Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Ilfil


__ADS_3

Perlahan Adi merebahkan tubuh Indri di kasur busa yang menjadi ranjang tidur Adi setelah Indri melahirkan.


Indri tersenyum lembut saat suaminya itu mengecup kening nya dengan mesra. Diam diam perempuan itu menikmati setiap sentuhan Adi dengan penuh perasaan cinta.


Perlahan ciuman Adi merambat turun ke arah hidung lalu berhenti di bibir mungil Indri. Seperti sudah di siapkan, mereka mulai saling memagut bibir pasangan nya.


Di sisi lain, tangan Adi mulai bergerilya ke dalam baju tidur Indri. Setelah menemukan yang di cari nya, perlahan Adi mulai mengelus nya yang membuat Indri semakin blingsatan seperti cacing kepanasan.


Kalau nafas Indri di awal masih teratur, kini dia mulai ngos-ngosan mengatur nafasnya akibat serangan Adi yang pelan tapi pasti. Dengan cepat Indri melepaskan pagutan bibir Adi untuk mengambil jeda nafas.


Huh huh huhhh......


Terdengar suara nafas Indri yang membuat Adi tersenyum penuh arti pada istrinya itu.


"Lanjut sayang?", tanya Adi dengan lembut sambil tersenyum simpul menatap wajah cantik Indri.


"Harus dong Mas", jawab Indri sambil tersenyum manis melihat wajah lelaki yang telah memberikan 2 buah hati itu.


Mendengar ucapan sang istri, Adi dengan cepat melanjutkan kegiatannya malam itu.


Satu demi satu pakaian mereka terlepas dari tubuh mereka masing-masing. Adi dengan lembut mulai menjalankan tugas nafkah batin nya pada sang istri. Indri menggigit bibir bawahnya saat Adi mulai melakukan tugasnya sebagai suami. Selanjutnya yang terdengar hanya suara erangan kenikmatan dan lenguhan panjang penuh cinta dari dalam kamar mereka.


Malam itu mereka memadu cinta berulang kali. Karena efek jamu sehat lelaki yang di minum Adi membuat mandor proyek itu mampu membuat Indri lemas tak berdaya menghadapi gempuran bertubi-tubi dari sang suami. Ibu 4 anak itu hanya bisa pasrah saja menerima setiap perlakuan suaminya. Hingga hampir subuh, dua orang itu bercinta. Kedua nya lalu tertidur pulas dengan saling berpelukan.


Adzan subuh berkumandang keras dari mushola Kyai Harun yang tidak terlalu jauh dari rumah Adi.


Bu Siti yang sudah mengambil air wudhu segera menyambar sajadah nya dan bergegas hendak pergi menuju keluar rumah.


Saat melewati lorong yang ada di samping kamar Adi dan Indri, perempuan sepuh itu sempat menoleh kearah kamar tidur yang masih terkunci rapat.


'Tumben Indri belum bangun', batin Bu Siti sambil melangkah menuju pintu rumah. Perempuan paruh baya itu segera membuka pintu rumah lalu menguncinya usai keluar. Dengan sedikit tergesa Bu Siti berjalan menuju ke arah mushola Kyai Harun karena terdengar bunyi iqomat yang menandakan bahwa sholat subuh segera dimulai.


Setengah jam kemudian, Bu Siti sudah kembali usai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Saat masuk ke dalam, perempuan paruh baya itu kembali menoleh ke arah kamar tidur Adi dan Indri, namun ternyata masih tetap saja seperti tadi.


Hingga jam 6, Indri dan Adi masih juga belum terbangun dari tidurnya. Cinta dan Dhea yang baru selesai mandi, dengan kompak menuju ke arah kamar tidur Adi dan Indri.


"Ayaaaaahhhhhhhh!!!!"


Teriakan keras Dhea dan Cinta langsung membuat Adi dan Indri membuka mata bersamaan. Mereka berdua segera melompat dari tempat tidur dan buru buru memakai pakaian mereka berdua. Dengan sedikit terburu-buru mereka segera bergerak menuju pintu kamar.


