Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Bantuan Tak Terduga


__ADS_3

Heni langsung menoleh ke arah suara wanita itu. Dengan geram dia langsung berdiri.


"Eh mbak, situ siapa ya? Kenapa ganggu acara kami?", hardik Heni.


Perencanaan cantik berbaju necis layaknya orang kantoran itu langsung mendelik tajam ke arah Heni.


"Eh kamu yang siapa? Bisa-bisanya menggoda suami orang. Dasar pelakor!", balas perempuan cantik itu tak kalah bengis.


"Eh jaga mulut situ ya...


Siapa yang pelakor? Jelas jelas ini pacar saya. Apa urusannya sama situ?", Heni semakin garang.


"Urusan? Ya jelas lah saya tahu siapa lelaki yang berduaan dengan situ..


Ini mas Adi, karyawan di kantor kakak ku. Jelas lah ada urusan nya", ucap perempuan cantik berbaju necis itu segera.


.


Ya dia adalah Maya, adik bos Alex direktur CV Barata Konstruksi. Maya yang baru pulang dari Malang selepas menghadiri acara kawinan temannya tak sengaja melihat motor Vixion Adi terparkir di parkiran lesehan ikan bakar XY. Awalnya dia ingin menyapa Adi setelah sekian lama tak bertemu. Tapi justru yang di lihat tak sesuai dengan harapan nya.


Maya menatap wajah Adi yang terlihat seperti seorang yang baru kena hipnotis. Mata Adi terlihat kosong seperti orang yang melamun.


'Pasti perempuan gatel ini memberikan jampi jampi pada mas Adi. Dasar bedebah!'


Maya dengan cepat menarik tangan Adi agar mandor proyek itu sadar. Adi pun tak melawan dan menuruti kemauan Maya.


"Eh mau apa kamu?


Lepaskan tangan mu dari calon suami ku", Heni berusaha memisahkan Adi dan Maya. Namun Maya lebih gesit. Segera perempuan cantik itu mencekal lengan Heni dan memuntir nya. Lalu mendorong tubuh Heni hingga guru SMA negeri Talang ini jatuh terjerembab ke lantai warung lesehan.


"Kamu jangan macam-macam dengan aku ya? Kalau kamu masih berani deketin Mas Adi lagi, habis kamu", ancam Maya sambil menarik tangan Adi untuk keluar dari warung lesehan ikan bakar itu segera.


"Mas, titip motor mas saya. Nanti tak ambil", ujar Maya pada tukang parkir yang ikut melihat keributan yang terjadi di lesehan ikan bakar XY itu. Tukang parkir itu segera mengangguk mengerti dan Maya dengan cepat membuka pintu mobil Pajero sport putih nya lalu mendorong tubuh Adi untuk masuk. Segera dia berlari menuju ke arah pintu mobil nya dan dengan cepat mengemudikan mobilnya keluar dari tempat itu.


Heni yang baru saja bangkit dari jatuhnya terpincang-pincang berjalan mengejar keluar dari lesehan namun dia kalah cepat dengan Maya yang sudah mengemudikan mobilnya meninggalkan kawasan wisata ini.


"Brengsek! Dasar perempuan jahanam!


Awas kalau sampai ketemu kau!", teriak Heni dengan keras. Namun semua itu tidak berpengaruh pada Adi dan Maya yang sudah jauh pergi.


Dalam mobil, Maya terus menatap ke arah Adi yang terlihat kosong pandangan mata nya.


"Duh kog bisa sih Mas jadi kayak gini?", Maya begitu khawatir melihat keadaan Adi. Dia segera memacu mobil Pajero sport putih nya ke arah kecamatan Sambi yang berdekatan dengan kecamatan Selodono.


Sambil terus menyetir mobilnya, Maya meraba ponselnya. Dia dengan cepat mencari kontak telepon seseorang yang sangat di kenalnya. Namanya Mbah Suryo. Dia adalah penasehat spiritual Maya yang telah berhasil melepaskan Maya dari kekacauan pikiran dulu. Setelah ketemu, Maya langsung menelpon Mbah Suryo.


Thuuuuutttthhhh...


Ceklek..


📞


Maya : Mbah Suryo assalamualaikum.. Ada dimana Mbah?


Mbah Suryo : Waalaikumsalaam. Di rumah Nak Maya, ada apa?


Maya : Kawan saya sepertinya kena pelet Mbah. Tolong dia.

__ADS_1


Mbah Suryo : Langsung bawa ke rumah saja Nak Maya. Sebelum terlambat.


