
"Maksud mu gimana to Le??
Kamu punya kenalan pengacara juga?", tanya Bu Siti segera. Sedari tadi ibu Adi hanya mendengar keluh kesah besannya tanpa bisa komentar apa-apa. Dia tahu pelik nya masalah ini.
"Wes pokoknya ibuk berdua tenang saja. Semua masalah ada solusinya. Masalah ini biar Adi yang urus.
Dan kau Yank,
Jangan banyak mikir. Percaya deh sama suami mu ini", ujar Adi sambil tersenyum simpul.
Bu Sarmi dan Wawan saling berpandangan sejenak sebelum tersenyum. Mereka menarik nafas lega karena mereka percaya Adi punya solusi untuk masalah ini.
"Sekarang Buk Sarmi silahkan jagongan sama ibuk dulu, saya mau mandi terus ganti baju.
Saya permisi ke belakang dulu", ujar Adi sambil beranjak dari tempat duduknya. Indri segera mengekor di belakang suaminya itu. Usai melepas helm KYT putih half face nya, Adi bergegas menuju ke dalam kamar tidur nya. Indri masih setia mengekor di belakangnya.
"Kau ini kenapa sih yank?", tanya Adi sambil melepaskan jaket kulit nya.
"Mas yakin kita bisa menang dari mereka? Keluarga mantan suami ku itu licik loh mas, mereka akan menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai", Indri menatap Adi seakan meminta jawaban yang bisa menenangkan hati nya.
"Sayang, kau lupa suami mu ini siapa hemm?
Aku sudah terbiasa menghadapi tipikal orang yang hobi bikin masalah seperti itu. Kau tenang saja. Mereka bawa pengacara ya silahkan, kita juga bisa bawa pengacara.
Kau tenang saja, oke?", ujar Adi sambil tersenyum dan mengelus dagunya Indri dengan lembut. Adi mengerti dengan apa yang di khawatirkan oleh istrinya itu.
Indri mengangguk mengerti. Usai melepas hem kotak warna biru favoritnya, Adi menyambar handuk kering yang sudah di siapkan Indri dan bergegas menuju ke arah kamar mandi di belakang. Indri pun segera membuatkan kopi tubruk kegemaran suaminya.
Jeburrrr jeburrrr...
Terdengar debur air di kamar mandi. Indri menatap kesana sambil tersenyum simpul. Dia adalah tipe perempuan pemikir. Kalau ada masalah pasti selalu bergelayutan di otak nya meski Adi tadi sedikit banyak sudah menenangkan pikiran nya.
"Assalamualaikum", terdengar suara dua bocah perempuan di pintu rumah membuat Bu Siti, Bu Sarmi dan Wawan menoleh ke arah pintu.
"Waalaikumsalaam", jawab tiga orang itu bersamaan.
Cinta dan Dhea langsung masuk. Mereka baru saja pulang dari TPQ. Melihat kedatangan Bu Sarmi, Dhea langsung menghambur pada nenek nya itu. Sudah lama dia tidak mengunjungi nya.
"Mak kapan datangnya?", tanya Dhea sambil menyalami Bu Sarmi dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Baru saja Dhea..
Duh Mak e kangen banget sama kamu", ujar Bu Sarmi sambil berkaca-kaca matanya.
"Sama, Dhea juga kangen sama Mak. Ayah sibuk terus Mak, makanya belum bisa ngantar Dhea ke rumah Mak", cerocos Dhea sambil tersenyum.
Cinta pun segera menyalami Bu Sarmi dan mencium punggung tangan perempuan tua itu seperti Dhea. Bu Sarmi tersenyum bahagia melihat dua cucunya itu terlihat sehat tak kurang suatu apa.
"Hayo ganti baju dulu Cinta,Dhea..
Habis itu nanti kumpul lagi sama Mak Sarmi ya", ucap Bu Siti yang membuat Cinta dan Dhea segera mengangguk mengerti. Dua bocah itu langsung menuju kamar mereka berdua.
Bu Sarmi menatap kepergian mereka dengan penuh rasa haru.
