
Adi segera tersenyum lebar mendengar omongan istrinya. Mandor proyek itu segera merengkuh tubuh Indri sambil menghujani bibir mungil Indri dengan ciuman bertubi-tubi.
Malam itu mereka berdua melangkah ke surga dunia berulang kali hingga nyaris pagi.
Saat adzan subuh berkumandang dari masjid, Indri membuka mata nya. Perempuan cantik itu segera merapikan pakaiannya dan bangkit dari tempat tidur nya yang berantakan akibat pergumulan nya dengan Adi. Lelaki yang berusia 8 tahun lebih tua darinya itu benar-benar perkasa. Nyaris sepanjang malam menggempur nya dengan belaian cinta penuh kasih. Untung saja dia mampu melayani permainan cinta sang suami yang lembut tapi penuh tenaga.
Indri menatap wajah tampan Adi sambil tersenyum simpul. Tanpa berpikir panjang, Indri mengecup bibir Adi. Tak disangka ciuman kecil nya membangunkan Adi yang masih terlelap.
"Ehhhmmmmmm...
Masih kurang ya yank?", tanya Adi sambil mengucek matanya. Indri sedikit kaget melihat suami tercinta nya bangun. Dia buru-buru beringsut hendak menjauh dari Adi karena tau pasti suaminya itu akan minta jatah lagi. Namun tangan kekar Adi dengan cepat mencekal lengan Indri.
"Mas, sudah subuh..
Aku mau mandi dan sholat dulu", bisik Indri sambil mencoba untuk melepaskan pegangan tangan suaminya.
"Ah salah mu sendiri membangun singa buas. Ayo yank sekali lagi. Aku akan cepat kog", Adi tersenyum penuh arti. Dan Indri sama sekali tidak percaya dengan omongan aku akan cepat dari Adi.
"Tapi mas...", belum sempat Indri meneruskan omongannya, Adi buru buru memotong omongan nya.
"Yank, menolak suami itu dosa", senjata pamungkas Adi meluncur mulus seperti turunan jalan raya nasional. Indri langsung diam tak berkutik lagi dengan omongan Adi. Mandor proyek itu langsung menghujani bibir mungil Indri dengan ciuman bertubi-tubi. Walaupun awalnya Indri sedikit dongkol dengan permintaan Adi, namun ibu dari Rendra dan Yaka itu akhirnya terhanyut juga dalam permainan cinta sang suami.
Perlahan Indri mendesah panjang saat tangan Adi menyelusup ke dalam bajunya. Ciuman Adi langsung merambah turun dari bibir ke leher sang istri. Indri semakin terbuai oleh kenikmatan surgawi yang di berikan oleh Adi. Ibu empat anak itu hanya bisa pasrah saat Adi mulai mempreteli pakaian nya satu persatu.
Selanjutnya mereka berdua kembali mendesah dan melenguh panjang karena mendaki puncak kenikmatan bersama. Hampir setengah jam kemudian Adi menekan tubuhnya dengan keras kearah Indri di puncak penyatuan dua insan yang saling mencintai itu sembari melepaskan benih benih cinta ke rahim sang istri.
Adi menjatuhkan diri ke samping tubuh istri nya sambil tersenyum penuh kepuasan.
"Kamu hebat sayang..
Aku sangat mencintaimu", ujar Adi sembari mengecup kening Indri yang masih ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Hek eh mas,
Mas juga hebat menghajar ku habis-habisan malam ini", jawab Indri sambil tersenyum manis. Perempuan cantik itu menyenderkan kepalanya ke dada bidang sang suami yang sangat dicintainya.
Saat mereka tengah asyik menikmati waktu paska percintaan, terdengar suara pintu terbuka dari arah dapur. Perlahan Indri bangkit dari pelukan hangat sang suami. Ibu dari Rendra dan Yaka itu segera merapikan pakaiannya dan bangkit dari tempat tidur nya. Dia cepat cepat melangkah menuju pintu kamar tidur dan bergegas menuju ke arah kamar mandi yang ada di belakang rumah.
Adi sendiri justru malah ketiduran lagi saat Indri asyik mandi besar di kamar mandi belakang rumah.
Saat keluar dari kamar mandi, Indri sudah terlihat lebih segar usai mandi besar nya.
"Suami belum bangun Ndri?", tanya Bu Sarmi yang berdiam di depan tungku kayu bakar nya. Perempuan sepuh itu memang lebih menyukai cara memasak lama dengan kayu bakar dari pada dengan kompor gas. Kompor gas nya hanya menyala saat dia ingin menghangatkan sayur atau membuat wedang kopi bagi para tamu. Satu tabung gas 3 kg bisa lebih dari sepuluh hari pemakaian jika di rumah itu.
