Mandor Proyek Dan Janda Muda 2

Mandor Proyek Dan Janda Muda 2
Harta Warisan


__ADS_3

Sudarti yang langsung mendekati Adi tak tahan untuk bertanya. Mata perempuan berusia 40 tahunan ini langsung berbinar seketika melihat betapa kinclongnya mobil Adi dan Indri.


"Ah mana mungkin baru Mbak Dar..


Ini bekas kog. Mampunya cuma beli yang beginian", jawab Adi sambil tersenyum tipis. Mendengar ucapan Adi, Yu Nem langsung melengos.


"Eh mas, bisa beli mobil bekas kayak gini itu sudah luar biasa loh disini.


Jangan Pak Wo Slamet yang pamong desa, Bayan Agus saja tidak bisa beli mobil bekas seperti ini. Ini mirip punya Pak Lurah Sugeng ya Sum", Yu Nem mengalihkan pandangannya pada Bik Sum yang masih terhitung keluarga Lurah Desa Marga, Sugeng Riyadi.


"Betul omongan Yu Nem, Mas..


Kalau bukan orang yang punya duit, sampai di masukkan ke dalam liang kubur kita kita ini ndak bakalan bisa beli mobil kayak gini", timpal Bik Sum sambil terus menatap ke dalam mobil yang terlihat wah di mata mereka. Bu Yati istri pak Wito pun langsung ikut bicara.


"Bejone Indri Mas, punya suami yang pintar cari duit.


Eh Ndri, mobil baru harus di slameti ( di beri syukuran). Buruan bilang ke Yu Sarmi agar di buatkan among-among (tumpeng)", ujar Bu Yati pada Indri. Segera Indri menoleh ke arah Adi seakan meminta persetujuan. Melihat anggukan kepala Adi, Indri segera bergegas ke dalam rumah menemui Bu Sarmi yang tengah menggendong Rendra. Perempuan paruh baya itu tidak tahu kalau Adi dan Indri pulang naik mobil.


"Loh kog sudah pulang Nduk.. Kog tidak kedengaran motor suami mu?", tanya Bu Sarmi sambil menyerahkan Rendra yang sedang mengenyot ****** susu botol nya. Sudah seminggu ini Indri memang menambahkan susu formula bayi untuk dua bocah kembar nya. Meski masih di beri ASI, Indri yang ingin menyapih bayi nya mulai membiasakan dua bocah itu dengan susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif yang diberikan nya.


"Naik mobil Buk, Mas Adi baru saja membeli mobil untuk keluarga kita", jawab Indri sambil tersenyum simpul.


Mendengar penuturan Indri, Bu Sarmi langsung bergegas menuju ke arah depan. Dan benar saja, sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih metalik terparkir rapi di halaman depan rumah kediamannya. Terlihat beberapa tetangga tengah mengerumuni mobil itu.


"Walah ternyata benar... Mantu ku baru beli mobil baru...


Hebat wes hebat...", ucap Bu Sarmi sambil berkaca-kaca matanya. Dia sungguh merasa bersyukur karena Indri bersuamikan Adi.


"Yati, Bik Sum, Darti, Yu Nem..


Kalian berempat cepat bantu aku. Kita bikin syukuran untuk mobilnya mantu ku ini", lanjut Bu Sarmi yang segera membuat kuartet ghibah itu mengangguk mengerti. Mereka bergerak cepat ke arah dapur.


Indri segera mengambil 5 lembar duit seratus ribu untuk belanja kebutuhan selamatan mobil baru mereka. Sudarti dan Yu Nem segera meninggalkan rumah itu ke tempat potong ayam. Untuk kebutuhan sayur sepeti kentang dan mie juga tahu, mereka belanja di warung Pak Joyo yang tidak jauh dari rumah Bu Sarmi.


"Ndri, minyak goreng nya nambah 1 liter lagi ya. Kalau lain lain sudah cukup ini", Bu Sarmi menatap ke arah Indri.


Tanpa banyak bicara, Indri kembali merogoh dompet nya untuk mencukupi kebutuhan selamatan dadakan itu.