Maya : Baik Mbah. Langsung kesitu. Wassalamu'alaikum.


Mbah Suryo ; Waalaikumsalaam.


📞


Usai menutup panggilan nya, Maya menginjak gas mobil Pajero nya sekuat tenaga. Setelah melewati wilayah kota kecamatan Sambi dan melewati jembatan Kali Babang, Maya segera membelokkan arah ke sebuah gang kecil di sebelah bengkel mobil. Di depan sebuah mushola, Maya menghentikan mobilnya. Perempuan cantik itu segera keluar dari mobilnya dan setengah berlari menuju ke arah pintu sebelah nya. Dengan tergesa, Maya membuka pintu mobil dan segera menggelandang tangan Adi yang seperti orang linglung.


Seorang lelaki paruh baya berpeci hitam memakai kaos oblong langsung membuka pintu rumah besar bercat hijau bergaya klasik Jawa dengan ukiran kayu dari Jepara itu segera. Maya dengan cepat menarik tangan Adi ke dalam rumah.


Lelaki paruh baya yang bernama Mbah Suryo itu segera memegang ubun ubun Adi yang oleh Maya langsung di dudukkan pada sofa berwarna krem yang ada di ruang tamu. Mulut lelaki itu nampak komat kamit membaca sesuatu. Tiba tiba sebuah asap putih tipis muncul di sela sela jari tangan Mbah Suryo. Keringat bercucuran pada dahi lelaki paruh baya itu.


Aaarrrghh!!


Mbah Suryo segera melepaskan tangannya dari atas kepala Adi.


"Setan alas !


Rupanya orang yang pasang pelet pengasihan ini bukan orang biasa, Nak Maya. Tunggu sebentar ya", ujar Mbah Suryo. Maya mengangguk mengerti. Lelaki paruh baya itu segera masuk ke dalam kamar tidur nya. Tak berapa lama kemudian dia membawa sebilah keris pendek berwarna hitam.


"Tolong kau pegang kuat kuat tubuh lelaki ini, Nak Maya..


Aku akan mengeluarkan demit prewangan yang di masukkan dalam tubuh orang ini. Cepatlah!"


Mendengar perintah Mbah Suryo, Maya tak segan segan lagi langsung memeluk tubuh Adi dengan erat. Mulut Mbah Suryo pun segera komat kamit membaca sesuatu.


"Tempat mu bukan disini !


Pulang lah ke orang yang mengutus mu !", teriak Mbah Suryo sambil meletakkan bilah keris hitam itu ke dahi Adi.


Adi meraung keras seperti merasakan sakit yang teramat sangat saat keris Mbah Suryo menempel di keningnya. Mandor proyek ini meronta berusaha melepaskan diri namun Maya yang sudah bersiap untuk memegang Adi terus menguatkan pelukannya.


Mulut Mbah Suryo terus komat kamit membaca mantra. Setelah hampir setengah jam akhirnya sesuatu yang aneh seperti hawa dingin yang menakutkan lepas dari tubuh Adi.


Mbah Suryo menarik nafas lega. Perlahan ia memasukkan kembali keris kecil itu ke sarungnya sembari mengusap peluh yang membasahi keningnya.


Maya sendiri yang hampir menyerah karena kuatnya tenaga yang dikeluarkan Adi untuk meronta, terduduk lemas di samping Adi yang pingsan.


"Sudah beres ini Mbah?", tanya Maya sembari beringsut menjauhi tubuh Adi yang tergolek di atas sofa ruang tamu.


"Beres Nak Maya..


Sepertinya ini dari wilayah selatan sana, loncat nya ke arah tenggara. Pasti dukun nya dari daerah situ. Edan, pelet pengasihan di campuri dengan demit prewangan", ujar Mbah Suryo sembari tersenyum tipis.


Uuuuuuuggghhh !


.


Adi menggeliat dari pingsannya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Ada Maya yang di kenalnya.


"Ma- Maya..


Uhhhh kenapa kau ada disini? Kepala ku kenapa pusing begini?", Adi langsung memijat keningnya yang berkeringat dingin.


"Kau baru saja bebas dari jeratan ilmu pelet mas..

__ADS_1


Kog bisa bisanya sih kamu sampai kena ilmu pelet begitu? Jadi orang kog ceroboh sekali. Untung aku lewat dan melihat motor kamu di parkiran lesehan itu. Kalau tidak sudah habis kamu mas", Maya mengomel tidak karuan.


"Ilmu pelet? Maksud nya?", Adi melongo mendengar ucapan Maya.


