Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Perangkat Desa


__ADS_3

"Apa itu mungkin Pak Jono? Indri dan suaminya apa mau mengajak Dhea ke pengadilan?", tanya Sam yang pesimis dengan omongan Pak Sarjono pengacara nya.


"Nanti saya tekan hakim nya agar mau memberikan surat panggilan untuk Dhea pada sidang ketiga nanti.


Lagi pula Dhea juga wajib di tanya kog. Dia mau ikut siapa nantinya. Itu sudah sesuai dengan undang-undang perkawinan", jawab Pak Sarjono sambil tersenyum tipis.


Sam menghela nafas lega. Sekalipun mungkin ini sulit tapi Sam juga yakin bahwa hak asuh Dhea pasti jatuh ke tangan nya.


Selepas pertemuan dengan pak Sarjono, Sam pulang ke rumah nya. Ada hal yang perlu dibicarakan dengan Bu Wati.


****


Adi melihat jam tangannya sudah menunjuk angka 3 lebih 48 menit. Dia segera merapikan berkas gambar lay out pekerjaan nya ke dalam tas ranselnya.


Antok yang baru saja dari lokasi pekerjaan langsung mendekati nya.


"Mau pulang sekarang bos?", tanya Antok sambil melihat Adi merapikan barang bawaannya.


"Iya, ada urusan sedikit dengan pak RT.


Memang kenapa Tok?", Adi balik bertanya kepada Antok.


"Yaaahhh mobil baru gak ada syukuran nya. Kita jalan kemana gitu bos, atau ke karaoke saja", Antok nyengir kuda.


"Karaoke gundul mu itu.


Syukuran nya udah kemarin. Kalau mau syukuran itu sedekah bukan karaoke. Dasar gak punya akhlak", gerutu Adi sambil terus merapikan tas ranselnya.


"Kan gak apa apa bos. Mumpung ada mobil. Ya bos ya, ayolah...


Wes to aman bos, gak laporan aku sama nyonya rumah", bujuk Antok dengan sikap ngeyel nya.


"Eh setan bertubuh manusia,


Dengar ya. Kita itu boleh cari hiburan boleh cari kesenangan. Tapi juga ingat harus mikir rumah karena kita punya keluarga.


Udah deh, aku lebih sayang istri ku. Lagi pula istri ku lebih cantik dari mbak pur di rumah karaoke", ucap Adi sambil melangkah keluar dari ruangan direksi kit nya. Dengan langkah kaki pasti, dia membuka pintu depan mobil Toyota Rush nya lalu menjalankan nya.


Antok melongo melihat itu semua. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Adi berkata seperti itu kepada nya.


"Ah si bos gak asyik. Anggota suami takut istri", gerutu Antok sambil melihat mobil Adi menjauh dari tempat itu.


Adi terus menjalankan mobil nya ke arah selatan. Sesampainya di pasar besar, Adi memarkir mobil nya di dekat stand penjual sate.


Buru si penjual sate bertanya kepada Adi saat pria itu mendekati gerobak jualan nya.


"Mau pesan apa pak? Sate ayam atau sate kambing?, tanya si penjual sate dengan logat bicara orang Madura.


"Sate ayam 3 porsi dan sate kambing 1 porsi ya bang", jawab Adi sambil meletakkan bokong nya pada kursi plastik yang disiapkan disitu.


"Alhamdulillah..


Siap ya mas. Tunggu sebentar beh", ujar si penjual sate dengan ramah. Dengan cepat, si penjual sate kambing dan ayam yang seperti nya orang Madura asli itu membakar sate pesanan Adi. Asap berbau daging di bakar langsung mengepul dari atas bara arang yang di kipasi.


Saat menunggu pesanan nya jadi, Adi menyulut sebatang rokok Diplomat favoritnya kemudian berselancar di dunia maya untuk melihat trending topik terbaru di situs berita online.


Seorang wanita berdandan tipis namun terlihat modis dan cantik terus mengamati penjual sate itu dari seberang jalan. Perempuan itu celingukan kesana kemari untuk menyeberang. Usai di rasa aman, dia berlari kecil menuju ke arah penjual sate.


"Bang, sate ayam nya satu porsi ya..


Gak usah pakai bawang merah mentah nya. Bumbunya di banyakin", ujar perempuan cantik itu dengan cepat.