****


Sam terus menempelkan bongkahan es yang di bungkus kain pada bibir nya yang pecah akibat pukulan Danang. Rasanya perih bukan main. Sambil menyetir mobil Xenia nya, lelaki itu terlihat menyimpan dendam pribadi.


"Mas,


Sebaiknya kita ke klinik dulu. Biar di kasih obat sama dokter", bujuk Nikmah istri barunya.


"Tidak perlu Dhek..


Aku tidak apa apa kog. Ini tidak seberapa dibandingkan sakit hati ku", ujar Sam sambil meringis sesekali saat hawa dingin es batu itu menyentuh wajahnya yang lebam.


Nik hanya menghela nafas panjang. Dia yang baru 3 tahun menikah dengan Sam memang baru tahu sifat keras suaminya itu. Tak di sangka, lelaki yang terlihat begitu baik itu ternyata memiliki sifat busuk juga.


Sesampainya di rumah, Sam segera memarkir mobil Xenia nya di garasi. Bu Wati, ibu Sam yang curiga dengan cara jalan anaknya langsung mendekati Sam.


"Kau kenapa Sam?", tanya Bu Wati yang tak melihat kondisi wajah putra sulungnya itu. Saat Sam berbalik Bu Wati langsung terkejut bukan main.


"Astaga Sam..


Kau kenapa Le? Kenapa wajah mu memar memar begini?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Bu Wati. Perempuan paruh baya itu nampak syok melihat lebam di beberapa bagian wajah Sam.


"Sam gak apa apa Buk..


Tadi cuma terpeleset dan jatuh di toilet pom bensin", Sam mencoba untuk membohongi ibunya.


"Bohong!


Mana mungkin kalau jatuh memar nya tidak beraturan seperti ini. Kau baru berkelahi ya Sam?", Bu Wati menatap tajam ke arah Sam.


"Sungguh Buk, Sam baru saja jatuh.. Ibuk percaya deh", Sam terus berupaya mengelak.


"Helehh... Kamu bisa bohong tapi ibuk masih punya cara untuk membuka mulut mu..


Nikmah,

__ADS_1


Suami mu kenapa?", nada pertanyaan Bu Wati terdengar dingin di telinga Nikmah.


"Eh itu anu Buk, anu...", Nikmah grogi saat menjawab pertanyaan Bu Wati apalagi mertuanya itu menatap tajam ke arah nya seakan ingin menguliti tubuhnya hidup hidup.


"Ona anu, jawab yang benar Nik..


Kamu jangan coba-coba bohong sama ibuk", ucap Bu Wati dengan keras. Nikmah menoleh sebentar ke arah Sam sebelum menjawab pertanyaan Bu Wati.


"Anu buk, itu mas Sam tadi ribut dengan mantan istri nya di showroom", jawab Nik sambil menunduk.


"HAAAAAHHH??!!


Mantan istri? Indri maksud mu? Kenapa dia bisa ada di showroom mobil?", Bu Wati kaget dengan omongan Nikmah.


"Indri dan suaminya beli mobil Buk. Mas Sam sendiri yang cari gara gara dengan memukul wajah suami Indri. Dia tidak membalas tapi tidak tahu ada hubungan apa antara suaminya Indri dengan pemilik showroom hingga bos showroom membuat taruhan dengan Mas Sam mengenai pembelian mobil suaminya Indri.


Mas Sam kalah taruhan hingga dia dipukuli oleh bos showroom mobil itu. Kalau Nik tidak memohon maaf mungkin Mas Sam sudah masuk rumah sakit sekarang", ujar Nikmah mengakhiri cerita nya.


Mendengar cerita itu, Bu Wati langsung menoleh ke arah Sam.


"Benar omongan istri mu Sam?", Bu Wati menatap tajam ke arah Sam.


"Be-benar buk", jawab Sam dengan grogi.


"Kau ini benar-benar tolol ya..


Sudah tahu hak asuh Dhea masih belum kita dapat, kau masih saja membuat masalah. Perilaku mu akan menyulitkan kita di pengadilan nanti.