"Sudah Buk...
Paling lagi jagain anak anak di kamar sekarang. Ada apa to?", Indri menatap wajah ibunya.
"Ndak ada apa-apa Nduk..
Ibuk cuma mau tanya soal hak asuh Dhea saja. Apa sudah ada titik terang nya?", ujar Bu Sarmi segera.
"Kata mas Adi sih, pengacara nya sudah bergerak buk. Kita di suruh nunggu kabar saja dari pengacara nya", jawab Indri sambil menata handuk yang melilit rambut nya yang basah.
"Syukurlah kalau begitu..
Ibuk benar bersyukur punya mantu yang cekatan seperti dia. Oiya kamu mau kopi? Nanti kalau airnya sudah mendidih ibuk bikinkan", tawar Bu Sarmi sambil tersenyum tipis.
"Nanti saja Buk..
Indri mau sholat subuh dulu", jawab Indri sambil berlalu menuju ke arah kamar tidur kosong yang memang di khususkan untuk sembahyang. Bu Sarmi tersenyum bahagia melihat putri bungsu nya semakin rajin sholat setelah menikah dengan Adi.
Usai shalat subuh, Indri bergegas menuju ke arah kamar tidur nya. Melihat suaminya kembali mendengkur, perempuan cantik itu hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum simpul.
Hari ini Adi free. Kebetulan juga memang sudah menjadi rencana Adi untuk mengajak istrinya jalan-jalan ke showroom mobil milik seorang teman satu SMP nya yang bernama Danang. Tadi malam dia sempat mengirim pesan singkat dari aplikasi WA pada Danang. Respon kawan lamanya itu sangat baik dan mempersilahkan Adi untuk mengunjungi showroom mobil nya kapan pun Adi mau.
"Yank, sudah siap belum?", tanya Adi sambil membenarkan kerah kaosnya yang melintir pada ujung nya. Pria itu mematut dirinya sendiri di depan kaca lemari. Setidaknya dia menjaga penampilan nya agar tidak malu-maluin di showroom mobil nanti. Meski dengan pakaian santai, Adi tetap terlihat modis dengan kaos berkerah warna biru dan celana jeans pendek.
Indri keluar dari kamar tidur mereka dengan dandanan setengah jadi. Dengan kebingungan dia mendekati Adi.
__ADS_1
"Anak anak gimana mas?
Apa mas saja yang berangkat sendiri ke showroom mobil nya?", Indri menatap wajah tampan Adi. Sebenarnya dia pengen sekali ikut tapi anak anaknya masih tertidur pulas usai menyusu pada nya.
"Kau berangkat saja Nduk.. Anak anak biar aku yang jaga. Gak usah khawatir", sahut Bu Sarmi sambil tersenyum tipis.
"Hek eh tuh yank.. Buruan selesaikan dandanan mu. Mumpung mereka masih tidur", mendengar ucapan Adi, Indri mengangguk mengerti. Perempuan cantik itu buru-buru menyelesaikan dandanan nya. Dengan jaket jeans molor warna biru langit, kaos oblong hitam dan jaket warna biru langit tak lupa tas kecil di pundaknya membuat penampilan istri mandor proyek itu terlihat modis.
Adi segera menjalankan motor Vixion kesayangannya melaju ke arah kota Patria usai Indri duduk manis di jok belakang. Motor segera meraung membelah jalanan.
Usai melewati jalan raya mereka terus melaju ke arah barat, di perempatan lampu merah Kecamatan Daya, mereka berhenti sebentar lalu belok kanan menuju ke arah Kecamatan Kani yang menjadi ibukota baru Kabupaten Patria setelah pemekaran wilayah. Sepanjang perjalanan tangan Indri memeluk pinggang sang suami. Perempuan itu terlihat bahagia dengan jalan-jalan mereka.
Showroom mobil milik Danang terlihat megah diantara bangunan sekitar di jalan protokol yang ada di Kota Patria. Kawan Adi yang satu ini sedari SMP memang penggemar berat mobil sedan yang pernah menjadi trend di era 90 an hingga tahun 2000. Kemanapun dia pergi meski trend model mobil telah berganti ke MPV dia tetap saja setia dengan mobil Mercedes Benz C-Class nya. Di sudut showroom Danang terlihat melirik ke arah jam tangan merk Seiko yang sudah menemani nya bertahun-tahun.