"Mbah Suryo,


Tolong jelaskan apa yang terjadi baru saja. Aku kesal sekali dengan kecerobohan orang ini", ujar Maya sembari melengos. Mbah Suryo tersenyum tipis sebelum mulai bicara. Lelaki tua itu menjelaskan secara terperinci tentang keadaan Adi saat di bawa ke tempatnya dan apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Adi melongo mendengar penuturan Mbah Suryo.


"Sekarang tolong Nak Adi jelaskan pada kami apa yang terjadi sebenarnya?", tanya Mbah Suryo segera.


Adi lalu mencobanya mengingat semua kejadian yang terjadi siang hari itu. Dia mulai membeberkan bahwa kedatangan nya ke lesehan ikan bakar XY itu karena undangan salah satu teman SMP nya, Titik Eriyani. Setelah itu dia meminum satu cangkir es jeruk dan bertemu dengan Heni. Setelah itu ingatannya menghilang.


"Jadi perempuan gatel itu yang memasang pelet pengasihan pada mas Adi, Mbah?", tanya Maya yang sedari tadi menyimak obrolan antara Adi dan Mbah Suryo.


"Benar sekali Nak Maya..


Untung saja Nak Adi cepat di bawa kemari. Kalau sampai lewat senja ini, pelet itu akan susah hilang nya", jawab Mbah Suryo sembari tersenyum.


"Saya ucapkan terima kasih atas bantuannya Mbah. Kalau tidak ada bantuan dari Mbah Suryo, mungkin saya akan dalam pengaruh ilmu pelet itu", ujar Adi segera.


"Nak Maya yang sudah berbuat baik Nak Adi, dia yang lebih berjasa untuk mu kali ini.


Oh iya aku punya sesuatu untuk Nak Adi. Tunggu sebentar ya", Mbah Suryo segera bergegas masuk ke dalam kamar tidur nya. Tak berapa lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuah kain putih yang di jahit rapi. Segera dia mengulurkan tangannya pada Adi.


"Bawalah ini sebagai penangkal ilmu pengasihan dan pagar diri.


Ini hanya lantaran, kuasa Allah lebih besar jadi kau harus meminta perlindungan kepada Nya", imbuh Mbah Suryo sembari tersenyum simpul.


Adi kembali berterima kasih atas pertolongan Mbah Suryo. Maya sendiri sudah memberikan sejumlah uang untuk pertolongan yang Mbah Suryo berikan.


"Eh May,


Motor Vixion ku dimana sekarang?", Adi yang baru ingat motor nya langsung menoleh ke arah Maya.


"Di parkiran lesehan ikan bakar XY mas, tadi sudah ku titipkan pada tukang parkir disana. Mau diambil sekarang Mas?", tanya Maya segera.


Adi mengangguk cepat.


Adi dan Maya segera naik ke mobil Pajero sport putih milik Maya usai berpamitan kepada Mbah Suryo. Mobil Pajero itu melaju kencang kearah timur Kabupaten Patria.


Meski Maya pernah berbuat hal yang sama pada Adi, namun kini Maya telah berubah. Dia tetap menyayangi Adi namun sebagai kakak, bukan lagi sebagai pujaan hatinya.


****


Di tempat lain, di Desa Kalirame, Kabupaten Malang...


Mursodo yang sedang asyik duduk bersila di depan anglo tanah liat yang mengepulkan asap putih berbau harum kemenyan langsung terpental ke belakang dan muntah darah saat sebuah hawa dingin aneh menghantam tubuhnya. Dukun cabul itu segera bangkit dari tempat jatuhnya dan mengusap darah segar yang masih tersisa di sudut bibirnya yang hitam.


"BANGSAT!!


Siapa yang berani membalikkan ilmu pengasihan ku? Kurang ajar! Heni pasti patah hati berat ini!


Keparat jahanam setan alas!", umpat Mursodo sembari kembali duduk bersila di depan anglo tanah liat nya. Mulut lelaki bertubuh gempal itu segera komat-kamit membaca mantra yang entah apa maksudnya. Matanya terpejam sesaat kemudian lalu membuka dengan cepat.


Sumpah serapah penuh kebencian dan amarah langsung keluar dari mulut Mursodo. Lelaki paruh baya itu segera menyambar bungkusan kembang telon wangi dan segenggam kemenyan. Dengan cepat ia menaburkannya pada bara api di dalam anglo tanah liat di depan nya.


"Suryo keparat!

__ADS_1


Tunggu pembalasan ku!!"


__ADS_2