Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Selamat Pagi Mas Adi


__ADS_3

Saat Pak Carik Ariyono menoleh, wajah cantik Susi tersenyum simpul. Pesona janda kembang itu benar-benar luar biasa.


"Kog nyari Mas Adi?


Tadi di warung diam saja. Hayo ngaku kamu suka ya?", goda Pak Ariyono sambil tersenyum simpul.


"Ah Pak Carik bisa saja..


Tadi saya salah hitung berapa kembalian nya pak, ini mau balikin duitnya", ujar Susi yang merona merah wajahnya mendengar godaan Pak Carik Ariyono.


"Besok saja kalau mau kasih kembaliannya. Wong orang nya besok pagi juga kesini lagi kog. Soalnya besok ada acara selamatan di tepi Kali Lesa situ.


Acaranya Mas Adi yang mau mulai pekerjaan", ucap Pak Carik Ariyono sambil menatap ke wajah cantik Susi.


"Oalah gitu ya Pak Carik. Memang perlengkapan selamatan pesan tumpeng ke siapa pak?", tanya Susi segera. Mendengar pertanyaan Susi, Pak Carik Ariyono tertegun sejenak. Dia lupa dengan pesanan Adi untuk mencarikan katering makanan yang bisa membuatkan tumpeng dan ubo rampe selamatan itu.


"Aduh saya lupa kalau besok di rumah istri ku ada acara posyandu.


Heh Sus, kamu bisa kan bikin tumpeng nasi kuning dan semua perlengkapan untuk selamatan?", Pak Carik Ariyono menatap wajah cantik Susi dengan penuh harap.


Susi pun tersenyum simpul.


"Kalau masalah tumpeng nasi kuning saja beres Pak Carik, cuma anggaran nya berapa banyak?", Susi balik bertanya kepada Pak Carik Ariyono.


"Oh kalau masalah anggaran beres Sus, kamu buatkan saja yang bagus. Anggaran nya sekitar 2 jutaan. Dari mas Adi tadi di kasih DP 1 juta, kalau kurang nanti tak WA orang nya.


Bagaimana? Bisa?", Pak Carik Ariyono menanti jawaban dari Susi. Janda kembang itu langsung tersenyum lebar.


"Beres Pak Carik. Memang acaranya jam berapa to pak?", tanya Susi sambil menatap ke arah Pak Carik Ariyono.


"Ya pagi Sus, kalau bisa jam 8 sudah di tata di pinggir Kali Lesa sana.


Itu berarti jam 7 kamu masaknya sudah harus beres", ujar Pak Carik Ariyono sembari tersenyum tipis.


"Waduh mesti ekstra cepat kalau gitu pak. Tapi aku siap kog Pak asal DP di kasih sekarang buat belanja", Susi meringis memamerkan gigi nya yang gingsul.


Pak Carik Ariyono segera mengambil satu jepit uang ratusan ribu di tas kerja nya. Kemudian menyerahkannya kepada Susi.


Sambil tersenyum manis, Susi menerima duit buat belanja kebutuhan selamatan dari pak Carik Ariyono.


"Yo wes, kamu cepat belanja sana. Aku tak pulang dulu.


Jangan lupa besok pagi jam 7 aku ke tempat mu untuk mengambil tumpeng nasi kuning nya", ujar Pak Carik Ariyono sembari men-start motor matic bebek nya.


"Siap Pak Carik", jawab Susi sambil tersenyum tipis.


Motor matic bebek nya Pak Carik Ariyono melaju meninggalkan kantor desa Karangan, meninggalkan Susi yang baru menerima orderan tumpeng nasi kuning dan ubo rampe selamatan.


Susi segera melangkah menuju ke arah warung makan nya. Hari ini dia tutup lebih cepat karena ada orderan dari Adi. Suminem yang jualan sosis dan pop es di samping nya terheran heran melihat Susi menutup pintu warung makan nya padahal masih jam 3 sore karena biasanya perempuan cantik itu menutup warung makan nya jam 5 pas sebelum adzan magrib.


"Lo kog sudah mau tutup Sus? Ada acara ya?", tanya Suminem yang penasaran.


