Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Mobil


__ADS_3

'Bercerai? Kapan aku bilang mau bercerai?', batin Adi sambil menggaruk kepalanya.


Adi : Siapa yang bilang aku mau cerai Ren?


Renata : Pak Warno. Lha memang Mas Adi ngapain sih ke pengadilan agama kalau gak cerai?


Adi : Woh salah paham ini. Aku itu ke pengadilan agama untuk ngurusi hak asuh Dhea, anak istri ku dari pernikahannya dulu. Bukan mau cerai Ren. Ada ada saja deh.


Renata : Jadi mas ke pengadilan agama gak ngurusin perceraian ya?


Adi : Haduhhh, tidak semua orang yang ke pengadilan agama itu mau cerai Ren. Jangan ngaco deh.


Renata : Emm gitu ya. Ya udah mas, maaf jika pertanyaan ku tadi menyinggung perasaan Mas.


Adi : Gak apa apa Ren. Kamu tadi telpon aku hanya untuk menanyakan hal ini?


Renata : Hehe iya mas. Maaf ya.


Adi : Oke Ren. Ya sudah aku masih sibuk ini. Nanti disambung lagi. Wassalamu'alaikum.


Renata : Waalaikumsalaam.


📞


Adi mendengus dingin sembari memasukkan ponsel pintar nya ke dalam tas kecilnya.


"Kau kenapa men? Kog kusut begitu habis nerima telpon", tanya Rudi sambil tersenyum simpul..


"Brengsek Pak Warno. Seenaknya saja bilang ke teman ku kalau aku mau cerai. Mentang-mentang aku bilang mau ke pengadilan agama", gerutu Adi sambil menghisap rokok nya dalam-dalam.


"Ya salah kamu sendiri juga men..


Harusnya bilang ke kantor pengacara jadi orang gak salah paham. Karena orang ke pengadilan agama itu identik dengan perceraian", nasehat Rudi yang membuat Adi terdiam.


Mereka lalu berbincang tentang banyak hal. Tak terasa sudah jam 10 lebih 50 menit.


Adi yang melihat jam dinding langsung kaget.


"Ya ampun, sudah hampir jam 11. Men, aku cabut dulu deh. Mau ke lokasi proyek.


Kalau ada apa-apa cepat kabari ya", ujar Adi sambil memasukkan rokok Diplomat favoritnya ke dalam tas kecilnya.


"Oke bos proyek. Dah kamu yang tenang kerja. Urusan ini biar aku selesaikan secepatnya", balas Rudi sambil tersenyum simpul. Mereka lalu berjabat tangan kemudian Adi berlalu keluar dari ruangan Rudi.


Si mbak resepsionis kantor advokasi hukum tersenyum manis melihat Adi yang mengangguk sambil berjalan keluar kantor.


Usai memakai helm, Adi menjalankan motor nya menuju kearah pekerjaan sabo dam sungai Lesa di timur kecamatan Gandu. Usai melewati melewati 2 kecamatan, di lampu merah Kelurahan Biru, Adi membelokkan motor nya ke arah kiri. Selepas melewati Taman Raya dan pasar besar, motor Adi terus melaju ke arah Desa Karangan.


Hampir menempuh waktu 40 menit, Adi sampai di tempat pekerjaan nya. Pria beranak 4 itu langsung memarkir motornya di bawah teras rumah direksi kit.


Tanpa melepas helm, Adi masuk ke dalam ruangan.


"Tumben siang banget kemari bos, tadi di cari pak Alex loh", ujar Antok sambil merapikan beberapa buku direksi dan buku tamu yang ada di meja.


"Tadi ke Wanaraja dulu, habis itu ke kantor pengacara Tok", jawab Adi sambil melepaskan helm nya dan menaruh di atas lemari pada pojok ruangan.


"Kantor pengacara bos? Ngapain?", tanya Antok kumat kepo nya.


"Bukan urusan mu!


Eh tadi bos Alex ada perintah apa ke aku Tok? Tumben juragan yang satu itu gak nunggu kedatangan ku", Adi meletakkan tas ransel punggung nya ke kursi plastik. Lalu mendudukkan pantatnya di kursi dekat meja.


"Gak tau bos, tadi cuma pesan kalau bos disuruh ke kantor CV Barata hari Sabtu besok. Kalau bisa ajak aku sama Didik juga gitu.


