
Mendengar seloroh Adi, Indri tersenyum tipis. Malam itu mereka berbincang hingga larut malam karena besok Adi harus kembali bekerja.
Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan sebentar lagi pagi akan segera tiba. Tak lama kemudian, suara adzan subuh berkumandang dari masjid Jetis yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Bu Sarmi.
Indri membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Adi usai memakai pakaian nya. Perempuan cantik itu tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang tengah tertidur pulas. Perlahan dia beringsut keluar dari kamar untuk mandi besar.
Usai sholat subuh, Indri menata semua perlengkapan bayi nya untuk persiapan pulang ke rumah. Dia yang tidak tahu cara membuka bagasi mobil harus menunggu Adi selesai sholat subuh untuk memasukkan barang barang bawaannya.
Usai merapikan barang-barang ke bagasi mobil, Adi dan Indri berpamitan kepada Bu Sarmi. Adi duduk di depan bersama Indri yang membawa dua bayi kembarnya. Bu Sarmi mengantar mereka hingga ke tepi jalan. Perempuan sepuh itu sangat gembira.
'Ya Allah, semoga kau berikan kebahagiaan selalu kepada keluarga Indri', dia Bu Sarmi sambil terus menatap mobil Adi yang melaju di jalanan hingga menghilang di tikungan.
Indri terlihat bahagia, meski dua bayi kembarnya mulai aktif bergerak namun senyum terukir di wajah cantik perempuan itu. Adi yang fokus nyopir kebetulan melirik ke arah istrinya itu.
"Kelihatannya seneng banget yank.
Baru dapat apa loh?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.
"Kan sekarang udah punya mobil mas, boleh dong sekali kali piknik bareng anak-anak", ujar Indri sembari tersenyum simpul.
"Hadehhh dasar perempuan..
Kemarin bingung pengen punya mobil. Udah punya ganti pengen piknik. Kog ada saja pengen mu yank yank..", gerutu Adi sambil kembali fokus melihat jalan raya.
"Ya harus mas, sekali kali waktu untuk keluarga juga penting loh.. Duit memang penting tapi keluarga jangan sampai terlupakan karena sibuk cari duit Mas", ujar Indri yang seolah mengingatkan Adi tentang kebutuhan hidup berkeluarga. Adi langsung tersadar bahwa keluarganya juga butuh waktu bersama. Adi tersenyum simpul mendengar omongan istrinya itu.
"Iya nanti ya Yank..
Minggu depan ya kita ajak anak-anak berlibur. Kalau hari biasa aku sibuk kerja. Tolong pengertiannya ya?", mendengar penuturan Adi, Indri langsung tersenyum lebar.
Selepas di tikungan jalan, Adi membelokkan mobilnya ke arah jalan menuju ke arah rumah nya di Desa Mande. Mobil Toyota Rush itu terus meluncur ke arah selatan.
Di pertigaan jalan menuju rumah, Heni melihat Adi sedang mengendarai mobil nampak kaget.
'Loh Mas Adi..
Kog naik mobil? Mobil siapa yang dia pakai?
Jangan jangan dia baru beli mobil', batin Heni sembari terus menatap ke arah mobil berwarna putih keperakan yang meninggalkan nya.
Perlahan Adi memarkir mobil nya di halaman rumah. Bu Siti yang sedang membeli sayur di penjual sayur keliling langganan nya langsung kaget melihat Adi turun dari dalam mobil.
"Adi, Indri...
Kog kalian yang turun? Mobil siapa ini?", tanya Bu Siti yang mendekati Adi dan Indri yang sedang menggendong Yaka dan Rendra dengan tetap menenteng seikat kacang panjang. Dua tetangga nya Jeng Retno dan Bu Ratmi ikut mengerumuni mobil Adi.
"Ya mobil kita lah buk, kalau mobil orang lain mana boleh aku bawa pulang.
Ibuk ini ada ada saja deh", ujar Adi sembari menggendong Yaka masuk ke dalam rumah. Indri mengekor di belakangnya.
"Wah selamat ya Bu Siti,
Mas Adi sudah beli mobil baru nih. Mas Adi memang hebat", puji Jeng Retno sambil tersenyum simpul.
"Iya loh Jeng, putra Jeng Siti ini memang pinter cari duit", imbuh Bu Ratmi sambil terus memandangi mobil Toyota Rush itu.