Kemarin Pak Sarjono sudah memberi tahu ku kalau kemungkinan kita mendapat hak asuh Dhea sangat kecil karena Indri memberikan bukti bahwa kau tidak pernah menafkahi nya selama kau kabur ke Kalimantan usai masalah perkelahian mu. Ibuk sudah memohon kepada pak Sarjono untuk menggunakan segala cara agar hak asuh Dhea jatuh ke tangan kita, eh kau malah berbuat bodoh dengan sikap songong mu itu.


Pokoknya kalau sampai hak asuh Dhea jatuh ke tangan Indri, jangan harap kau bisa menikmati warisan dari almarhum bapakmu karena yang tertulis di surat wasiatnya adalah nama Dhea", ujar Bu Wati yang langsung ngeloyor pergi meninggalkan Sam yang terduduk lemas begitu mendengar perkataan ibunya.


"Tidak, aku tidak boleh gagal mendapatkan hak asuh Dhea. Kalau sampai hak asuh Dhea jatuh ke tangan Indri, bisa bisa aku jadi kere (gembel).


Aku harus mendapatkan hak asuh anak itu. Tidak boleh gagal", ujar Sam sambil mengepalkan tangan nya.


Almarhum Haji Sujono, bapak Sam memang terkenal sebagai tuan tanah di kampung nya. Dia memiliki 4 hektar tanah dan puluhan aset seperti ruko dan tanah pekarangan. Satu satunya cucu yang dia sayang adalah Dhea. Hingga sebelum ajal menjemput, dia memanggil seorang notaris yang menyatakan separuh harta nya di berikan kepada Dhea. Sisanya di bagi antara Sam, Bu Wati dan Nuning atau Siti Muninggar putri bungsu nya. Adapun syarat untuk menguasai harta itu adalah saat Dhea berusia 17 tahun. Selama Dhea belum mencapai usia itu, maka hak pengusahaan harta ada pada wali nya atau yang mendapat hak asuh nya. Oleh karena itu, keluarga Bu Wati sangat menginginkan hak asuh Dhea atas dasar harta yang menjadi hak Dhea. Mereka dengan tidak tahu malu nya, bermaksud mengambil hak asuh Dhea, putri Indri yang sudah mereka telantarkan selama bertahun-tahun lamanya hanya demi Warisan Haji Sujono.


"Sudahlah Mas,


"Aku tidak mau Nik..


Itu adalah hak ku, bukan hak Dhea. Seharusnya aku yang mendapat jatah warisan bapak, bukan Dhea.


Pokoknya aku tidak mau menyerah. Sampai kapanpun aku tetap akan mengejar apa yang harus jadi milikku", ucap Sam yang terdengar seperti suara peran jahat dalam sebuah sinetron di televisi itu.


Nikmah hanya mengelus dadanya mendengar omongan Sam. Suaminya itu memang keras kepala dan ambisius.


****


Sementara itu di rumah Bu Sarmi, para tamu undangan sudah berkumpul dengan rapi. Rata rata mereka adalah tetangga sebelah rumah dan juga keluarga Bu Sarmi seperti Pak Wito dan Wawan.


Sambil menunggu kedatangan Kyai Sukir, mereka berbincang dengan Adi.


"Wah mas bos benar benar hebat ya.


Baru setahun menikah dengan Indri sudah bisa beli mobil. Bagus lagi..", ujar Pak Wito sambil mengacungkan jempol nya. Adi hanya tersenyum simpul mendengar pujian Pak Wito.


"Yo jelas to Mas Wit..


Wong mas Adi juragan proyek. Pinter nyari duit buat penuhi kebutuhan keluarganya", sahut Kang Min yang mengepulkan asap rokok dari bibir nya.


"Ya semoga ke depannya tambah lancar ya Mas Adi. Cukup untuk membiayai hidup cucu ku", ujar Lek Parman, saudara jauh Bu Sarmi yang rumahnya berdekatan dengan rumah Wawan.


"Matur nuwun doa nya Lek..", jawab Adi sambil tersenyum simpul.


Wawan yang sedari tadi hanya diam, memperhatikan sudut bibir Adi yang terlihat seperti pecah karena pukulan. Sebagai mantan preman Terminal Bungurasih, dia hapal betul bahwa Adi baru bertengkar dengan seseorang.


'Aku akan menanyakan ini sesudah acara ini selesai', batin Wawan sambil terus memperhatikan Adi.