Cuma pesan gitu doang kog", jawab Antok sambil meletakkan buku direksi yang sudah dia bereskan ke dalam rak buku di samping meja Adi.


'Hari Sabtu besok? Sama Didik dan Antok? Ada acara apa di kantor?', batin Adi sambil menerka-nerka apa maksud undangan Bos Alex ke kantor CV Barata Konstruksi.


"Eh Tok, Sabtu besok tanggal berapa?", tanya Adi pada Antok yang masih berkutat dengan buku buku di rak buku.


"Tanggal 8 bos, memang kenapa?", Antok menoleh ke arah Adi karena merasa aneh dengan pertanyaan Adi.


'Tanggal 8 ya? Tidak ada yang ulang tahun di kantor tanggal itu? Terus ada apa kog tiba-tiba ada undangan seperti ini? Aneh', kembali Adi memikirkan undangan Alex.


Plakkkk..


Antok langsung menepuk lengan Adi yang membuat mandor proyek itu terlonjak kaget.


"Eh sompret, kau mau aku mati jantungan ha?


Bikin kaget saja hobi mu", omel Adi sambil melotot tajam ke arah Antok.


"Lha salah sendiri di tanya malah diam saja bos. Jangan banyak melamun bos ntar kesambet setan pasar", sergah Antok sambil tersenyum simpul.


"Kau itu setan nya..


Eh Didik kemana? Kog tidak kelihatan?", Adi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dia hanya melihat motor Didik tanpa tau kemana orang itu.


"Yah si bos, jelas Didik ke lokasi lah mengarahkan operator excavator..


Kan udah mulai gali pondasi sebelah barat bos", jawab Antok segera. Adi langsung menepuk jidatnya sendiri. Dia sampai lupa bahwa hari ini penggalian pondasi sabo dam sudah mulai.


"Ya ampun..

__ADS_1


Apa sih yang ada di otak ku ini? Kog bisa pikun begini?", Adi menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja ingin di garuk.


Adi yang berniat keluar dari ruangan direksi kit langsung menghentikan langkahnya melihat Didik datang bersama seorang anak muda yang merupakan helper operator excavator yang tengah bekerja menggali pondasi sabo dam di sisi barat.


"Bos,


Ini Bambang. Helper nya Alan si operator. Sudah waktunya jam makan siang, mau nanya warung makan terdekat katanya", ujar Didik sambil mendudukkan bokongnya di kursi plastik.


"Untuk makan siang hari ini, aku beliin. Kau tunggu di lokasi saja. Nanti biar di antar sama Didik. Oke?", Adi menatap Bambang yang masih berusia sekitar 20 tahun itu.


"Siap bos. Kalau begitu saya kembali ke lokasi saja ya? Permisi bos", Bambang mengangguk dengan sopan lalu bergegas kembali ke tempat kerjanya.


"Yuk cari makan, aku lapar", ajak Adi sambil meraih kunci sepeda motor nya. Antok dan Didik langsung mengikuti langkah sang bos. Mereka bertiga menuju ke arah warung makan di pojok pasar desa Karangan, tempat Susi berjualan.


Siang itu warung makan Susi terlihat lebih ramai dari biasanya. Adi, Antok dan Didik mesti antri di depan etalase kaca yang memajang aneka lauk pauk dan sayuran. Susi tampak repot melayani para pembeli yang memadati tempat jualannya.


Senyum perempuan cantik itu langsung merekah saat melihat Adi datang ke warung nya. Dia segera mengambilkan nasi putih berikut ikan jendil goreng yang menjadi kegemaran Adi. Sepertinya dia mulai hapal dengan kesukaan mandor proyek itu.


"Sayur nya apa Mas?", tanya Susi dengan ramah.


"Tuh pakai sayur lodeh terong sama tambah perkedel ya", jawab Adi yang melihat dua potong ikan jendil goreng sudah tertata diatas piring.


Dengan cekatan, Susi segera memenuhi permintaan Adi.


"Minum nya es jeruk?", tanya Susi sambil mengulurkan piring makanan pada Adi.


"Sip mbak..


Eh iya bungkus 2 nasi rames ya, lauknya ayam. Sama dua es teh", jawab Adi yang kemudian berlalu dari hadapan Susi.