Kriiiieeeeeetttttt..


Begitu pintu kamar terbuka, dua gadis kecil mereka sudah berdiri di depan pintu kamar dengan muka cemberut.


"Ayah,


Kenapa bangun siang?", tanya Dhea dengan cepat.


"Ayah itu.... Semalam ayah susah tidur, jadi bisa tidur nya sampai larut malam", jawab Adi sambil tersenyum kecut dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Benar kah itu Buk?", ganti Cinta yang melontarkan pertanyaan seolah menyelidiki ucapan Adi pada Indri.


"E-eh iya Nak,


Ayah mu memang susah tidur semalam. Ayo sekarang kalian cepat ganti baju. Nanti terlambat untuk berangkat ke sekolah", ujar Indri sambil berjalan menggiring dua gadis kecil nya. Dua bocah itu menuruti omongan Indri. Sebelum sampai di depan TV, Indri menoleh ke arah Adi dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Adi nyengir kuda, lantas bergegas menuju ke arah kamar mandi yang ada di belakang. Beberapa saat kemudian, terdengar suara deburan air dari kamar mandi.


Rasa lelah Adi dengan pertarungan semalam suntuk dengan istri nya, seketika lenyap saat air dingin kamar mandi menguyur tubuhnya.


10 menit kemudian, Adi sudah keluar dari kamar mandi. Dengan melilitkan handuk besar yang menutupi tubuh nya, pria ganteng itu berjalan melewati Bu Siti yang tengah asyik memotong sayuran. Mendengar langkah kaki Adi, Bu Siti menoleh ke arah putra bungsu nya itu.


"Lain kali, kalau begituan mbok tau waktu..


Sampai di bangunin anak nya. Dasar mesum", omel Bu Siti sambil mendelik ke arah Adi.


"Adi kecapekan buk,


Pekerjaan menumpuk. Mana sempat mikir begituan", ujar Adi sambil tersenyum simpul.


"Alah, mulutmu boleh berkilah tapi tanda merah di leher mu itu bukti nyata", gerutu Bu Siti sambil melengos pergi ke belakang.


Mendengar ucapan Bu Siti, Adi penasaran. Buru buru dia menuju ke kamar tidur untuk membuktikan kebenaran omongan ibunya itu.


"Ya ampun!!!", teriak Adi sambil menepuk jidatnya.


Bagaimana tidak kaget, sepuluh tanda merah terlihat jelas di leher Adi. Bite mark itu terjajar rapi di kiri dan kanan batang leher nya. Rupanya itu tadi makna senyum penuh arti yang di lemparkan oleh Indri.


'Pantesan saja tadi senyum senyum ganjen gitu', batin Adi sambil mulai memakai pakaian yang sudah disediakan oleh istri tercintanya. Pagi itu dia memakai kaos merah di lapisi hem kotak warna biru yang di padukan dengan celana jeans sewarna. Selesai berdandan, pria empat anak itu segera membuka tas ransel punggung nya untuk mengecek beberapa kertas lay out pekerjaan serta dua buku direksi. Setelah melihat semuanya ada, Adi memasukkan handphone berikut power bank ke dalam tas kecil nya berikut sebungkus rokok diplomat favoritnya. Usai semua nya ada, Adi segera melangkah keluar dari kamar tidur nya, kemudian mengambil sepatu safety yang ada di rak sepatu di samping pintu kamar.


Pria ganteng itu lalu melangkah menuju ke arah motor Vixion nya yang terparkir di salah satu sisi ruang tamu rumahnya.


Rupanya Indri yang baru mengantar Dhea dan Cinta sudah sampai di rumah. Motor matic yang selama ini menjadi kaki kedua Adi setelah Vixion, terdengar berhenti di teras rumah Adi.


"Sudah siap mas?", tanya Indri sambil tersenyum tipis mendekati suaminya yang hendak mengeluarkan motor Vixion dari tempat parkir nya.