"Siap mbak. Silahkan duduk dulu ya, saya masih menyiapkan te sate buat bapak disana", jawab si penjual sate sambil menunjukkan ke arah Adi.


Mata perempuan cantik langsung tertuju pada Adi. Seketika mata perempuan itu langsung melebar melihat Adi yang tengah asyik membaca berita terbaru dari situs berita online nya.


"E-eh ini mas Adi ya? Beneran mas Adi Prasetyo?", tanya perempuan cantik itu segera setelah berdiri di depan Adi. Adi segera mendongak ke atas melihat ke arah perempuan itu.


"Iya saya Adi Prasetyo..


Mbak ini siapa ya?", Adi mencoba untuk mengingat perempuan itu di dalam memori otaknya namun dia masih belum menemukan nya.


"Ya ampun Mas Adi...


Ini Binti mas. Adiknya Arif sahabat mas SMK Kebangsaan dulu. Hayo lupa ya?", ujar perempuan cantik itu yang membuat Adi langsung menepuk jidatnya.


"Adik Arif si ketua OSIS itu? Yang dulu pendek, dekil, item sama ingusan itu?", Adi menatap wajah cantik perempuan itu seakan tak percaya.


"Yeee Mas Adi ingatan nya malah yang jelek melulu soal aku..


Iya mas Adi yang ganteng, ini Binti yang pendek, dekil, item sama ingusan itu", jawab si perempuan cantik itu sembari melengos.


"Astaghfirullah Ya Allah Ya Karim!!!


Jadi beneran ini kamu Binti Mahmudah? Adik nya Si Arif? Kog jadi cantik begini, kamu gak operasi plastik kan?", Adi tak percaya dengan perubahan drastis dari adik kawan SMK nya itu.


"Enak aja operasi plastik, ini alami tau Mas.. Gak pakai plastik ember atau plastik baskom. Ih sebel deh Mas Adi, tetep aja nyebelin dari dulu..


Eh iya Mas Adi dari mana? Kog bisa beli sate disini", tanya Binti Mahmudah sambil mendudukkan dirinya di kursi plastik sebelah Adi.


"Baru pulang kerja, kebetulan istri tadi kirim pesan pengen makan sate ayam. Makanya ini beli.


Lah kamu sendiri ngapain disini. Rumah kamu bukannya dekat SMK Kebangsaan?", Adi balik bertanya kepada Binti Mahmudah.

__ADS_1


"Oh saya ikut suami Mas , rumah nya di dekat kelurahan.


Suami saya kan kerja di pengeboran minyak lepas pantai, pulang nya 6 bulan sekali. Nah buat ngusir kesepian, saya buka salon di rumah.


Mas Adi mampir lah sekali kali", ujar Binti sambil tersenyum manis.


"Ok deh kapan kapan tak mampir kalau ada waktu", Adi beranjak dari tempat duduknya karena melihat anggukan kepala dari si penjual sate.


"Berapa bang semuanya?", tanya Adi sambil membuka tas kecilnya.


"Sate kambing 20 ribu, sate ayam 12 ribu satu porsi kali 3 sama dengan 36 ribu. Semuanya 56 ribu mas", jawab si penjual sate Madura itu dengan cepat.


"Punya dia juga bang", ujar Adi sembari memberi kode soal Binti Mahmudah dan mengulurkan selembar duit seratus ribuan pada si penjual sate.


"Kalau tambah punya mbak itu tambah 12 ribu lagi mas, jadi 68 ribu ya. Kembali 32 ribu. Tunggu sebentar ya mas, saya ambil kembalian nya", si penjual sate Madura itu langsung bergegas ke gerobaknya. Tak lama kemudian dia kembali membawa kembalian uang Adi.


"Bin, aku pulang dulu. Lain kali jika ada waktu kita berbincang lagi. Aku duluan", Adi tersenyum dan segera berjalan menuju mobil Toyota Rush nya.


"Loh itu mobilnya Mas Adi?


Wah sekarang sudah sukses ya?", Binti segera bergegas menuju ke arah Adi yang baru men-start mobilnya.


"Hahahaha apa yang kau pikirkan? Punya mobil bukan tanda kesusksesan Bin, tapi ini kebutuhan keluarga.