Tak berapa lama kemudian Adi keluar dari dalam rumah. Dia mendekati Bu Siti.
"Buk, motor Vixion Adi mana?", tanya Adi pada Bu Siti yang masih bengong melihat kedatangan mobil berwarna putih keperakan di depan rumahnya itu.
"Oh eh lha kog tanya aku, kan kemarin kamu bawa sama Indri to Le.. Kog malah tanya aku piye to?", Bu Siti balik menatap wajah Adi.
"Jadi belum diantar kemari sama Danang?
Brengsek nih orang", gerutu Adi sambil membuka kunci layar hape android nya. Dengan cepat ia mencari kontak Danang sang bos showroom mobil. Begitu ketemu, Adi langsung menekan tombol hijau.
📞
Thuuuuuuuuutttttthhhh...
Thuuuuuuuuutttttthhhh..
Danang : Assalamualaikum bos, selamat pagi. Sudah sarapan atau belum?
Adi : Waalaikumsalaam Nang.. Udah deh jangan sok romantis kayak cerita novel. Motor ku kenapa belum kau antar ke rumah?
Danang : Sorry Di, pikep ku kemarin masuk bengkel. Rem nya bermasalah. Hari ini aku janji pasti aku antar motor Vixion mu ya? Ok bos?
Adi : Kampret! Terus aku kerja naik apa dong? Kamu ini ada ada saja ya.
Danang : Untuk hari ini kau naik Toyota Rush mu dulu bos, plis ya.. Jangan ngamuk dong, nanti kau bukan handsome boy lagi loh.
Adi : Sialan kau! Ok hari ini aku pakai mobil. Tapi kalau sampai nanti sore aku pulang kerja tapi motor Vixion ku belum sampai rumah, akan ku telpon Wiwin Wijayanti untuk memberi tahunya bahwa kau adalah orang yang mencuri ****** ***** nya saat mandi di kamar mandi kelas 2 C dulu.
__ADS_1
Danang : Ampun bos ampun.. Aku janji motor mu sampai di rumah sebelum jam 4 sore. Tapi plis jangan kasih tau Wiwin masalah itu. Bisa bisa dia musuhin aku seumur hidup.
Adi : Oke, aku pegang omongan mu Nang. Wassalamu'alaikum.
Ceklek..
📞
Usai menutup teleponnya, Adi segera bergegas masuk ke dalam rumah. Tak sampai setengah jam kemudian, Adi sudah berdandan rapi seperti biasanya.
"Yank,
Aku berangkat kerja dulu ya. Nanti kalau sampai jam 3 motor ku belum datang, kamu telpon aku ya", pamit Adi sambil mengulurkan tangannya ke arah Indri.
"Hati hati kalau kerja ya mas", jawab Indri sembari mencium punggung tangan lelaki yang menjadi pelabuhan hati nya itu segera.
Dhea dan Cinta langsung bersorak kegirangan saat Adi membuka pintu mobil untuk mereka. Dua gadis kecil itu langsung duduk di kursi depan dekat Adi yang memegang kemudi. Mobil itu perlahan meninggalkan rumah Adi.
Bu Siti yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, langsung mendekati mantu nya.
"Itu benar mobil punya Adi, Ndri?, tanya Bu Siti segera.
"Iya Buk, itu mobilnya Mas. Kemarin beli di showroom mobil kota punya teman Mas", jawab Indri sambil tersenyum simpul.
"Kalau gitu harus syukuran ini agar terhindar dari bahaya", ujar Bu Siti dengan cepat.
"Kemarin sudah Buk, di rumah selatan. Masak harus mengulang lagi?", Indri menatap Bu Siti.
"Ya tetap harus di slameti. Tapi gak usah di tahlil. Ayo kita belanja kebutuhan dulu Ndri", ajak Bu Siti dengan penuh semangat.
Indri tak tahu harus berkata apa menghadapi ajakan mertua nya. Dia hanya pasrah saja. Setelah Yu Sih datang, Indri menitipkan Yaka dan Rendra pada perempuan itu kemudian mengikuti ajakan mertuanya.
****
Adi terus melajukan mobilnya menembus keramaian jalan. Usai mengantar Dhea dan Cinta ke sekolah masing-masing, Adi bertujuan untuk menjenguk pekerjaan nya di desa Wanaraja.