"Ada orderan gede Yu Nem. Makanya saya mau siapkan semua nya. Gak pengen kecewakan orang", jawab Susi sambil mengunci pintu warung nya.


"Orderan apa Sus? Mbok aku diajak to biar kecipratan rezeki nya", ujar Suminem dengan memelas. Susi berpikir sejenak mendengar ucapan Suminem. Dia tahu ekonomi keluarga Suminem yang pas-pasan karena suaminya hanya bekerja sebagai tukang cari pasir di Kali Lesa.


"Hemmmm boleh lah..


Kalau mau bantu aku urus orderan ini, Yu Nem aku kasih 100 ribu. Wes pokoknya Yu Nem bantu bantu apa saja.


Mau Yu Nem?", tanya Susi sambil menatap wajah Suminem yang langsung sumringah mendengar kata 100 ribu. Itu adalah penghasilan nya jualan pop es dan sosis selama 4 hari.


"Wah mau banget Sus,


Yowes aku tak nyuruh Santi untuk menunggu pop es nya. Kamu tunggu sebentar ya", ujar Suminem yang langsung melangkah mencari Santi putri sulungnya yang masih kelas 1 SMP.


Tak berapa lama kemudian, Suminem datang bersama Santi. Usai menyuruh Santi menjaga stand pop es dan sosis nya, Suminem langsung ikut di motor matic bebek nya Susi. Mereka menuju ke arah tukang jagal ayam Pak Supri di ujung desa Karangan.


Usai belanja ayam kampung seekor dan ayam pedaging 2 ekor di pak Supri, mereka membeli aneka bumbu dapur di tempat Bu Hanik yang terkenal komplit menjual aneka bumbu dapur. Tak lupa membeli kentang dua kilogram, mie kering 1 kotak dan daun kol 2 biji.


"Tahu nya gak beli sekalian Sus? Ini baru datang loh", tawar Bu Hanik yang melihat Susi membeli banyak barang di warung sayurnya.


"Waduh di warung masih banyak Bu tahu saya. Nanti habisin stok yang disana dulu", jawab Susi sambil tersenyum tipis. Bu Hanik mengangguk mengerti.


Usai belanja kebutuhan, Susi dan Suminem segera pulang untuk mengolah bahan makanan yang sudah mereka persiapkan.


**

__ADS_1


Adi terus mengegas tunggangan nya melaju ke arah kecamatan Selo tempat tinggalnya. Ayah empat anak itu terlihat tenang usai menata persiapan selamatan yang dia pasrahkan pada Pak Carik Ariyono.


Tadi dia juga sudah menelepon Bu Tiara agar datang ke tempat acara selamatan. Meski sempat menggerutu karena acaranya terlalu pagi, Bu Tiara mengiyakan karena dia sendiri yang mengatakan ingin ikut bergabung bersama. Adi sempat terkekeh kecil mendengar gerutu Bu Tiara.


Selepas melewati lampu merah pasar Kecamatan Selo, Adi berbelok arah ke kiri. Di depan terlihat seorang penjual es krim.


Adi berhenti dan membeli 4 bungkus es krim untuk dua anak gadisnya yang menyukai makanan itu.


Usai membayar Adi kembali melajukan motornya menuju ke arah rumah nya di Desa Mande.


Di tikungan jalan dekat rumahnya, Adi melihat Bu Mamik dan Heni yang tengah berboncengan dari arah rumah Adi.


'Darimana mereka berdua? Pakaian nya rapi seperti baru pulang arisan', batin Adi sambil terus mengegas motor Vixion kesayangannya.


Heni yang melihat Adi langsung memencet klakson motor matic nya dua kali.


Thiiinnnnnn... Thiiinnnnnn...


Adi mengangguk saja seraya menggeber motornya menuju ke rumah. Saat Adi hendak masuk ke halaman terlihat tetangganya keluar satu persatu dari dalam rumah. Adi segera memarkir kendaraan bermotor nya di teras samping rumah.


Sambil melepaskan helm KYT putih half face nya, dia berjalan menuju ke dalam rumah nya.


"Loh ada arisan to Yank? Kog aku gak di kasih tau..", Adi mendekati Indri yang menyambut kedatangan nya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Begitu Adi menyambut uluran tangan Indri, perempuan cantik itu segera mencium punggung tangan suaminya.