"Jeng, masalah hak asuh Dhea jangan di bicarakan lagi ya? Biar Adi saja yang mengurusi nya. Saya gak mau permasalahan ini melukai mental Dhea.
Tolong ya Jeng", ujar Bu Siti penuh harap pada Bu Sarmi.
"Iya Jeng, aku pokok nya tidak rela kalau sampai Dhea kenapa-kenapa. Tak pasrahkan pada Adi urusan ini.
Kebahagiaan Dhea itu yang terpenting bagi saya Jeng", Bu Sarmi kembali mengembun mata nya. Perempuan paruh baya itu sangat menyayangi Dhea karena ikut merawat Dhea sedari kecil.
Sore itu Bu Sarmi ikut nimbrung dalam kehangatan keluarga Adi. Bolak-balik perempuan sepuh itu menggendong Yaka dan Rendra bergantian.
"Eh jeng, sebentar lagi kan pitonan (tujuh bulan) Rendra sama Yaka ya?
Kalau boleh saya pengen di lakukan di rumah ku ya? Sebagai Mbah nya saya juga pengen loh ikut merayakan kelahiran mereka", ujar Bu Sarmi sambil menggendong Yaka.
"Iya Jeng, saya sih tidak keberatan. Nanti coba bilang saja sama Adi. Siapa tahu dia juga mengijinkan", jawab Bu Sarmi yang tengah menggendong Rendra.
"Walah saya minta tolong ke Jeng Siti saja, gak enak kalau saya yang minta langsung ke Nak Adi. Nanti di kira Ndak percaya bahwa dia mampu merawat cucu cucu ku yang ganteng ini", ucap Bu Sarmi dengan sedikit nada meminta bantuan Bu Siti.
Sementara para wanita bercengkerama di ruang tengah, Adi terlihat sedang duduk di teras bersama Wawan. Dua lelaki yang umurnya kurang lebih sama itu nampak menikmati makanan kecil dan rokok sambil bercakap-cakap.
"Kau yakin pengacara mu bisa mengalahkan pengacara bekas suami Indri Di?", tanya Wawan sambil mengunyah pisang goreng.
"Tenang saja Mas...
Aku punya orang yang bisa ku percaya kog. Dia sudah berulang kali berurusan dengan masalah seperti ini.
__ADS_1
Begini ya mas, setau ku nih ya. Jika terjadi perceraian antara suami istri itu ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan. Pertama, jika punya anak maka anak yang berusia di bawah 5 tahun otomatis hak asuh ada pada ibunya. Itu juga tergantung sikon, maksud nya apakah si ibu itu layak atau juga si ayah yang menyerahkan pengasuhan pada ibu. Biasanya ada kesepakatan. Jika anak di atas usia 5 tahun, nanti pihak pengadilan akan menanyakan pilihan kepada si anak apakah dia ingin ikut ibu atau ingin ikut ayahnya.
Yang kedua, harta gono-gini. Setelah bercerai istri berhak mendapat separuh harta hasil kerja sang suami selama mereka menikah di luar harta yang dimiliki suami sebelum menikah.
Yang ketiga, hak anak setelah bercerai. Ayah wajib menafkahi anak nya meski sudah berpisah dengan ibunya. Nah dalam hal ini Indri sudah menang mas karena setau ku Indri berjuang sendiri untuk menghidupi Dhea setelah mereka bercerai.
Dari tiga hal penting ini, aku rasa Indri sudah memenangkan semua nya, jadi mas Wawan gak perlu khawatir lagi", ujar Adi sambil menyeruput kopi tubruk nya.
Wawan langsung manggut-manggut mengerti mendengar jawaban adik ipar nya itu.
"Sepertinya kau tahu banyak soal masalah perceraian Di.. Hebat kamu", ucap Wawan seraya menatap wajah Adi.
"Ya kalau tahu banyak sih enggak mas, cuma aku kan pernah cerai. Sebelum cerai dengan ibunya Cinta, aku mempelajari tentang hukum perceraian di pengadilan agama.