Kalau dengan motor Vixion, dia cukup 15 menit sampai di Wanaraja namun kali ini nyaris setengah jam dia baru sampai di Wanaraja.
Kedatangan mobil Toyota Rush berwarna putih keperakan itu langsung memancing perhatian dari Pak Warno, kepala pekerja Adi yang bertugas menjaga tungku pembakar aspal. Juga Renata Suparno Sekdes Wanaraja yang pagi itu juga sudah sampai di lokasi pengaspalan jalan.
Dalam hati mereka bertanya siapa yang datang sepagi ini dengan mobil. Namun begitu melihat Adi turun dari mobil itu, mata mereka langsung melebar. Buru buru pak Warno dan Renata mendekati Adi.
"Waooowww, cring mobil nya.
"Bekas pak No,
Kalau baru mana mungkin plat nomor kendaraan sudah ada kayak gitu", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Walaupun bekas ini masih mulus banget seperti baru bos..
Alhamdulillah bos ku bisa beli mobil", sahut Pak Warno dengan cepat.
"Selamat ya Mas Adi untuk mobil nya. Duh jadi tambah ganteng deh naik mobil", puji Renata sambil tersenyum manis.
"Helehh tanpa naik mobil aku juga sudah ganteng dari sono nya Ren..
Kamu ngapain pagi pagi kemari? Lagi gak ada kerjaan di kantor?", Adi mengalihkan pembicaraan.
"Ambil foto mas, buat dokumentasi desa. Oh iya mas, kata pak Warno hari ini pekerjaan disini selesai. Habis ini mas Adi pindah kemana?", Renata menatap wajah tampan Adi.
"Setelah ini Pak Warno aku liburkan dulu Ren, nunggu uitzet baru dari kantor CV Barata Konstruksi. Katanya di wilayah sekitar sini juga tapi belum tau juga pas nya dimana.
Emang kenapa loh?", Adi balik bertanya kepada Renata.
"Lah mas Adi kan janji mau garap pengaspalan di Wanaraja barat. Hayo lupa ya? Mentang-mentang punya mobil baru", seloroh Renata yang membuat Adi langsung menepuk jidatnya.
"Ya ampun, aku kog jadi pelupa begini. Emang dana nya sudah siap Ren?
Kalau sudah, biar aku droping material mulai besok", jawab Adi segera.
"Udah beres mas, tinggal menunggu mas selesai dulu disini. Makanya tadi aku tanya", Renata kembali memamerkan senyum manis nya.
"Oke siap kalau begitu..
Pak Warno, beritahu kawan-kawan. Habis ini pindah ke Wanaraja barat ya. Nanti alat kerja di kumpulkan rapi karena habis itu pindah kesana", Adi mengalihkan pandangannya pada pak Warno.
"Siap bos, pokok kerja terus", jawab pak Warno sambil tersenyum memamerkan gigi nya yang ompong satu.
Mereka terus berbincang hingga jam menunjuk angka 9 lebih seperempat. Adi melirik jam tangannya.
"Pak Warno, lanjutkan kerja seperti biasa nya ya? Pokoknya hari ini selesai, besok pindah lokasi..
Ren, aku permisi dulu.. Mau ke lokasi pekerjaan sabo dam nih", pamit Adi sembari berjalan menuju ke arah mobilnya. Saat pria ini hendak masuk ke dalam mobilnya, Renata tiba tiba saja memanggilnya.
__ADS_1
"Mas Adi tunggu...", panggil Renata dengan cepat.
Dan ...
Cuppp...!!!
Sebuah ciuman mendarat di pipi Adi. Untung saja kejadian itu terlindungi oleh pintu mobil yang terbuka. Kejutan dari Renata itu begitu cepat hingga Adi terdiam beberapa saat. Belum sempat Adi mengucapkan sepatah kata, Renata sudah berlari menjauhi Adi menuju ke salah satu rumah warga nya.
'Apa mau nya Renata ini? Kenapa dia tiba tiba mencium ku?', batin Adi sambil berkaca di spion, takut lipstik Renata tertinggal di sana. Dengan kasar Adi mengusap pipi kirinya.