"Lha memang kenapa mas kalau tahu rumah ada acara arisan?", Indri balik bertanya kepada suaminya.


"Ya setidaknya mas kan bisa pulang cepet Yank.. Ikut mendengar ceramah agama" , ujar Adi sambil tersenyum simpul.


"Preeeeeeettttt...


Sok sok an dengar ceramah agama Di Di.. Wong kamu dengar pidato kantor desa saja ngantuk apalagi dengar ceramah agama Kyai Harun..


Pasti ngorok kamu", sergah Nita yang tengah menggulung karpet dengan Yu Sih.


"Wah kakak ipar jahat ya begini nih..


Ada berita adik ipar mau tobat ada saja caranya untuk mencela. Dasar gak ada akhlak", tukas Adi tak mau kalah.


"Kenyataan Di, tempo hari acara sunatan nya Aldi kamu sok sok an ikut dengar maulidhatil khasanah dari Mbah Yai Anam, eh ngorok di sudut ruang tv.


Aku itu kalau tidak ada nyatanya ya gak akan ngomong", Nita terus saja ngeyel.


Tanya aja sama Ayank kalau gak percaya. Ya yank ya?", Adi menoleh ke arah Indri seakan mencari bantuan dari istri nya itu untuk mengalahkan omongan Nita. Indri tersenyum simpul mendengar omongan Adi.


"Benar Mbak Nit, pas di acara nya Aldi itu mas memang kecapekan..


Nyampe rumah langsung minta pijit kog", bela Indri untuk Adi yang membuat mandor proyek itu tersenyum penuh kemenangan pada Nita.


"Tuh dengar kan? Makanya jangan sok tau deh mbak", ujar Adi sambil menjulurkan lidahnya ke arah Nita.


"Alah kalian memang sekongkol. Pokoknya aku tidak percaya kalau kau bisa tahan dengar ceramah agama", ucap Nita sambil melengos pergi menuju ke arah dapur.


"Kalian ini sudah punya anak masih saja ribut terus. Gak malu dilihat mereka?


Sudah sekarang semuanya ayo cepat bantu beres-beres nya", Bu Siti melerai perdebatan mereka berdua.


Adi segera mencari Cinta dan Dhea yang ternyata menonton film kartun dari negeri jiran di ruang tengah. Segera pria tampan nan karismatik itu segera mendekati dua anak gadisnya.


"Anak-anak ayah,


Lihat ayah pulang bawa apa ini?", mendengar suara Adi, Dhea dan Cinta segera menoleh. Mereka langsung berebut untuk bersalaman dengan ayah mereka.


Usai bersalaman, Adi memberikan masing-masing satu cup es krim kepada Dhea dan Cinta. Dua gadis kecil itu tersenyum penuh kegembiraan.


Usai menyimpan sisa es krim di kulkas, Adi segera menuju ke dalam kamar tidur nya untuk berganti baju. Lalu pria bertubuh kekar itu segera keluar dengan memakai kaos singlet dan celana pendek nya.


Kemudian dia menuju ke arah dapur. Tampilan Adi yang atletis membuat Indri mendelik ke arah suaminya, apalagi di dapur masih ada Yu Sih, Nita, dan dua orang tetangga sebelah rumah yaitu Dwi dan Endah.


"Mas,


Ganti baju mu sana!", bisik Indri yang sedang menggendong Rendra.


"Lha kenapa? Wong biasanya juga pakai pakaian ini kog", balas Adi sambil menatap heran kearah Indri.


"Iya kalau gak ada orang, kamu boleh pakai baju kayak gitu. Tuh coba lihat Dwi sama Endah dari tadi melirik mu terus", ujar Indri sembari melotot ke arah Adi.


Adi segera melirik kearah dua orang tetangga sebelah rumah nya itu, dan memang benar dua ibu muda itu berulang kali mencuri pandang ke arah nya. Adi buru buru balik ke kamar, memakai sarung dan kaos oblong nya lalu ke dapur untuk mengisi perut nya yang keroncongan. Dwi dan Endah langsung kecewa melihat perubahan tampilan Adi, dan Indri tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Sore segera berganti malam. Adi merebahkan diri di kasur lipat yang menjadi tempat tidur nya setelah Rendra dan Yaka lahir.