Tak berapa lama kemudian, Kyai Sukir datang. Acara tasyakuran segera di mulai dengan khidmat.


Ada ingkung ayam 2 ekor, Sego golong, buceng 6 buah, jenang merah putih, tahu goreng, mie goreng dan sambel goreng tersaji di atas tikar yang di gelar di lantai ruang tamu rumah Bu Sarmi. Tak lupa nasi brok dan nasi gurih juga ada.

__ADS_1


Kyai Sukir terlebih dahulu membacakan doa dengan adat Jawa sebelum di akhiri dengan doa islami.


Usai di hajatkan, Kang Min membagi ingkung ayam. Lek Parman membagi sayur sedangkan Pak Wito bertugas membagi nasi. Suasana kekeluargaan benar benar terasa di Dusun Jetis Desa Marga itu. Adi pun tak lupa membongkar dua bungkus rokok Surya 12 untuk teman ngobrol mereka saat menunggu pembagian berkat.


Usai semua terbagi dengan rata, masing masing tamu undangan mohon diri.


"Kabulo kajate ( Semoga terkabul hajatnya) ya Mas Adi", ujar Kang Min sambil menyalami Adi sambil melangkah keluar dari rumah Bu Sarmi.


"Matur nuwun Kang Min", jawab Adi sambil tersenyum tipis.


Satu persatu para tamu mulai pulang ke rumah masing-masing, menyisakan Wawan dan Pak Wito yang masih mengobrol dengan Adi. Bu Sarmi yang melihat para tamu sudah pada pulang, ikut nimbrung di ruang tamu. Begitu juga Indri sambil menggendong Yaka. Rendra sudah lebih dulu tidur.


"Di, aku mau tanya tolong kau jawab jujur", tanya Wawan sambil menghisap rokok yang di jepit di sela jari tangan nya.


"Ada apa Mas? Kog tiba-tiba saja jadi serius gitu", Adi mengetukkan abu rokok pada asbak di depan pak Wito.


"Itu bibir mu kenapa bisa pecah? Kau baru di pukul orang?", mendengar pertanyaan Wawan sontak Pak Wito dan Bu Sarmi langsung mengamati bibir Adi. Mereka berdua terkejut karena baru menyadari itu. Indri hanya diam tak bicara apapun.


"Ah ini mas..


Tadi ketemu mantan suaminya Indri di showroom. Dia berulang kali mencoba memancing amarah ku tapi gak aku gubris.


Eh tau tau nonjok dari belakang dia", ujar Adi sembari menghisap rokok Diplomat favoritnya.


"Hah???


Kenapa kamu diam saja Di? Bajingan tengik itu memang layak mendapat pelajaran. Jangan di biarkan..


Kita laporkan saja ke polisi", Wawan geram sekali mendengar cerita Adi.


"Mas tenang saja, tadi dia sudah di hajar oleh teman Mas Adi yang merupakan bos showroom mobil itu.


Aku berani menjamin dia lebih menderita sekarang karena wajahnya tadi sampai benjol di pukuli", sahut Indri sembari tersenyum simpul.


"Sudahlah Mas, biarkan saja dia. Percuma lawan dia, justru ini akan jadi bahan catatan penting untuk masalah hak asuh Dhea.


Pengacara ku sudah memastikan kalau Indri pasti menenangkan hak asuh Dhea karena kelakuan brutal Sam bisa dianggap sebagai gejala sakit mental yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak", jawab Adi sambil mengepulkan asap putih rokok Diplomat dari bibir nya.


"Darimana mas bisa yakin seperti itu? Atau jangan-jangan mas sengaja memancing emosi Sam tadi ya?", Indri menyelidik suaminya dengan pandangan penuh tanda tanya. Mendengar pertanyaan istri nya itu Adi malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahahaha, kau ini benar-benar korban sinetron yank. Sebaiknya kau jadi penulis cerita novel saja..


Imajinasi mu terlalu hebat"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tak doakan yang komen sama yang like juga yang kasih vote atau hadiah, sehat selalu ya..


Terimakasih atas dukungannya 😁😁😁✌️✌️


__ADS_2