Makanya sedikit banyak aku ngerti Mas urusan seperti ini", Adi tersenyum tipis sembari mengambil sebatang rokok Diplomat favoritnya lalu menyulutnya sebatang. Asap putih segera mengepul dari bibir nya.
Wawan langsung menarik nafas lega usai mendengar penjelasan Adi. Dia yang awam hukum sempat panik tadi gara-gara tangisan Bu Sarmi mengenai tekanan dari keluarga Sam, bekas suami Indri yang menginginkan hak asuh Dhea.
Jam sudah menunjukkan angka 8 lebih 45 menit.
Bu Sarmi yang baru saja meletakkan Yaka di tempat tidur menemui Wawan yang asyik mengobrol dengan Adi di ruang tamu.
"Le, ayo pulang.. Sudah malam ini", ujar Bu Sarmi sambil menatap ke arah Wawan. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya. Mereka berdua segera menuju ke arah ruang tengah.
"Jeng Siti,
Saya pulang dulu nggeh? Sudah malam ini", pamit Bu Sarmi pada besannya yang masih asyik nonton sinetron yang lagi ngetrend di tv bersama Indri dan kedua cucunya.
"Loh kok gitu Jeng? Gak mau nginap gitu?", tanya Bu Siti sambil berdiri dari rebahan nya.
"Kapan kapan lagi saya kemari nginap Jeng. Rumah kan tidak ada orang", jawab Bu Sarmi bersikeras untuk pulang ke rumah nya.
"Janji loh Jeng, kapan-kapan nginap di sini", ujar Bu Siti yang segera mendapat senyuman dari Bu Sarmi.
"Ndri, ibuk pamit pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik", Bu Sarmi mengalihkan pandangannya pada putri bungsunya itu.
"Iya buk,
Ibuk juga hati hati di jalan. Nanti kalau mas Wawan nyetir nya kencang ibuk tepuk aja punggungnya", Indri tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bu Sarmi. Perempuan paruh baya itu segera menyambut uluran tangan Indri.
Usai berpamitan, motor Supra Wawan melaju meninggalkan kediaman Adi untuk pulang ke rumah mereka di desa Marga.
Usai mengunci pintu rumah, Indri bergegas menuju ke arah kamar tidur nya mengikuti langkah sang suami.
Adi melepas celana pendek nya berganti dengan sarung karena dia tidak bisa tidur jika memakai celana ketat.
"Mas...", suara Indri membuat Adi menoleh.
"Apa Yank?
Ada yang mau kamu omongkan?", tanya Adi sambil tersenyum manis. Mandor proyek itu segera merebahkan dirinya di kasur lipat tempat tidur nya.
Perlahan Indri pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Adi. Kepala perempuan cantik itu di senderkan pada dada bidang sang suami.
"Mengenai masalah Dhea tadi. Mas beneran punya kenalan pengacara hebat?", tanya Indri dengan suara pelan. Rupanya dia masih kepikiran terus dengan masalah itu.
"Ya ada lah Yank, memang kenapa??", Adi menoleh ke arah wajah cantik Indri yang terlihat sedikit takut.
"Pasti bayaran nya mahal ya Mas? Kan biasanya pakai pengacara itu harus bayar mahal", ujar Indri sembari menunduk. Adi tersenyum simpul mendengar omongan Indri. Sekarang dia mengerti apa yang di khawatirkan oleh istrinya itu. Timbul ide jahil Adi untuk mengerjai Indri.
"Ya mahal yank, pokoknya banyak duit deh. Kenapa sih?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.
"Duit nya mas Adi nanti habis buat bayar pengacara kan mas? Aku jadi gak enak sama Mas, yang harus keluar duit banyak untuk mengurus Dhea", Indri semakin menekuk wajahnya di dada Adi.
"Ya ganti saja yank, kan gampang", senyum licik tersungging di bibir Adi.
"Aku kan gak punya duit Mas, mana bisa ganti", Indri mendongakkan kepalanya pada Adi.
"Siapa yang minta duit dari kamu yank?", senyum Adi semakin lebar.