"Capek ya Mas?", tanya Indri yang baru saja menurunkan Yaka dari gendongan nya.


"Iya Yank, capek lah namanya juga kerja kog", jawab Adi sambil tersenyum simpul.


"Mau aku pijit mas?", tawar Indri sambil beringsut turun dari tempat tidur nya. Gerakannya pelan takut membangunkan Rendra dan Yaka yang tengah tertidur pulas.


"Mau banget Yank..


Memang Yayank gak capek gitu? Kan seharian ini repot bantu bantu ibuk di dapur", ujar Adi yang segera memiringkan tubuhnya ke arah Indri yang baru turun dari tempat tidur nya.


"Yah sudah resiko mas, kalau gak mau capek ya bayar pembantu. Tapi sayang duit nya hehehehe..


Kebutuhan kita kan banyak mas, untuk sekolah anak anak juga mas harus mempersiapkan masa depan untuk dua anak kembar kita.


Kalau mas capek cari duit, ya aku harus capek juga ngurusi mereka. Itulah gunanya berumah tangga, saling membantu", ucap Indri sambil tersenyum simpul.


"Duh yang baru dengar Kyai Harun ceramah udah bisa ya jadi pengertian", ejek Adi yang membuat Indri mencubit pinggang suaminya itu.


"Aaaawwww aduh duh sakit Yank", Adi meringis kesakitan.


"Makanya kalau istri lagi pengertian jangan macam-macam. Apalagi jika sampai main gila, uh bisa tak potong anu mu mas", ancam Indri dengan mendelik tajam ke arah Adi.


"Iya iya Yank, galak amat deh", ujar Adi yang meringis menahan pijatan tangan lembut Indri.


Setelah acara Indri memijat, tentu saja ganti Adi yang memijat Indri. Apanya yang di pijat Adi? Tentu sudah pada tahu kan? Hehehehe...


Pagi itu di rumah Adi terlihat kesibukan seperti biasanya. Adi yang baru selesai berdandan sedikit beda membuat Indri memicingkan matanya pada sang suami.


"Tumben pakai hem kotak kotak itu mas, mau ada acara apa?", tanya Indri sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Nanti ada selamatan di lokasi pekerjaan dam sungai Lesa Yank, kebetulan para bos konsorsium juga hadir makanya ya dandan dikit lah.


Masak mau pakai kaos oblong, kan gak sopan yank", jawab Adi sambil memakai jaket kulit nya.


"Ya gak pa pa kalau buat nemuin bos bos besar. Kalau sampai nemuin perempuan, huh awas saja", ujar Indri sembari tersenyum simpul.


"Alah yank, cintaku mentok di kamu. Gak perlu ada perempuan lain", gombalan manis meluncur dari mulut Adi membuat Indri langsung klepek klepek.


Adi segera men-start motor Vixion kesayangannya usai Dhea dan Cinta naik di jok belakang. Motor Adi melaju meninggalkan rumah usai Indri mencium punggung tangan lelaki itu.


Usai menurunkan Dhea, kembali Adi melajukan motornya menuju ke sekolah Cinta. Seperti biasa, Cinta minta tambahan uang saku pada Adi.


Motor Adi terus melaju kencang kearah Desa Karangan di kecamatan Gandu. 20 menit kemudian, mandor proyek itu telah sampai di lokasi pekerjaan sabo dam nya.


Usai memarkir motornya di bawah pohon rindang di halaman rumah warga, Adi melangkah menuju ke arah rumah Pak Karmin yang menjadi tempat direksi kit sekaligus tempat pelaksanaan acara selamatan sebagai tanda awal mulainya pekerjaan.


Seorang wanita cantik berdandan ala eksekutif perusahaan yang fashionable, tersenyum manis melihat kedatangan sang mandor proyek. Perempuan cantik itu buru-buru mendekati Adi sambil memamerkan senyum maut nya.


"Selamat pagi Mas Adi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hihhhhh siapa sih dia??

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak ya kak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah sebagai wujud dukungan untuk cerita ini 😁🙏😁


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2