'Sudah jam segini, kenapa belum datang juga si playboy?', batin Danang sembari melirik ke arah jalan raya di depan showroom mobil nya. Showroom yang juga menjual aneka suku cadang mobil itu terbagi menjadi 2 bagian. Sisi timur menjadi bengkel resmi dan sisi barat menjadi showroom nya.
Tak berapa lama kemudian seorang wanita cantik berdandan seksi dengan dada besar terlihat mendekati Danang. Dia adalah Mia, sekretaris manager showroom mobil itu. Dia adalah bawahan Dodi, yang diangkat sebagai manager penjualan untuk lingkup Kota dan Kabupaten Patria.
"Bos,
Sudah di tunggu Bos David di lantai tiga", ujar Mia dengan sopan. Perempuan cantik itu tahu bahwa Danang yang terlihat berdandan biasa saja ini adalah penentu kebijakan di perusahaan tersebut. Dodi atasannya hanya pegawai meski kedudukan nya cukup di perhatikan para pejabat pemerintahan di wilayah itu.
Mendengar penuturan Mia, Danang langsung melempar putung rokok yang dihisap nya tadi ke halaman showroom mobil. Dia segera berjalan menuju ke arah gedung bertingkat 3 yang menjadi showroom mobil sekaligus kantor cabang nya setelah Malang. Mia segera mengekor di belakangnya.
Saat melewati ruang resepsionis, dia berhenti.
3 orang sales perempuan dan 2 resepsionis langsung mengangguk penuh hormat kepada Danang.
"Nanti kalau ada teman ku yang bernama Adi kemari, tolong kalian layani dia dengan baik. Jangan sampai mengecewakan nya", ujar Danang dengan cepat.
"Kami mengerti bos", ujar kelima wanita cantik itu bersamaan. Usai berkata demikian, pria bertubuh gempal dengan otot otot yang menonjol karena rajin fitness itu langsung bergegas menuju ke lift diikuti oleh Mia.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan dandanan necis nampak berjalan dari arah bengkel mobil bersama dengan seorang wanita muda yang berdandan menor. Dia adalah Samsudin Abdul Gani atau yang biasa disebut Sam, mantan suami Indri dan istri baru nya, Nikmah atau yang biasa dipanggil Nik. Mereka menuju ke arah resepsionis. Hari itu mereka menyervis mobil Xenia mereka yang sedang bocor radiatornya.
"Ada yang bisa kami bantu pak?", tanya resepsionis dengan ramah.
"Mbak, boleh minta brosur produk yang ada di showroom ini gak?
"Maaf pak, untuk brosur yang ada brosur lama. Yang baru masih dalam proses percetakan", ujar resepsionis tetap dengan wajah senyum manis sembari mengulurkan tangannya ke arah Sam. Ada sebuah brosur yang di sorongkan pada Sam oleh perempuan itu.
"Kalau yang dekat mbak itu, berapa harganya mbak?", tanya Sam sambil menunjuk ke arah SPG cantik yang menarik perhatiannya.
"Oh itu murah pak, Toyota Rush 2018 kalau mau bapak ambil harganya cuma 168 juta kog. Nanti kalau bapak ambil, kami bisa kasih diskon 5 persen", jawab resepsionis itu dengan cepat. Mendengar itu Sam langsung terdiam beberapa saat. Mobil Xenia nya saja masih belum lunas walaupun dia beli kredit. Tadi niatnya hanya iseng saja untuk pamer pada si SPG cantik itu.
"Ya nanti saya pikir pikir lagi deh mbak, kalau memang darurat kita akan hubungi showroom ini", ujar Sam yang di balas anggukan kepala oleh si resepsionis.
'Lagaknya kayak bos besar, tapi isinya kosong kayak bakpao pasar pagi', batin si resepsionis.
Adi dan Indri langsung memarkir motornya di halaman showroom mobil. Usai melepas helm, mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam showroom.
Kedatangan Adi dan Indri langsung menarik perhatian semua orang yang tengah ada di tempat itu tak terkecuali Sam dan Nik. Mereka langsung berpandangan sejenak.
Belum sempat mereka berdua sampai di depan meja resepsionis, Sam langsung menghadang langkah mereka. Hadangan Sam membuat Indri kaget.
"Wooo siapa ini? Rupanya mantan istri ku. Mau apa kemari? Nyari sumbangan ya?", cerocos Sam sambil tersenyum lebar.