"Sudah yank,


"Wassalamu'alaikum yank", ucap Adi sesaat sebelum men-start motor nya.


"Waalaikumsalaam mas.


Hati hati kalau kerja. Cepat pulang kalau tidak ada kepentingan", pesan Indri yang di balas anggukan kepala dari Adi. Motor Vixion itu segera meluncur membelah jalanan.


Indri memandang kepergian suaminya sampai motor Vixion itu menghilang di balik tikungan jalan.


Motor Adi terus melaju meninggalkan tempat tinggalnya. Sesampainya di tikungan jalan, Heni yang juga hendak berangkat mengajar berpapasan dengan Adi.


Heni berusaha mengejar Adi namun karena perbedaan kecepatan, akhirnya guru SMA negeri Talang itu tertinggal jauh di belakang.


Begitu memasuki perempatan desa Jati, Adi langsung mengegas tunggangan nya dengan cepat ke arah desa Wanaraja. Heni yang di belakang hanya bisa pasrah melihat kecepatan motor Adi.


'Lain waktu aku pasti bisa bersama mu mas', batin Heni sambil terus menatap motor yang sesaat kemudian menghilang di keramaian jalan raya.


Tak sampai 20 menit, Adi sudah sampai di lokasi pekerjaan nya di desa Wanaraja. Hari ini adalah mulai pengaspalan jalan karena pekerjaan onderlaag sudah rampung kemarin.


Adi segera memarkir motornya di dekat tempat pembakaran aspal yang di tunggu oleh pak Warno, orang kepercayaannya. Usai melepas helm dan jaket kulit nya, Adi bergegas mendekati pak Warno yang tengah asyik memasukkan potongan kayu kering ke dalam tungku perapian.


"Sudah bisa untuk mulai pak No?", tanya Adi sambil tersenyum.


"Kalau untuk dasaran sih sudah bisa bos, tapi kalau untuk finishing ya satu jam lagi", jawab pak Warno seraya menyeka peluh yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Tukang kicir nya ada berapa pak No?


Kelihatan nya aku gak kenal sama orang yang sampean bawa ini", Adi menatap ke arah para pekerja yang tengah sibuk mengayak batu split ukuran 0/5 di salah satu sudut jalan.


"Iya bos, soalnya beberapa orang lama seperti Aziz dan Dwi sudah ikut orang lain.


Yang kicir sekarang Farid dan Jono itu", ucap pak Warno sambil menunjuk ke arah dua orang lelaki yang tengah membuat wadah kicir aspal dari kaleng bekas roti.


"Oh gak apa apa kog pak No,


Yang penting mereka bisa kerja buat ku itu sudah cukup kog", ujar Adi sambil mengeluarkan sebungkus rokok diplomat dari tas kecilnya. Sebentar kemudian Adi sudah menyulut rokok nya, dan perlahan menghisapnya dengan santai.


Siang itu pekerjaan di Desa Wanaraja berjalan lancar. Menjelang tengah hari, Adi menoleh ke arah jam tangan sporty nya. Angka sudah menunjukkan pukul 11 lebih seperempat. Adi segera memakai jaket kulit nya.


"Mau muter muter bos?", tanya pak Warno yang melihat Adi memakai jaket kulit.


"Iya pak No, mau ke kecamatan Gandu yang proyek jembatan.


Usahakan nanti sore sampai di bawah pohon mahoni itu ya pak No", tunjuk Adi pada sebuah pohon mahoni besar yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat nya parkir.


Pak Warno mengangguk mengerti. Adi segera memakai helm KYT putih half face nya. Belum sempat men-start motor Vixion kesayangannya, ponsel pintar Adi berdering.


Adi segera membuka layar kunci handphone nya. Dari nama tertera sebuah nama yang selalu membuat Adi ilfil banget.


Bu Tiara CV


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa kabar semua nya?


Maaf kalau update episode terbaru nya lama.


Author nya lagi banyak kerjaan.

__ADS_1


Setelah ini insyaallah rajin update episode selanjutnya.


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2