlahan Indri meletakkan Rendra agar bocah kecil itu tidak terjaga.


Usai meletakkan Rendra, Indri buru-buru mendekat ke arah telpon nya.


"Mas sekarang ada dimana? Kog kayak di ruangan gitu", tanya Indri sambil memamerkan gigi putih nya.


"Ini mas lagi di kantor Yank..


Mau ngambil lay out pekerjaan yang di sungai Lesa itu. Tapi bos Alex ada urusan penting sebentar", jawab Adi dengan cepat.


Bu Tiara yang menguping pembicaraan antara Adi dan Indri langsung merasa panas hatinya. Dia benar-benar cemburu pada kemesraan Adi dan Indri.


"Mas nanti pulang cepat ya..


Aku pengen keluar sebentar sama mas nanti sore", pinta Indri dengan sikap manja nya.


"Memang mau kemana sih Yank?", tanya Adi segera. Laki laki tampan itu meraih bungkus rokok Diplomat favoritnya dan mengambil sebatang kemudian menyulutnya.


"Mau beli jamu mas, di pasar kecamatan Selo.

__ADS_1


Kata Bu Retno ada jamu tradisional yang bisa membuat suami betah di rumah", jawab Indri sambil tersenyum malu-malu kucing.


Bu Tiara semakin panas hatinya mendengar omongan antara Adi dan Indri.


"Oke deh Yank, nanti aku antar.


Nanti minta tolong ke ibuk sama Yu Sih untuk jagain Rendra dan Yaka ya. Aku takut mereka rewel pas kita pergi", Adi tersenyum penuh arti.


"Iya deh Mas,


Asal mas jangan kesorean pulangnya", jawab Indri dengan senyum manisnya.


Di luar terdengar suara mobil Pajero berhenti dan Adi segera tahu bahwa itu adalah bos Alex dan dua orang admin nya.


"Ya udah Yank, ada hal penting ini. Mas kerja dulu ya.


Wassalamu'alaikum", ujar Adi seraya memberikan isyarat cium jauh pada Indri.


"Iya mas hati-hati.


Waalaikumsalaam", jawab Indri dengan senyum merekah di bibirnya.


Ceklek..


Adi menutup panggilan video itu segera. Alex, Agung dan Andis segera masuk ke dalam kantor CV Barata Konstruksi. Segera Alex bergegas mendekati Bu Tiara.


"Aku minta maaf atas semua yang terjadi, Bu.


Aku benar-benar menyesal karena kejadian tadi", ucap Alex pada Bu Tiara.


"Oke bos Alex, kali ini saya maafkan.


Tapi saya selanjutnya tidak mau jika adikmu itu terlibat dalam proses proyek pembangunan sabo dam kita.


Apa bisa?", Bu Tiara menatap tajam ke arah Alex.


"Siap Bu, saya berjanji tidak akan melibatkan Maya dalam hal apapun di konsorsium kita.


Oke Bu?", Alex tersenyum lega.


"Baiklah kalau begitu.


Mas Adi, kesini mas", panggil Bu Tiara pada Adi yang bergegas mendekati nya.


Baca baik-baik sebelum mas Adi tanda tangan diatas materei nya", sambung Bu Tiara sambil mengulurkan map merah yang baru dia ambil dari dalam tas kerja nya.


Adi segera menerima nya dan membaca lembar demi lembar kontrak kerja dengan konsorsium. Usai merasa tidak ada yang perlu di rubah, Adi segera menandatangani kontrak kerja itu. Kemudian dia mengulurkan map merah itu kembali pada Bu Tiara.


"Mulai minggu depan, Mas Adi harus mulai pekerjaan nya. Meskipun itu multiyears, tapi dalam Minggu depan kami harap sudah ada actionnya di sana.


Bisa di mengerti mas?", ujar Bu Tiara dengan gaya bossy nya.


"Siap Bu,


Saya akan menata para pekerja yang akan mulai minggu depan. Tolong lay out pekerjaan itu segera di buatkan", jawab Adi segera. Bu Tiara mengangguk mengerti dan berdiri seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Adi sebagai tanda jadi.


Adi segera menyambut uluran tangan dari Bu Tiara. Usai bersalaman, Adi segera berpamitan kepada mereka.


"Mohon maaf, saya permisi dulu nggeh.


Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan. Wassalamu'alaikum", ucap Adi dengan sopan.


"Waalaikumsalaam", Alex, Bu Tiara, Agung dan Andis kompak menjawab bersamaan.