"Ini siapa yank?", tanya Adi sambil menunjuk ke arah Sam tapi kepalanya menoleh ke arah Indri.
"Ini Sam mas, mantan suami ku", jawab Indri sambil terbata-bata.
"Oh cuma mantan suami...
Hei bung, minggir lah. Kami tidak ada urusan dengan mu, jangan menghalangi jalan kami", pinta Adi dengan sopan.
"Apa kau bilang? Tidak ada urusan?
Dengar ya, selama hak asuh Dhea masih belum aku dapatkan, jangan harap urusan kita selesai. Kalian menyerah saja, tak akan mampu bayar pengacara mahal untuk hak asuh Dhea. Di lihat sekilas saja kelihatan kalau kalian gembel", Sam melirik penampilan Adi yang biasa saja.
"Sudah jangan banyak omong..
__ADS_1
Pengadilan yang akan memutuskan hak asuh Dhea ada pada Indri atau ada pada mu. Sekarang minggir, jangan halangi jalan ku atau aku tidak akan sopan lagi", Adi mendelik tajam ke arah Sam yang membuat lelaki itu langsung ciut nyalinya. Dia segera memberikan jalan bagi Adi dan Indri. Tanpa banyak bicara Adi menggelandang Indri kearah meja resepsionis showroom.
"Maaf mbak, saya Adi.. Saya pengen beli mobil untuk keluarga. Ada rekomendasi dari mbak untuk mobil keluarga kecil kami?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.
"Oh pasti pak. Perusahaan kami selalu memberikan pelayanan terbaik kepada para konsumen nya.
Mbak Dewi, tolong dong antar bapaknya ini melihat mobil mobil kita", panggilan resepsionis langsung membuat SPG cantik yang sempat di lirik Sam mendekat ke arah Adi dan Indri.
"Mari pak buk saya antar melihat mobil nya", ujar SPG cantik yang bernama Dewi itu dengan ramah. Mereka langsung melihat mobil di temani oleh SPG Dewi.
Salah seorang resepsionis langsung berbisik pada kawannya karena teringat pada pesan dari Danang tadi. Dia segera menelpon ke lantai 3 tempat Danang sedang melakukan rapat dengan David.
Tak berapa kemudian, Adi dan Indri yang di temani SPG Dewi kembali ke meja resepsionis. Sam yang masih tidak terima dengan ucapan Adi langsung mendekati meja.
"Sudah puas aktingnya sebagai orang kaya? Apa kalian punya duit buat beli mobil disini?
Mbak, aku kasih tau ya. Mereka ini hanya orang desa mbak, beli mobil juga pasti kredit. Aku pun berani jamin kalau kredit nya pun pasti macet", ejek Sam yang sangat ingin mempermalukan Adi dan Indri.
"Aku mau beli cash atau kredit itu bukan urusan mu bung..
Jangan menguji batas kesabaran ku disini. Kalau anda konsumen di showroom ini selesaikan urusan mu sendiri. Kalau tidak silahkan menjauh dari hidup kami", ujar Adi sambil menatap tajam ke arah Sam. Usai berkata demikian Adi mengalihkan pandangannya pada si mbak resepsionis dengan cepat.
Saat yang bersamaan, Sam yang marah karena omongan Adi langsung melayangkan tinjunya ke arah Adi.
Buuukkkkhhhh...
Adi jatuh tersungkur ke lantai showroom karena tidak siap dengan pukulan Sam. Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Indri menjerit keras melihat suaminya terjatuh.
Dua orang sekuriti yang bertugas langsung berlari menuju Sam yang hendak memukul Adi yang terjatuh. Dengan cepat mereka langsung mencekal lengan Sam.
Indri langsung mendekati Adi yang mengusap bibirnya yang berdarah. Buru buru dia membantu Adi berdiri. Usai sang suami berdiri kembali, dia mendelik tajam ke Sam.
"Laki laki bajingan,
Kau berani memukul suami ku", teriak Indri dengan keras. Ibu empat anak itu langsung berlari dan dengan cepat melayangkan tamparan keras ke pipi Sam.
Plllaaakkkkk!!!
Kuatnya tamparan keras Indri membuat wajah mantan suami nya itu memerah dengan gambar 5 jari tercetak jelas disana.
Saat mereka tengah gaduh, dari arah lift kantor showroom mobil terdengar suara keras.
"Ada apa ini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai semuanya apa kabarnya?
Masih ada kah yang merindukan Adi dan Indri?
__ADS_1
.