Mandor proyek itu segera melangkah ke salah satu sudut ruangan warung makan yang kosong. Berturut-turut Antok dan Didik menyusul Adi.


Tak berapa lama kemudian Susi datang mengantar es jeruk untuk Adi, kopi untuk Didik dan es teh tawar untuk Antok. Perempuan cantik itu kembali tebar pesona pada Adi dengan memamerkan senyum ala iklan pasta gigi nya. Antok yang melihat itu, langsung berbisik pada Adi saat Susi kembali ke tempat nya.


"Bos,


Sepertinya mbak mbak warung ini suka sama dirimu bos. Sejak tadi aku perhatikan dia senyum terus saat di dekat mu. Dia juga tadi sempat nanya soal kamu loh bos", ujar Antok sambil mengunyah ayam goreng nya.


Uhhhuukkk..


Adi langsung tersedak mendengar ucapan Antok. Didik buru-buru mendekatkan es jeruk Adi agar rasa sakit akibat tersedak makanan itu mereda.


"Yah si bos, makan pelan pelan bos. Gak ada yang ngejar kita", ucap Antok dengan santainya.


"Eh pe'ak!


Ini semua gara-gara omongan mu itu kampret!", Adi melotot lebar ke arah asisten nya itu.


"Kog aku yang salah bos? Salah ku dimana bos?", Antok masih juga belum sadar kesalahannya.


Emang sejak kapan kau jadi paranormal cinta ha? Pakai sok tau kalau si mbak warung makan itu suka sama si bos", omel Didik yang seakan mewakili Adi yang kembali meneguk es jeruk nya untuk meredakan rasa sakit karena tersedak tadi.


"Eh jangan salah ya, jelek jelek begini aku itu bisa ilmu pesi.. pesi apa ya...", Antok menggaruk kepalanya bagai tahu bahwa menggaruk kepalanya bisa membuat pertanyaan nya bisa masuk ke kepalanya.


"Psikologi maksud mu?", Didik memotong omongan Antok.


"Ya ya itu psikologi Dik..


Secara tak lihat nih ya, aura aura ketampanan bos kita ini memang tiada duanya. Tidak sedikit perempuan yang jatuh hati dengan mandor kita ini loh Dik", ujar Antok sambil terus mengoceh kesana kemari.


"Ngomong psikologi aja gak becus, sok sok an pakai bilang bisa melihat aura..


Ngaca dong Tok", omel Didik sambil menyeruput kopi pesanan nya.


"Alah mboh, pokok nya begitu. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa si mbak warung makan itu suka dengan bos kita.


Itu sudah terbukti sah dan meyakinkan bahwa bos ki...


Haeeephhhh", ocehan Antok langsung terhenti saat Adi menjejalkan roti seribuan yang ada di meja makan mereka.


"Dasar sompret, ngoceh terus kayak burung kenari", Adi melengos pergi ke arah etalase kaca. Antok dan Didik langsung mengekor di belakangnya.


"Pesanan saya mana mbak?", tanya Adi sambil membuka tas kecilnya. Susi langsung mengulurkan tas plastik hitam yang berisi dua bungkus nasi rames dan dua bungkus es teh pada Adi. Didik mewakili Adi menerima tas plastik itu segera.


Adi lalu mengulurkan uang seratus ribu pada Susi untuk membayar makanan mereka. Bunga warung pinggir pasar itu segera menerima nya sambil tersenyum manis.


Saat menunggu Susi menghitung jumlah kembalian nya, tiba-tiba ponsel pintar Adi berdering keras.


Adi segera membuka tas kecilnya dan meraih ponsel android itu. Tertera nama MY BOJO membuat Adi buru buru menekan tombol hijau. Adi bergegas keluar dari dalam warung makan Susi.


📞


Adi : Assalamualaikum yank.


Indri : Waalaikumsalaam Mas.


Adi : Tumben telpon Yank, ada apa loh?


Indri : Mas nanti bisa pulang cepet gak?


Adi : Bisa yank. Mau apa sih?


Indri : Aku pengen nginep di rumah ibuk Mas. Kangen sekali pengen kesana.

__ADS_1


Adi : Lha kalau nginep di rumah Buk Sarmi, anak anak gimana yank? Kan mereka harus berangkat sekolah pagi to..