"Lha terus ganti pakai apa Mas?", Indri kebingungan dengan omongan Adi.
"Ganti pakai ini", ujar Adi sambil meremas bokong istrinya itu segera. Paham sudah Indri dengan omongan Adi. Perempuan cantik itu mendengus kesal.
"Ihhh dasar mesum", omel Indri sambil membuang muka ke arah lain nya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Ayo lah Yank..
Aku pengen nih", ujar Adi sambil mendekatkan wajahnya di leher sang istri. Dengusan nafas Adi yang menyentuh kulit leher Indri membuat perempuan itu merinding disko.
__ADS_1
Perlahan ciuman ciuman kecil Adi daratkan di leher jenjang istrinya itu. Indri mendesah panjang apalagi saat tangan kiri Adi mulai menyelusup ke dalam baju baby doll yang dia kenakan. Sentuhan lembut Adi pada kedua gunung kembar nya membuat Indri semakin melayang.
Adi terus melancarkan aksinya. Satu persatu tangan kanannya melepaskan kancing baju Indri. Hingga sebuah pemandangan indah terhampar di depan mata Adi. Mandor proyek itu menelan ludah nya. Lalu dengan cepat membenamkan wajahnya di tempat yang semestinya.
Selanjutnya terdengar suara lenguhan panjang nan nikmat dari kamar tidur mereka. Malam itu terasa lebih panas dari malam biasanya.
Adi tersenyum simpul melihat istrinya memejamkan mata di sampingnya. 3 ronde pertarungan sengit antara mereka telah usai.
"Yank...", ujar Adi sambil mengelus rambut Indri yang hitam.
"Hemmmmmmm apa mas?", Indri membuka mata nya yang terasa berat.
"Jangan tidur dulu lah", ujar Adi sembari menatap ke wajah istri nya itu.
"Kenapa lagi sih mas? Aku ngantuk nih", balas Indri sambil tersenyum tipis.
"Ini belum mau tidur", Adi memegang tangan Indri dan meletakkan nya di bawah perut nya. Mata Indri langsung terbelalak ketika merasakan sesuatu yang keras disana.
"Kog masih keras saja sih? Apa gak capek ini?", gerutu Indri sambil sedikit meremasnya.
"Emang kurang yank.. Yuk lagi", ujar Adi sambil kembali melanjutkan tugasnya sebagai seorang suami. Indri pun tidak bisa menolak permintaan suaminya dan kembali melayani gempuran Adi untuk kali keempat ronde pertarungan sengit mereka.
Keduanya lantas tertidur pulas sambil berpelukan erat. Untung saja dua anak kembar mereka pulas tidur nya.
Adzan subuh menggema dari arah mushola Kyai Harun. Indri yang terbangun lebih dulu menatap wajah tampan suaminya dengan penuh kasih. Perempuan cantik tersenyum simpul. Teringat pada pertarungan sengit antara mereka semalam. Indri segera mencium bibir seksi suaminya dengan lembut.
Adi menggeliat dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang basah tengah menyentuh bibirnya. Saat matanya terbuka, dia mendapati bahwa Indri sedang mencium bibir nya.
"Masih kurang Yank?", ucapan Adi sontak membuat Indri kaget.
"Ih mas deh.. Seneng banget bikin aku kaget", ujar Indri sembari mulai memakai pakaian nya.
"Mau lagi dong yank", ujar Adi sambil senyum-senyum tengil.
"Cukup mas. Aku capek nih..
Oh iya kalau mas Adi bisa menangkan gugatan Sam untuk Dhea, Indri janji bakal kasih jatah buat mas Adi sebanyak yang Mas mau selama satu bulan penuh", tantang Indri sambil tersenyum penuh arti. Dia ingin memberi motivasi kepada Adi untuk memenangkan gugatan dari mantan suaminya tapi bingung caranya seperti apa.
Adi langsung menyeringai lebar mendengar omongan istrinya itu.
"Ok sayang,
Janji ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wahhhhh 🤤🤤🤤🤤🤤
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁😁🙏😁🙏😁😁
__ADS_1