Aku duluan ya", ujar Adi sambil menjalankan mobilnya meninggalkan penjual sate Madura itu. Binti tersenyum simpul menatap kepergian Adi.


'Lah aku belum minta nomer telpon nya...


Ah sial kenapa aku sampai lupa ya?! Tapi gak apa-apa, aku akan coba mencari kontak Mas Adi dari kawan kawan sekolah nya. Pasti mereka punya..


Mas Adi hemmmm...


Kau incaran ku berikut nya ', batin Binti sambil tersenyum penuh arti.


"Mbak ini sate nya", ujar si penjual sate Madura itu seraya mengulurkan plastik pembungkus kearah Binti.


"Berapa Bang?", tanya Binti sambil membuka dompetnya.


"Oh sudah di bayar sama bapak tadi. Mbak tinggal bawa pulang saja", jawab si penjual sate Madura itu yang langsung kembali ke kursinya.


Binti semakin memiliki pikiran aneh terhadap Adi.


Adi terus menjalankan mobil nya ke arah Desa Mande tempat tinggalnya. Mobil Toyota Rush itu terus melaju ke arah rumah.


Jam 5 Adi sampai di rumah. Usai memarkir mobilnya, Adi segera menuju ke arah teras. Motor Vixion kesayangannya sudah terparkir di sana. Danang benar benar menepati janjinya.


'Hehehehe si pengecut itu masih takut dengan Wiwin Wijayanti rupanya ', batin Adi sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum", salam Adi begitu memegang handel pintu rumah.


"Ini pesenan mu Yank..


Yang sate kambing jangan di sentuh", ujar Adi seraya mengulurkan plastik pembungkus makanan ke arah Indri.


"Alhamdulillah..


Lah emang sate kambing nya mau buat apa mas?", tanya Indri sambil menatap wajah tampan Adi.


"Ya buat nambah stamina tubuh untuk acara nanti malam", jawab Adi sambil tersenyum nakal.


"Huu dasar mesum..


Oh iya Mas tadi ada undangan dari kantor desa. Habis isyak ya Mas", Indri berjalan di samping Adi.


"Memang ada hal apa? Tumben banget habis isyak", Adi mengerutkan keningnya.


"Gak tau juga Mas.


Emang kenapa Mas? Kog kelihatan gak senang gitu dapat undangan ", tanya Indri segera.


"Ya jelas to Yank, nanti malam kan waktu kita making love ", jawab Adi sambil tersenyum simpul.


"Apa itu kog pakai love love segala?", Indri yang tidak paham dengan bahasa Inggris nampak kebingungan.


"Pokoknya cinta gitu yank", senyum jahil terukir di wajah Adi.


"Kelihatannya ada yang gak beres nih sama mas, pasti arahnya mesum juga.


Making love ya. Make sama dengan membuat, kalau love itu cinta. Making love berarti membuat cinta?


Ah bodo amat. Nanti tak cari di Mbah Google jawabannya", gumam Indri yang membuat Adi terkekeh geli mendengar nya.


Sehabis mandi, Adi berganti baju dan menyantap sate kambing bersama keluarganya. Sisa syukuran yang di buat Bu Siti untuk mobil Adi akhirnya hanya di angetin saja.


Lepas isyak, Adi berdandan rapi. Memakai hem kotak warna merah, juga celana jeans warna hitam membuat penampilan Adi semakin sempurna.


"Ckckckckckck..


Gantengnya suami ku. Andai aku masih single pasti kepincut deh", ujar Indri sambil melihat Adi memakai jam tangan sport merk terkenal. Meskipun kW harganya masih menyentuh angka 500 ribu.


"Ngaco deh kalau ngomong.


Kalau aku dandan keluar rumah itu bukan mau tebar pesona Yank, tapi lebih ke menghargai diri sendiri juga istri. Setelah nikah tapi dandanan jadi semrawut, pasti orang bilang gak di urusi sama istri. Betul gak?", jawab Adi sambil menyemprotkan parfum merek C******** ke badannya.

__ADS_1


"Iya sih mas, betul juga..


Awas saja kalau berani lirik sana sini. Tak colok itu mata. Ingat anak sudah 4", ujar Indri sembari menoleh ke arah Yaka yang masih memainkan dot plastik.