Indri : Tadi aku sudah bilang sama mbak Nita mas. Dia mau antar jemput Cinta dan Dhea. Kita kesana ya mas?


Adi : Ya sudah kita kesana. Bilang sama ibuk titip anak anak. Nanti mas pulang cepat deh.


Indri : Makasih ya Mas. Mas Adi paling ganteng deh. Wassalamu'alaikum Mas..


Adi : Waalaikumsalaam..


📞


Adi segera memasuki lagi ponsel pintar nya.


"Sudah telponnya Mas?", Adi yang kaget langsung menoleh ke belakang.


"Dih mbak jangan suka bikin kaget orang dong", omel Adi pada Susi yang tak tahu kapan datangnya tiba-tiba muncul di belakang Adi.


"Lha mas nya lagi sibuk telpon jadi saya gak mau ganggu..


Emang telpon siapa mas? Dari istri ya?", Susi menatap wajah tampan Adi.


"Iya mbak, itu minta diantar ke rumah ibu mertua.


Eh iya kembaliannya mana mbak?", Adi ingat dia belum menerima uang kembalian dari Susi.


Janda kembang itu segera memberikan uang kembalian Adi sambil cemberut. Perempuan cantik itu terlihat kesal mendengar jawaban Adi.


Adi segera menjalankan motor nya ke arah direksi kit bersama Antok dan Didik.


Sepanjang siang hari itu hingga sore mereka mengawasi pekerjaan penggalian pondasi sabo dam. Adi cukup puas melihat kinerja excavator sewaan dari workshop PU kabupaten. Besok para pekerja akan mulai memasang mini pile dengan bantuan excavator. Para pekerja pembesian juga sudah mulai menghasilkan banyak kolom besi yang sedianya menjadi tulang beton di sabo dam mereka.


Saat jam menunjuk angka 3 lewat 10 menit, Adi berjalan menuju ke arah ruang direksi kit. Rencananya dia akan pulang lebih cepat untuk mengantar istri nya menginap di rumah mertuanya di desa Marga.


Setelah men-start motor Vixion kesayangannya, Adi menggeber motornya menuju ke arah kecamatan Selo tempat tinggalnya. Tak sampai 20 menit Adi sudah sampai di rumah.


Begitu membuka pintu rumah, terlihat ada sebuah tas besar sudah tertata rapi di atas sofa.


"Ini apa yank?", tanya Adi usai mengucapkan salam.


"Itu isinya popok sama bajunya Yaka dan Rendra mas", jawab Indri yang sudah terlihat rapi. Sepertinya perempuan cantik itu sudah mandi, terlihat dari rambutnya yang basah.


"Sebanyak ini yank? Gimana bawa nya?", Adi melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ada juga dua potong baju ku sama punya Mas. Kita kan harus bawa baju ganti juga kan mas?", Indri tersenyum simpul.


Adi menghela nafas panjang. Melihat ribetnya bawaan mereka, Adi langsung kepikiran untuk beli mobil. Pasti gampang bawa barang bawaan itu jika mereka punya mobil.


Usai berbicara pada Bu Siti tentang Cinta dan Dhea, Adi yang menggendong Yaka dan Indri mengendong Rendra bergantian bersalaman dengan Bu Siti.


Segera Adi melajukan motornya namun dengan kecepatan rendah karena menggendong Yaka menuju ke arah Desa Marga bersama Indri. Perjalanan yang biasa di tempuh 30 menit akhirnya menjadi 1 jam karena Adi tidak berani melaju kencang.


Bu Sarmi menyambut kedatangan Adi dan Indri penuh suka cita. Meski awalnya dia sempat kecewa karena Dhea tidak ikut, namun perempuan paruh baya itu bisa memaklumi kondisi Adi dan Indri yang hanya membawa sepeda motor.


Sore itu usai mandi, Adi duduk di teras menikmati kopi tubruk buatan Indri sambil menunggu tukang bakso yang biasa lewat di depan rumah.


Indri sambil menggendong Yaka, mendekati suaminya itu segera.


"Coba kita punya mobil ya Mas,


Pasti Dhea dan Cinta bisa ikut".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai semuanya, masih ada yang kangen gak sama kehidupan Mas Adi dan Mbak Indri?

__ADS_1


Kalau mau tau bocoran episode selanjutnya, bisa loh cek di IG author : ebez2812


__ADS_2