Adi segera keluar dari kantor CV Barata Konstruksi dan menuju ke motor Vixion yang terparkir di halaman. Tak berapa lama kemudian motor Vixion Adi meraung meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan Adi tersenyum simpul.


Adi memacu motornya ke arah proyek jembatan di depan SMP satu Gandu. Setelah hampir 25 menit berkendara, Adi memarkir kendaraan nya di bawah pohon rindang di dekat proyek pembangunan jembatan itu.


Didik yang melihat kedatangan bos nya segera mendekat.


"Tumben sore hari baru datang bos", ucap Didik menyapa Adi.


"Ada urusan penting di kantor.


Eh Minggu depan, bawa 10 orang pekerja untuk ikut di proyek pembangunan sabo dam ya Dik. Kalau bisa jangan mengurangi jumlah tenaga kerja yang disini", ujar Adi sambil menatap wajah Didik.


"Memang sudah mau di mulai ya bos?", tanya Didik segera.


"Iya Dik,

__ADS_1


Makanya aku minta kamu sediakan tenaga nya. Kalau di tambah dengan orang nya Antok, kan memenuhi kuota persyaratan pekerjaan", jawab Adi sambil tersenyum.


"Oke bos, beres kalau cuma masalah itu", ujar Didik dengan penuh percaya diri.


Adi tersenyum simpul mendengar jawaban Didik.


Hanya satu jam Adi di lokasi pekerjaan itu, sebelum meluncur pulang ke arah rumah nya.


Tidak sampai setengah jam, Adi sudah tiba di tempat tinggal nya.


Indri yang baru selesai mandi, mendengar suara motor Vixion Adi, buru buru menuju ke arah pintu rumah. Begitu pintu terbuka dan melihat Adi senyum manisnya segera terkembang di bibir.


"Wah mas beneran pulang cepat ya?", ucap Indri sembari tersenyum manis.


"Iya dong,


Kerja terus kapan waktunya quality time dengan istri tercinta?", jawab Adi yang baru saja melepaskan helmnya.


"Ya wes,


Mas mandi dulu sana biar bau asem nya ilang. Habis itu dandan yang ganteng, terus kita keluar. Mumpung anak-anak tidak ada yang ganggu", ujar Indri dengan senyum merekah.


Adi langsung tancap gas pol menuruti kemauan sang istri. Setengah jam kemudian Adi sudah siap. Dengan memakai celana pendek jeans dan kaos oblong berwarna putih, lelaki itu terlihat lebih tampan. Indri pun tak kalah modis.


Mereka segera bergegas menuju ke arah motor dan segera meninggalkan Bu Siti dan Yu Sih yang menjaga putra-putra kecil mereka. Sementara Cinta dan Dhea masih ngaji di TPQ.


Motor Vixion Adi terus melaju ke arah pasar kecamatan Selo. Saat sampai di tikungan jalan, tak sengaja Heni melihat kemesraan mereka berdua.


Segera guru SMA itu memutar motor matic nya mengikuti laju motor Adi yang tidak terlalu kencang.


Sesampainya di pasar kecamatan Selo, Adi segera memarkir motornya di dekat area parkir yang menjadi tempat permainan anak-anak sekaligus kuliner malam khas seperti seblak, mie ayam, bakso, nasi goreng bahkan cilok pun ada disitu.


Indri segera menggandeng tangan Adi untuk menemani nya ke arah stand jamu tradisional yang ada di sudut pasar kecamatan Selo.


Stand itu cukup ramai dengan para pelanggan yang rata rata adalah para lelaki. Indri dan Adi segera mendekati si penjual jamu tradisional yang tengah mengikat jamu tradisional yang sudah di kemas ke dalam wadah plastik.


"Mbak,


Jamu sehat lelaki nya masih ada?", tanya Indri sambil tersenyum.


"Masih Mbak,


Mau di minum disini atau di bawa pulang?", tanya si mbak penjual jamu tradisional itu dengan ramah.


"Di rumah saja mbak, kalau sehat nya disini bisa bahaya.


Dan satu bungkus jamu sari rapet ya mbak, biar suami betah di rumah", jawab Indri dengan santainya. Semua orang di stand jamu tradisional itu segera melirik ke arah mereka. Ada yang mengulum senyumnya melihat kemesraan dua orang itu.


Dari jarak agak jauh, Heni memasang wajah kesalnya.


"Dasar tidak tahu malu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2