"Pa pa pa pah..", suara imut Yaka membuat suami istri itu tersenyum senang.


Pas jam 19.30 Adi berangkat ke kantor desa dengan menaiki motor Vixion kesayangannya. Indri menutup pintu usai motor Vixion Adi melesat meninggalkan rumah.


Tak sampai 10 menit, Adi sudah sampai di kantor desa. Masih sepi. Hanya Pak Kamituwo Slamet saja yang terlihat merokok di kursi plastik. Juga dua anggota BPD yang sedang berbincang di salah satu sudut kantor desa.


"Assalamualaikum Mbah Wo", salam Adi sembari mengulurkan tangannya.


"Eh Mas Adi, Waalaikumsalaam..


Wah tumben bisa hadir, Alhamdulillah. Lagi gak ada kesibukan mas?", tanya Kamituwo Slamet sambil tersenyum.


"Ah mboten Mbah Wo.


Ini undangan nya kog masih sedikit. Gak jadi acara nya Mbah Wo?", tanya Adi sambil menatap ke sekeliling.


"Alah mas, orang Indonesia. Di undang jam 7 datang nya pasti jam 8. Jam karet nya kan selalu ada hehehehe..


Lagipula ini acara khusus mas, hanya LPMD sama BPD saja yang diundang kog", jawab Kamituwo Slamet sambil mengepulkan asap rokok dari bibir nya.


"Acara apa sih Mbah Wo?


Kog gak di sebutkan dalam surat undangan nya?", Adi begitu penasaran dengan acara rapat yang sedikit misterius itu.


"Nanti saja mas Adi pasti tau kog.


Kita tunggu kawan kawan yang lain", Kamituwo Slamet tersenyum penuh arti.


"Yah pakai rahasia segala Mbah Wo nih. Ayo dong Mbah kasih tau", Adi ngeyel.


Belum sempat Kamituwo Slamet menjawab, Sekdes Mande yang baru, Syarifuddin datang bersama Jogoboyo Aris dan Bayan Wardi. Dua orang perangkat desa itu langsung mendekati Adi dan Pak Kamituwo Slamet.


"Wah ini nih jagoan kita sudah datang..


Assalamualaikum Mas Adi. Selamat malam. Pripun kabare ( Bagaimana kabarnya)?", Jogoboyo Aris mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Waalaikumsalaam, Mas Aris..


Alhamdulillah sehat. Njenengan pripun pawartose ( Kamu sendiri bagaimana kabarnya)?", Adi menyambut uluran tangan Jogoboyo Aris dan menjabat nya erat. Usai bersalaman, Adi mengulurkan sebungkus rokok diplomat ke Jogoboyo itu. Perangkat desa Mande itu segera menerimanya. Kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


"Alhamdulillah sehat juga.


Gak pernah kelihatan, garap proyek dimana mas?", Jogoboyo Aris menatap wajah Adi.


"Ngerjain sabo dam sungai Lesa di desa Karangan kecamatan Gandu, Mas..


Yah lumayan daripada nganggur mending gerak dikit-dikit supaya dapat duit buat beli beras hehehehe", Adi tersenyum simpul.


"Mas Adi ini selalu saja merendah. Padahal aku tau loh kalau Mas Adi baru saja beli mobil", sahut Bayan Wardi yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Hanya mobil bekas saja pak, itu istri saya yang ngeyel supaya enak kalau ke rumah mertua katanya.


Eh iya ini nanti acara nya apa to pak?", Adi mengepulkan asap rokok nya.


"Masak mas Adi gak di kasih tau?


Ini nanti acara aklamasi untuk menetapkan Mas Adi menjadi salah satu perangkat desa Mande untuk menggantikan Bendung Sueb yang sudah purna tugas", jawab Bayan Wardi dengan cepat. Mata Adi langsung melebar mendengar jawaban itu.


"HAAAAAHHH.....???!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam Minggu malam panjang sayang..


Oh iya kakak reader semua, ini ada salah satu teman yang juga penulis sedang belajar berkarya di noveltoon ya..


Mohon cek karya nya dengan judul : Kekasihku Driver Ojek Online.


Mohon kritik dan sarannya di kolom komentar nya agar teman kita ini bisa lebih semangat dalam berkarya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2