Perlahan Adi menjalankan mobilnya menuju ke arah proyek sabo dam sungai Lesa. Sepanjang perjalanan Adi menggerutu sembari sebentar sebentar mengusap pipi kirinya. Dia tidak suka dengan ulah Renata ini.
Melihat mobil Adi meninggalkan pekerjaan pengaspalan jalan di Wanaraja, Renata tersenyum tipis.
'Kamu harus kembali ke aku mas Adi, tak peduli apakah aku harus merebut mu dari istri mu yang sekarang', batin Renata sambil menatap mobil Toyota Rush itu menjauh dari tempat itu.
Mobil Adi terus meluncur meninggalkan Desa Wanaraja menuju ke arah Desa Karangan di kecamatan Gandu. Setelah melewati Rumah Sakit Umum Daerah, Adi mengambil jalur alternatif ke kiri untuk menghindari 2 lampu merah dan pasar besar yang biasanya macet di jam jam segini.
40 menit telah berlalu dan Adi sampai di lokasi pekerjaan sabo dam sungai Lesa di desa Karangan.
Kedatangan Adi dengan mobil baru nya membuat Didik dan Antok syok. Setelah sekian tahun menolak untuk membeli mobil, akhirnya mereka melihat bos nya menaiki mobil.
"Alhamdulillah akhirnya bos ku beli mobil juga", ujar Antok sambil melakukan sujud syukur di lantai ruangan direksi kit mereka.
"Gak usah lebay deh Tok.. Awas jidat mu kotor itu", sahut Adi sambil meletakkan bokong nya di kursi plastik. Lalu dengan cepat dia mengambil sebungkus rokok diplomat favoritnya dan menyulutnya segera.
Selanjutnya mereka bertiga menuju ke pekerjaan sabo dam yang tengah di kelola Adi.
Pekerjaan ini sudah hampir 20 persen berjalan. Galian pondasi di sisi barat rampung, mini pile juga sudah tertanam rapi, tinggal memasang batu dan beton bertulang yang sudah mulai di pasang begesting nya.
Excavator sewaan dari workshop PU juga terlihat bekerja meninggikan tanggul sungai sekaligus memindahkan aliran sungai ke sisi timur. Paino, tukang berpengalaman anak buah Adi sibuk mengarahkan excavator untuk lebih meninggikan badan tanggul sungai agar jika ada banjir sewaktu waktu, struktur pondasi am aman dari gerusan air.
Para pekerja nampak sibuk mengikat besi juga beberapa papan kayu yang digunakan untuk membuat struktur beton bertulang sebagai pondasi sabo dam. Semua nya terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
****
Sam merengut wajah nya. Pengacara nya, Pak Sarjono baru saja selesai membacakan hasil sidang kedua hak asuh Dhea yang baru selesai di laksanakan.
Pada sidang kedua ini memperdengarkan pembacaan pembelaan dari tergugat yaitu keluarga Indri selaku penerima hak asuh Dhea. Rudi selaku pengacara mereka membacakan fakta fakta tentang perlakuan Sam terhadap Indri selama mereka menikah. Adi memang memberikan informasi yang langsung di dapat Adi sewaktu dia berbicara di kantor Rudi tempo hari. Fakta ini benar benar menyudutkan Sam karena tak satu pun yang mendukung nya untuk memperoleh hak asuh Dhea.
"Lantas bagaimana ini Pak Jono? Apa kita tidak punya jalan lain untuk memperoleh hak asuh Dhea?
Dia itu anak ku, aku pengen merawat dan membesarkan nya", tanya Sam dengan menatap wajah Sarjono sang pengacara.
"Sebenarnya masih ada satu kemungkinan terakhir yang bisa kita lakukan Mas Sam. Tapi keberhasilan nya hanya kecil sekali", jawab Pak Sarjono sambil mengelap wajah nya dengan tisu.
"Apa itu Pak Jono?", secercah harapan tergambar di wajah Sam. Dia sangat berharap hak asuh Dhea jatuh kepada nya.
Pak Sarjono melempar tisu ke keranjang sampah yang ada di sudut ruangan kantor nya. Lelaki berumur 50 tahunan itu menghela nafas berat sebelum mulai berbicara.
"Kita harus menghadirkan Dhea pada sidang ketiga nanti".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang kangen Adi dan Indri mana suaranya?
__ADS_1
Ramaikan di kolom komentar ya 😁😁✌️✌️